Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Berubah


__ADS_3

"Mas, kenapa?" Nara melepaskan pelukanku. "Mas, menangis?" tanyanya panik.


Aku menyeka air mataku malu. Ternyata rasa sakit yang di turihkan Mona membuatku terlihat lemah di mata Nara. Bagaimana kalau Nara mentertawakan aku?


"Tidak apa-apa," kilahku.


Nara mengangguk dan tidak lagi bertanya. Kenapa aku merasa ada yang berbeda dari dia? Nara tak seperti biasa, kali ini ada yang tak sama dari dirinya.


"Aku masuk ke kamar dulu ya, Mas," pamit Nara sambil berdiri.


"Aku belum makan," ucapku. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin makan masakkan Nara.


"Mas, masak sendiri saja ya. Aku sudah mengantuk," sahut Nara dengan tersenyum hangat.


Aku melihat istriku tak percaya ketika mendengar ucapannya tersebut. Biasanya dia akan merenggek ketika aku tak memakan masakkannya. Aku akui, selama ini mengabaikan makanan enak tersebut. Namun, sekarang kenapa aku malah ingin menikmatinya?


"Iya," sahutku kecewa.


Kutatap punggung Nara yang berlalu begitu saja. Hatiku terasa sakit saat menerima penolakan Nara? Beginikah perasaan Nara dulu ketika aku selalu mengabaikan dirinya. Ternyata sesakit ini saat di abaikan.

__ADS_1


Aku berjalan menuju dapur. Hari ini emosiku benar-benar di uji. Aku harus menerima pengkhianatan Mona dan Ikmal, di tambah dengan sikap Nara yang tak seperti biasa. Membuatku kepalaku semakin pusing.


Aku menghembuskan nafas kasar saat tak melihat apapun di kulkas. Biasanya isi kulkas ini selalu penuh karena Nara itu hobby makan dan dia tidak suka kehabisan makanan di lemari pendingin.


"Apa Nara tidak belanja?" Aku mendesah pelan.


Perutku sangat lapar dan akhirnya aku hanya makan roti yang masih tersedia di atas meja. Aku duduk sambil mengunyah roti tersebut, menangis ternyata membutuhkan energi. Terbukti dengan perutku yang lapar setelah patah hati.


"Mona, kamu benar-benar tega."


Entahlah, sampai kapan perasaan benci ini akan bersemayam di dalam dadaku. Aku sangat membenci wanita yang telah mengkhianatiku tersebut. Rasa benci ini kian menelusup masuk di dalam sana dan mungkin saja bisa mendarah daging nantinya.


"Apa Nara tidak punya uang untuk belanja?" tanyaku heran dan juga penasaran.


Kulirik kamar istriku yang bersebelahan dengan kamarku. Aku memang tak mencintai Nara tetapi melihat sikapnya yang berubah seratus delapan puluh derajat ini, malah membuat hatiku berdenyut sakit. Aku tak suka Nara berubah, aku ingin dia seperti dulu yang ramah dan selalu menyambutku dengan senyuman manis dan menggoda.


.


.

__ADS_1


Aku sudah bersiap-siap dengan pakaian lengkap ku. Sebenarnya hari ini aku belum siap untuk kembali ke rumah sakit tetapi ada beberapa pekerjaan yang belum selesai.


Aku keluar dari kamar dengan meneteng tas medisku. Sedangkan jas kebanggaan milikku sengaja ku sangkutkan di lenganku. Aku berjalan kearah meja makan. Aneh, jam segini Nara belum bangun. Biasanya dia bangun pagi sekali menyiapkan sarapan pagi untukku meski berakhir tak ku sentuh sama sekali.


Kulihat Nara berjalan kearahku dengan langkah tergesa-gesa.


"Ra, tidak ada sarapan?" tanyaku.


"Lho, aku pikir Mas mau sarapan sama Mona jadi aku sengaja tidak buat sarapan pagi ini."


Deg


Rasa bersalah itu menelusup masuk memenuhi rongga dadaku. Apa hati Nara sungguh terluka dengan perbuatanku yang menyakiti hatinya.


"Mas, sarapan di rumah sakit saja. Aku buru-buru. Aku duluan ya, Mas," pamitnya.


"Ra_"


Nara berubah seratus delapan puluh derajat. Harusnya aku senang karena artinya bisa berpisah dengan dia dalam waktu dekat tetapi kenapa aku merasa kesepian dan merasa kehilangan sosok wanita yang selalu menyambut aku dengan senyuman hangat ini?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2