
Mentari masuk ke dalam kamar yang di sediakan kakaknya. Dia menatap kamar mewah yang jauh dari kamarnya saat di rumah Divta. Sejak awal kakaknya itu memang memintanya tinggal disini, tetapi dia tidak mau dan memilih membantu sang ibu.
Gadis itu duduk di bibir ranjang sambil tersenyum kecut. Tak bisa dia pungkiri baru beberapa jam saja berpisahnya dengan Divta dan si kembar sudah membuat hatinya rindu.
"Mas, aku kangen banget sama kamu," ucapnya lirih. "Aku kangen sama Al dan El. Apa mereka sudah mandi? Apa mereka sudah makan," racaunya sambil bermonolog sendiri.
Lagi-lagi gadis itu tersenyum kecut. Hidup memang tak selalu bisa memihak. Hanya karena dirinya miskin dan tak memiliki apapun lalu di pandang sebelah mata. Padahal tidak ada yang tahu jika dirinya memiliki saudara yang kaya raya.
Drt drt drt drt
Segera Mentari mengambil ponselnya. Dia tersenyum ketika melihat pesan yang di kirim lewat sebuah aplikasi. Pesan dari kakaknya yang ingin datang ke rumah saat mendengar dia dan sang ibu di usir dari rumah majikan.
"Aku bersyukur punya kakak-kakak yang peduli sama aku. Aku berjanji, Kak. Tidak akan mengecewakan kalian," gumamnya.
Mentari memilih memulihkan hatinya sendiri. Walau untuk melupakan Divta bukan perkara yang mudah. Dia harus mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya agar dia bisa menghapus lelaki itu dari hatinya.
"Mas, aku berharap kita berjodoh. Walau kemungkinannya kecil. Kalau tidak berjodoh, aku bersyukur pernah mengenalmu. Walau kisah kita sangat singkat tetapi kenangan itu akan aku simpan hingga nanti. Jaga diri baik-baik, Mas. Titip Al dan El," lirih Mentari.
Gadis itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tak mengerti kenapa sebagian orang menyebutnya hanya sebagai patah hati karena ketika dia bangun, dia merasakan tubuhnya rusoa terpatah-patah. Dia merasakan tulangnya ikut remuk bersama hati yang juga melebur hingga hancur berkeping-keping dan tak terbentuk lagi.
Gadis itu menatap kosong ke depan seraya memeluk bantal gulingnya. Dia berusaha untuk tak menangisi. Mungkin ini pertama kali jatuh cinta dan patah hati sehingga membuat dirinya rapuh dan tak berdaya. Hatinya sangat sensitif dan tak sekuat yang dia bayangkan.
"Mas, aku kangen."
Bayangan Divta serta senyuman lelaki itu masih terngiang di kepala Mentari. Ciuman pertama yang begitu berkesan meninggalkan kenangan yang tak bisa dia lupakan. Gadis itu memegang bibirnya, hangatnya bibir Divta masih terasa melekat di sana.
Mentari yang awalnya gadis awam masalah hubungan seperti itu dan bahkan belum pernah di jamah oleh lelaki. Divta adalah pria pertama yang menyentuh bibirnya dan hal itu tak bisa di lupakan olehnya.
"Mas," gumamnya.
"Aku benar-benar kangen sama kamu, Mas. Aku pengen ketemu dan peluk kamu. Aku ingin melepaskan semua kerinduanku di dalam pelukanmu," ucapnya lagi.
Sebelum berpisah dan terpisah, bayangan Divta yang menangis sambil memaksanya kembali melintas dibayangannya. Tetapi dia tak bisa kembali, Mentari tidak mau lelaki yang dia cintai kehilangan cinta orang tua nya. Tak apa jika akhirnya dia tak bahagia.
__ADS_1
Lama gadis itu bergumam dan bermonolog sendiri hingga akhirnya dia terlelap dengan mata basah karena menangis. Wajahnya tampak sendu dengan bagian kelopak mata yang membengkak karena kelamaan menangis.
Cinta pertamanya harus berakhir karena kasta yang berbeda. Apakah tak pantas jika gadis miskin menyukai pria kaya seperti Divta?
.
.
"Van, nanti kamu berangkat sama Tante Tari ya," ucap Meysa pada anak lelakinya.
Gevan berusia 18 tahun dan sama seperti Mentari. Dia juga berkuliah di kampus yang sama dengan Mentari dan mengambil fakultas kedokteran seperti kedua orang tua nya.
"Tante Tari?" ulang Gevan memastikan.
"Iya, Van. Dia 'kan satu kampus sama kamu!" Meysa sibuk mengoles roti di tangannya.
"Bukannya Tante Tari mengambil kuliah malam, Ma?" tanya Gevan.
"Dia beralih ke kuliah. Mama harap kamu bisa jaga dia ya," pesan Meysa.
"Ingat ya, Van. Setelah kuliah langsung pulang, jangan keluyuran," pesan Razel, ayah Gevan.
"Iya, Pa."
Meysa memiliki tiga orang anak yang paling tau Gevan sudah kuliah semester 3. Sedangkan yang nomor dua masih kelas 2 SMA dan yang bungsu masih duduk di bangku kelas 6 SD. Sementara suaminya seorang polisi yang bertugas di Ibukota.
Tampak Mentari berjalan menuju meja makan. Gadis cantik itu sudah rapi dengan jas berwarna ungu yang menjadi ciri khasnya.
"Pagi, Kak. Pagi, Mas. Pagi, Bu," sapanya sambil duduk di samping Gevan.
"Pagi juga, Tari," balas mereka kompak.
Mentari mengambil beberapa lembar roti dan memasukkan ke dalam piringnya. Dia harus sarapan setiap pagi karena penyakit lambung akut dan tidak boleh telat makan.
__ADS_1
"Tari, nanti kamu berangkat sama Gevan ya. Tidak usah bawa motor sendiri," ucap Rizel.
"Iya, Mas. Terima kasih," sahut Mentari.
Meysa melirik adiknya. Mata gadis itu masih bengkak, pasti Mentari menangis semalaman.
"Tari, nanti Mas Mat dan Mas Marcel mau datang kesini. Kalau bisa pulang cepat ya," ucap Meysa pada adiknya.
"Iya, Kak. Semalam Mas Marcel sudah hubungi Tari," sahutnya.
Setelah sarapan, Gevan dan Mentari berpamitan untuk berangkat.
Selama ini Mentari tak pernah dekat dengan keponakannya itu karena Gevan sedikit dingin dan sulit di dekati.
"Tante, kenapa?" tanya Gevan melirik gadis di sampingnya.
Mentari terkejut mendengar pertanyaan keponakannya. Tak pernah Gevan mau bertanya tentang dirinya, oleh sebab itu dia sedikit canggung dengan anak dari kakaknya itu.
"Tante tidak apa-apa, Van," jawabnya menatap kosong ke luar jendela kaca mobil.
"Tante kenal Kak Rein?" tanya Gevan lagi.
Mentari menatap lelaki tersebut. Darimana keponakannya ini tahu jika dia begitu dekat dengan lelaki bernama Rein tersebut.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Mentari tanpa menjawab.
"Viral," jawab Gevan singkat padat dan jelas. "Lain kali hati-hati dekat sama orang. Tidak semua orang punya niat baik dekat sama kita. Lagian Tante masih muda, belum seharusnya memikirkan hubungan asmara," jelas Gevan menasihati.
Mentari menarik nafas dalam. Keponakannya yang masih muda saja sudah paham tentang hubungan walau usia mereka sama dan Mentari hanya tua beberapa bulan saja dari Gevan.
"Iya, Van. Terima kasih," sahut Mentari memaksakan seulas senyum.
Wanita itu kembali melamun. Biasanya setiap pagi dia di sibukkan mengurus anak kembar Divta. Tetapi kali ini dia harus mulai terbiasa tanpa rutinitas tersebut. Walau tidak mudah dan harus mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk melupakan semua hal tentang Divta.
__ADS_1
"Siapa Kapten Divta?" tanya Gevan lagi ketika mobil tersebut berhenti di lampu merah. Pagi-pagi saja sudah macet.
Bersambung....