Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 07.


__ADS_3

Aku masuk ke dalam mobil. Perkataan Lea tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku. Gadis itu berkata dengan tenang tanpa perasaan berat sama sekali. Apakah dia tidak cemburu jika suaminya bertemu wanita lain? Apa memang Lea tidak akan pernah jatuh cinta padaku seperti surat perjanjian tersebut.


Aku menyalakan mesin mobil dan meninggalkan kediaman kami. Sekarang pikirkanku bukan lagi tertuju pada Felly, tetapi pada lebih pada Lea. Cara dia mengatakan hal tersebut seolah tanpa beban.


"Argh!" Aku memukul stir mobil dengan kuat. Aku bimbang dan bintang dengan perasaanku sendiri. Tidak mungkin aku memiliki perasaan pada gadis sekecil itu. Apalagi kami tak pernah dekat seperti pasangan pada umumnya. Kami baru menikah, tidak mungkin aku jatuh cinta padanya. Ini pasti hanya kebetulan saja.


Kelamaan bergumam sendiri aku sampai tak sadar jika mobil yang ku kendarai ini memasuki pekarangan rumah Felly.


Kutatap bangunan mewah nan kokoh itu dengan sendu. Rumah yang pernah menjadi impian merajuk cinta. Kini benar-benar tinggal kenangan yang tersisa.


Aku turun dari mobil. Ada beberapa mobil lain di depan rumah. Sepertinya itu mobil calon suami Felly.


"Eh selamat malam, Mas Shaka," sapa Mang Dudung, satpam yang bertugas di depan pintu gerbang rumah Felly.


"Malam, Mang," balasku. "Mang, ini ada acara apa? Kok banyak mobil?" tanyaku pura-pura Tan tahu.


"Mas." Tampak Mang Dudung menghela napasnya panjang. "Neng Elly, mau dinikahi sama si Ustadz Zaki. Ini mereka lagi lamaran. Eh emang Mas Shaka sama Neng Elly udah putus gitu? Kok bisa Neng Elly mau dilamar sama pria lain?" cecar Mang Dudung.


Aku bingung harus jawab apa. Jelas pertanyaan itu tidak bisa aku jawab karena aku sendiri sudah mengkhianati kisah cinta kami.


Aku berjalan masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Pikiranku kosong, apakah aku harus menyaksikan Felly bersanding dengan pria lain di dalam sana? Rasanya tak ikhlas sama sekali tetapi bagaimana lagi, cinta yang kami sebut sebagai karya ilahi kini perlahan pergi dan tak kembali.


"Mas Shaka."


Felly yang duduk di samping calon suaminya sontak berlari ke arahku tanpa peduli dengan panggilan Umi dan Abi.


"Felly!"


"Mas." Felly langsung memelukku sambil menangis hebat dan badannya bergetar. "Mas, tolong aku! Aku tidak mau menikah dengan Mas Zaki."


Aku hanya diam sambil mengusap bahu Felly. Entahlah, aku tak bisa memikirkan apapun saat ini semuanya kosong. Aku tahu apa yang Felly rasakan. Aku tahu ketika tak sanggup menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintai.


"Felly!" bentak Abi menarik tangan Felly dengan kasar.

__ADS_1


"Abi, Felly tidak mau menikah dengan Mas Zaki. Felly tidak mau, Bi," renggek Felly.


Abi menarik tangan Felly dengan kasar. Sementara tangan Felly yang satu terulur seolah ingin menggapai aku yang jauh darinya.


"Nak Shaka, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Umi.


Aku duduk dengan tenang di sofa ruangan mewah tersebut. Kedua orang tua Ustadz Zaki menatapku bingung. Sementara calon suami Felly yang bernama Zaki itu menatapku tak suka. Aku mengenalnya karena kami sama-sama teman di masa sekolah menengah pertama.


"Selamat malam, Umi." Aku menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.


Mengenal Felly adalah anugerah terindah bagiku. Sejak bersamanya aku mengerti arti norma-norma kesopanan. Sayang, lagi-lagi kami tertakdir berbeda dan tak mungkin bisa bersama.


"Zaki!" Aku menatap lelaki yang memakai peci tersebut.


"Ada apa, Arshaka Araujo?" Dia berbalik menatapku.


"Apa kamu mencintai Felly?" tanyaku.


"Apa perlu aku jawab? Lalu apa urusannya sama kamu?"


"Abi, lepaskan! Mas Shaka tolong aku, Mas!" Felly memberontak.


"Abi, Umi. Apa kalian tega melihat Felly seperti itu? Kalian memaksa dia menikahi pria yang sama sekali gak dia cintai," tandasku.


"Diam kamu!" bentak Abi. "Apa urusannya sama kamu? Sampai kapanpun saya gak akan merestui hubungan kamu dengan Ning Felly," tegas Abi.


Aku bungkam seketika. Aku tahu hal itu. Tanpa sadar jari-jari tanganku mengepal kian erat. Aku tak bisa melawan jika masalah hubungan dengan Tuhan. Bukankah sejak awal Daddy dan Mama memang sudah memperingatkan aku agar tidak berharap terlalu banyak pada hubungan yang tidak mungkin bersama ini?


"Saya mencintai Felly, Abi. Saya akan melepaskan dia jika dia bahagia bersama pria pilihan kalian. Namun, saya akan mempertahankan dia, jika Felly tidak bahagia sama sekali!" tuturku dengan tegas.


"Maaf ini maksudnya bagaimana ya?" tanya ayah dari Zaki.


"Begini–"

__ADS_1


"Saya adalah kekasih Felly, Kyai. Kami menjalin hubungan sudah lama. Apakah Kyai mau menikahkan Zaki dengan Felly tanpa rasa cinta di hati mereka? Saya mencintai, Felly. Saya rela melepaskan dia jika memang itu yang terbaik. Tapi, saya tidak akan tinggal diam jika Felly malah menderita!"


* * *


Aku memijit-mijit pelipisku yang terasa berdenyut sakit. Kusandarkan punggungku di jok mobil.


"Kamu harus menikahi, Felly! Karena ulah kamu Kyai Ahmed Noer membatalkan perjodohan antara Zaki dan Felly!"


Ucapan Abi masih terngiang di kepalaku. Harusnya aku senang karena akan menikahi kekasihku itu. Namun, kenapa aku merasa kosong dan tak ada raut kebahagiaan sedikitpun.


"Persiapkan diri kamu. Secepatnya kalian harus menikah!"


"Argh!!!!"


Niat hati datang ke rumah Felly ingin membawa wanita itu kabur. Namun, aku justru diminta menikah dengan kekasihku. Jika aku belum menikah tidak akan jadi masalah, tetapi bagaimana dengan Lea? Aku baru saja menikah hari ini, tetapi harus diminta menikahi wanita lain lagi.


Aku tidak tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja orang tua Felly merestui hubungan kami dan meminta agar aku segera menikahi putrinya. Padahal dulu, mereka sangat menentang hubungan kami. Bahkan Abi bersumpah tidak akan pernah memberi restu pada kami berdua.


"Apa yang harus aku lakukan? Daddy dan Mama pasti enggak akan setuju, apalagi aku udah nikah!"


Sekarang, aku berada di persimpangan jalan yang sepertinya tak bisa kupilih sama sekali. Aku harus melangkah ke mana.


Aku memasukan mobilmu ke dalam bagasi. Wajah lelah dan tak berdaya terlihat jelas saat aku mengusapnya dengan kasar.


"Lea!" Aku terkejut ketika melihat istri kecilku tertidur di sofa.


"Non Lea tadi nungguin Tuan pulang, eh sampai ketiduran!" ujar Bi Atiek, asisten rumah tangga yang bekerja di sini.


"Nunggu saya, Bi?" ulangku setengah tak percaya. Bagaimana bisa gadis ini menungguku?


"Iya, Tuan. Katanya takut terjadi sesuatu sama Tuan. Apalagi sudah malam," jawab Bi Atiek.


"Iya udah makasih, Bi," sahutku.

__ADS_1


Aku berjongkok menatap wajah istri kecilku yang terlelap. Dia memang menyebalkan dan membuat tensi naik. Namun, aku tahu bahwa dia gadis yang baik jika dibimbing dengan baik.


"Maaf," ucapku penuh rasa bersalah.


__ADS_2