Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Orang tua tunggal


__ADS_3

Divta memarkirkan mobilnya. Pria itu keluar dengan wajah lelahnya. Harusnya dia kembali ke kantor, tetapi setelah pertengkaran nya dengan Chelsea membuat mood nya hancur.


"Papa," panggil dua anak kecil.


Wajah Divta yang tadi nya muram dan suram seketika tersenyum menggembang mendengar panggilan dari mulut kedua putra kecilnya yang belum bisa bicara tersebut.


"Anak Papa."


Divta melangkah cepat menghampiri kedua anaknya yang sudah menyambut didepan pintu. Lelaki itu berjongkok lalu memeluk kedua anaknya secara bersamaan. Bocah tampan berusia tiga tahun tersebut sangat senang melihat Papa-nya pulang cepat hari ini. Biasanya Divta selalu pulang tengah malam atau bahkan bisa tidak pulang selama berbulan-bulan karena perjalanan dinas.


"Sudah makan belum?"


"Beyum Papa," sahut keduanya kompak.


Divta menggendong kedua anaknya disebelah kanan dan sebelah kiri. Dia terkekeh sendiri melihat wajah imut dan juga menggemaskan tersebut.


"Tumben pulang cepat, Ta?" tanya Melly, ibu Divta.


"Sudah tidak ada pekerjaan, Ma," jawab Divta asal sambil meletakkan kedua anak nya di sofa.


Pria itu melepaskan topi di kepalanya lalu ikut duduk.


"Nak, kalian main dulu sama Kak Mentari," suruh Melly.


"Iya Oma," jawab Al dan El bersamaan, kedua bocah itu turun dari sofa dan berjalan setengah berlari kearah pengasuh kesayangan mereka.


"Kau baik-baik saja, Son?" tanya Ferry, ayah Divta.


Divta menghela nafas panjang, jika ditanya apakah dia baik-baik saja? Jelas dia tidak baik, patah hati yang dia rasakan bagi begitu menyiksa. Ditambah lagi dengan Chelsea yang terus menerornya.


"Apa masalah Chelsea lagi?" tanya Melly ikut menimpali.


Divta mengangguk, "Dia masih memaksa ku kembali," jawab Divta.


Walau mungkin hati Divta masih mencintai Chelsea, dia tidak akan kembali pada wanita itu lagi. Luka yang ditinggalkan Chelsea telah mendarah daging dan menciptakan kebencian serta kekecewaan di hati Divta. Semua ingatan perlakuan Chelsea padanya kian mengores hati yang ingin dia sembuhkan. Padahal wanita itu yang keukeh meninggalkannya dan memilih lelaki lain. Lalu dengan seenak hati wanita tersebut ingin kembali dengan alasan masih cinta dan ingin hidup bersama anaknya.


Seperti yang sudah Divta katakan berulang kali, dia tidak melarang Chelsea bertemu anak-anak nya. Namun, untuk kembali pada wanita itu dia sama sekali tidak tertarik. Apalagi mengingat bagaimana Chelsea menghina nya didepan selingkuhan wanita itu.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar sudah tidak mencintai Chelsea, Son?" tanya Melly pada putranya. Dia kasihan melihat masalah percintaan anaknya yang selalu berakhir tragis.


"Aku tidak mencintai nya lagi, Ma. Semua perasaan ku padanya sudah hilang," jelas Divta.


Rasa sakit yang Chelsea berikan padanya, telah membuatnya trauma dan seperti mati rasa.


"Kalau memang sudah tidak memiliki rasa padanya, jelaskan dengan baik supaya dia tidak terus menganggu mu," saran Ferry.


"Sudah, Pa. Tapi Papa tahu sendiri Chelsea seperti apa?" sahut Divta mendesah.


Chelsea benar-benar menguras emosinya, bahkan kadang wanita itu menelepon nya setiap jam dengan permohonan yang sama agar diberikan kesempatan untuk kembali lagi padanya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan, Son? Seperti nya Chelsea tidak akan dengan mudah menyerah. Mama takut, Al dan El yang jadi koran," ucap Melly khawatir.


Melly begitu mengenal sifat menantu nya itu. Chelsea wanita keras yang selalu melakukan apa saja yang dia mau. Tak peduli siapa yang harus berkorban dan dia korbankan. Dia bahkan rela menyakiti orang-orang di dekatnya, agar ambisi nya terpenuhi.


"Mama tenang saja. Dia tidak akan berani menyakiti anak nya. Aku pastikan itu," tukas Divta menenangkan ibu nya. "Ya sudah, aku mau membersihkan diri dulu," pamit Divta.


Lelaki itu masuk kedalam kamarnya seraya menghela nafas panjang. Nafasnya lagi-lagi terasa tercekat. Entah kenapa, dia begitu sulit melupakan Ara. Impiannya terlalu besar terhadap wanita itu.


Pria tersebut membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower. Gemercik kan air yang berjatuhan di lantai seolah mampu menenangkan hatinya yang gundah gulana.


Menjadi orang tua tunggal bukan pilihan Divta. Dia harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan anak-anak. Apalagi sebagai abdi negara dia tidak bisa selalu berada dirumah. Kadang juga berlayar selama berbulan-bulan di luar pulau, mengayomi para bawahannya.


.


.


"Apa mereka sudah tidur, Tari?" tanya Divta masuk kedalam kamar anak-anak nya.


Mentari adalah gadis muda yang bekerja sebagai pengasuh kedua anak Divta. Gadis itu berusia 18 tahun dan masih duduk dibangku kuliah, dia mengambil kuliah malam karena siang harus kejar-kejaran dengan si kembar.


"Sudah, Pak," sahut Mentari berdiri dan membungkuk hormat pada Divta.


Divta duduk dibibir ranjang. Di tatap nya dua bocah kembar yang terlelap dengan nyaman tersebut. Dua anak itu benar-benar mirip wajah kecil nya.


"Apa Al rewel?" tanya nya.

__ADS_1


Al sempat rewel dan menangis jika di malam hari mencari keberadaan Ara. Sudah hampir setahun, setelah Ara menikah Al terus mencari wanita tersebut.


"Tidak, Pak. Saya kadang mengajak nya bermain dan bercerita," sahut Mentari.


Divta mengangguk dan tangannya terulur mengusap kepala kedua pria kecil tersebut. Senyumnya mengembang. Al dan El adalah harta paling berharga dalam hidupnya.


"Kalah begitu saya permisi, Pak," pamit Divta.


"Tunggu, duduknya," sergah Divta menahan Mentari. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Divta.


Kening Mentari mengernyit heran dan juga bingung. Apa yang akan di bicarakan majikannya tersebut padanya?


"Bagaimana kuliah mu?" tanya Divta


"Lancar, Pak," sahut Mentari. Setelah ini gadis itu akan berangkat ke kampus. Berangkat jam 7 pulang jam 9-10 malam.


"Besok malam, apa kau punya waktu? Aku ingin mengajak mu ke acara pernikahan salah satu Letnan kesatuan," ucap Divta menatap gadis itu.


Mentari tampak diam, gadis itu tampak menimbang-nimbang apakah dia memiliki kesibukan besok? Dia masuk kuliah tiga hari dalam seminggu, jadi tidak selalu full jadwal kuliah.


"Seperti nya tidak ada, Pak," jawab Mentari. "Tapi kenapa harus mengajak saya, Pak?" tanya Mentari heran.


"Ya karena kau tidak pernah berlibur, anggap saja liburan," jawab Divta lalu kembali pada kedua anaknya.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Mentari.


Gadis itu keluar dari kamar si kembar, dalam hati dia masih bingung kenapa Divta malah mengajaknya?


"Tumben, Pak Divta mengajakku? Biasanya jangankan mengajak ke pesta, berbicara dengan ku saja dia hampir tidak pernah," gumam Mentari.


Gadis tersebut masuk kedalam kamarnya. Dia bekerja bersama sang ibu di rumah mewah Divta. Mentari gadis yang cerdas, sehingga dia mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu kampus negeri di Kalimantan.


"Sudah mau berangkat, Nak?" tanya Susanti, ibu nya Mentari.


"Iya Bu," jawab gadis itu duduk dibibir ranjang sambil melihat ibu nya yang sibuk melipat pakaian. "Bu, besok malam Pak Divta mengajak Tari ke pesta pernikahan temannya," ucap Mentari seraya menghela nafas panjang.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2