
Untuk sementara, Shena terhibur dengan album kenangan mereka. Satu persatu Shena melihat foto-fotonya yang terlihat sangat bahagia. Dia juga terharu saat Leo berswafoto dengannya ketika Shena pertama kali melahirkan Yeon. Disusul foto-foto kelahiran Bima dan Lea. Semua foto-foto itu memperlihatkan betapa sayang dan cintanya Leo pada dirinya.
“Di sini … aku terlihat bahagia sekali. Tapi … kenapa aku tak ingat apapun?” gumam Shena menutup buku album itu. Matanya berpaling pada buku album yang lainnya.
Album berikutnya memperlihatkan foto-foto kemesraan Leo dan juga Shena. Mulai dari Leo yang sok romantis, Leo yang selalu menggendong Shena dimanapun mereka berada. Leo yang memeluk Shena, Leo yang memberikan bunga untuk Shena dan Leo yang mencium mesra Shena disetiap tempat tanpa merasa malu pada setiap orang yang melihat, semua kenangan itu tersimpan rapi dalam buku album foto ini. Shena tak kuat melihat foto-foto mesra dirinya bersama dengan Leo. Ia sampai menutup kedua tangannya antara percaya dan tak percaya bahwa ia bisa melakukan itu bersama Leo.
“Itu belum album foto pernikahan, entah seperti apa isinya. Kenapa aku jadi merinding sendiri membayangkannya? Apa yang terjadi sebenarnya? Aduh ... kenapa kepalaku sakit sekali?” gumam Shena. Untuk sementara ia menghentikan diri melihat album-labum kenangan itu.
“Jangan memaksakan diri, aku tak ingin kau kenapa-napa.” Leo menyahut semua album-album kenangan mereka dan memasukkannya kembali ke dalam tas ranselnya. “Ayo kita berangkat,” ajak Leo yang ternyata sejak tadi memerhatikan gerak-gerik Shena.
“Sekarang?” tanya Shena.
“Ehm, lebih cepat lebih baik. Kau butuh suasana baru, Sayang. Kau mau aku gendong? Mungkin saja kau ingin merasakan seperti apa rasanya digendong olehku seperti dalam foto kenangan kita.” Leo mensejajarkan wajahnya tepat diwajah Shena sehingga membuat wanita itu sedikit mundur menjauhi Leo.
“Tidak terimakasih, aku bisa jalan sendiri. Tolong … kalau bisa, jangan terlalu dekat denganku. Itu … membuatku sangat tidak nyaman.” Shena terlihat bingung dan juga sedikit panik.
“Ya sudah kalau begitu.” Leo mundur dan berbalik badan lalu berjalan lebih dulu hendak meninggalkan Shena.
Melihat kekecewaan di wajah Leo, Shena jadi tidak enak hati sendiri. Bagaimanapun juga, dirinya sudah menikah dengan laki-laki yang menurutnya asing itu. Tak seharusnya Shena menolak Leo terus menerus. Apalagi suaminya itu sangat baik padanya. Tentu saja, Shena merasa kalau hal itu tidak adil bagi Leo.
“Tunggu!” seru Shena menghentikan langkah Leo. “Apa … kau keberatan jika menggendongku? Aku … kesulitan berjalan,” ujar Shena lirih antara canggung dan juga malu karena ia jadi terlihat plin plan.
__ADS_1
Dengan senyum mengembang, Leo kembali berjalan ke sisi Shena dan menggendong istrinya tanpa suara. Leo tak pernah berhenti menatap wajah cantik Shena saat keluar ruangan.
“Aku tidak suka kau menatapku seperti itu,” protes Shena yang mulai risih dengan tatapan mata Leo.
“Tapi aku suka,” ujar Leo masih terus memandangi Shena.
Entah, apakah Leo sadar atau tidak saat mengatakan kalimat itu. Bisa menggendong Shena lagi, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi Leo meskipun istrinya yang amat sangat ia cintai ini masih belum mengingat siapa dirinya.
“Turunkan aku kalau begitu …”
“Tidak!” sela Leo lalu dengan cepat berpaling. “Aku takkan menatapmu lagi kalau kau tidak suka. Tetaplah digendonganku.” Leo berdeham untuk mengatur perasaannya dan mencoba menatap lurus ke depan meskipun kadang-kadang, ia mencuri pandang wajah Shena.
Tak dapat dipungkiri, Shena mulai menerima kehadiaran Leo sebagai suaminya. Sebab, Leo bersikap sangat sopan padanya dan memperlakukannya dengan sangat baik. Kalau orang lain, pasti akan meminta hak-haknya sebagai suami. Namun Leo berbeda, ia tidak akan menyentuh Shena jika Shena tidak mengizinkannya. Bahkan Leo mempersilakan Shena memilih kabin sendiri dan tak harus selalu berdekatan dengannya saat keduanya sudah ada di dalam pesawat.
“Ehm … apakah kita … tidak bisa melewati jalur darat? Sebenarnya … aku … takut ketinggian. Entah mengapa … aku merasa … ini pertama kalinya aku naik pesawat,” ujar Shena terlihat gugup saat mengatakan apa yang ia rasakan pada Leo.
“Oh iya? Kau tidak bilang padaku kalau kau takut ketinggian. Kita sering bepergian menggunakan pesawat dan helikopter, tapi kau tak terlihat takut sama sekali. Sebaliknya, kau terlihat senang dan terus saja …” Leo menghentikan kalimatnya dan mulai menyadari sesuatu.
“Terus saja apa? Kenapa kau suka sekali menggantung kalimatmu?” tanya Shena.
“Bukan begitu, aku hanya hati-hati agar kau tak sakit kepala saat mendengar aku bicara seperti sebelum-sebelumnya. Apa … kau ingin aku duduk disini? Kau bisa berpegangan padaku jika kau takut ketinggian. Aku rasa itu wajar bagi seseorang yang merasa baru pertama kali naik pesawat.”
__ADS_1
“Ehm.” Shena mengangguk pelan dan Leo langsung duduk disebelah Shena.
Seorang pramugari datang dan mulai tebar pesona pada Leo dengan gaya dan suara yang dibuat-buat. “Tuan muda Leo, 10 menit lagi pesawatnya akan segera berangkat, apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya pramugari itu memamerkan senyum menggodanya pada Leo. Namun, yang digoda malah acuh dan beralih menatap Shena.
“Bagaimana denganmu, Sayang? Kau butuh sesuatu?” tanya Leo mesra pada Shena.
Awalnya Shena agak sedikit kesal pada pramugari ganjen itu, tapi … ia juga bingung harus bagaimana bersikap. Tidak mungkin ia cemburu pada Leo sementara ia tak ingat apapun tentang suaminya ini. Namun, rasa kesal itu hilang karena ternyata Leo lebih perhatian padanya daripada pada paramugari genit itu.
“Tidak,” jawab Shena ketus.
“Untuk sementara ini tidak ada. Pergilah! Bila kami butuh sesuatu, kami akan panggil kalian,” ujar Leo pada pramugari itu tapi matanya tak pernah berpaling dari wajah Shena.
“Baik Tuan muda, permisi.” Pramugari itu pamit undur diri dengan rasa kecewa yang amat sangat. Kemungkinan, dibelakang sana, wanita itu sedang menangis karena dirinya sama sekali tak punya kesempatan apapun untuk menakhlukkan hati seorang tuan muda tampan tajir melintir seperti Leo.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau marah?” tanya Leo agak aneh melihat ekspresi Shena.
“Tidak! Untuk apa aku marah?” Shena memalingkan wajahnya menghadap jendela pesawat untuk menutupi rasa gugupnya. Ia sungguh tidak mengerti, perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Ia tak ingat apapun tentang Leo, tapi hatinya langsung panas ketika ada wanita lain yang mencoba menggoda suaminya. “Ada apa denganku?” gumam Shena lirih. Shena memejamkan mata sambil memegangi kepalanya.
“Memangnya ada apa denganmu?” tanya Leo yang tak sengaja mendengar gumaman Shena.
“Bukan urusanmu!” jawab Shena jutek. Ia tak ingin Leo melihat wajahnya yang memerah.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****