
Aku bangun pagi dan seperti biasa akan membereskan rumah. Kata suamiku, aku tidak kemana-mana dan dia tidak perlu mencari asisten rumah tangga karena aku tahu akan mengerjakan pekerjaan rumah. Suamiku tidak tahu jika aku memiliki beberapa usaha.
Aku di sibukkan dengan peralatan dapur serta potongan-potongan sayur di tanganku. Aku menangis semalaman menangisi takdir yang tega membawaku pada kehancuran. Di awal kehidupan rumah tangga aku sudah harus merasakan pahitnya sebuah pengkhianatan dan bagaimana nantinya.
Cukup lama aku berkutat hingga makanan yang ku masak siap di sajikan.
"Pagi, Ra."
Aku mengangkat kepalaku. Jantungku berdebar dan serasa ingin berhenti berdetak ketika melihat Mas Bintang dan Mbak Mona keluar dari kamar yang sama. Apa semalam mereka tidur di kamar Mas Bintang bersama-sama? Siapapun orang akan berpikiran negatif ketika melihat dua orang berbeda jenis kelamin di kamar yang berbeda.
"Pagi, Mbak," balasku.
Tampak Mbak Mona memeluk lengan kekar suamiku. Sedangkan Mas Bintang tersenyum bahagia pagi ini. Dia benar-benar bahagia, bahkan selama aku mengenalnya, aku tak pernah melihatnya tersenyum. Namun, saat kedatangan Mbak Mona di rumah ini, wajah bahagia itu tercetak jelas pada suamiku.
"Wah, kamu rajin sekali bangun pagi, Ra!" seru Mbak Mona sembari memujiku.
Sepertinya Mbak Mona ini juga seorang dokter karena terlihat dari jas putih yang dia pakai. Mungkin baru menyelesaikan pendidikannya.
"Sudah biasa, Mbak," jawabku memaksakan senyum.
"Silakan duduk, Sayang." Mas Bintang menarik kursi agar Mbak Mona bisa duduk.
"Terima kasih, Sayang." Mbak Mona langsung duduk dengan menebarkan senyum manisnya.
"Mas, Mbak. Kalian sarapan saja ya. Aku mau membersihkan diri dulu," pamitku. Aku tidak kuat melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain. Bagaimanapun aku adalah istrinya.
"Iya, Ra. Terima kasih sarapannya," balas Mbak Mona.
Aku membalas dengan anggukan lalu melenggang masuk ke dalam kamar. Aku terduduk lemah di bibir ranjang. Kucoba menetralisir emosi dan jantungku yang berdenyut sakit.
Kuseka air mata murahan yang sialnya selalu jatuh sesuka hati.
__ADS_1
"Nara tidak kuat, Pa." Kuletakan tangan di dada sembari meresapi rasa sakit yang terasa mengiris ulu hati.
Apakah aku tetap bertahan dalam kehidupan rumah tangga yang seperti orang ini? Jujur aku tak bisa di poligami. Walau Mas Bintang belum menikah kedua tetapi melihatnya bersama orang lain, hatiku terasa sakit dan patah luar biasa.
Kulirik foto pernikahan kami yang sengaja ku pajang di atas nakas kamarku. Andai saja kehidupan rumah tangga kami seperti senyum yang ada di dalam foto itu pasti kehidupan kami akan sangat bahagia.
"Mas." Kuambil foto itu. "Aku mencintaimu, Mas. Sangat." Kuusap foto tersebut. "Tidak bisakah kamu mencintaiku walau hanya sebentar, Mas?"
Tak mau menangis lama. Ku letakkan kembali foto itu lalu beranjak membersihkan diri ke kamar mandi. Hari ini aku akan meninjau beberapa lokasi untuk pembangunan cabang cafeku di beberapa kota. Sepertinya aku memang harus mencari berbagai kesibukan agar tidak selalu terjebak dalam perasaan sedih.
Setelah berpakaian lengkap, aku keluar dari kamar dengan meneteng tas kerjaku. Suamiku tidak tahu jika aku lebih kaya darinya. Sudahlah, aku tak perlu jelaskan siapa aku sebenarnya. Biarlah dia menganggap aku wanita miskin yang tak memiliki apa-apa. Aku akan terus menggali potensi yang ada pada diriku, hingga suatu saat ketika aku sudah menemukan jati diri maka aku akan buktikan padanya. Bahwa aku bukanlah wanita pengganguran seperti yang dia pikirkan dan katakan.
"Lho, kamu mau kemana, Ra?" tanya Mbak Mona yang heran melihatku berpakaian lengkap seperti orang kantoran.
"Aku akan urusan dengan temanku, Mbak. Aku berangkat duluan ya," pamitku.
Aku menyalami kedua orang yang sedang sarapan bersama itu secara bergantian. Mama mengajarkan pada kami agar sopan pada orang yang lebih tua terutama suamiku.
"Iya sudah kamu hati-hati ya, Ra," pesan Mbak Mona. Sementara Mas Bintang diam saja dan tidak peduli apapun, pada apa yang aku kerjakan.
Aku berjalan secepatnya dan masuk ke dalam mobil. Sebab hatiku tak sepenuhnya kuat melihat pemandangan yang benar-benar menyakitkan tersebut.
"Ingat, Ra. Tidak boleh cenggeng. Mama sama Bunda Senja bisa kecewa kalau melihat kamu sedih," ucapku menyemangati diri sendiri.
Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Di perjalanan aku tak benar-benar konsentrasi menyetir sebab yang ada di hatiku hanya tentang Mas Bintang. Suamiku itu tega menurihkan luka di dalam dadaku hanya karena kekasihnya. Sebenarnya Mas Bintang menolak dengan keras perjodohan antara aku dan dia. Tetapi karena ini adalah amanah dari Bunda Senja dan Ayah Langit, suamiku tak bisa menolak. Walau pada akhirnya aku lah yang menjadi korban dari ketidakterimaannya tersebut.
Aku memarkir mobilku di parkiran lalu turun. Sejenak sudut bibirku tertarik ketika melihat pagi-pagi cafeku sudah ramai pengunjung. Pasti para karyawan yang bekerja tidak jauh dari area cafe tidak sempat minum kopi di rumah.
Di cafeku tak hanya menyediakan kopi khas Kalimantan tetapi juga ada beberapa makanan yang bisa di nikmati setiap kali berkunjung di cafe ini.
Aku berjalan masuk ke dalam dengan wajah lusuh dan seperti tak memiliki banyak hidup. Jika orang menikah maka akan bahagia tetapi tidak denganku, baru beberapa hari menikah aku sudah makan hati.
__ADS_1
"Pagi, Bu," sapa Lidya yang sudah tersenyum ramah.
"Pagi Lid," balasku.
Lidya ini manager yang bisa di andalkan. Dia cekatan dalam bekerja serta cepat tanggap dan displin waktu. Tidak suka neko-neko yang pasti selalu mendapatkan profit setiap bulannya.
"Di dalam ada Tuan Tata dan Tuan Shaka yang sudah menunggu, Bu," lapor Lidya.
Keningku mengerut, mau apa kedua adikku itu? Tak biasanya Tata dan Shaka datang bersamaan. Pasalnya kedua adikku ini seperti kucing dan anjing yang selalu berdebat setiap hari.
"Mau apa mereka?" tanyaku heran.
"Tidak tahu, Bu. Mereka dari tadi mencari Ibu," jelas Lidya sopan.
"Iya, Lid. Terima kasih," balasku.
Aku berjalan masuk ke dalam ruangan. Di sana memang ada Tata dan Shaka yang sudah duduk sambil menikmati cemilan yang di buat oleh para barista di sini.
"Hai, Kak," sapa mereka berdua.
Kedua adikku ini memang manja padaku. Sebagai kakak yang baik tentu aku senang tetapi aku juga tidak mau memanjakan mereka dengan kemewahan.
"Ada apa kalian ke sini?" tanyaku memasang wajah ketus. Aku berusaha berpura-pura baik-baik saja supaya mereka tidak curiga jika saat ini aku sedang tak baik-baik saja.
"Kak." Tata berdiri.
Aku dan Tata tak memiliki hubungan darah. Kami saudara tiri yang kebetulan di persatukan karena orang tua kami.
"Ada apa, Ta?" tanyaku.
"Siapa wanita yang bersama Mas Bintang kemarin, Kak?"
__ADS_1
Deg
Bersambung....