
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Ara," panggil Ibu.
Aku yang sedang sibuk mencuci pakaian di mesin cuci, sontak menoleh kearah Ibu. Terpampang senyum terbit di antara sudut bibirku.
"Iya Bu, kenapa?" tanya ku.
Walau ada rasa marah dan kecewa yang tertahan didalam sana. Namun, aku berusaha berdamai dengan keadaan. Ayah dan Ibu adalah orang tua pengganti yang merawat ku selama 28 tahun. Aku tak dapat membalas budi mereka. Walau rasa kecewa itu masih menyeruak didalam dadaku, tetapi aku tak ingin hidup karena rasa kecewa.
Ayah dan Ibu tak memiliki hubungan darah dengan ku. Namun, mereka merawat dan membesarkan ku dengan penuh kasih sayang. Bahkan sebelum aku menikah, Ayah adalah tempat pertama untuk ku mengadu saat lelah menyerang. Walau akhirnya aku akan mendapat ceramah darinya, tetapi aku suka. Sifat Ayah yang keras dan tegaslah yang membuat aku tumbuh kuat.
"Ibu mau bicara sama kamu, Nak," ucap Ibu.
Aku mengangguk. Setelah selesai mencuci pakaian, aku duduk diruang tamu bersama Ayah dan Ibu. Memang setelah aku tahu kenyataan nya, hubungan ku dengan orang tua angkatku merenggang. Aku tidak marah, aku hanya kecewa. Aku butuh waktu dan proses yang lama menerima kenyataan, bahwa selama ini aku bukan anak kandung mereka. Walau begitu aku tak pernah membenci Ayah dan Ibu. Aku hanya perlu waktu untuk menerima semua yang terjadi antara aku dan masa lalu.
"Ara," panggil Ara.
"Iya Ayah," jawabku.
Mata teduh itu menyejukkan hatiku. Dulu Ayah adalah pria kekar dan pekerja keras walau hanya sebagai petani. Dia bekerja keras agar aku dan kedua kakak ku mendapatkan pendidikan yang menjamin. Badan yang dulunya kuat dan kekar, kini mulai melemah dan bahkan tenaga Ayah tak lagi cukup kuat. Tetapi dia masih saja memaksa diri untuk bekerja.
"Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah sudah banyak melakukan kesalahan sama kamu. Maafkan Ayah," ucapnya penuh penyesalan.
Aku menggeleng lalu berjongkok didepan Ayah yang duduk dikursi kayu ruang tamu sederhana, dirumah BTN berukuran 4*6 tersebut.
"Ayah tidak perlu minta maaf. Ara yang harus minta maaf. Ara sudah membuat kalian kecewa. Ara marah tanpa sebab, padahal harusnya Ara berterima kasih karena Ayah dan Ibu sudah menyanyangi Ara seperti anak sendiri," ucap ku sedikit menyesal dengan sifatku yang pendendam.
__ADS_1
"Nak, Ayah yang harus minta maaf. Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk kamu dan anak-anak mu," sahut Ayah. Tangan nya menguap kepalaku. "Bahagia lah Nak, kebahagiaan mu adalah keinginan Ayah. Maaf selama ini Ayah terlalu egois tanpa memikirkan perasaan kamu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Hubungan aku dan Ayah merenggang selama kurang lebih 11 tahun sejak aku menggandung Nara tanpa ikatan pernikahan. Hubungan yang seperti nya tak bisa diperbaiki itu, kini terjalin lagi. Aku tahu perasaan kecewa Ayah. Ayah mana yang takkan marah dan kecew ketika anak perempuan nya menggandung tanpa suami. Jadi aku memahami perasaan Ayah.
"Terima kasih Ayah. Maafkan Ara juga, kalau Ara banyak salah sama Ayah dan Ibu. Ara sayang kalian. Tetap bersama Ara, Ayah. Ara ingin menebus semua kesalahan Ara pada kalian."
Ku peluk tubuh rapuh nan tua ini. Ayah adalah cinta pertama anak perempuan nya, walau tak semua seberuntung itu. Lelaki yang ku peluk ini tak memiliki ikatan tali datang dengan ku. Tetapi aku menyayangi nya melebihi ayah kandung ku sendiri, apalagi Ayah adalah pria yang ku cintai sejak aku hadir didunia ini.
"Terima kasih, Nak." Tangannya mengusap punggung ku.
.
.
"Cie, yang sudah jadian sama Pak Boss," goda Mira.
Aku hanya terkekeh pelan. Mira memang sahabat terbaik ku setelah Henny. Ya walau aku sempat kecewa pada Mira, awalnya dia mau menjadi teman ku karena ingin mendekati Divta. Tetapi setelah melihat kesungguhan Mira dalam mengakui kesalahannya, aku pun memberi ruang maaf padanya.
"Jangan lupa Bu Boss, kalau sudah jadi Boss benaran. Ingatlah kawan seperjuangan mu ini," sindir Mira memasang wajah cemberutnya.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum menggeleng. Mira sahabat somplak ku. Selama ini dia juga sudah banyak membantu aku dalam segala hal.
"Tentu, bagaimana bisa aku lupa pada sahabat ku yang tidak laku-laku ini," ucap ku menggoda Mira.
"Dih..." Mira memutar bola matanya malas.
Saat ini kami sedang belanja berdua. Aku belanja keperluan anak-anak dan untuk Tata juga. Mas Dante memberiku uang cukup untuk kebutuhan ku sendiri. Tetapi aku tidak butuh uang untuk keperluan ku karena aku masih bisa mencari uang sendiri. Namun, Mas Dante tak suka ditolak. Alhasil ku belikan saja untuk kebutuhan anak-anak.
"Ra, bukannya itu Gisel, mantan adik iparmu?" bisik Mira sambil menunjuk seorang wanita yang berjalan sambil memeluk lengan seorang pria dengan agresif
Aku menoleh kearah jari telunjuk Mira. Benar itu adalah Gisel, tetapi siapa pria itu?
__ADS_1
"Ra, itu kayaknya suami orang. Kamu lihat 'kan kalau lelaki itu sudah tua," ucap Mira. Mira kalau bicara memang asal keluar. Dia tipe orang yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iya seperti nya itu memang suami orang," sahutku.
Tampak Gisel memeluk lengan lelaki itu dengan manja, apalagi kepala nya yang sengaja dia sandarkan di bahu pria tersebut. Pria berbadan gempal itu suka-suka saja ada wanita yang mau meladeni nya.
Aku berjalan kearah Gisel. Bagaimanapun dia masih adik iparku, walau sudah mantan.
"Ehh, Ra mau mau kemana?" tanya Mira setengah berteriak.
Aku tak merespon panggilan Mira sn aku tetap berjalan menghampiri Gisel dan lelaki itu.
"Gisel," panggil ku.
Langkah mereka berdua terhenti dan sontak melihat kearah ku.
Kening Gisel tampak mengerut heran melihatku.
"Ada apa Mbak?" tanya nya dengan wajah jutek nya.
"Siapa dia?" tanya ku dengan wajah merah menyala. Aku tak ingin Gisel jadi pelakor dirumah tangga orang lain.
"Siapa pun dia itu bukan urusan Mbak," jawab Gisel menatapku dengan mengejek. "Sekarang Mbak sudah bukan lagi Kakak iparku, jadi Mbak tidak perlu ikut campur semua urusan ku," ucap Gisel penuh penekanan.
"Jangan salah jalan Gisel, jangan rusak rumah tangga orang lain. Kamu bisa mencari lelaki yang tak memiliki hubungan pernikahan," jelas ku.
Apa Gisel tidak risih melihat lelaki yang dia peluk lengannya tersebut. Tatapan lelaki itu seperti ular yang hendak menerkam mangsanya. Perutnya maju ke depan, apalagi jenggotnya sudah berteteran dibagian dagu.
"Hoh, maaf ya Mbak. Aku cari yang berduit. Jadi aku tidak peduli kalau harus menjadi orang ketiga," jawab Gisel dengan santai. "Mbak juga stop ikut campur urusanku, apalagi Mas Galvin meninggal gara-gara keegoisan Mbak."
Deg
__ADS_1
Bersambung..