Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Malas.


__ADS_3

"Ta, ayo," ajak Melly.


Divta memutar bola matanya malas. Ibunya ini suka sekali memaksanya. Padahal sudah berapa kali dia katakan. Dia sama sekali tidak tertarik untuk mengenal wanita setelah pengkhianatan Chelsea.


"Al dan El tidak di ajak?" Melly menaikan ke-dua alisnya.


"Mereka tidak mau kalau Tari tidak ikut," jawab Divta.


Divta kadang heran melihat kedua anaknya yang begitu lengket dengan gadis bernama Mentari. Bahkan tidur saja harus gadis itu yang menidurkan keduanya.


"Iya sudah. Ajak saja Tari!" suruh Divta.


"Ma_"


"Cepat, Ta. Mereka sudah lama menunggu," sergah Melly.


Divta mendesah pelan. Lalu lelaki itu menuju kamar kedua putranya. Tampak Mentari tengah mengajari kembar itu di sana.


"Pak," sapa Mentari.


"Papa," panggil kedua anak yang belum duduk di bangku sekolah tersebut.


"Hai, Son," sapa Divta.


Mentari tersenyum kaku sambi menganggukkan kepalanya dengan jari saling meremas. Beberapa hari ini dia memang berusaha menghindari Divta karena dia tidak mau ada kesalahpahaman nanti di antara mereka.


"Tari, siap-siaplah. Ikut saya!" titah Divta.


"Memangnya mau bawa Mama kemana, Pak?" tanya Al.


"Kita ikut Oma yaa, Son. Sekalian bawa Mama," ajak Divta.


"Hore, Mama ikut!" seru bocah kembar tersebut.


"Iya sudah, Tari. Sebaiknya kau siap-siap. Saya tunggu di ruang tamu," ucap Divta menggandeng tangan kedua anaknya keluar dari kamar.


Mentari menghembuskan nafasnya kasar. Padahal dia berusaha menghindari Divta tetapi kenapa malah semakin dekat seperti ini?


Mentari bersiap-siap sesuai dengan perintah Divta. Tak bisa dia bohongi bahwa berada di dekat Divta ada sesuatu aneh yang dia rasakan.


"Jangan berharap banyak, Tari. Kau harus sadar diri," ucapnya pada diri sendiri seraya menatap pantulan dirinya di depan cermin.

__ADS_1


Gadis cantik itu keluar dari kamar dan menemui Divta yang sudah menunggu di ruang tamu bersama Melly serta Al dan El.


"Sudah siap, Tari?" tanya Melly sambil tersenyum hangat.


"Sudah, Bu," jawab Mentari sopan.


"Mama, ayo," ajak Al dan El yang kompak menggandeng tangan Mentari.


"Tuan Muda, jalannya pelan-pelan," tegur Mentari.


Divta tersenyum simpul saat kedua anaknya begitu lengket dengan Mentari.


Mereka masuk ke dalam mobil. Divta dan Melly duduk di bangku depan. Sedangkan di bangku penumpang ada Mentari dan si kembar.


"Ta, Mama yakin kau pasti akan menyukai Audrey. Dia tidak hanya cantik tapi juga pintar dan berprestasi," seru Melly memuji wanita yang belum pernah Divta lihat itu.


"Iya, iya. Itu terserah Mama saja," jawab Divta pasrah. Dia paling malas yang namanya berdebat masalah ini. Ibunya itu tidak akan mau kalah dan menganggap Divta lelaki yang tak mau berusaha untuk membuka hati.


"Jangan iya iya saja. Kau harus mendekatinya nanti. Siapa tahu cocok menjadi ibu sambung Al dan El," ujar Melly yang tak kalah ketus menatap putranya itu. Dia sudah berulang kali mengenalkan anak teman-nya pada Divta tetapi tidak ada satupun yang di sukai oleh lelaki itu.


"Ck, kenapa pemaksaan, Ma. Kalau aku tidak mau bagaimana?" protes Divta.


"Makanya bertemu dulu. Mama yakin kau takkan bisa menolak. Dia cantik, pintar dan yang pasti terlahir dari keluarga kaya serta sederajat sama kita," jelas Melly.


"Mama ingin kau menikah dengan wanita berkelas yang ada usulnya jelas. Bukan seperti Chelsea yang dari keluarga broken home. Apalagi keluarga miskin," singgung Melly. Sebenarnya sejak awal dia tidak merestui hubungan Divta dan Chelsea. Tetapi putranya itu keukeh dan akhirnya pernikahan tersebut gagal di tengah jalan.


"Jangan bahas masa lalu, Ma," sergah Divta.


Sementara Mentari diam saja. Tanpa sadar gadis itu meremas ujung baju yang dia pakai. Kenapa ada rasa sakit di hatinya? Tidak, tidak. Dia tidak mungkin memiliki perasaan pada Divta. Itu pasti hanya kebetulan saja karena dia sering bersama dengan lelaki itu.


Mobil Divta terparkir di depan sebuah rumah mewah berlantai. Mereka turun dari mobil.


"Al, El. Nanti di dalam jangan panggil Kak Tari dengan panggilan Mama ya," ucap Melly memperingatkan.


"Memangnya kenapa, Oma?" tanya Al dan El bersamaan lalu saling melihat.


"Oma tidak mau Tante Audrey salah paham," sahut Melly.


"Ma_" tegur Divta mendesah.


Melly tersenyum tidak enak pada Mentari, "Maaf ya Tari. Saya hanya takut orang salah paham," ucap Melly.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu," sahut Mentari yang sadar diri.


"Ya sudah ayo masuk," ajak Melly.


Mereka berjalan masuk. Al dan El masih menempel pada Mentari. Keduanya tak mau jauh-jauh dari gadis yang mereka panggil mama tersebut.


Divta diam-diam melirik kearah Mentari. Dia merasa tidak enak hati ketika mendengar ucapan ibunya tadi.


"Tari," panggil Divta menyamakan langkah kakinya dengan gadis tersebut.


"Kau baik-baik saja?" tangannya.


"Saya baik-baik saja, Pak," kilah Mentari.


Bolehkah dia jujur bahwa dirinya tak baik-baik saja. Dia merasa seperti remahan rengginang di tepi toples ketika berada disamping Divta.


.


.


"Acara apa sih, Ma?" protes Rein.


"Acara pertemuan keluarga, kakakmu mau di kenalkan dengan seorang laki-laki abdi negara. siap-siap sana," suruh sang ibu pada anak lelaki nya itu.


"Iya," cetus Rein.


"Jangan lama-lama Rein. Mereka sudah datang," teriak sang ibu dari jauh.


Rein tak menanggapi lelaki itu asyik mandi di bawah guyuran shower. Bayangan Mentari saat memeluknya dari belakang tadi masih terasa membekas.


"Tari," gumamnya sambil tersenyum simpul.


"Andai kau tahu betapa aku mencintaimu, Tari."


Rein seorang pemuda berusia 22 tahun. Mahasiswa kedokteran semester 7. Anak kedua dari dua bersaudara. Ayah dan ibunya juga berprofesi sebagai dokter. Sementara sang kakak baru saja menyelesaikan spesialis-nya dan kembali ke Kalimantan karena langsung mendapat tawaran bekerja di salah satu rumah sakit besar di kota ini.


Lelaki itu terus membayangkan wajah Mentari. Dari sekian banyak gadis cantik di kampusnya. Entah, kenapa Mentari yang paling menarik hati dan perhatiannya. Kelemahanlembutan gadis tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi Rein.


"Hem, apa yang harus aku lakukan agar Tari menerima cintaku?" gumam Rein sambil membuka almari dan mencari pakaian yang akan dia pakai.


"Gadis itu sulit sekali di gapai." Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. "Tetapi tidak apa, bukankah barang mahal itu memang sulit di dapatkan. Tapi beruntung di miliki," ucapnya lagi terkekeh pelan seraya memasang kemeja tersebut di tubuhnya.

__ADS_1


Calon dokter tampan itu sepertinya sedang jatuh cinta. Terlihat dari tatapan matanya yang berbinar-binar. Dia bagai mendapatkan undian berhadiah. Wajah lembut Mentari masih terbayang-bayang di pikiran lelaki tersebut. Entahlah, dia tidak tahu kenapa bisa tergila-gila pada gadis kampung itu sehingga tak bisa menghilangkan bayangannya walau hanya sehari.


Bersambung.......


__ADS_2