Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Takdir cinta Divta & Tari


__ADS_3

Mentari menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia hampir tak percaya jika ini adalah dia. Dia seperti putri di kerajaan dongeng.


Mahkota tertanam di atas kepalanya. Rambut yang sengaja di gerai indah menjuntai sampai ke bawah. Dari kecil, gadis ini suka rambut panjang. Jadi ia akan jarang memangkas rambutnya jika sudah melewati bahu.


Gaun indah yang harganya mencapai ratusan juta itu juga membungkus tubuh rampingnya. Mentari memiliki bentuk tubuh yang ideal. Sehingga gaun itu pas di tubuhnya.


Gadis tersebut menghela nafas panjang. Rasanya masih tak percaya jika lelaki yang berstatus duda dan majikannya itu ternyata adalah jodohnya. Banyak lika-liku perjalanan yang tentunya tidak mudah. Mereka pernah terpisah tetapi semesta kembali menyatukan keduanya dalam pertemuan yang terlihat tidak mungkin itu.


"Kamu cantik sekali, Nak," puji Susanti memuji kecantikan anak perempuannya ini yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.


"Ibu." Mentari memeluk sang ibu dengan manja.


Mentari berjalan diatas karpet merah, tangannya di gandeng oleh Mat sang kakak. Hari ini dia menjelma menjadi putri di kerajaan cintanya bersama lelaki yang pernah menjadi majikannya tersebut.


Semua mata tertuju padanya. Para teman-teman kampusnya menganggumi sosok yang selama ini di sembunyikan melalui sikap polosnya dan hari ini gadis polos itu telah keluar dari kandangnya.


Suara kamera juga mengiringi langkah kakinya menuju kebahagiaan. Wajahnya di tutup dengan cadar, meski begitu sama sekali tak mengurangi kadar kecantikan dari wajah Mentari. Gadis kampung yang akan menjadi ratu sehari di atas pelaminan.


Tatapan Divta tak beralih dari calon istrinya itu. Jantung sudah berdisko didalam sana, seperti ingin keluar melihat secara langsung betapa cantik nya calon istri dari abdi negara itu. Ini bukan pernikahan pertamanya tetapi rasanya benar-benar berbeda, ada kebahagiaan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Divta pun sama seperti Mentari tak menyangka jika hatinya bisa tersangkut pada gadis itu. Bahkan Divta sudah memutuskan takkan pernah jatuh cinta lagi setelah patah hati cukup hebat karena pengkhianatan Chelsea. Tetapi Mentari mampu menggeser posisi mantan istrinya tersebut.


"Divta." Mat menyerahkan tangan Mentari. "Jaga dia untuk, Mas. Kamu adalah pengganti Mas," sambil menepuk pundak calon adik iparnya nya itu.


"Terima kasih, Mas," sahut Divta mengenggam tangan Mentari.


Acara pemberkatan di mulai dengan janji suci yang mereka ucapkan di depan Tuhan dan para saksi yang hadir untuk meramaikan acara pernikahan mewah antara Divta dan Mentari.


Ini bukan pernikahan pertama Divta, tetapi dia sangat gugup apalagi banyak orang yang menghadiri pesta tersebut.


Divta membuka cadar yang menutupi wajah istrinya itu. Matanya berkaca-kaca, dia seorang tak percaya jika ini adalah istrinya, istri kecilnya.

__ADS_1


Lelaki itu mengecup kening sang istri. Ciuman bahagia yang ia sematkan untuk Mentari. Mentari memejamkan matanya meresapi hangatnya bibir Divta yang menempel di dahinya. Tanpa sadar air mata gadis itu menetes, ia seperti berada didalam dunia dongeng yang di persunting oleh pangeran tampan. Tetapi ini bukan pangeran, ini majikannya yang akhirnya menjadi suami dan akan jadi ayah dari anak-anaknya kelak.


Acara berlangsung mewah. Banyak tamu terhormat yang berdatangan. Termasuk teman-teman sekampus dengan Mentari. Awalnya semua teman-teman kampus Mentari terkejut saat mendapat surat undangan dari gadis itu. S


Riana Antoinette, gadis berusia 19 tahun. Seorang putri dari pasangan ternama, Miller dan Metha. Dia memang nakal. Namun begitu lah caranya melindungi diri dari kejamnya dunia luar. Dia gadis keras kepala yang tidak suka di atur. Namun jika dia sudah berhasil di luluhkan, ia memiliki empati yang kuat terhadap orang-orang yang ada didekatnya.


Banyak yang hadir diacara pernikahan Divta dan Mentari.


Tampak disana ada Langit dan Senja dan juga Dante bersama Ara serta ketiga anaknya. Ada Audrey, Dona dan Rein dan masih banyak tamu undangan lainnya yang berdatangan


Ferdy dan Melly sangat bahagia karena akhirnya, Divta tidak terjebak dengan perasaan di masa lalunya. Dia sudah menemukan bahagianya bersama gadis kecil bernama Mentari.


.


.


.


"Mas bantu buka baju kamu," ucap Divta tersenyum genit.


"Ehhh jangan, Mas," tolak Mentari langsung menahan tangan Divta. "Malu," ucapnya dengan pipi merah merona.


Divta tersenyum manis. Dia perlahan melepaskan mahkota yang tertanam di kepala istrinya. Dia juga membantu melepaskan jepit rambut yang di gunakan untuk menata bagian atas rambut Mentari.


"Mas." Mentari gugup.


"Kenapa, Sayang?" Divta menyingkirkan anak rambut istrinya.


"Apakah sakit?" Mentari mengigit bibir bawahnya.


Divta terkekeh pelan, dia benar-benar menikahi gadis polos yang tentunya belum paham masalah ranjang.

__ADS_1


"Awal-awal sakit tapi lama-lama enak." Divta mengedipkan matanya jahil.


Divta mengusap bibir ranum Mentari yang masih di lapisi oleh lipstik, ia menelan salivanya susah payah. Dalam hati ia sudah membayangkan ******* bibir ini dan menyesap rasa manis di sana.


Sementara Mentari menahan perasaannya yang ketar-ketir. Kata orang malam pertama itu sakit, rasanya Mentari ingin kabur tapi tidak mungkin.


Divta memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Mentari dengan mata terpejam. Ini bukan ciuman pertama mereka tetapi Mentari masih saja canggung dan tak percaya diri. Sebab karena dirinya yang terlalu polos kadang suka salah tingkah.


Ciuman yang awalnya lembut. Kini mulai menuntut. Tangan Divta membuka resleting gaun istrinya.


Mentari seperti merasakan sengatan listrik yang belum pernah ia rasakan. Rasa aneh yang menggoda. Nalurinya berkata berhenti tetapi tubuhnya tak bisa menolak. Apalagi sentuhan Divta benar-benar lembut tanpa ada paksaan. Ini pertama kali. Sedikit aneh, tetapi Mentari akan berusaha melayani Divta. Meski dalam hati dia belum siap.


Divta membaringkan istrinya tanpa melepaskan panggutan mereka. Ia naik keatas ranjang dan menindih tubuh wanita itu. Divta melepaskan panggutan nya. Ia menatap wajah merah Divta.


"Bolehkah?" pintanya penuh harap.


"Katanya sakit?" Mentari mengigit bibirnya takut.


"Mas, akan melakukannya dengan lembut." Divta mengecup kening Mentari


Mentari pasrah, mau menolak tidak mungkin. Mereka sudah terlanjur tak memakai apapun. Entah kapan pakaian itu terlepas dari tubuh keduanya. Terbuai dalam belaian Divta, Mentari seperti sedang terbang ke langit tinggi.


"Aku akan memasukinya pelan. Tahan yaaa?" bisik Divta menggoda.


Mentari mengangguk dengan mata terpejam. Dia tak berani menatap wajah sang suami.


Lalu terjadilah malam pertama yang indah bagi sepasang penggantin yang sudah saling mencintai itu.


"Terima kasih Istri Kecil ku. Sudah menjaga nya untuk ku. Semoga dia segera hadir disini," ucap Divta menguap perut polos istrinya.


Divta mengecup kening Mentari lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya. Keduanya terlelap tanpa mandi karena kelelahan setelah olahraga ranjang.

__ADS_1


__ADS_2