
sesampainya dirumah, Shena langsung menemui Yeon yang sedang asyik bersenda gurau dengan bibi Egha dan pengasuh Yeon. Sebenarnya, Shena tidak enak hati pada bibinya karena suaminya Leo sempat menyakiti Aryani sewaktu ia hendak menyerang Shena tadi. Namun, yang dilakukan Aryani sungguh tidak bisa dibenarkan. Bagimanapun juga, Shena ingin membuat sepupunya itu meminta maaf pada bibinya walau mungkin cara Shena ini tidak akan disetujui oleh Egha sesandainya wanita itu tahu Shena ikut pertandingan demi dirinya.
“Ada apa, Shena? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya bibi Egha masih sambil bermain-main dengan Yeon.
“Ehm, Bibi … apa bibi merindukan Aryani?” Tanya Shena ragu. Ia ingin sekali mengetahui bagaimana perasaan bibinya saat ini.
“Kenapa kau bertanya begitu? Anak itu sudah memutuskan hubungannya denganku? Artinya, kami sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu dan Yeon. Jangan sebut namanya lagi didepanku karena aku tidak ingin mendengarnya.” Ekspresi dan ucapan bibi Egha terlihat sangat berbeda.
Sekali lihat, Shena bisa tahu kalau ada rasa kerinduan yang besar dirasakan oleh bibinya ini. Sebab, kini Shena juga seorang ibu, tidak bertemu Yeon satu jam saja rasanya bagai setahun dan ia sangat merindukan putranya ini. Apalagi bila harus memutuskan hubungan antara ibu dan anak. Rasanya pasti benar-benar menyakitkan.
“Bibi istirahat saja kalau begitu, biar aku yang menemani Yeon sekarang,” ujar Shena mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin menguras emosi bibinya dengan membahas sepupunya itu yang tidak tahu balas budi pada ibunya sendiri.
“Tidak apa-apa, kau saja yang beristirahat. Aku suka menghabiskan waktuku dengan Yeon. Kau dan suamimu terlihat lelah, sebaiknya kau mandi dan makanlah, setelah itu kalian berdua harus banyak-banyak istirahat. Nanti kalau Yeon menangis, aku akan memanggilmu.” Bibi Shena ini sangat pengertian sekarang.
Melihat hal itu, ia jadi tgeringat ibu mertuanya. Sikapnya yang lembut dans elalu memebela Shena membuat istri Leo itu sangat merindukan Biyanca. Entah bagaimana kabar mertua kesayangannya itu sekarang. Shena terdiam dan sedang mengamati Leo yang sibuk bertelepon sejak tadi. Entah siapa saja yang bicara dengannya, kelihatannya wajah Leo sangat serius sekali. Semoga saja ada kabar dari ayah dan ibu Leo.
“Baiklah, Bi. Titip Yeon dulu, aku akan kembali kemari setelah membersihkan diri.” Shena beranjak pergi setelah mencium kening putranya yang sudah mulai aktif bermain-main dengan anggota tubuhnya sendiri, seperti memainkan tangan dan kakinya. Ia begitu menggemaskan sekali, pantas bibinya tidak ingin jauh-jauh dari anak yang so cute ini.
Shena berjalan pelan masuk kedalam kamar dan bersiap-siap untuk mandi supaya tubuhnya menjadi rileks setelah seharian berada digedung pertandingan. Ia juga menyiapkan air hangat untuk suaminya supaya bisa langsung mandi juga begitu Leo selesai dengan urusannya. Untuk sementara ini, Shena akan mandi duluan.
“Sebaiknya aku lekas mandi sebelum si Leo itu datang kemari,” gumam Shena sambil memeriksa airnya apakah sudah hangat apa belum.
__ADS_1
“Terlambat, aku sudah disini,” bisik Leo tiba-tiba dari balik punggung Shena. Leo bahkan sudah mememeluk erat pinggang istrinya.
Aduh, gawat. Bagaimana bisa Leo ada disini? Batin Shena agak sedikit terkejut.
“Aku tidak mendengarmu masuk?” Tanya Shena sambil melirik suaminya.
“Aku masuk begitu melihatmu masuk kemari.” Leo tersenyum.
Sebenarnya suami Shena ini tadi memang sedang sibuk bernicara dengan bberapa orang untuk membahas sesuatu hal, tapi ketika melihat istrinya masuk kedalam kamar mandi, iapun langsung memutuskan semua panggilan teleponnya dan mengikuti Shena masuk ke kamar mandi tanpa Shena sadari. Kini, keduanya sedang berada didalam kamar mandi. Kalau sudah begitu, bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya.
“Kau mau mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu?” kilah Shena mencoba mengalihkan perhatian Leo.
“Emmm … aku ingin berendam air hangat ini berdua denganmu. Sekalian kita mengobrol. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Tanpa peringatan Leo sudah melepas pakaian istrinya dan mendorongnya masuk ke alam bak mandi.
Leo memangku tubuh Shena, keduanya sama-sama berendam air hangat dan berusaha rileks satu sama lain. Shena sendiri mulai memainkan air sambil bersandar di dada suaminya sambil membelakangi Leo.
“Apa yang ingin kau bicarakan, kalau masalah program anak aku rasa … aku belum siap,” ujar Shena masih sibuk memainkan air.
“Bukan itu, ini sola rencana yang kau katakan padaku waktu itu. Rencana supaya kedua orang tuaku keluar dari tenmpat persembunyiannya. Aku rasa … sudah waktunya kikta berdua harsu beraksi.”
“Tapi … bagaimana pertandingannya?”
__ADS_1
“Aku akan terus mengikuti pertandingan itu sampai selesai dan keluar sebagai pemenang utamanya. Masalahnya, sepupumu itu akan melakukan berbagai macam cara untuk menggagalkan kemenanganku.”
“Kalau begit,u bereskan saja dia, aku sudah kesal dengannya karena tak lagi mengakui bibiku sebagai ibunya. Dulu aku masih mau bersikap baik padanya karena bibiku sangat menyayanginya, tapi sekarang tidak lagi.” Shena jadi emosi membayangkan bagaimana sikap Aryani pada ibunya.
“Kalau aku membereskannya sekarang, permainannya jadi tidak akan seru lagi, Sayang. Akan ada banyak hak menarik yang terjadi setelah ini. dan aku minta padamu, apapun yang terjadi nanti, kau harus percaya pada suamimu ini.” Leo mengecup mesra pipi Shena.
“Memangnya, apa yang akan terjadi? Kau jangan membuatku takut, Leo.” Shena berbalik badan dan mulai menatap wajah suaminya.” Entah kenapa Shena jadi sangat cemas sekali.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Kau tenang saja, Sayang.” Leo memeluk tubuh istrinya. “Besok adalah pertandingan Wakeboarding. Aku rasa, kali ini akulah yang akan bertanding.”
“Leo … apa kita tidak menyewa atlet saja seperti yang dilakukan Aryani? Bukannya aku meragukan kemampuanmu, tapi aku tidak ingin kau kenapa-napa. Wakeboarding adalah olahraga air yang lumayan ekstream juga, aku ….”
Leo langsung mencium bibir Shena sehingga ia tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Shena sangat terkejut tapi ia sudah terbiasa dengan sikap suaminya yang seperti ini. Jangankan dikamar mandi, ditempat umum saja Leo berani mencium mesra Shena.
“Jika aku bisa menyelesaiakan semuanya, untuk apa menyewa orang lain? Suamimu ini jauh lebih hebat dari para atlet itu, Sayang. Jangan cemas begitu. Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Kau tahu siapa aku, kan?” ujar Leo setelah ia menyudahi ciumannya. “Dan satu hal yang harus kau tahu. Bagaimanapun juga, aku akan membawa ayah dan ibuku pulang walau aku harus mengarungi banyak hal yang berbahaya. Dengan kata lain, kau akan senang dalam dua hal. Satu, membuat Aryani tak bisa mengangkat kepalanya lagi didepanmu. Dua, kembalinya mertua yang amat sangat kau cintai. Aku janji padamu, kau akan segera bertemu dengan mereka kembali.” Leo menatap lurus wajah istrinya seolah ia serius dengan ucapannya.
“Benarkah?” Shena terlihat sangat senang. Ia tahu suaminya tidak pernah berbohong padanya. Apapun yang dikatakan Leo, itulah yang terjadi.
“Untukmu, apapun pasti aku lakukan.” Lagi-lagi Leo memeluk Shena mesra sambil beromantis ria. Tak lupa adegan ritual rutinan mereka juga langsung terjadi saat itu juga. Apalagi kalau bukan ritual bulan tertusuk ilalang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***