
Namun, waktu tidak pernah bisa ditebak. Terkadang perasaan diuji oleh hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Hal-hal yang membuat menjadi lemah seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Padahal tidak selemah itu. Namun, hidup selalu punya hal-hal tak terduga. Kadang hati merasa di ragukan oleh kondisi dan keadaan. Aku mengerti, banyak hal yang tak pernah bisa kubuat pasti. Yang aku tahu, aku hanya berusaha sekuat-kuatnya aku.
Partikel-partikel menyakitkan dari jatuh cinta adalah ketika di paksa untuk melepaskan seseorang yang begitu di cintai. Padahal sudah di sakiti berulang kali tetapi masih saja mencintai orang yang salah. Terkadang benar kata orang-orang, kalau mau kurus cintailah orang yang salah, maka tubuhmu akan mengalami kemerosotan. Entah itu karena nafsu makan berkurang atau penyakit yang menumpuk di tubuh.
"Papa!" panggil Lala.
Bagaimanapun waktu tetap mempertemukan kami. Sejauh mana aku berlari dan pergi membawa Lala. Berusaha menjadi orang tua tunggal yang menyediakan kasih sayang penuh. Dia tetaplah gadis kecil yang butuh sosok ayahnya.
"Lala." Mas Gevan berjongkok menyambut pelukan putri semata wayangnya itu.
Waktu kembali mempertemukan kami. Aku tak pernah benar-benar bisa lari sejauh mana yang kuingini, jika gadis kecilku terus bertanya di mana ayahnya. Lala belum paham arti sebuah perpisahan yang dia tahu aku dan Mas Gevan sudah tak bersama. Kadang juga dia meminta aku agar membawanya pulang ke rumah.
Aku mungkin bisa berpisah dengan Mas Gevan tetapi aku tak bisa memisahkan putriku dengan ayah kandungnya. Walau aku sudah berusaha menjadi segalanya untuk Lala. Aku tetap tak bisa sepenuhnya menjadi apa yang dia ingin.
"Lala kangen sama Papa. Kenapa Papa tidak jemput Lala dan Mama di sini?" renggek Lala. Usia putri kecilku baru menginjak 7 tahun. Dari dulu dia memang dekat dengan ayahnya.
"Papa juga kangen sama Papa. Maafkan Papa ya, Nak."
Nada suara Mas Gevan terdengar penuh penyesalan. Apa yang dia sesali? Bukankah semua sudah terlambat? Dia tidak akan mungkin memiliki aku kembali setelah dia menjadi milik orang lain.
"Lala pengen pulang dan tinggal sama Papa lagi," ujar Lala sambil memeluk leher Mas Gevan dengan agresif.
Tatkala Lala menangis seharian mencari Mas Gevan dan mengajak aku pulang ke rumah kami yang dulu. Terkadang aku ingin minta maaf sepenuh hati dan jiwaku bahwa aku tak bisa mengabulkan permintaan putri kecilku itu.
Mas Gevan hanya bisa menangis dalam diam karena bisa aku lihat dari tatapan matanya yang sendu dan wajah menyedihkannya. Ini salahnya, bukan salahku. Siapa suruh melepaskan permata demi sebuah perak? Ini bukan takdir atau nasib tetapi takdir yang memang dia pilih sendiri.
"Kamu apa kabar, Ta?" tanya Mas Gevan padaku.
"Baik," jawabku singkat padat dan jelas.
Hari ini ada pertemuan orang tua siswa. Di wajibkan kedua orang tua murid harus hadir. Jadi, mau tak mau aku harus meminta Mas Gevan hadir untuk menemani aku dan Lala. Aku bisa saja membawa Kak Naro atau Mas Rey. Tetapi aku tidak mau melukai hati anakku karena yang dia inginkan adalah ayah kandungnya bukan paman.
__ADS_1
"Ayo, masuk."
Lala ikut festival sekolah. Dia berpartisipasi sebagai peserta lomba dance bersama teman-temannya. Anakku itu memiliki bakat di dunia hiburan, dia suka juga fashion serta bernyanyi. Maka dari itu aku ingin mengasah kemampuannya tersebut.
"Mari kita panggilkan peserta urutan 09, Clara Anggela," panggil pembawa acara.
"Mama, Papa, doain Lala semoga menang," ucap Lala.
"Iya, Sayang. Lala pasti menang, Lala 'kan anak Mama yang paling hebat." Aku mengecup kening putri semata wayangku itu.
"Papa." Lagi-lagi Lala berhambur memeluk Mas Gevan.
"Semangat untuk putri cantik Papa." Dia menciumi wajah anaknya.
Aku tersenyum melihat Lala naik di atas panggung. Beberapa hari ini aku menjadi guru dance nya karena Lala tidak mau belajar dengan orang lain. Jadi, mau tak mau aku harus mengajarinya.
"Ta." Seketika senyumku memudar ketika Mas Gevan memanggil namaku.
Aku tak bisa menghilangkan bayangan sakit yang dia ciptakan. Rasanya masih terbayang dan terus menusuk dadaku yang kian meleburkan luka.
"Maafkan Mas," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Untuk apa?"
Apa lagi yang perlu aku maafkan? Hal itu tidak akan membuat semuanya kembali normal. Aku tetap menjadi wanita tersakiti.
"Untuk semua yang Mas lakukan," ungkapnya.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas," ucapku.
"Mas tidak mencintai Queen," adunya. Lalu apa hubungannya denganku? Mau dia lakukan apa saja aku bahkan sudah tak peduli. Bahkan mau dia pindah planet pun bukan urusanku karena aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Mas Gevan.
__ADS_1
"Lalu?" Keningku mengerut.
Dia tampak menghela napas panjang. Lalu dia hembuskan. Aku masih teringat saat dia membela Mbak Queen di depanku sendiri.
"Mas hanya tergoda."
Aku tertawa mengejek. Kalau memang dia tidak mau sekuat apapun Mbak Queen menggodanya. Dia tidak akan goyah dan tetap berpegang pada pendirian.
"Lalu kenapa harus menggadu padaku,Mas? Kamu mau apa saja aku bahkan sudah tidak peduli. Kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Aku mau bertemu denganmu bukan karena aku ingin kembali tetapi demi kebahagiaan Lala. Dia yang menjadi korban dan terluka atas perbuatan Mas. Jadi, tolong Mas jangan katakan apapun padaku tentang kehidupanmu. Kamu sudah memilih jalan kamu sendiri," ucapku dingin. Aku tak peduli jika dia sakit hati. Dia manusia yang tak memiliki hati sama sekali.
"Ta."
Aku menatap fokus ke depan. Sial, gara-gara manusia ini aku jadi tidak fokus melihat anakku.
"Mas menyesal," ucapnya kemudian yang juga melihat Lala di atas panggung.
"Penyesalanmu tidak akan membuat aku kembali, Mas. Jadi, semua percuma," sahutku. Memang kata orang penyesalan itu datangnya di belakang kalau di depan namanya pendaftaran.
"Mas tahu," ujarnya. Kulirik dia menyeka air matanya dengan kasar.
Aku menghembuskan napasku kasar. Tak bisa di pungkiri bahwa rasa rindu ini masih ada untuknya. Tetapi semua itu di kalahkan oleh sikap dan perlakuan Mas Gevan yang membuat aku kehilangan rasa cinta di dalam dada.
"Seandainya waktu bisa di ulang kembali, Mas tidak akan melakukan kesalahan itu," ucapnya.
"Aku bahkan tidak ingin waktu di ulang bersamamu, Mas. Aku bersyukur bisa lepas dari laki-laki seperti kamu. Aku percaya suatu saat nanti aku akan bertemu seseorang yang bisa mencintai aku apa adanya," jawabku tegas dan berani. Hoh, tak peduli jika dia sakit hati atau menganggap aku perempuan jahat. Ya, aku memang jahat dan kejam, siapa suruh mencari masalah dengan perempuan seperti ku?
Brak!
"Lala."
Bersambung...
__ADS_1