Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 06.


__ADS_3

Dengan percayaku paling dalam. Aku telah memilihnya dan ingin jatuh cinta kepadanya setiap waktu yang kupunya. Ingin menjadikannya seseorang yang menyatu denganku dakams segala doa dan rencana-rencana. Aku ingin menjadikannya teman paling bahagia. Kekasih hidup yang berteguh pada setia. Kami adalah janji-janji yang akan selalu kami tepati..


"Mas sarapan!" ucapku.


"Mas sarapan di rumah sakit saja. Kamu tolong antar Lala. Mas ada jadwal operasi pagi," sahutnya.


Kenapa setiap pagi jadi ada operasi. Biasanya juga dulu, siang atau sore biasa juga malam. Kenapa beberapa hari ini terus pagi?


"Iya sudah Mas bawa bekal saja untuk sarapan di sana," ucapku.


"Tidak perlu, Ta. Nanti Mas minta asisten Mas yang belikan sarapan."


Sejak kapan? Bukankah Mas Gevan mau makan masakan orang lain selain masakanku? Apa ada masakan yang lebih enak dari buatanku di lidah Mas Gevan.


"Sayang, Papa berangkat ya." Tak lupa dia mencium ujung kepala anaknya.


"Iya, Papa. Hati-hati," pesan Lala.


Sementara Mbak Queen sejak pagi tadi memang sudah berangkat. Katanya mau interview kerja karena dia di terima bekerja di sebuah perusahaan.


"Mama, tadi pagi Lala menemukan benda ini di dalam kamar mandi."


Lala menunjukan benda pipih berbentuk persegi panjang.


"Testpack?" Aku menutup mulutku tak percaya. "Nak, ini punya siapa?" tanyaku.


"Punya Tante Queen, Ma? Soalnya tadi pas Tante keluar dari kamar mandi. Terus Lala masuk, Lala menemukan ini," jelas Lala.


Benar dugaanku jika Mbak Queen hamil. Tetapi siapa ayah dari bayi dalam kandungannya? Bukankah Mbak Queen sudah lama berpisah dengan suaminya? Tidak mungkin 'kan dia hamil setelah sekian lama.


"Ma, memangnya ini apa?" tanya Lala polos.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, Nak. Ayo lanjut makan!" ajakku. Ku jelaskan pun Lala tdiak akan mengerti nama benda yang dia temukan tadi.


Aku dan Lala melanjutkan sarapan kami. Tetapi pikiranku terus berkelana ke mana-mana, sedikit cemas dan takut. Ah, kenapa aku malah berpikir jika Janis yang di kandung Mbak Queen anak Mas Gevan? Apa mungkin? Rendahan sekali selera suamiku.


"Bu," panggil Bik Arum.


"Iya, Bik. Kenapa?" tanyaku sambil tersenyum.


"Sampai kapan Mbak Queen tinggal di sini, Bu?" tanya Bik Arum tanpa menjawab pertanyaanku.


"Lho, memangnya kenapa, Bik?" tanyaku.


"Saya bukan mau suhuzon, Bu. Tapi beberapa kali saya pernah lihat Bapak dan Mbak Queen ngobrol berdua, Bu. Mereka akrab banget. Waktu Ibu dan Lala keluar kota kemarin, saya melihat Bapak keluar dari kamar Mbak Queen."


Deg


Aku langsung membeku di tempatku. Apakah benar? Beberapa bulan yang lalu aku memang keluar kota, meninjau cabang butikku yang ada. Aku sengaja membawa Lala karena aku di sana cukup lama.


"Ah, masa sih, Bik?" ujarku mulai ketar-ketir.


Aku mencoba menetralisir emosi yang terasa membuncah di dalam dada. Tetapi aku tidak bisa langsung melabrak sebelum ada bukti yang kuat. Kubiarkan dulu Mas Gevan bermain api sampai di mana batas kemampuannya.


"Sebaiknya suruh saja Mbak Queen pindah, Bu. Saya sedikit khawatir," saran Bik Arum. Wanita paruh baya ini berkata selalu jujur dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta dan kebenaran.


"Terima kasih, Bik. Nanti akan saya urus sama Mas Gevan," sahutku tersenyum. Aku tak mau melibatkan orang lain dalam masalah rumah tanggaku.


"Iya, Bu."


Sudah dua hari aku mengantar Lala ke sekolah. Mas Gevan beralasan yang sama yaitu ada jadwal operasi pagi. Apa setiap hari orang operasi?


"Mas, aku tidak tahu kenapa kamu bisa sampai mengkhianati kepercayaanku? Aku salah apa, Mas? Apa kurangnya aku selama ini?"

__ADS_1


Aku tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta pada Mas Gevan. Tiba-tiba waktu, entah dengan alasan apa aku dan dia merasa memiliki banyak kesamaan. Kami punya kisah yang akhirnya di mirip-miripkan. Dan dia percaya bahwa semua sudah menjadi rencana semesta. Tetapi apakah sebuah perselingkuhan adalah rencana semesta? Apakah perselingkuhan jalan takdir yang di kehendaki? Aku memaafkan semua kesalahan kecuali perselingkuhan. Namun, aku mencintai suami yang kujaga dengan susah payah. Aku tak ingin kehilangan dia walau hanya dalam mimpi.


Tanpa aku sadari air mata menetes deras. Sekarang aku memahami perasaan Kak Nara yang dulu saat di perlakukan secara tak berharga oleh Mas Bintang. Tetapi berbeda dengan kasus suamiku yang melakukan kesalahan besar.


Aku menyeka air mata kasar. Tidak, aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Jika aku lemah, Mas Gevan akan semena-mena padaku dan menganggap aku perempuan lemah yang layak dia injak-injak harga diriku.


Sampai di butik. Aku berusaha memasang wajah tegas seperti biasa. Aku tidak mau para karyawan di sini melihat kondisi wajahku yang tidak baik-baik saja.


"Selamat pagi, Bu," sapa mereka.


"Pagi juga," jawabku.


"Oh ya, Bu. Pak Rey meminta Ibu ke rumah sakit nanti untuk mengukur baju pengantin calon istrinya, Bu," jelas Lia.


"Jam berapa, Ya?" tanyaku melirik arloji.


"Setelah jam makan siang, Bu," jawab Lia.


Aku mengangguk dan masuk ke dalam ruanganku. Semalam lelaki itu memang mengirim pesan agar aku datang ke rumah sakit hari ini untuk mengukur baju pengantin yang dia pesan.


Aku duduk di kursi kebesaranku. Walau butik ini baru ku rintis tetapi hasil dari bisnis ini cukup memenuhi masa depan Lala. Setidaknya nanti dia tidak akan kesusahan memikirkan apa yang akan dia makan.


"Mbak Queen?" Entah bagaimana bisa testpack ini bisa ada di dalam tasku? Apa tadi ketika Lala memberikan padaku aku langsung memasukkannya?


"Aku tidak menyangka Mbak. Kamu dan Mas Gevan sama. Tapi jika memang kamu mau mengambil Mas Gevan dari aku, silakan! Aku tidak akan menahannya. Aku baru sadar jika kepercayaan yang selama ini aku berikan padanya telah dia rusak."


Aku tersenyum kecut. Lalu kulirik cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku. Sudah sepuluh tahun cincin ini mendiami jariku. Entahlah, dulu setiap kali melihat cincin ini dadaku selalu berdebat tetapi kenapa sekarang hampa?


Aku berusaha untuk tidak memikirkan kata-kata Bik Arum. Tetapi perasaanku sama sekali tak bisa beralih ucapan tersebut. Kupejamkan mata sejenak meresapi dan membayangkan Mas Gevan dan Mbak Queen memang memiliki hubungan di belakangku.


Saat keberanian itu muncul dan menggebu-gebu. Entah darimana asalnya, yang aku tahu aku takut apa pun selain kehilangan dirinya. Aku menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja, menghabiskan tenaga untuk menekuni hal-hal yang aku suka. Aku mempertaruhkan segalanya demi dia. Sebab, aku tak ingin kami menjadi sejarah yang dikenang sebagai masa lalu. Aku meninggalkan segala rasa nyamanku waktu itu, dan memilih menghabiskan masa mudaku bekerja demi memenuhi kesungguhan memilikinya.

__ADS_1


Dia pun juga terlihat begitu. Dia lebih rajin bekerja dari biasanya. Sering kali dia ingatkan aku akan target yang harus di capai. Waktu kami semakin dekat untuk bisa menumpas jarak yang membuat rindu tercekat. Namun, siapa sangka ternyata dia malah menusuk-nusukkan jarum pentol di hati yang sebelumnya tak pernah memiliki lobang yang menciptakan perih.


Bersambung...


__ADS_2