Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. First night (Ending)


__ADS_3

"Mas tak bisa menjanjikan untuk bisa menjadikanmu perempuan paling bahagia. Namun, Mas selalu berusaha membahagiakan diri Mas bersamamu. Sebab Mas percaya, saat Mas bisa bahagia, Mas akan menularkan keberbahagiaan itu, begitu pun sebaliknya." Mas Bintang mengecup keningku.


"Dasar gombal." Aku menyembunyikan wajah di dada bidangnya karena malu mendengar ucapan gombal Mas Bintang.


Mas Bintang menggendong ku masuk ke dalam kamar. Acara yang panjang itu cukup menguras tenaga karena banyaknya tamu undangan.


Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya dengan leher yang melingkar di leher suamiku. Ini pertama kalinya bermanja-manja pada suami snedirim di pernikahan pertama kami tak seromantis ini.


"Mas, aku berat ya?" Aku mengendus-enduskan wajahku di dada bidang Mas Bintang.


"Kamu itu ringan banget, Sayang." Mas Bintang terkekeh.


"Berarti aku kurusan dong?" Cemberut ku. Bagaimana aku tak kurus, makan saja tidak teratur dan terurus. Apalagi setiap hari makan hati.


"Mau kamu kurus atau gemuk kamu tetap cantik, Sayang. Dan Mas cinta sama kamu," godanya terkekeh pelan.


"Mas." Aku menyembunyikan wajah merona ku di dada bidang Mas Bintang


Mas Bintang membawaku masuk kedalam kamar yang mungkin baru pertama kali menjadi tempat tidur kami. Rumah ini memang masih baru dan baru ditempati sekarang.


Mas Bintang meletakkan aku dengan pelan diranjang. Dia menjaga ku seperti telur yang takut bila retak sedikit saja akan berakibat fatal.


Mas Bintang berjongkok sedangkan aku duduk di bibir ranjang.


"Mas lebih suka kamu tanpa make up" godanya.


Aku terkekeh dengan rayuan lelaki ini. Matanya merah menahan hasrat. Sebagai pria normal wajar saja jika Mas Bintang tak sabar sudah lama menduda tentunya itu tantangan yang berat untuknya sebagai laki-laki normal. Btw, ini malam pertama kami. Ini pertama bagiku, entahlah kenapa aku malah gugup (Cius guys, otor gak bisa bikin adegan anu-anu. Kalian bayangin sendiri aja ya, buat yang udah nikah. Kalau yang masih jomblo kagak usah hehe, dosa gak di tanggung author).


"Sayang, makasih ya udah mau hadir di hidup Mas," ucapnya mengelus pipiku


"Iya, Mas. Aku juga yang harus bilang terima kasih karena Mas sudah terima aku apa adanya," senyumku.


"Kalau Mas minta sekarang boleh?" Tatapnya penuh harap.


"Hem, itu anu-anu." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


"Anu apa, Sayang?" tanya Mas Bintang penasaran.


"Hem, aku belum pernah, Mas," ucapku belum.

__ADS_1


"Kamu masih perawan?" tanya Mas Bintang setengah tak percaya.


"Ee, lebih tepatnya belum pernah di sentuh, Mas," akuku.


Suamiku tampak tersenyum senang. Aku tak mengerti apa istimewanya menemukan wanita yang masih perawan.


"Artinya Mas yang pertama?"


"Dan Mas yang terakhir," jawabku.


Mas Bintang bersorak gembira. Ehh aku penasaran apa Mas Bintang pernah melakukan sebelumnya?


"Apa Mas pernah melakukan sebelumnya?" tanyaku menyelidik. Bukan hanya pria yang ingin wanita perawan. Wanita juga ingin lelaki yang masih perjaka.


"Hem, jangan ngadi-ngadi, Sayang. Suamimu ini masih perjaka. Atau kamu mau melihatnya?"


"Ehh tidak. Tidak," tolakku.


"Kita jadi unboxing malam ini?"


"Tapi katanya sakit, Mas?" tanyaku polos. Ah sial jantungku malah berdebar-debar.


.


.


Aku mengeliat dibalik selimut tebal ini. Tunggu, kenapa perutku terasa berat? Aku membuka mataku. Hampir saja aku berteriak ketika melihat wajah Mas Bintang tepat berada di depan wajahku. Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah. Terlalu lama sendiri aku sampai lupa bahwa kemarin aku sudah dipersunting oleh seorang dokter tampan, mantan suamiku yang sekarang menjadi suamiku. Ah sudahlah aku pusing menyebutnya.


Aku menggeleng tak percaya mengimbangi kekuatan Mas Bintang semalam. Dia benar-benar bringas luar biasa. Huh, pinggangku serasa encok, apalagi masih perawan dan ah rasanya sakit ketika pertama kali walau lama-lama jadi nikmat.


"Awww." Aku meringgis.


"Sayang, kenapa?" Sontak Mas Bintang terbangun padahal tadi dia masih tidur pulas.


"Anu, Mas..."


"Anu apa, Sayang? Ayo cepat bilang. Jangan buat Mas panik!" desaknya.


"Anuku sakit, Mas." Aku menunjukkan area sensitifku.

__ADS_1


"Sayang, maafkan Mas ya. Ini semua salah Mas," ucapnya merasa bersalah.


"Itu sudah kewajibanku, Mas," sahutku masih meringgis kesakitan. Aku lupa pelajaran biologi kalau wanita yang baru pertama kali melakukan akan merasa kesakitan karena selaput darah yang koyak dan mengeluarkan darah.


Mas Bintang turun dari ranjang. Aku sontak menutup wajahku ketika melihat kelelakiannya berdiri tegak.


"Astaga, Mas. Kenapa tidak pakai celana dulu sih?"


"Kenapa harus malu, Sayang? Semalam dia sudah membuatmu terbang melayang," goda Mas Bintang sambil memasang ****** ***** nya. Aku mengumpat kasar, ucapan vulgar tersebut malah mengingatkanku pada kejadian adegan panas kami semalam.


"Biar, Mas gendong."


"Mas, aku bisa jalan sendiri."


Namun, Mas Bintang tak menggubris dia membungkus tubuhku dengan selimut tebal lalu membawa masuk ke dalam kamar mandi.


"Tunggu sebentar, Mas isi bathtub-nya dulu."


Aku mengangguk dan memperhatikan suamiku mengisi air ke dalam benda tersebut. Beberapa kali ku tatap wajah tampannya, rasanya masih seperti mimpi karena bisa menikah dengan lelaki yang aku cintai. Impianku sejak dulu.


"Ayo, Sayang. Lepas selimutnya!"


"Tapi aku malu, Mas. Aku tidak pakai apa-apa?" Aku mengeratkan selimut itu ke tubuhku.


"Aku suamimu, Sayang. Jangan malu. Kita sudah menjadi satu, ingat semalam kita menyatu." Mas Bintang mengedipkan matanya jahil. Tak ku sangka suami dinginku ini ternyata memiliki jiwa humor yang tinggi.


"Mas..." Aku mendesah.


Aku tak bisa menolak ketika Mas Bintang melepaskan selimut tersebut dari tubuhku. Ah ingin ku tenggelamkan rasanya kepalaku ke lautan saking malunya. Ini pengalaman pertama tanpa busana di depan laki-laki tentu saja membuat aku canggung dan malu.


"Biar Mas mandikan."


"Tidak terbalik, Mas? Harusnya aku yang melayanimu," ucapku.


"Tidak ada hukumnya seperti itu."


Di hari yang terasa bahagia ini. Aku ingin memeluknya lebih lama dari biasanya. Mungkin tidak akan mengubah apa-apa, tetapi setidaknya bisa menenangkan doa-doa yang gusar. Terima kasih kepada tahun-tahun yang terasa berat tetapi masih menyediakan doa sebagai penyelamat. Kepada hal-hal yang mencoba membunuh hati, tetapi waktu masih memberi kesempatan untuk pulih kembali.


Untuk cinta yang tak pernah aku bayangkan akan hadir, terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih sudah mengizinkan aku bahagia. Sekali lagi, aku ingin bahagia bersama Mas Bintang hingga ku temukan akhir dari usia.

__ADS_1


T-A-M-A-T....


__ADS_2