
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Jika bisa dilahirkan kembali, aku ingin lahir ditempat yang jauh dari sini. Aku ingin menjadi istri dan ibu untuk anak-anak ku. Bangun setiap pagi menyambut kedatangan mentari pagi tanpa debu. Ku ingin dipeluk dan memeluk kala senja berlabuh.
"Jadi kamu harus sadar diri," sambung Mama-nya Chelsea yang masih keukeh menuduh ku pembawa sial.
Air mata ku menetes dengan deras, aku tak mampu menahan lelehan bening ini.
"Ma, Pa. Ara pamit." Ku seka air mata ku.
Aku melenggang keluar dari rumah Pak Dante dengan isakkan tangis. Seharusnya aku tak perlu penasaran kenapa aku di buang? Harusnya aku biarkan saja hidup tanpa kedua orang tua kandung, seharusnya aku terima saja kenyataan bahwa aku anak yang sengaja di buang.
"Ara."
Pak Dante mencengkram tanganku. Dia menarik ku masuk kedalam pelukan nya.
"Menangislah. Saya tahu kamu lelah," ucap Pak Dante.
Aku memeluk Pak Dante sambil menangis hebat, hatiku seperti rontok ketika mendengar penjelasan ibu tiriku tadi.
"Hiks hiks hiks hiks."
"Hiks hiks hiks hiks."
"Hiks hiks hiks hiks."
Aku menangis sepuasnya meluapkan semua rasa sakit yang ada didadaku.
"Kamu berharga Ara, mungkin mereka membuang mu. Tetapi bagi saya kamu seseorang yang spesial," ucap nya mengusa punggung ku
Aku memeluk Pak Dante semakin erat, membenamkan wajahku didada bidangnya, hingga membuat baju nya basah akibat air mataku. Aku tak peduli siapa yang aku peluk. Aku berharap Tuhan memberiku bahagia sekali saja. Mengirimkan aku orang yang benar-benar menyanyangi ku, aku butuh sandaran. Aku tak bisa menjalani hidupku seorang diri.
Pak Dante melepaskan pelukanku, lalu dia mengusap pipi basahku. Akh tidak tahu apakah Pak Dante tulus mencintai ku, atau hanya karena aku mirip dengan Kak Killa.
__ADS_1
"Saya membawa sial," ucap ku.
"Tidak. Kamu tidak pembawa sial. Tuhan mengizinkan semuanya terjadi untuk membantu karakter kamu," jelas Pak Dante.
"Mommy," panggil Tata.
Aku dan Pak Dante melihat Tata yang berlari ku.
"Tata."
Aku berjongkok menyambut pelukan putri kecil ini. Tata adalah kakak ku yang artinya anakku juga. Duplikat wajah Tata gabungan wajah ku dan Pak Dante.
"Hiks hiks, jangan pelgi. Jangan tinggalin Tata," renggeknya.
Aku mengusap punggung Tata dengan lembut. Aku juga menyayangi anak ini sebelum aku tahu bahwa aku saudara kembar Mama-nya.
Aku melepaskan pelukan Tata, lalu tersenyum melihat air matanya yang berjatuhan. Tata sangat cantik, pasti Kak Killa juga cantik. Andai saja kami bertemu sebelum dia pergi, pasti aku akan sangat bahagia memiliki kakak kandung.
"Mommy, tidak akan pergi, Sayang. Mommy akan bersama Tata," jawabku.
Walau aku tak diinginkan oleh kedua orang tua ku sendiri dan bahkan sengaja di buang, tetapi aku bersyukur masih ada orang yang menyayangi ku.
.
.
Aku mengangguk setuju, sekarang aku percaya bahwa aku kembar. Hanya saja, untuk menerima pengakuan dari kedua orang tua kandung ku, hal itu seperti nya sulit. Bahkan ketika mendengar penjelasan ibu tiri ku tadi membuat hati ku serasa sakit sekali.
"Pak, apa Mama-nya Chelsea saudara kandung ibu ku?" tanya ku.
Pak Dante mengangguk, "Lalu mereka menikah setelah ibu mu meninggal," sahut Pak Dante.
"Lalu, Ayah kandung Chelsea?" sambung ku.
"Mama Chelsea tidak memiliki suami, dia hamil diluar nikah," jelas Pak Dante lagi.
Aku manggut-manggut paham. Kejadian beberapa jam yang lalu masih terngiang di kepalaku. Ayah kandung ku meminta maaf karena ternyata dia memang sengaja menitipkan aku pada Ayah dan Ibu dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal. Bagaimana bisa hanya karena tidak mampu mengurus ku lalu memberikan aku pada orang lain? Bukankah hal itu sangat tidak masuk akal?
__ADS_1
"Ara," panggil Pak Dante.
"Iya pak?"
"Kamu sudah tahu orang tua kamu dan alasan mereka membuang kamu. Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Pak Dante.
Aku menggeleng, "Tidak ada, Pak. Saya akan fokus pada Nara dan Naro. Apalagi saya mau membawa Nara berobat ke Malaysia, siapa tahu masih ada kesembuhan untuk kaki nya," jelas ku.
Ya setelah aku tahu semuanya, aku hanya ingin fokus mengurus kedua buah hatiku, Nara dan Naro. Tak ada yang lebih penting di dunia ini selain kedua anak ku. Aku tak butuh siapa-siapa lagi, bahkan untuk di akui oleh orang tua kandungku pun sudah bukan menjadi keinginan ku. Aku mulai sadar diri dan menerima semua kenyataan bahwa aku adalah anak yang tak diinginkan.
"Saya akan bantu kamu, Ra," ucap nya sambil tersenyum.
"Tidak us_"
"Kamu jangan lupa bahwa saya sudah mencintai kamu. Saya tidak punya maksud apapun. Saya ikhlas menolong kamu karena saya juga menyanyangi Nara dan Naro," jawab nya dengan cepat memotong ucapan ku.
Entahlah, aku tidak tahu harus menjawab apa? Mencintai Pak Dante? Aku bahkan belum bisa bangkit dari patah hati yang kini masih menyeruak masuk kedalam hatiku.
"Kenapa Bapak mencintai saya?" tanya ku menyelidik. "Apa karena saya mirip Kak Killa? Maaf Pak, saya bukan Kak Killa, Bapak tidak bisa mencintai saya hanya karena saya saudara kembar almarhum istri Bapak," jelas ku tegas. Aku tak mau terjebak dalam perasaan yang salah. Tidak ada hal yang sepele jika sudah mengenai hal tersebut.
"Tidak. Saya mencintai kamu tulus apa adanya. Kamu dan Killa dua orang yang berbeda, kalian hanya mirip tapi tidak sama," sahutnya.
Aku tak menanggapi lagi dan memalingkan wajah ku kearah jendela kaca mobil. Jujur saja aku rindu ayah kandung ku, menatap wajah tua nan rapuh itu membuat hatiku terenyuh sakit. Aku ingin sekali memeluk nya dan mengatakan aku rindu walau baru bertemu setelah sekian lama.
"Masih memikirkan Daddy?" tebak nya.
"Alasan nya tidak masuk akal, dia menitipkan ku hanya karena tidak ada yang mengurus. Lalu kenapa dia bisa mengutus Kak Killa? Bukankah aku dan Kak Killa sama saja? Sama-sama bayi yang perlu kasih sayang dari kedua orang tua kami?" jelas ku dengan mata berkaca-kaca.
"Harusnya tadi kamu dengarkan dulu penjelasan Daddy. Bukan malah pergi setelah Mommy berbicara seperti itu. Mommy dan Chelsea tidak jauh beda, mereka sama-sama ingin menyingkirkan mu dari hidup Daddy," sahut Pak Dante.
Bagaimana aku tak langsung pergi ketika di tuding sebagai anak pembawa sial? Tidak ada seorang anak yang mau dilahirkan dengan mengorbankan nyawa wanita yang di cintai nya.
Bersambung....
Jangan lupa like... Komen... Vote... Dan hadiah buat otor guys..
Yuk mampir ke karya baru otor....
__ADS_1
Menikahi Brondong
Berbagi Suami dengan Adikku.