
Tak ada yang bisa dilakukan Roy selain diam jika Laura sudah mulai marah. Sebenarnya, Roy tidak bermaksud menyembunyikan semua ini dari Laura. Namun, ia selalu tak punya kesempatan untuk menjelaskannya bahwa Shena dan Leo masih hidup dan yang di rumah sakit itu hanyalah boneka tiruan mereka saja.
Sayangnya, dua wanita cantik ini sudah terlanjur emosi karena telah merasa dibohongi. Salah satu ketakutan para suami jika para istri mereka sedang marah adalah, tidak dikasih jatah. Dan itu juga berlaku untuk Leo. Shena langsung melirik suaminya karena sudah ketahuan bohong juga. Pakai acara nuduh Roy segala, padahal otak dari semua ini adalah Leo sendiri.
"Jadi ... ini semua idemu, ha? Dan bukannya ide Roy?" tanya Shena pada Leo yang masih bisa cengar cengir kuda saat Shena mulai menginterogasinya.
"Ehm, ide kami berdua." Leo tetap terlihat tenang-tenang saja dan tidak mau disalahkan sendiri.
"Enak saja!" Pekik Roy. "Kau yang merencanakan semua ini, aku hanya tinggal melaksanakan!" Roy tak terima disalahkan.
"Aku kan hanya bercanda, tapi kau langsung menyetujuinya." Leo mencoba membela diri.
"Kau tak bilang kalau becanda!" Roy tetap tidak terima dan ikut membela diri juga. Ia tidak mau dijadikan kambing hitam lagi oleh Leo.
"Kalian berdua sama saja! Dasar buaya laknaat!" umpat Shena kasar pada suaminya saking kesalnya telah dipermainkan seperti ini. "Dan kau temannya buaya laaknat!" Tunjuk Shena pada Roy. "Mulai sekarang, aku tidak mau bicara pada kalian berdua!" Shena mendekat ke arah suaminya sambil berkata, "Jangan harap kau akan dapat jatah dariku, Leo. Dan kau Roy. Selamat menjalani puasa panjang sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Ingat itu baik-baik," ancam Shena dan itu semakin membuat Leo jadi gemas pada Shena.
Kalau saja Leo tak punya urusan yang mendesak, pasti sudah ia sudah menggendong Shena dan menguncinya didalam kamar lalu melakukan ritual panjang dengan Shena. Sayang saja, Leo tak bisa melaksanakan niatnya itu. "Ayo, Ra! Kita tinggalkan saja mereka berdua." Shena menggamit lengan Laura dan mengajaknya pergi dari sini.
Namun Roy sepertinya masih belum menyerah. Ia berlari menghadang langkah istrinya yang hendak pergi meninggalkannya.
"Ra! Dengar dulu penjelasanku, aku punya alasan kenapa aku tidak memberitahumu."
"Oh iya? Kau puas karena melihatku menangis seperti orang bodoh karena mengira Shena dan Leo adalah arwah gentayangan yang menghantuiku?" sindir Laura.
"Bukan begitu, Ra. Kau salah paham. Bahaya besar sedang mengintai Leo dan seluruh keluarganya. Tak menuntut kemungkinan, musuh mereka juga mengawasi kita karena kita merupakan orang terdekat dengan Leo. Akan lebih baik kalau kesedihanmu yang natural ini bisa meyakinkan mereka semua kalau musuh yang mereka incar memang sudah tiada." Alasan Roy sangat masuk akal, tapi dalam sudut pandang Laura, tak seharusnya hal besar seperti ini Roy sembunyikan darinya.
__ADS_1
"Roy, jika kau memberitahuku lebih awal, aku bisa berakting jauh lebih baik dari ini agar musuh-musuh kalian sangat yakin dan rencana kalian bisa tetap berjalan. Kau tahu betapa hancurnya aku saat tahu sahabatku dinyatakan tiada tepat didepan mataku? Sama halnya dengan dirimu, Roy. Akupun akan melakukan apa saja asal bisa melindungi orang-orang yang kusayangi. Tapi kau ... menganggap perasaanku adalah sebuah permainan untukmu. Aku sangat menyangkan itu. Aku ... benar-benar kesal dan kecewa padamu." Laura langsung melengos pergi begitu saja meninggalkan Roy dan langsung diikuti oleh Shena dengan tatapan mata menakutkan.
"Ra!" Roy hendak menyusul istrinya tapi dicegah Leo.
"Biarkan saja mereka Roy. Tidak ada gunanya kau bicara dengan mereka sekarang. Biarkan mereka menenangkan diri dulu. Nanti saja kita rayu mereka," ujar Leo.
"Diam kau buaya laknaat!" umpat Roy kesal menirukan kata-kata Shena sehingga membuat Leo tertawa.
"Wahai sahabat buaya laknaat. Sekarang, ada hal penting yang harus kita lakukan. Kita harus menyelesaikan kekacauan ini secepatnya. Aku juga tidak mau kehilangan jatah. Sayangnya, sekarang bukan saatnya merayu istri yang merajuk, ayo pergi." Leo menepuk pelan bahu Roy
dan bersiap pergi meninggalkan istri-istri mereka yang sedang marah.
Berbeda dengan Roy yang jadi kalut saat Laura mengatakan rasa kecewa padanya. Leo justru terlihat santai dan sangat tenang seolah ada yang ia sembunyikan.
***
"Ehm, mereka baru saja berangkat. Harusnya aku tidak marah padanya. Seharusnya, aku menyemangati Roy membasmi orang-orang yang berniat jahat padamu. Apa tidak apa-apa mereka pergi tanpa pamit pada kita?" ujar Laura sedih.
"Justru mereka merasa beruntung kalau kita marah. Dengan begitu mereka bisa leluasa fokus pada apa yang mereka kerjakan tanpa perlu mengkhawatirkan kita. Kita tunggu saja mereka kembali, jika dalam waktu yang sudah ditentukan mereka juga belum datang, kitalah yang akan menyusul mereka kesana." Shena tersenyum pada Laura. Ia tahu sahabatnya ini sedang galau.
Shena berjalan mendekat kearah Laura dan memeluk sahabatnya. "Mereka akan baik-baik saja. Para suami-suami kita itu sangat keren dan juga hebat. Mereka berdua takkan mudah dikalahkan. Ada hikmahnya juga para kampret itu bersandiwara seperti ini. Aku jadi semakin bersyukur punya sahabat sepertimu. Terimakasih, Ra. Sudah mau menyayangiku sampai seperti ini." Mata Shena jadi berkaca-kaca begitupula dengan Laura.
"Kalau kau jadi aku, aku yakin kau pasti juga akan melakukan hal sama seperti yang kulakukan begitu mendengar kau kenapa-napa."
"Benar juga." Shena menatap wajah Laura dengan hati lega.
__ADS_1
Kedua sahabat baik itu saling menatap kearah jendela mengamati mobil-mobil suami mereka yang semakin lama semakin jauh.
"Kami akan menunggu kepulangan kalian," ujar Laura mulai bisa tersenyum.
"Dan buat perhitungan dengan kalian karena mengerjai kami sampai seperti ini," tambah Shena dengan senyum sinisnya. Keduanya saling pandang dan mulai merencanakan pembalasan yang harus diterima suami-suami mereka.
Leo dan Roy tiba-tiba saja bersin bersamaan saat keduanya berada dalam satu mobil. Seketika, Roy menoleh kebelakang dan mengamati istana tempat istrinya dan istri Leo itu berada.
"Ada apa Roy? Kau gelisah?" ledek Leo.
"Entah kenapa aku punya firasat kalau para istri-istri kita sedang merencanakan sesuatu untuk kita," ujar Roy sambil membenahi posisi duduknya menghadap kedepan.
"Biarkan saja, apapun rencana mereka. Pada akhirnya akan berakhir diatas ranjang." Leo menyeringai seolah ia siap menerima segala sesuatu yang direncanakan Shena untuknya.
"Kau benar-benar nggak ada akhlak!"
"Dan kau temannya nggak ada akhlak!" Leo tertawa.
"Aku sendiri heran, kenapa aku bisa punya teman sepertimu!"
"Karena manusia sepertiku itu langka sekali. Hidupmu tidak akan berwarna jika tak punya teman sepertiku, hehe."
Roy berdecak kesal karena Leo bertingkah menyebalkan. Sepanjang perjalanan keduanya membahas segala hal yang akan dilakukan untuk mengeksekusi orang-orang yang sudah berani mengganggu ketenangan hidup Leo. Keduanya ingin segera menyelesaikan peperangan ini supaya bisa bermadu kasih dengan istri-istri mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***