
Dipagi hari, ketika Leo sudah mulai terjaga ia langsung pergi menuju kamarnya untuk bertemu dengan Shena. Sayangnya, istri tercintanya itu Tak ada di dalam kamar sehingga membuat Leo kelimpungan mencari Shena, tapi yang dicari tak bisa ditemukan dimana-mana. Nomer ponsel Shena juga tidak bisa dihubungi dan setiap orang yang yang ditanya Leo saat berpapasan dengannya juga menjawab tidak tahu.
Yaiyalah tidak ada yang tahu, sebab Biyanca sudah mengancam seluruh pegawai yang bekerja di istana ini untuk tidak memberitahu apapun pada Leo soal kepergian Shena ke kampung halamannya. Jika sampai ini bocor, maka Biyanca tak segan-segan memecat mereka semua.
Karena tak bisa menemukan Shena dimanapun, Leo menuju dapur istananya dan sedang mendapati ibunya membantu menyiapkan sarapan bersama dengan para pelayan lainnya. Saat Leo masuk, Biyanca sibuk mencicipi makanan yang sudah dimasak yang akan dihidangkan.
"Ibu, di mana Shena? Aku tidak menemukannya di mana-mana?" tanya Leo langsung, tapi Biyanca malah terkesan cuek dan menganggap putranya ini tidak ada. Ia malah sibuk kesana kemari untuk memastikan makanan mana yang sudah siap ditaruh di meja makan.
"Ibu, tolong jawab aku? Di mana Shena?" desak Leo. Ia bahkan mondar-mandir mengikuti kemanapun Biyanca melangkah. Namun karena ibunya ini kukuh tak mau bicara padanya, maka terpaksa Leo menghalangi jalan Biyanca.
"Minggir!" sengal ibu Leo dan menatap marah putranya.
"Jawab dulu pertanyaanku, Bu! Kenapa Ibu jadi kejam padaku?" rengek Leo.
"Kau itu patut diberi pelajaran! Meskipun yang kau lakukan tidak sepenuhnya salah, harusnya kau mengerti bagaimana perasaan Shena. Istrimu itu sedang sensitif kerena hamil anakmu! Kau malah bertemu wanita lain nggak jelas begitu. Seandainya posisi kalian ditukar, Shena diam-diam menemui pria yang menggodanya hanya untuk mengatakan supaya berhenti mengganggu kehidupannya tanpa sepengetahuan dirimu? Apa yang kau lakukan? Kau pasti marah dan emosi juga, kan? Apalagi sampai ada insiden lipstik menempel segala! Hedeuh, ingin sekali kujitak kepalamu dengan spatula ini!" geram Biyanca dan memang hampir saja ia menjitak kepala Leo dengan spatula yang ia pegang.
"Aku tahu aku salah, Ibu. Karena itu, aku ingin bertemu dengan Shena untuk memperbaiki semuanya. Aku sangat merindukannya, Ibu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkannya ... adaow!" teriak Leo. Ia benar-benar dipukul spatula oleh ibunya. "Kenapa Ibu memukulku?" teriak Leo sambil memegangi kepalanya.
"Dasar pembual!" bentak Biyanca. "Kalua benar kau tidak tidur semalaman, harusnya kau tahu ada di mana Shena sekarang. Tapu kau tidak tahu ada dimana istrimu sekarang, itu artinya, kau itu tidur sangat pulas sekali, dasar bengek! Sudah salah, masih berani berbohong pula!" mata Biyanca memelototi Leo yang bingung dengan ucapannya.
"Bagaimana ... Ibu bisa tahu?" Leo mulai menyadari sesuatu. "Jangan-jangan Shena ... Ibu, katakan! Di mana dia? Ada di mana Shenaku sekarang?"
"Pergi kau dari hadapanku atau ku goreng juga tubuhmu ini!" bentak Biyanca mulai marah.
__ADS_1
"Ibu ... tolonglah!" Leo memohon pada ibunya.
"Walaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu!" cetus Biyanca dan ia melanjutkan aksi menggoreng ayam.
"Kenapa? Tidakkah Ibu kasihan padaku? Selama ini aku masih terima jika ibu lebih menyayangi Shena daripada aku. Harusnya Ibu mendukungku? Kenapa ibu malah terkesan ingin menjauhkanku dengan Shena?" tuduh Leo.
"Leo, menjadi istri seorang gengster tampan sepertimu itu tidak mudah. Ada tekanan batin yang dirasakan seorang gadis baik seperti Shena. Semua orang membencinya terutama kaum hawa. Namun, Shena berusaha tegar dan mengimbangimu. Menuruti semua yang kau mau? Ibu tahu kalian berdua saling mencintai satu sama lain. Tapi hanya dengan cinta saja, tak menjamin hubungan kalian bisa terus berjalan dengan lancar. Ada kalanya Shena merasa penat dengan kehidupannya dan ingin mencoba hal baru yang bisa membuatnya terus bertahan disisimu."
"Apa maksud Ibu ini?"
"Biarkan Shena sendiri, menata hati yang sempat terluka karena keteledoranmu. Ia juga ingin merasakan perasaan seperti apa merindukan seseorang yang ia cintai. Dalam waktu dekat, aku yakin dia pasti akan kembali karena ia sangat mencintaimu."
Leo diam tak berkutik dihadapan ibunya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Leo pergi meninggalkan dapur karena ia sudah mulai paham tentang apa yang terjadi pada Shena.
***
Sementara itu, Shena sudah berada di rumah almarhum orangtuanya dan kebetulan ada bibi Egha di sana. Setelah insiden itu, Shena memang belum sempat bertemu dengan Egha lagi. Tapi sepertinya bibinya ini sembuh dengan cepat karena lukanya tidak terlalu parah. Egha sendiri sebenarnya ingin melaporkan kejadian yang dilakukan putri dan menantunya kepada polisi tapi Shena melarangnya. Shena menjelaskan semuanya dan untungnya, Egha menerima apapun keputusan keluarga suami Shena untuk memberi hukuman yang pantas atas apa yang sudah putrinya itu lakukan. Hanya saja Egha jadi heran, kenapa Shena malah datang kemari hanya dengan para pelayan dan pengawalnya saja? Tanpa ditemani Leo.
"Kenapa kau datang sendiri? Di mana suamimu?" tanya Bibi Egha.
Shena meminta pengasuh Yeon untuk menidurkan putranya dikamarnya. Sebab, Yeon pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
"Ada yang harus aku lakukan Bi, dan aku tidak ingin Leo tahu. Jika ia menelepon ke sini, bilang saja Bibi tidak tahu. Ehm ... dan juga ... aku titip Yeon sebentar. Aku harus pergi kesuatu tempat."
__ADS_1
"Sekarang?" tanya Egha terkejut.
"Iya, sekarang."
"Kau mau ke mana? Kau baru saja tiba. Masa mau pergi lagi. Sarapan dulu, supaya kau punya tenaga." Bibi Egha agak sedikit cemas juga dengan Shena, baru datang, eh malah pergi lagi. Walaupun ia tidak tahu ada masalah apa antara Shena dengan suaminya, tetap saja Egha ingin Shena juga menjaga kesehatannya.
"Tadi, dijalan aku sudah makan, Bi. Jangan khawatirkan aku. Aku harus pergi. Titip Yeon ya, Bi. Aku janji, begitu urusanku selesai, aku akan segera pulang." Shena memeluk bibinya sebentar dan langsung pergi keluar dengan dikawal beberapa pengawal kiriman ibu mertuanya. Sebagian pengawal lagi, tetap tinggal untuk menjaga Yeon dengan ketat.
"Ada apa lagi dengan anak itu?" gumam Egha setelah melihat keponakannya pergi begitu saja.
Didalam mobil, Shena berbicara pada salah satu pengawal yang duduk di bangku depan bersama dengan sopir. "Apa kau yakin, wanita itu ada disekitar sini?" tanya Shena.
"Yakin, Nyonya. Laporan terakhir yang saya terima, dia baru saja tiba," jawab pengawal itu.
"Baiklah, kita kesana sekarang!"
"Baik, Nyonya." pengawal itu beralih pada sopir dan memberitahu lokasi yang akan mereka tuju.
Shena memandangi pemandangan alam yang indah di kampung halamannya. Sayang saja, hatinya sedang badmood akut jadi ia tak bisa sepenuhnya menikmati keindahan panorama alam ciptaan sang maha Kuasa.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1