Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Poligami hati


__ADS_3

Aku mencengkram kuat sendok yang ku gunakan untuk memasukan makanan ke dalam mulutku. Ku kira selama ini Mas Bintang memang tidak bisa tersenyum tetapi saat ini aku melihat bahwa dia adalah pria yang ramah dengan senyuman manisnya. Terlihat sekali dia bahagia sambil saling suap-suapan bersama Mbak Mona.


"Ra, ayo makan. Tadi Mbak masak banyak banget," ucap Mbak Mona lagi.


"Iya, Mbak."


"Sayang, aku suapin ya?" tawar Mbak Mona pada Mas Bintang.


Mas Bintang hanya mengangguk dan membalas dengan senyuman yang sebelumnya tak pernah kulihat.


"Enak?"


"Masakan kamu selalu jadi canduku," puji Mas Bintang mengacungkan jempolnya.


Sekuat tenaga ku tahan tangis yang hampir jatuh di pelupuk mataku. Aku menundukkan kepala dan sibuk memainkan sendok dan garpu di dalam piring. Dadaku sesak serta pipi yang panas dan bisa kurasakan hatiku seperti di remas-remas hingga mengeluarkan darah.


Sekarang aku paham bagaimana dulu perasaan Mama ketika Papa mengajak Tante Lusia ke rumah dalam status pernikahan. Pasti rasanya sakit sekali. Sekarang aku yang merasakan berada di posisi Mama.


"Oh, Ra. Kamu kerja di mana?" tanya Mbak Mona. Sebenarnya Mbak Mona ini sangat baik dan tutur bahasanya juga lemah lembut, aku tak bisa bayangkan jika dia tahu bahwa aku dan Mas Bintang adalah pasangan suami istri. Pasti dia akan sangat syok sekali.


"Ak_"


"Dia tidak bekerja," potong Mas Bintang saat aku ingin menjawab pertanyaan Mbak Mona.


Aku tidak tahu apa yang membuat Mas Bintang seolah tak ingin tahu pekerjaanku. Setiap kali aku ingin menjawab bekerja apa, dia selalu saja memotong pembicaraan.


"Oh begitu. Tidak apa-apa, beres-beres di rumah juga sudah bekerja," sahut Mbak Mona menimpali.


Aku hanya tersenyum mengangguk. Biarkan saja Mas Bintang beranggapan aku istri yang pengganguran. Dia tidak tahu saja siapa aku sebenarnya.

__ADS_1


"Sayang, biarkan Nara yang bereskan semuanya. Kamu temani aku menyelesaikan pekerjaanku di ruang kerja," ucap Mas Bintang berdiri dari duduknya.


"Lho, tapi ini banyak, Sayang. Kamu sih kenapa tidak mau cari ART saja," protes Mbak Mona.


"Nara 'kan tidak kerja apa-apa. Mumpung ada dia biarkan saja, dia yang membersihkan rumah," jawab Mas Bintang enteng. Apa dia sama sekali tidak menghargai perasaanku.


"Tidak apa-apa, Mbak. Biar aku saja yang bereskan. Mbak temani saja Mas Bintang," ucapku mengalah.


Mbak Mona tampak menghela nafas panjang seperti tak enak hati padaku.


"Maaf ya, Ra," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Mbak."


Mereka berdua berlalu meninggalkanku sendirian di meja makan. Ku tatap makanan sisa dan piring bekas di atas meja. Masakan Mbak Mona sangat enak dan pas di lidah. Pantas saja Mas Bintang begitu menyukai Mbak Mona, kekasihnya itu tak hanya cantik tetapi juga pintar masak dan baik hati.


Aku berdiri seraya mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke wastafel. Sedangkan sayur sisa ku masukkan ke dalam freezer supaya tidak basi dan besok pagi masih bisa di panaskan.


"Kenapa kamu tega, Mas? Kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku? Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tetapi bisakah untuk tidak menyakitiku?"


Tak ada wanita yang baik-baik saja ketika melihat lelaki yang dia cintai bahagia bersama orang lain di depan matanya sendiri.


"Kuat, Nara. Kamu tidak boleh membuat Daddy dan Mama kecewa." Aku berusaha menguatkan diri serta menyeka air mataku dengan kasar.


Jika bukan karena Mama dan Bunda Senja, aku memilih berpisah dengan Mas Bintang. Jujur aku tidak kuat, aku bukan wanita hebat yang tahan dengan perlakukan suamiku seperti ini.


Setelah selesai mencuci piring, aku segera berjalan menuju kamar. Rasanya hari ini lelah. Sebelum menikah aku memang sudah lama tidak datang ke cafe sehingga banyak pekerjaan tertinggal, selama cuti aku sibuk mempersiapkan pesta pernikahanku dan Mas Bintang walau tanpa bantuannya.


Sejenak langkah kakiku terdiam ketika melewati ruang kerja Mas Bintang. Terdengar gelak tawa menggema di sana, entah apa yang mereka bicarakan sehingga menciptakan canda tawa yang membuat orang lain iri.

__ADS_1


"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" tanya Mbak Mona yang terdengar jelas dari luar.


"Aku ingin punya anak lima," jawab lelaki yang tidak lain adalah suamiku.


"Dih, kenapa banyak sekali? Aku tidak mau. Melahirkan itu tidak enak," protes Mbak Mona.


"Kan ada aku yang membantu merawatnya, Sayang. Jadi kamu tidak perlu khawatir," sahut suamiku.


Tanganku berpegangan pada tembok dinding sebagai penyangga tubuh lemahku saat ini. Hancur, lebur dan tak tersisa saat mendengar impian mereka berdua. Bahkan aku sebagai istri saja tidak pernah di tanya ingin memiliki anak berapa?


Lagi air mata murahan ini menganak dan mengalir dengan deras di pipiku. Aku menangis dalam diam dengan isakan. Sesekali ku pukul dadaku ketika merasakan pasokan udara di dalam sana terasa mencekam.


Aku mengumpulkan sejuta kekuatan untuk berjalan masuk ke dalam kamar. Rasanya tubuhku seketika kehilangan jiwa dan tak bertenaga.


Ku kunci pintu kamar, lalu terduduk di lantai seraya memeluk kedua lututku.


"Papa."


Andai Papa masih ada, aku ingin sekali memeluknya dan menceritakan banyak hal tentang perasaanku saat ini. Walau dulu, Papa tidak jauh beda dengan Mas Bintang yang tega menduakan Mama dan memilih wanita lain. Tetapi pada akhirnya Papa menyerah pada takdir dan merelakan jantungnya agar aku bertahan hidup hingga kini.


"Papa, peluk Nara sebentar saja, Pa. Nara lelah. Nara tidak kuat menghadapi ini semua," ucapku menangis segugukan.


Kepada siapa aku harus mengadu dan bercerita? Kepada siapa aku harus berbagai tentang perasaan sakit yang kini menghimpit laraku.


"Hiks hiks hiks hiks hiks."


Kamar ini menjadi saksi tentang kepatahhatianku saat ini. Menjadi saksi runtuhnya kehidupan rumah tanggaku. Setelah ini, aku tidak tahu bagaimana menjalani semuanya. Apakah bertahan atau pergi? Jika aku pergi, akan banyak yang kecewa dan terluka. Namun, saat aku bertahan dan memilih bersama Mas Bintang, aku akan terluka selama dia masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.


Aku sudah berjanji pada Bunda Senja akan menjadi istri yang baik untuk putranya dan membuat Mas Bintang jatuh cinta padaku. Lalu bagaimana jika akhirnya aku menyerah? Bukankah hal tersebut akan membuat Bunda Senja terluka?

__ADS_1


Mertuaku itu sangat baik dan bahkan dia menyayangiku seperti Mama dan berharap aku akan menjadi sosok pendamping hidup yang tepat untuk anak lelakinya. Namun, Bunda Senja tidak tahu jika menantunya ini sedang rapuh dan patah karena sifat suaminya yang tega berpoligami di rumah tangganya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2