Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Hari pertama bekerja


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Ibu Diandra, silahkan masuk, Bu," ucap kepala HRD mempersilahkan aku masuk kedalam.


"Terima kasih, Pak," balas ku membungkuk hormat sambil duduk dikursi depan meja HRD.


"Adik iparnya Mas Bayu ya?" tebak lelaki itu.


"Iya Pak," sahut ku.


Tak heran jika banyak yang mengenal Mas Bayu, karena Mas Bayu memiliki banyak relasi di mana-mana. Bahkan dulu Mas Galvin bisa menjadi salah satu staf manager disini juga karena bantuan Mas Bayu.


"Ohh ya Bu, Ibu sudah diterima bekerja disini dibagian KTU, atau yang memegang keuangan perusahaan. Ini ada beberapa materi yang bisa Ibu pelajari," jelas lelaki itu.


"Iya Pak," sahut ku mengambil buku tebal tersebut.


"Untuk masalah gaji dan asuransi, kami sudah kirimkan lewat email. Jadi Ibu bisa lihat disana, berapa gaji Ibu dalam sebulan," jelas nya lagi.


"Maaf Pak, dengan Bapak siapa?" tanyaku, karena aku belum tahu siapa nama lelaki yang ada didepan ku ini.


"Saya Hendri, Bu. Panggil saja Pak Hendri," ucap Pak Hendri memperkenalkan diri.


"Iya Pak Hendri, terima kasih," sahut ku. "Saya tidak mempermasalahkan gaji, Pak. Mau berapapun bagi saya tidak masalah. Saya mau bergabung disini untuk belajar," jelasku.


"Wahh keren sekali Bu," puji Pak Hendri. "Oh ya Bu, ini laporan keuangan bulan lalu. Ibu bisa pelajari dulu, setelah itu buat laporan laba rugi untuk bulan ini," jelas Pak Hendri.


"Baik Pak," sahutku tersenyum.


Takkan ku sia-siakan kesempatan kali ini, aku harus berjuang demi kedua anakku. Tak apa harus di mulai dari nol, bukan kah segala sesuatu nya memang harus dari bawah baru bisa naik keatas?


"Mari Bu, saya antar ke ruangan," ajak Pak Hendri sambil berdiri.


"Iya Pak," jawabku.


Aku mengikuti langkah kaki Pak Hendri. Kantor ini memang sangat besar, karyawannya juga banyak. Masing-masing memiliki bagian. Bahkan ada beberapa divisi yang juga terlibat disini.


Mas Galvin bagian divisi perintisan lahan. Karena perusahaan sawit setiap bulan memiliki proyek lahan-lahan baru yang akan di gusur lalu di jadikan tempat untuk menanam pohon sawit.

__ADS_1


"Bu, ini ruangan Anda. Disana ada karyawan lain juga. Kalau Ibu bingung bisa bertanya pada mereka," jelas Pak Hendri


Aku menatap ruang kerjaku, lumayan rapi dan bersih. Perusahaan ini walau besar dan banyak karyawan nya tapi management nya tertata rapi, terlihat dari kedisplinan karyawan bekerja.


"Oh ya Bu, jangan lupa laporan tadi langsung diserahkan kepada Pak Direktur, jam 11 ada meeting bersama para direksi," ucap Hendri mengingatkan.


"Iya Pak," sahutku mengangguk sambil duduk dikursi ku.


"Kalau begitu saya permisi, Bu. Selamat bekerja," pamit Pak Hendri.


"Iya Pak. Terima kasih," ucapku seraya meletakkan tasku.


Sebenarnya aku benar-benar kaku, selain itu aku tak pernah duduk dibangku sekolah. Kelebihan ku memang dibagian keuangan, padahal dulu aku mengambil jurusan fisika. Mungkin sudah rencana Tuhan di mana aku diberikan satu keahlian yang sebenarnya tidak pernah aku pelajari sama sekali.


"Hai, Bu. Perkenalkan saya Mira," ucap salah satu wanita yang sedikit tua dariku.


"Diandra," jawabku menyambut uluran tangan wanita itu.


"Selamat bergabung bersama kami ya Bu," ucap Mira.


"Jangan panggil Ibu, panggil saja Ara," ucapku. Karena aku bukan seorang pemimpin rasanya tidak pantas saja di panggil ibu.


"Kalau begitu juga aku Mir," jawab Mira juga sambil terkekeh pelan.


Aku mulai mengerjakan laporan-laporan yang diberikan Pak Hendri. Mempelajari beberapa materi yang mungkin nanti menjadi bagian dari susunan laporan.


"Laporan laba rugi, arus kas, penjualan CPO," gumam ku.


Perusahaan sawit tempatku bekerja sudah memiliki pabrik sendiri. Jadi keuntungan perusahaan bisa berkali lipat, apalagi harga CPO sedang mahal. Aku rasa perusahaan ini takkan mengalami kerugian.


Tak heran jika perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan besar di Kalimantan yang memiliki omset ratusan sampai miliaran juta perbulan.


"Ra, bisa?" tanya Mira.


"Bisa Mir," jawabku sambil mengotak-atik keyboard komputer.


"Wah hebat, seperti nya kamu sudah berpengalaman bagian keuangan," puji Mira mengacungkan jempolnya.


"Tidak Mir, aku hanya suka," jelasku sambil tersenyum.


"Oh ya Mir, ruangan Pak Direktur di mana ya? Soalnya kata Pak Hendri setelah laporan ini selesai, nanti diserahkan langsung pada Pak Direktur," jelas ku tanpa melihat Mira.

__ADS_1


Jangan heran jika aku menguasai komputer. Dulu, aku pernah kursus beberapa bulan di salah satu institut teknologi komputer, namun hanya setahun jadi pengalaman ku tidak banyak. Itu juga sebelum aku menikah dengan Mas Galvin.


"Dilantai 10, nanti kamu naik lift saja," jelas Mira.


Aku mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaan ku. Aku tak mengalami kesulitan sama sekali. Bukan karena aku pintar dan memiliki kemampuan, tapi karena aku nekad demi kedua anakku. Aku harus bekerja dengan bagus.


"Ya sudah, aku ke ruangan direktur dulu," pamitku pada Mira sambil berdiri


"Memang sudah selesai?" tanya Mira tampak mengerutkan keningnya.


Aku mengangguk dan tersenyum. Sebentar lagi jam makan siang, aku harus menemui kedua anakku disekolah dan mengajak mereka makan siang bersama. Apalagi Nara dan Naro masih dalam proses pemulihan, jadi harus minum obat rutin.


Aku berdiri didepan ruangan direktur. Jantungku berdebar gugup, bisa saja boss nya killer seperti di novel-novel atau drama China.


"Ayo, Ra. Kamu bisa,"


Aku mengetuk pintu tiga kali sehingga ada suara balasan di balik pintu.


"Permisi Pak," ucapku.


Lelaki itu mengangkat pandangan nya lalu kembali fokus pada berkas ditangannya. Bukankah, ini lelaki yang ada di lift tadi. Astaga, jadi dia direktur dan tadi aku dengan tidak sopan tanpa menyapa nya.


"Selamat siang Pak, ini laporan laba-rugi yang Anda minta," ucap ku sambil membungkuk hormat dan menyedorkan berkas tersebut.


Dia tampak menutup berkas ditangannya. Lalu mengambil dokumen yang ku berikan. Jantungku berdebar-debar, semoga saja tidak ada yang salah. Bisa habis nasib ku, dihari pertama memberikan kesan tidak baik.


"Nama kamu siapa?" tanya nya.


"Diandra, Pak," jawabku seraya memaksakan senyum.


Lelaki itu membuka berkas yang ku berikan padanya. Wajah nya sangat dingin, kenapa saat melihat nya aku ingat pada Naro? Wajah tanpa ekspresi yang sulit ditebak orang lain, apa yang sedang dia pikirkan.


"Kamu Kasie baru?" tanya nya lagi sembari memeriksa data yang kuberikan.


"Iya, Pak. Baru masuk hari ini," jawabku. Semoga saja orang ini mengerti kenapa aku tak menyapa nya tadi dengan alasan aku karyawan baru.


"Sebelumnya kamu kerja dimana?" tanya nya lagi.


"Saya belum pernah bekerja, Pak. Ini pertama kali saya bekerja," jawabku jujur apa adanya. Sebelum nya aku memang belum pernah berkejibun didunia pekerjaan.


"Kamu ikut saya meeting hari ini,"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2