
Dokter sedang memeriksa keadaan Shena dan kandungannya. Syukurlah kandungan Shena tidak apa-apa. Bahkan janin yang dikandung Shena semakin aktif bergerak. Semua orang yang ada di rumah ini pun bernapas lega melihat Shena baik-baik saja. Termasuk Laura, ia langsung memeluk erat sahabatnya dan mengelus lembut perut buncit Shena.
Sementara Leo, sengaja tidak mendekati Shena dan hanya menatap wajah istrinya dari jauh. Leo bahagia bisa melihat senyum manis Shena saat mengobrol dengan Laura. Kini, giliran tangan kanan Leo yang terluka dirawat oleh dokter yang tadi memeriksa Shena.
“Beberapa hari lagi, luka anda akan sembuh. Bagaimana bisa anda terkena luka sampai sedalam ini? Untung anda langsung membalutnya dengan kain sehingga lukanya cepat menutup dan meminimalisir bakteri masuk kedalam luka anda.” Dokter paruh baya itu berkosentrasi penuh mengobati luka Leo.
“Aku seorang gengster, Dok. Wajar kalau aku dapat luka seperti ini. Apalagi, lukaku ini demi melindungi seorang wanita cantik. Bukankah aku pantas disebut pahlawan super?” Leo tersenyum simpul menatap wajah Shena yang kini juga menatapnya.
Sedangkan dokter yang membalut luka Leo, hanya mengerutkan kening karena tak mengerti arti dari kata-kata Leo. “Sepertinya, anda pandai merayu rupanya. Sudah berapa banyak wanita yang jatuh kepelukan anda, Tuan?” sepertinya dokter itu tidak tahu ada dimana dia sekarang sehingga seenak jidatanya berani berkata seperti itu dihadapan Leo.
Bahkan Roy dan Laura langsung menatap tajam dokter itu berharap Leo tidak mencekiknya karena sudah berani bicara sembarangan pada seorang gengster nggak ada akhlak yang ia obati lukanya.
“Tak terhingga, Dok.” Shenalah yang menjawab pertanyaan dokter itu, untuk mencairkan suasana tegang menyelimuti semuanya secara tiba-tiba. “Bahkan ada juga yang sampai rela mati bila tak mendapatkan cinta dari orang yang sedang anda balut lukanya itu.” Shena tersenyum manis sekali.
Tatapan matanya menatap tajam manik mata Leo yang juga melihatnya dalam diam karena merasa tersindir. Leo yang tadinya kesal, langsung mencair mendengar sindiran tajam dari istrinya.
“Satu-satunya wanita yang aku rayu, tidak percaya dengan cintaku padanya, Dok. Berkali-kali dia kabur dariku, padahal aku sangat mencintainya. Apapun akan aku lalukan untuknya, tapi dia masih saja tidak percaya.” Leo jadi curhat pada dokter itu.
Laura dan Roy hanya bisa menganga, ia menatap suaminya Roy yang berdiri dibelakang Leo. “Drama apa yang sedang dimainkan Leo sekarang?” itulah arti dari tatapan Laura untuk Roy.
Suami Laura itu hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti, ia sendiri juga bingung karena Leo berkata seperti itu sambil menatap Shena, sedangkan dokter yang ia ajak curhat itu entah bisa nyambung atau tidak dengan apa yang dikatakan Leo padanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, anda harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan cintanya, Tuan. Jangan sampai lepas!” saran dokter itu tanpa tahu bahwa wanita yang dimaksud Leo sudah menjadi miliknya seutuhnya. “Tapi, siapa wanita yang anda maksud, Tuan? Apa dia ada disini?” tanya dokter itu bingung. Sebab, ia mengira Leo adalah suami Shena, tapi mendengar kata-kata Leo barusan, dokter itu jadi ragu, jangan-jangan Leo punya wanita idaman lain.
“Dia ada didepanku, Dok. Dan sedang menatapku.” Lagi-lagi Leo tersenyum menatap Shena.
Dasar si kampret Leo, bisa-bisanya dia mempermainkan seorang dokter, batin Shena.
Dokter itupun berbalik arah dan melihat Shena yang sedang menatap Leo. “Oh, aku kira siapa, maaf sudah berburuk sangka. Baiklah kalau begitu. Aku sudah memberikan obat antibiotik agar luka anda tidak infeksi. Dan jangan lupa berikan vitamin untuk istri anda yang sedang hamil sesuai resep yang saya tulis ini.” dokter itu memberikan selebaran kertas kecil pada Leo. “Jangan biarkan wanita yang anda cintai itu kabur lagi, saya permisi.” Sindiran tajam untuk Leo dari dokter itu. Ia pun tersenyum menatap Leo yang sejak tadi tak pernah lepas dari pandangan Shena.
“Terima kasih atas sarannya Dok, akan selalu aku ingat!” Leo berbicara masih sambil menatap istrinya.
Sedangkan Roy memberi kode keras pada Laura untuk meninggalkan Leo dan Shena berdua saja. Pasangan somplak itu sepertinya sedang kasmaran tingkat dewa, sampai tidak ingat kalau dunia ini bukan hanya milik mereka berdua saja, tapi juga milik Roy dan Laura.
“Biarkan saja mereka, aku makin stres melihat Leo dan Shena seperti orang yang akan menikah saja. Tatapan mereka benar-benar membuatku ingin muntah,” ujar Roy pada Laura setelah ia mengantar dokter tadi sampai dihalaman depan rumah.
“Untunglah aku masih waras, dan tidak ketularan gilanya Leo.”
“Siapa yang bilang kau waras? Kau itu sama gilanya dengan Leo!” ujar Laura sambil melangkah masuk ke dalam. Tapi lengan gadis itu dicekal oleh Roy dan ia langsung menarik tubuh Laura ke dalam pelukannya.
“Kau bilang apa, tadi?” tanya Roy sambil menatap tajam mata Laura.
“Apanya?” Laura beringsut mencoba melepaskan diri dari Roy, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman ditubuhnya. “Roy! Lepaskan aku, cepat!” pinta Laura.
__ADS_1
“Tidak mau! Tarik kata-katamu dulu, baru aku akan melepaskanmu!” Roy semakin mengeratkan pelukannya dan tiba-tiba saja Laura muntah tepat mengenai wajah suaminya.
Hueeeeeek!
Wajah Roy langsung kotor dan berantakan akibat terkena muntahan Laura. Spontan keduanya langsung melompat mundur dan Laura makin panik melihat wajah Roy jadi aneh.
“Aaaaaaaah!” teriak Laura dan ia langsung berlari ke halaman rumahnya untuk mencari selang yang biasa ia gunakan menyiram tanaman. Ia juga menyalakan kran air sampai mengalir diselang yang Laura pegang.
Tanpa peringatan, Laura mengguyur tubuh Roy dengan air sampai kotoran diwajahnya itu hilang. Tentu saja kejadian itu membuat Roy jadi kelabakan karena ini pertama kali dalam hidupnya, wajah tampan Roy terkena muntahan istrinya sendiri.
“Ra! Pelan-pelan! Aku tidak bisa bernapas?” teriak Roy sambil gelagapan karena Laura menyiram wajahnya terus-terusan tanpa henti.
“Aku sudah bilang padamu untuk melepaskanku. Tapi, kau tidak mau dengar. lihat wajahmu! Kau jadi jelek begitu!” bentak Laura kesal. Padahal yang menyebabkan Roy jadi seperti itu adalah dirinya sendiri.
“Kau tidak bilang kalau kau ingin muntah!” Roy balas berteriak.
“Mana aku tahu kalau aku tiba-tiba mau muntah? Aku sendiri baru pertama kali merasa aneh begini, biasanya aku tidak pernah seperti ini. Aneh, kan?” Laura tak mau kalah, keduanya berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. Bahkan Laura terus menyiram tubuh suaminya dengan air tanpa henti.
****
Masih ada satu episode lagi dan akan aku upload tengah malam nanti. Ditunggu ya ...
__ADS_1