
Shena sudah melihat Leo pergi mengendarai mobilnya saat ia tiba diluar. Tanpa berpikir panjang, Shenapun berlari kencang mengambil jalan pintas agar bisa menyusul Leo.
Jalanan yang didominasi dengan perkebunan teh dengan jalur rata-rata membentuk huruf U memudahkan Shena memotong jalan agar bisa mengejar suaminya. Jalur U pertama, Shena gagal mengejar Leo. Ia pun tak putus asa dan memotong jalur U kedua.
“Leo, apa yang terjadi denganmu!” gumam Shena disela-sela ia berlari sambil ngos-ngosan.
Sudah lama juga Shena tidak berlari seperti ini, ia hampir saja kehabisan napas, tapi tekadnya untuk menyusul suaminya terlalu kuat. Berkali-kali Shena menelepon ponsel suaminya tapi panggilannya sibuk terus. Sepertinya, Leo sedang bertelepon dengan seseorang sehingga Shena kesusahan menghubungi suaminya.
Hal itu semakin membuat cemas Shena. Sudah jelas sekali, pasti ada sesuatu hal yang buruk terjadi. Shena tidak tahu, harus menelepon siapa untuk mengetahui apa yang terjadi pada suaminya. Leo langsung jadi begitu setelah ia menerima panggilan dari orang yang tidak diketahui Shena siapa orang tersebut. Kabar apa yang diberitahukan orang itu pada Leo.
Itulah yang menjadi pikiran Shena saat ini. Dari kejauhan, Shena melihat mobil yang dikendarai suaminya sudah mulai dekat melewatinya.
Sebenarnya, Shena sudah tidak kuat berlari lagi, tapi ia tetap memaksakan diri. Bagaimanapun juga, Shena harus tahu apa yang terjadi pada suaminya. Ia tidak bisa hanya berdiri diam dirumah sementara ia sangat khawatir pada Leo.
Sayangnya, lagi-lagi usaha pengejaran Shena sia-sia. Shena sampai ditepi jalan tepat setelah Leo melewatinya. Shena berlari mengejar tapi napasnya sudah tidak kuat lagi. Alhasil Shena jatuh terduduk di tanah sambil berteriak memanggil-manggil nama Leo.
“Leooo! Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku! Kau bisa dengar aku! Leooo!” suara Shena mulai serak dan sudah tidak kuat lagi bernapas, tapi orang yang dipanggilnya terus saja melajukan mobilnya dengan kencang karena mungkin tak mendengar teriakan Shena.
Shena masih terduduk sambil menunduk mencoba mengatur kembali napasnya yang tersengal-sengal. Ia mulai menangis karena kini, suaminya sudah pergi jauh meninggalkannya tanpa memberikan alasan apapun mengenai apa yang terjadi. Shena terus menangis dan menangis, airmatanya mengalir deras jatuh membasahi tanah dihadapannya. Entah mengapa rasanya benar-benar menyesakkan dada. Tangan Shena sampai mencengkeram erat tanah itu untuk meluapkan emosinya.
“Leo, kau kenapa lagi?” isak Shena dalam tangisannya. Tubuhnya serasa lemas karena lelah. Rasanya, Shena sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdiri.
Tak berselang lama, sebuah sepasang kaki yang memakai sepatu kulit hitam berdiri tepat dihadapan Shena. Awalnya, Shena terkejut dan langsung mengenali siapa pemilik sepatu hitam tersebut. Seketika, Shena langsung menengadah dan mendapati Leo, suami tercintanya sudah berdiri mematung didepannya.
__ADS_1
“Leo!” panggil Shena dengan gemetar dan mencucurkan air mata. Dalam sekejap, Leo ikut berlutut dan memeluk erat tubuh istrinya.
“Apa yang kau lakukan, hm? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Sudah berapa lama kau berlari mengejarku? Kenapa kau lakukan ini, Shena? Apa yang harus aku lakukan jika sampai kau kenapa-napa?” seru Leo sambil terus menciumi rambut Shena.
Shena masih belum bisa banyak bicara karena napasnya belum kembali normal. Tapi ia sangat lega karena Leo kembali padanya. Shena hanya bisa membenamkan wajahnya dalam dekapan Leo. Saat ini, ia masih ingin dipeluk Leo lebih lama seperti ini. Sebab, sudah lama juga ia tidak merasakan pelukan hangat dari Leo pasca ia melahirkan, Leo terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan ia juga sibuk mengurus Yeon.
“Ayo, kita masuk ke dalam mobil,” ajak Leo, tapi Shena menolak.
“Tidak, antar aku membersihkan diri dulu di sungai yang ada disekitar sini. Lihatlah, aku kotor sekali.” Shena sudah mulai bisa berbicara meski napasnya masih sedikit ngos-ngosan.
“Oke.” Leo langsung menggendong tubuh Shena dan berjalan menerobos hamparan perkebunan teh menuju sungai yang ada dibawahnya.
Dalam gendongan Leo, Shena terus memperhatikan wajah suaminya yang sedang menatap kosong kedepan. Sekali lihat, Shena sangat yakin ada masalah genting sedang melanda Leo sehingga ia jadi murung begitu.
Namun, saat ini Shena tidak berani bertanya dan memutuskan diam saja. Sesampainya di tepi sungai, Leo berdiri mematung sambil masih menggendong istrinya.
“Tentu saja, karena aku dan almarhum ayahkulah yang menemukanmu saat kau hanyut terbawa arus sungai saat terjadi banjir bandang yang melanda wilayah ini.”
Leo langsung menoleh pada Shena yang sejak tadi menatapnya. “Kau ingat?” ekspresi Leo sedikit khawatir.
“Sebenarnya tidak, tapi dulu kak Arga pernah memberitahuku soal Bayu yang ternyata adalah suamiku sendiri. Kak Arga mengajakku kemari dan mengingatkanku masa-masa saat aku menemukanmu. Dan itu sudah lama sekali, tepat ketika aku melarikan diri darimu,” terang Shena tanpa tahu kalau suaminya sangat mengkhawatirkannya. Leo khawatir kalau Shena juga mengingat tentang samurai itu.
“Apa lagi yang kau ingat?” tanya Leo lagi.
__ADS_1
“Tidak ada, aku hanya ingat kalau Bayu itu kau, dan kau adalah Bayu.” Shena tersenyum manis dan mengecup mesra pipi suaminya, tapi Leo sama sekali tidak bereaksi seperti yang biasa ia lakukan sehingga membuat Shena semakin penasaran. “Ada apa Leo? Kau tidak suka aku menciummu?” tanya Shena.
“Suka,” jawab Leo singkat.
“Lalu kenapa kau murung begitu?”
“Tidak apa-apa.” Leo langsung membalas Shena dengan mencium lembut kening istrinya. “Sekarang bersihkan dirimu, aku akan menunggumu disini.” Leo menurunkan tubuh Shena dan istrinya itu langsung berjalan menuju sungai untuk mencuci tangan dan mukanya juga beberapa bagian pakaiannya yang kotor.
Dari dalam air, Shena memerhatikan Leo yang sedang duduk diatas batu besar sambil melamun. Melihat suaminya berwajah manyun begitu, tiba-tiba terlintas dipikiran Shena untuk mengerjai suaminya.
Shena mulai mengambil posisi yang tepat dan langsung menyipratkan air sungai yang ia arahkan langsung ke tubuh Leo. Shena terus menyerang suaminya sambil tertawa lepas dengan mengguyur air tanpa henti sehingga pakaian suaminya jadi basah kuyub.
Tentu saja Leo tersentak dan mencoba melindungi dirinya dari serangan air Shena dengan mengguakan kedua tangannya meski itu tidak ada gunanya. Bagaimanapun juga, Leo tetap basah semua akibat serangan beruntun Shena. Usaha Shena untuk membuat Leo tertawa akhirnya berhasil, suaminya itu mulai menatap jail padanya.
“Kau salah membangunkan singa yang sedang tidur, Sayang. Habislah kau sekarang! Jangan sampai kau tertangkap olehku karena aku akan menerkammu hidup-hidup.” Leo melepas sepatu dan jaketnya yang basah dan mulai maju mendekat kearah Shena.
“Kau tidak akan bisa menangkapku! Ini wilayahku, weeek!” Shena sengaja meledek Leo dan menantangnya. Ia sangat tahu kalau suaminya itu tidak suka dilawan ataupun ditantang.
“Huh, kau berani menantangku? Jangan salahkan aku jika kita terpaksa harus main bulan tertusuk ilalang disini!” Leo berlari mengejar Shena.
Untunglah air sungai disini tidak terlalu dalam sehingga mereka berdua bisa leluasa kejar-kejaran seperti anak kecil yang berusia 10 tahun.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***