Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 09.


__ADS_3

Aku menghela napas panjang dan menoleh seketika. Kenapa tatapan Lea seperti kecewa saat aku meninggalkan dia?


"Hati-hati, Om!" Dia melambaikan tangan sambil melempar senyuman. Di tangannya ada piala dan sertifikat lulusan terbaik tahun ini.


Aku membalas dengan anggukan kepala. Sebelum akhirnya melenggang pergi menuju mobil dengan langkah tergesa-gesa. Aku melajukan mobilku meninggalkan sekolah Lea. Kini pikiranku mulai kalut memikirkan Felly.


"Lea."


Wait! Kenapa malah aku bergumam nama gadis aneh tersebut. Senyumnya saat nain ke atas panggung tadi benar-benar layaknya seorang bidadari yang turun dari kahyangan.


"Ck, kenapa wajah Lea yang ada di kepalaku?" Aku menggerutu kesal sambil memukul stir mobil pelan.


Sampai di kediaman Felly, aku langsung turun dan disambut hangat oleh Mang Dudung.


"Siang, Mas Boss," sapa Mang Dudung sambil meletakan tangannya di ujung pelipis dan membentuk hormat.


Aku tersenyum tipis. "Saya masuk dulu, Mang," pamitku.


"Silakan, Mas Boss!" Mang Dudung membungkuk hormat.


Aku berjalan masuk dengan langkah lebar.


"Nak Shaka!" sapa Umi.


"Umi!" Aku langsung menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.


"Ayo, Nak. Masuk!" seru Umi mempersilakan aku.


"Iya, Umi. Felly mana?" tanyaku celingak-celinguk mencari kekasihku yang paling cantik dan baik hati itu.


"Felly ada di kamarnya. Tunggu Abi sebentar ada yang ingin dia bicarakan dengan Nak Shaka," ujar Umi.


"Iya, Umi," jawabku sambil manggut-manggut.

__ADS_1


"Nak Shaka tunggu sebentar ya. Umi buatkan minum dulu!" Aku membalas dengan anggukan kepala.


Aku menatap ruangan rumah mewah ini. Foto-foto wisuda Felly berjejeran di dinding ruangan. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya yang paling tua bernama Fendy sedang melanjutkan S2 kedokteran di Jakarta. Sementara Fena, adik bungsunya sekolah pramugari di Yogyakarta. Jadi, hanya Felly sendiri yang ada di rumah menjaga kedua orang tuanya.


"Shaka!" panggil seseorang.


Aku menoleh. "Eh, Abi!"


Abi berjalan ke arahku. Pria paruh baya yang tetap gagah walau sudah tak muda lagi itu berjalan ke arahku. Aku heran, kenapa setelah sekian lama hubunganku dengan Felly baru kali ini mereka merestui hubungan kami. Apa sebenarnya yang terjadi? Rasanya sedikit aneh ketika Abi meminta aku menikahi Felly.


"Siang, Abi!" Aku menyalami tangan pria itu.


Abi membalas dengan senyuman. Tak pernah sebelumnya, aku melihat dia tersenyum ramah padaku. Biasanya Abi selalu menampilkan wajah dingin dan tak suka setiap kali akan datang ke rumah aku bertemu dengan Felly.


"Kamu udah lama datang?" tanyanya sekedar basa-basi.


"Baru, Bi," jawabku.


"Nak Shaka, apa kamu tahu tentang anak kami Felly?" tanya Abi.


"Felly kenapa, Bi?" tanyaku dengan wajah yang sedikit panik. Jika, masalah Felly tak bisa aku remehkan.


"Apa Nak Shaka bersedia menikahi Felly?"


Lidahku kelu mendengar pertanyaan yang jelas aku tidak tahu jawabannya. Hatiku berada di ujung kebimbangan.


"Felly menderita kanker darah stadium lanjut."


Jeduar!!!!


Seperti petir di siang bolong yang langsung menghantam ulu hatiku. Kanker darah stadium lanjut?


"Apa maksud Abi?" tanyaku yang tak mengerti.

__ADS_1


"Setelah Nak Shaka pulang dari sini kemarin, Felly tiba-tiba jatuh pingsan. Kami memanggil dokter untuk memeriksanya, ternyata dia menderita kanker darah," jelas Abi dengan wajah sendu dan tampak rapuh.


Aku berbenah diri. Hari-hari baru itu telah tiba. Aku mulai menata rencana-rencana untuk menyepakati banyak hal. Salah satunya mencoba kuat menghadapi segala kemungkinan dan menyiapkan diri jika kematian mulai mendekat. Setidaknya setelah aku pergi nama keluargaku bersih dari pandangan orang-orang.


Air mataku seketika luruh dengan tubuh lemas di atas sofa. Jiwa dalam ragaku seolah hilang bersama tiupan angin malam. Kenapa aku sampai tidak menyadari jika selama ini kekasihku sakit? Padahal aku selalu ada bersamanya hampir dua puluh empat jam.


"Dokter mengatakan umur Felly tidak akan bertahan lama," sambung Abi. "Maafkan Abi, Nak Shaka. Selama ini Abi sudah terlalu kejam sama Nak Shaka dan Felly. Sekarang, Abi sadar bahwa apa yang Abi lakukan salah," sesalnya.


Aku memejamkan mataku sejenak mencoba menetralisir emosi yang terasa membuncah di dalam dada. Rasa sakit yang kian melebur menghancurkan lara. Sakit! Sungguh sakit semua yang terasa menusuk. Aku, aku tidak bisa kehilangan Felly.


Kini semua telah berbeda dari hal yang pernah di sebut sebagai rencana. Aku telah memilih jalanku sendiri, walau tak ada yang menemani melewati semua ini. Kubiarkan semua menjauh, sebab apalah artinya mempertahankan sesuatu yang selalu membuat rapuh. Aku belajar pada kenyataan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku mencari cara untuk memahami apa yang terjadi. Walau memang tak pernah sepenuh hati.


"Felly hanya mencintai Nak Shaka. Oleh karena itu Abi tidak mau egois lagi. Abi akan merestui hubungan kalian." Abi mengenggam tanganku. "Menikahlah dengan Felly, Nak Shaka!" mohon Abi.


Aku menatap bola mata pria paruh baya ini. Abi adalah tipe orang kritis dan mengutamakan agama. Aku tahu kadang dia harus sedikit egois dengan dirinya sendiri demi kebahagiaan anak yang dia sayangi. Lalu, bagaimana dengan aku? Aku baru saja menikah gadis muda berusia 19 tahun. Walaupun pernikahan kami tanpa cinta dan lebih tepatnya karena perjodohan, tetapi kami sah secara hukum dan agama.


Apa aku harus melepaskan Lea dan menikahi Felly? Lalu bagaimana dengan Daddy dan Mama yang pasti akan sangat kecewa, pernikahan seumur jagung itu akan berakhir dalam waktu singkat tanpa masalah apapun. Hanya dengan alasan aku ingin menikahi kekasihku?


"Kenapa, Nak Shaka? Apa Nak Shaka tidak mau menikahi Felly saat tahu dia sakit?" Ada kekecewaan dari nada pertanyaan Abi. Raut wajah yang tampak sendu itu seolah ada luka di dalam sana yang dia tahan.


Aku selalu percaya, tak ada hal yang abadi dari kesedihan. Atau dari hal apapun itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang bertahan bersama sepanjang usia mereka. Dan, itu bukan sebuah keabadian. Itu adalah usaha mempertahankan kesepakatan. Sementara seseorang yang tak bisa menjaga kesempatan. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk membiarkanmu betah di sini. Meski datang sesekali ke kepala, sungguh dadaku tak lagi membutuhkan rasa.


"Abi, boleh saya jujur satu hal," ujarku.


"Katakan saja apa yang ingin Nak Shaka katakan!" ucap Abi.


"Saya mencintai Felly, sepenuh raga jiwa dan perasaan saya. Saya tidak peduli dia sakit, bagi saya dia adalah wanita terbaik setelah ibu saya. Tapi..."


"Tapi apa, Nak Shaka?" tanya Abi yang seperti tak sabar menunggu sambungan dari ucapanku.


Perasaan akan tetap tumbuh dengan hal-hal yang di perjuangkan. Dengan segala impian dan usaha untuk melakukan pencapaian. Rasa cinta tak sebatas manja-manja. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Pekerjaan namanya. Kutukan manusia yang satu ini kerap kali menyeret tubuh ke tempat-tempat yang membuat segala rasa terasa jauh.


"Saya sudah menikah, Bi!"

__ADS_1


__ADS_2