Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 294 Borgol


__ADS_3

Menghilangnya Shena dan Yuna yang begitu tiba-tiba membuat Larasati benar-benar merasa kalau keselamatannya sedang terancam. Secara, ia mengira bahwa Shena adalah pembunuh yang berbahaya dan bisa membunuh siapa saja. Padahal Shena sama sekali belum melakukan apa-apa, tapi wanita jahat itu sudah ketakutan. Ia bahkan berjalan kesana kemari seperti orang gila yang sedang kesurupan mencari-cari keberadaan.


“Kemana si pembunuh itu pergi? Apa dia takut karena aku memanggil polisi kemari?” teriak Larasati dengan suara gemetar. Sedangkan anak dan suaminya tak bisa berkata-kata.


“Aku di sini!” seru Shena dari balik pintu belakang dan otomatis mengagetkan semua orang.


Ternyata, Shena sengaja meminta Yuna untuk mengajaknya masuk lewat pintu belakang rumah yang tidak terkunci. Mungkin saking paniknya, si nenek sihir itu lupa mengunci pintu bagian belakang sehingga Shena dan Yuna bisa masuk dengan mudah. Kedua putri Larasati langsung berlari ke belakang punggung ibunya yang terbelalak tak percaya melihat Shena mendadak sudah ada di dalam rumah ini.


“Ba-bagaimana … kau … bisa masuk kemari?” tanya Larasati sambil terus bersikap waspada. Ia langsung mengambil sapu dan bersiap-siap menyerang Shena.


Sedangkan Shena sendiri, tetap diam dan santuy habis melihat kepanikan dari ibu angkat Yuna. Alih-alih menjawab pertanyaan Larasati, Shena malah beralih menatap Yuna yang berdiri diam di samping Shena.


“Yuna, kau punya es batu? Aku haus sekali, mungkin sedikit es teh bisa menyegarkan tenggorokanku.” Secara tidak langsung ia memaksakan diri dijamu di rumah ini meskipun Shena tak diterima oleh sang pemilik rumah.


Namun bukan Shena namanya kalau ia menyerah pada orang seperti Larasati. Karena sudah lama hidup dengan si gangster Leo, sedikit banyak Shena mempelajari cara suaminya saat menghadapi musuh-musuhnya. Salah satunya adalah membuat lawannya kesal setengah mati hingga mereka tidak mampu lagi berdiri.


“Akan kubuatkan, Bi. Bibi cari saja tempat yang nyaman, anggap ini rumah sendiri,” ujar Yuna semakin memperkeruh suasana. Tanpa peduli dengan para wanita yang menatap marah padanya, Yuna membuatkan Shena minuman segar seperi yang diinginkannya.


“Eh-eh … mau apa kau? Jangan sentuh dapur dan kulkasku! Siapa yang mengizinkanmu, ha?” sengal Larasati. Ia hendak pergi menghampiri Yuna tapi langkahnya langsung di hadang oleh Shena.

__ADS_1


“Aku! Kau tidak terima?” seru Shena sambil menatap lurus wanita jahat yang ada didepannya. “Berani maju selangkah saja, kau tanggung sendiri akibatnya. Kalau kau ingin berumur panjang, sebaiknya kau tetap diam ditempatmu!” ancam Shena sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sungguh gaya Shena benar-benar terlihat sangat keren dan cool abis.


Siapa yang tidak takut dengan tatapan mata Shena yang menakutkan. Larasati langsung mati kutu tapi ia tak ingin kelihatan lemah di depan suami dan anak-anaknya. Tanpa ada yang menduga, ibu angkat Yuna itu melayangkan sapunya pada Shena. Sayangnya, serangan itu dengan cepat bisa ditangkis Shena hanya sekali tendangan. Bahkan sapu malang itu langsung patah jadi dua akibat tendangan Shena.


“Huh, jadi … kau ingin melawanku?” tanya Shena masih dengan santuy menatap wajah tegang dihadapannya. “Senjata sapu hanya akan jadi selilit saja bagiku. Harusnya kau gunakan pisau atau pedang bila ingin bertarung denganku? Mau coba?” tawaran yang menakutkan dari Shena.


Istri Leo itu tak main-main dengan ucapannya. Ia berjalan pelan ke dapur tempat dimana Yuna sedang sibuk membuatkan minuman dingin untuknya dan mengambil sebuah belati tajam dari dapur tersebut. Sambil membawa belati berukuran sedang, Shena kembali berjalan mendekat ke arah Larasati. Seketika wanita itu langsung bergidik ngeri.


“Pergi kau! Jangan dekat-dekat!” bentak Larasati saat Shena mendekatinya. Ia mundur menjauh dari Shena tapi istri Leo itu terus saja maju melangkah. “Aku bilang pergi! Apa kau tidak dengar? Kau itu setan! Iblis jahat! Kau psikopat dan bukan manusia! Jauhkan pisau itu dariku! Kalau kau ingin membunuh orang, bunuh saja orang lain? Jangan bunuh aku! Aku tak punya urusan denganmu!” Larasati benar-benar ketakutan, tapi masih bisa mengumpati orang.


Dasar tak sadar diri! Kata-kata pedas yang Larasati tujukan pada Shena, lebih tepat disematkan dalam dirinya sendiri. Untung Leo tidak ada di sini, jika saja gangster nggak ada akhlak itu tahu istrinya dikatain begitu, mungkin si nenek sihir ini sudah berpindah tempat ke alam lain.


“Huh, kata-katamu itu kasar sekali, mana ada psikopat, setan, iblis secantik diriku? Lihat kakiku, menginjak tanah, kan? Artinya aku bukan setan, aku manusia sama seperti kalian, bedanya … aku masih punya belas kasih, tak seperti kalian yang suka menyiksa orang!” sengal Shena marah. Tiba-tiba saja Shena menjulurkan satu tangannya yang memegang pisau ke arah Larasati sehingga wanita itu berteriak kencang karena mengira hendak ditikam oleh Shena.


“Aaaaaarrgggghhhh!” teriak Larasati sekencang-kencangnya sampai memekikkan telinga siapa saja yang mendengar.


Namun ternyata, dugaan nenek sihir itu salah besar. Shena tidak melakukan apa yang dipikirkan Larasati. Istri Leo itu sengaja memberikan pisau itu pada wanita yang ada dihadapannya.


“Ini,” ujar Shena masih terlihat tenang setenang permukaan air kolam. “Kalau kau ingin melawanku, gunakan ini! Jangan gunakan sapu.” Tangan Shena masih menjulurkan pisau pada Larasati yang masih gemetar ketakutan. “Cepat!” bentak Shena keras sehingga mengagetkan Larasati, spontan ia menyabet pisau tersebut dati tangan Shena dan mengarahkannya pada istri Leo.

__ADS_1


“Pergi kau!” ujar Larasati dengan kondisi tubuh yang gemetaran. Bahkan ia tak becus memegang gagang pisau kerena tangannya berkeringat saking takutnya.


“Huh, pegang pisau yang benar, jangan sampai pisau itu menusuk dirimu sendiri.” Shena semakin mengintimidasi Larasati yang terus saja ketakutan.


Bersamaan dengan itu, beberapa polisi datang dan langsung mendobrak pintu rumah Larasati. Karena suasananya terlalu tegang, semua orang yang ada di dalam rumah ini sampai tidak sadar kalau mobil polisi sudah tiba di halaman rumah Rizal sejak tadi. Para polisi itu mendengar suara keras teriakan Larasati dan mereka langsung mendobrak pintu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Dan benar saja, begitu polisi membuka paksa pintu, mereka melihat sesuatu yang sangat mengejutkan mata. Kedatangan polisi-polisi tersebut, membuat hati Larasati tenang dan juga senang. Dengan PeDenya, ia berlari ke arah polisi dan menyuruh mereka menangkap Shena.


“Tangkap pembunuh itu, Pak?” tunjuk Larasati pada Shena. “Dialah wanita yang sudah membunuh Datuk Situroja. Dia sendiri yang mengatakannya. Kalian tangkap saja dia dan beri hukuman yang sangat berat!” seru Larasati tanpa sadar kalau dirinyalah yang terlihat lebih cocok menjadi seorang pembunuh ketimbang Shena. Sebab, ditangannya ada pisau tajam yang pada saat polisi itu masuk, posisi Larasati seolah hendak menyerang Shena menggunakan pisau tajam tersebut.


Tanpa bicara lagi, polisi itu mengeluarkan borgolnya dan bukannya menangkap Shena, polisi tersebut malah menangkap Larasati. Tentu saja wanita yang tadinya bahagia karena mengira melihat Shena hendak diborgol mendadak bingung bukan kepalang sebab malah tangannya sendiri yang kena borgol.


“Hei, Pak? Borgolnya salah orang? Harusnya yang kau tangkap itu dia, bukan aku! Kenapa kau memborgol tanganku, ha? Lepaskan aku dan borgol wanita itu?” teriak Larasati masih saja tidak mengerti dengan situasi yang sudah memojokkannya.


BERSAMBUNG


***


.

__ADS_1


__ADS_2