
Kedatangan Xiao Lung yang langsung memeluk Nostra Cassano, tentu saja membuat Leo dan Shena terkejut. Bagaimana tidak? Wanita cantik itulah alasan Leo dan Shena ada disini, demi bisa mempertemukan artis idola Shena dengan Xiao Lung. Tidak disangka, rupanya wanita itu malah memeluk pria lain, dan bukannya Kun. Padahal sebelumnya, baik Shena ataupun Leo pikir, dua sejoli itu sedang memadu kasih di dalam ruangan yang sudah Leo siapkan sejak awal, tapi ternyata dugaan mereka berdua salah besar.
Mata Leo dan Shena juga tertuju pada pria kembaran Leo yang terlihat berantakan saat ia keluar dari pintu bar. Sepertinya, ia ditolak oleh wanita cantik ini. Semua terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang sedih dan terlihat nyesek banget.
Wuah, wajah idolaku kusut sekali kalau lagi galau, apa yang akan dilakukan para fans fanatiknya kalu tahu idolanya ini sedang patah hati, batin Shena jadi ikutan sedih. Iapun beralih menatap kekasih idolanya.
“Xiao Lung, ada apa ini? Kenapa kau ….” Shena tak sanggup meneruskan kata-katanya karena dengan cepat ia memahami situasi yang terjadi diantara Kun dan Xiao Lung. “Apa kau tahu yang dilakukan kekasihmu itu supaya bisa sampai kemari? Ia rela dihajar oleh musuh-musuh Leo karena bersedia menggantikan posisi suamiku supaya Leo membantunya datang kesini? Kau tahu sendiri, kalau tempat ini tak bisa didatangi sembarang orang dan Kun cuma bisa mengandalkan Leo supaya mau membantunya. Ada banyak hal sulit yang harus ia lewati demi bisa bertemu dengamu? Tapi kenapa kau mengecewakan dia?” nada suara Shena terlihat sedih dan membuat Leo terpaku melihat reaksi istrinya seolah dialah yang dicampakkan.
“Hei Sayang, bukan aku yang menyakitimu? Kenapa kau sesedih itu?” bisik Leo mulai cemburu karena Shena membela artis idolanya.
“Diam kau! Aku sedang berakting!” geram Shena sambil menatap tajam mata Xiao Lung, dan mengacuhkan Leo.
“Nyonya Leopard! Hentikan,” seru Kun mendahului Leo yang hendak protes. “Tolong jangan ikut campur lagi urusanku, terimakasih kalian sudah bersedia mengantarku kemari. Sekarang sebaiknya, kalian berdua pergi dari sini.”
Mendengar pernyataan Kun yang seolah pasrah dengan keadaannya sekarang, langsung membuat Leo jengkel. Semudah itu kembarannya menyerah pada wanita yang dicintainya setelah apa yang sudah ia korbankan demi bisa sampai kemari. Kun beranjak lesu hendak meninggalkan tempat ini, tapi Leo menghentikan langkahnya. Sementara Shena juga langsung diam saja saat suaminya mulai bereaksi.
“Hei bodoh! Apa cuma ini yang bisa kau lakukan? Kenapa kau cemen sekali, ha? Kau juga sangat menyedihkan! Dasar payah! Aku tidak percaya kau bisa menyerah semudah itu. Apa kau tak malu dengan nama besarmu itu, ha?” Leo sengaja mengolok-ngolok Kun.
“Lalu kau ingin aku bagaimana? Aku bukan gangster sepertimu yang suka memaksa kehendak orang lain!” teriak Kun emosi. “Mempertahankan dia? Memintanya supaya lebih memilihku daripada orang itu sementara aku tak bisa menjanjikan apapun untuknya? Dia pergi karena dia tak ingin karirku hancur? Itulah alasan kenapa dia ada disini dan bersama dengan pria itu? Aku rasa, Xiao Lung jauh lebih cocok dengannya daripada denganku yang tak punya kepastian!”
Leo dan Kun saling menatap tajam. Mereka berdua sama-sama emosi sekarang. Ini pertama kali bagi Shena melihat Leo bisa setenang itu menghadapi kembarannya walaupun ia sedang marah. Biasanya Leo suka main kasar dan tidak sabaran.
“Sayang,” ujar Leo pada Shena. “Boleh kubikin bonyok muka artis idolamu ini? Aku kesal sekali dengannya? Kenapa dia tak gentle sama sekali? Itukah artis yang kau sukai?” geram Leo. Matanya tak pernah lepas dari kembarannya.
__ADS_1
Shena hanya diam tanpa tahu harus berkomentar apa. Disisi lain, apa yang dikatakan Leo memang benar, tak seharusnya Kun menyerah pada wanita yang dicintainya. Namun, dalam sudut pandang seorang artis, menjalin hubungan dengan wanita lain adalah hal yang tak mudah dilakukan, sebab itu bisa menimbulkan pro dan kontra para fans fanatiknya. Segala aktivitas sang artis selalu dalam pengawasan para fansnya. Tak sedikit pula yang menganggap bahwa seorang artis idola adalah milik para fansnya.
Jika sampai sang artis menjalin hubungan dengan wanita lain yang, tentu saja para fans akan banyak yang kecewa dan tak menuntut kemungkinan fans tersebut tadi akan berubah menjadi antifans. Mungkin itulah yang ditakutkan Xiao Lung jika hubungannya dengan Kun dilanjutkan dan diketahui oleh semua orang.
Ditengah kemelut cinta antara Kun dan Xiao Lung, Shena tak sengaja melihat sesuatu hal yang ternyata, masalah ini tak serumit dugaannya. Shena langsung membisikkan sesuatu di telinga Leo sambil melirik Xiao Lung dan Nostra yang sejak tadi hanya diam membisu tanpa suara. Mata Leo langsung terpusat pada sesuatu yang dikatakan istrinya dan iapun langsung tersenyum.
“Kau cerdas Sayang. Aku makin cinta padamu. Hadeuh bikin badmood saja. Kenapa aku malah baru tahu?” ujar Leo langsung mencium mesra bibir Shena tanpa peduli ada banyak pasang mata menatapanya.
Leo berjalan mendekat ke arah Kun sambil berkata, “Kau bodoh! Kau tak percaya pada cintamu sendiri. Kau lupa ada dimana kau sekarang, ha? Disini … kau bukanlah siapa-siapa. Kau hanya manusia biasa tanpa ada embel-embel artis di depan namamu. Tidak ada yang tahu siapa kau sebenarnya. Diluar sana kau mungkin artis papan atas. Tapi disini, kau sama saja dengan yang lainnya. Kau hanya warga sipil biasa. Dan kau bilang apa tadi? Xiao Lung lebih cocok dengan Nostra?” Leo mengulang pernyataan kembarannya. “Huh, mereka berdua tidak akan pernah bisa bersama meskipun mereka menginginkannya.” Leo tersenyunm sinis dan itu membuat dahi Kun jadi berkerut.
“Kenapa? Apa maksud ucapanmu?”
“Mereka bersaudara, mana mungkin mereka bersama! Kau ini bodoh sekali!”
“Aku gangster, tentu saja aku tahu. Gelang hitam yang dipakai kekasihmu, itu adalah symbol keluarga mafia yang dibuat oleh mafia dari keluarga Cassano. Huh, kau payah.” Leo beralih menatap teman lamanya, “Sampaikan salamku pada Paulo. Katakan padanya jika ada waktu senggang, aku ingin baku tembak dengannya seperti dulu!” seru Leo.
“Tentu, akan aku sampaikan!” ucap Nostra sambil mengarahkan seluruh anak buahnya meninggalkan tempat ini.
“Ayo kita pergi juga dari sini, Sayang! Buang-buang waktu saja!” Leo merangkul bahu istrinya dan beranjak pergi. “Jangan lupa tugas terakhirmu setelah ini. Jangan sampai kau tak datang nanti, aku akan buat perhitungan denganmu kalau kau tak melakukan tugasmu dengan baik,” ujar Leo pada Kun yang masih berdiri terpaku menatap wajah kekasihnya. Kun terkesan acuh pada ancaman Leo, tapi ia tak ada niat untuk mengingkari janjinya.
“Tentu!” ujar Kun singkat dan ia berjalan kearah kekasihnya.
***
__ADS_1
“Apa yang harus dilakukan artis idolaku padamu? Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Shena saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Nanti kau akan tahu sendiri, Sayang. Mari kita pulang dan bikin anak,” goda Leo pada istrinya dan Shena langsung memukul lengan Leo dengan kuat.
“Apa cuma itu yang ada diotakmu, ha? Dasar gangster nggak ada akhlak!” umpat Shena terang-terangan di depan suaminya karena ia dongkol akut dengan Leo.
“Kenapa, Sayang. Kau sendiri yang setuju tadi, lagipula aku berhak atas hadiah yang harusnya aku dapat atas semua aksi yang kulakukan?” ujar Leo tanpa dosa dan tetap fokus menyetir. Sesekali Leo melirik wajah menggemaskan Shena yang lagi kesal.
“Tapi nggak harus dibahas disini juga kali? Apa kau tidak lihat aku sedang badmood?” pekik Shena.
“Lihat, tapi aku nggak peduli! Begitu ada hotel, kita berhenti disitu!” tandas Leo. Ia mengamati sekeliling, kali aja memang ada tempat penginapan yang bisa ia gunakan untuk bermain bulan tertusuk ilalang dengan Shena. Nggak ada akhlaknya Leo, memang nggak hilang-hilang dari dulu.
“Hah? Apa kau sudah gila, Leo?” Shena memelototi suaminya, ditambah lagi Leo terlihat tak main-main dengan ucapannya.
“Ah … atau kita cari tempat sepi dan main di dalam sini? Aku tak melihat ada hotel di sini. Aku juga ingin mencoba, seperti apa rasanya main di dalam mobil.” Leo semakin membuat Shena emosi.
“Kau sudah tidak waras, Leo? Atau bisa jadi kau sedang ketempelan setan mesum. Aku harus memanggil kak Refald supaya mengeluarkan setan mesum itu dari tubuhmu! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu!” Shena bergidik ngeri menatap Leo yang tertawa tanpa suara karena berhasil menggoda istrinya.
“Kalau kau memanggil si biksu Tong itu, ia akan menyediakan ruangan khusus untuk kita berdua dimana, kau dan aku takkan pernah bisa kembali lagi ke dunia ini. Mau coba? Panggil dia sekarang!” Leo malah menantang Shena yang menatap tak percaya padanya.
Ada apa dengan orang ini? batin Shena.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***