Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 4. Chapter 01.


__ADS_3

POV Ariana.


Aku meremas ujung gaunku dengan erat. Saat ini aku sedang berada di atas altar bersama seorang lelaki yang hanya diam saja dengan wajah tampan ekspresi. Keringat dingin membasahiku keningku hingga mengucur dan berjatuhan.


"Selamat kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri," ucap sang pendeta yang berhasil membangunkan lamunanku.


Acara sederhana tersebut di mulai. Sebenarnya bukan ini, bukan dia suamiku tetapi Angga, sepupu dari lelaki ini.


Akibat kesalahan dan kebodohanku yang menyerahkan mahkotaku pada lelaki yang kuanggap akan menjadi suamiku. Hingga tumbuhlah benih tak di inginkan ini. Angga hilang tiba-tiba entah kemana?


"Selamat ya, Sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Jangan sedih lagi, dia sudah punya ayah," ucap Mama memeluk tubuhku.


Sementara Papa enggan menatapku. Aku tahu Papa kecewa karena perbuatanku yang bodoh, begitu juga dengan Kak Al dan Kak El yang tampak membuang muka. Hanya Mama orang yang tak menghakimiku ketika melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.


"Terima kasih, Ma."


Aku membalas pelukan Mama dan menangis dalam diam. Andai Mama tahu betapa rapuh anak perempuannya ini.


"Mama berharap kamu bahagia, Nak." Air mata Mama luruh. Aku tahu dia juga terluka dan kecewa karena perbuatanku sendiri. Namun, bagaimana lagi aku dan kebodohanku telah membawaku pada puncak kehancuran.


"Jangan menangis. Ini hari bahagia kamu." Mama mengusap pipiku.


Seluruh keluarga menatapku seperti tak berharga, termasuk Papa yang biasanya memanjakan aku. Andai bisa pergi, aku ingin pergi sejauh mungkin karena ketidakadilan dunia ini padaku. Apakah sungguh aku adalah benda rusak yang tidak layak untuk di perbaiki.


"Nana," panggil Mama Ara.


Mama Ara dan Kak Nara naik keatas pelaminan. Mereka adalah dua wanita asing yang begitu baik padaku.


"Selamat ya. Mama titip Naro sama kamu," pesan Mama Ara.


"Iya, Ma." Aku memeluk mertuaku tersebut. Dia sangat baik, walau dia tahu jika anak yang ada dalam kandunganku bukan cucunya.


"Kamu yang kuat, ya. Jaga dia buat Mama." Mama Ara mengusap perutku yang masih belum terlihat.


"Terima kasih, Ma. Maaf." Aku menatap sendu wanita paruh baya ini.


"Jangan minta maaf. Naro laki-laki baik, Mama yakin dia pasti bisa menerima kamu dan bayi dalam kandungan kamu," ucap Mama.


Walau aku tahu itu harapan semu. Tetapi aku akan berusaha membuat suamiku jatuh cinta padaku. Walau kemungkinan besarnya tidak akan mungkin terjadi.

__ADS_1


"Nana."


"Kak Nara."


Aku dan kakak iparku saling berpelukan satu sama lain. Kak Nara sangat baik, dia yang meminta dan mendukung aku agar menikah dengan Kak Naro.


"Kakak titip Naro. Semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan." Kak Nara mengecup keningku dengan sayang.


Acara pernikahan sederhana ini tidak di hadiri banyak orang. Sebab Kak Naro memang tidak mau banyak orang yang tahu tentang pernikahan kami. Jadi, hanya dua belah pihak saja yang hadir.


Papa memalingkan wajahnya saat aku melihat kearahnya yang duduk dengan tenang bersama Kak Al dan Kak El. Hatiku mencelos sakit seperti teriris rasanya. Aku tahu Papa malu apalagi dia mantan abdi negara yang sudah pensiun tentu akan malu memiliki putri yang hamil di luar nikah.


"Sudah, jangan dipikirkan. Asal kamu bahagia Mama juga bahagia. Mama yakin suatu saat nanti kamu dan Naro akan saling melihat," ucap Mama lembut sambil mengusap bahuku.


Betapa beruntungnya aku memiliki mama seperti Mamaku, wanita hebat yang telah melahirkan dan menguatkan aku agar tetap menjalani pahitnya kehidupan ini.


"Ayo, kita samperin Papa," ajak Mama merangkul bahuku.


"Tapi Ma_"


"Jangan takut. Segarang-garangnya harimau tidak akan mungkin memakan anaknya," sarkas Mama.


Aku dan Mama berjalan menghampiri Papa di sana. Tuhan, betapa sakit hatiku ketika Papa mengatakan aku murahan, aku tahu itu benar. Namun, kenapa rasanya sakit sekali.


"Pa," panggilku.


Papa sama sekali tak menjawab. Dia masih melamun dengan tatapan kosong. Begitu juga dengan Kak Al dan Kak El yang benar-benar seperti tak menginginkan aku di depan mata mereka.


"Maafkan Ariana, Pa." Air mataku mencelos begitu saja. Mungkin make-up yang menempel ini terkikis oleh air mata yang berjatuhan.


Papa melihat kearahku. Wajahnya tampak menunjukkan kekecewaan.


"Semoga kamu bahagia," ucapnya.


"Mas, jangan begitulah sama Arin," tegur Mama.


*****


Aku menatap rumah mewah di depanku. Ku hembuskan napas kasar dan celingak-celinguk melihat bangunan megah tersebut.

__ADS_1


Suamiku masuk duluan tanpa menungguku atau membantu mengangkat gaun panjang ini seperti di film-film. Aku berjalan masuk dan menyusul. Langkahku sangat pelan karena gaun yang aku pakai.


"Kak," panggilku.


Aku berjalan dengan langkah yang cukup lebar, aku ingin berbicara dengan suamiku. Dia tidak bisa mengabaikanku seperti ini.


"Kakak," panggilku sekali lagi.


Langkah kakinya terhenti ketika sudah sampai di ruangan tamu. Tatapan matanya menajam kearahku.


"Ada apa?" tanyanya dingin.


Aku meremas ujung gaunku. Seketika mulutku beku dan kaku. Entah kenapa aku jadi tak bisa berkata-kata saat melihat tatapan matanya yang begitu tajam seperti silet.


Dia menatapku dengan jijik dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tangannya terlipat di dada.


Lalu dia berjalan kearahku dan aku mundur. Tatapan matanya seperti iblis yang hendak menerkamku kapan saja. Jujur aku sangat takut dengan wajah menyeramkan suamiku ini.


"Kamu tahu, jika aku sangat membencimu. Sangat," ucapnya setengah berbisik di telingaku.


"Dan jangan pernah berharap pada perjalanan ini. Wanita bekas sepertimu harusnya pantas mendapatkan yang bekas juga," ucapnya penuh penekanan. Seketika dadaku bergemuruh mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya. Tetapi apa aku bisa menyangkal, sama sekali tidak. Faktanya hal itu memang benar.


"Aku tidak pernah menyentuhmu. Tetapi aku yang harus bertanggungjawab menikahi wanita murahan sepertimu."


Aku bergidik ketakutan saat dia memukul tembok yang ada di belakangku. Buku-buku tangannya mengeluarkan darah dan luka.


"Setelah ini kamu merasakan neraka pernikahan karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimamu sebagai istriku, wanita bekas."


Kuremas ujung gaun ini seerat mungkjn. Ucapan tersebut menelusup masuk mengiris rongga dadaku.


"Anak ini." Dia mengelus perut rataku. "Aku tidak akan membuangnya, bagaimanapun dia adalah anak Angga. Anggap saja anakku," tuturnya lagi.


"Mulai sekarang, tugasmu adalah mengurus semua keperluanku. Di rumah ini tidak ada pembantu. Jadi, kamu harus kerjakan semuanya sendiri." Dia sedikit menjauh dari aku.


"Sekali lagi, aku mau memperingatkan bahwa kamu sudah masuk ke dalam neraka pernikahan. Pelan-pelan kamu akan merasakan rasa sakit seperti ku."


Dia berdecih dan membuang ludahnya ke arah lantai.


"Amit-amit memiliki istri bekas laki-laki lain."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2