
Keesokan paginya, Leo mulai bersiap-siap untuk melakukan apa yang sudah ia rencanakan dengan Refald yaitu membereskan tikus-tikus yang bisa menghambat langkah mereka ketika akan menangkap pemimpin sindikat yang sedang bersembunyi di desa tempat Shena dilahirkan.
Shena yang mengetahui hal itu, agak sedikit cemas tapi juga marah karena desanya telah dijadikan sarang penyamun kelas kakap. Ia pun ikut membantu suaminya bersiap-siap.
"Jangan lupa pakai rompi anti peluru!" Shena mengambil sebuah rompi dan memakaikannya pada Leo.
"Darimana kau mendapatkan rompi ini, Sayang?"
"Kak Refald yang memberikannya kemarin saat ia datang kemari menyampaikan pesanmu padaku." Shena memeluk tubuh tinggi suaminya setelah memasangkan rompi.
"Sampai hari kemarin aku mengira kalau kau marah dan ingin menghabisi penjahat itu karena aku, tapi sekarang aku rasa apa yang terjadi pada penjahat itu sepenuhnya bukan salahku. Beraninya mereka merusak desa tempat kelahiranku. Aku ... tidak bisa menerima semua ini, Leo. Sama halnya denganmu yang tak terima karena mereka membunuh anak buahmu dengan keji. Akupun tak terima mereka menjadikan desaku sebagai tempat sarang kejahatan mereka." Shena menatap wajah tampan suaminya yang terdiam menatap Shena. "Mungkin permintaanku ini agak berlebihan, tapi ... aku tahu kau bisa melakukannya untukku."
"Katakan apa yang kau inginkan, Sayang." Leo membelai mesra kedua pipi Shena.
"Pertama, habisi para penjahat itu terserah dengan cara apapun yang kau suka. Kedua, izinkan aku menghadiri pemakaman keluarga anak buahmu untuk memberikan hadiah kemenangan yang diberikan kak Refald padaku. Aku rasa ... merekalah yang berhak mendapatkan hadiah ini. Apa kau keberatan?" Shena menatap wajah suaminya yang terdiam membisu didepannya.
Bukannya menjawab, Leo malah mencium bibir ranum istrinya, mengisapnya secara bergantian dengan penuh gairah. Perlahan Shena mendorong, tubuh suaminya sebelum mereka berdua jadi lepas kendali.
"Kau bisa terlambat Leo," ujar Shena agak sedikit gugup.
"Kau selalu berhasil membuatku terkagum padamu, Sayang. Kau sama sekali tidak berubah, tetap berhati malaikat seperti biasanya. Aku tidak keberatan dengan apapun yang kau lakukan. Tapi ... jika kau ingin kesana, jangan sendirian, tunggu aku pulang. Kita akan kesana bersama-sama."
"Tidak, kau tidak boleh ikut. Ada hal yang ingin kupastikan sebelum aku memberikan hadiah ini kepada mereka. Apakah keluarga yang ditinggalkan almarhum anak buahmu ini layak mendapatkannya atau tidak."
"Kalau begitu, suruh saja pengawal menyelidiki seluk beluk keluarga mereka. Baru kau boleh kesana. Aku ingin kau tetap di rumah dan jangan pergi kemanapun selama aku tidak ada."
"Aku akan hati-hati. Percayalah padaku."
"Tidak Sayang, kau tidak boleh pergi kemana-mana. Penjahat ada dimana-mana. Undang saja orang yang kau inginkan itu datang kemari. Yang penting jangan keluar rumah. Untuk saat ini, desamu masih belum aman. Aku akan membereskan semua tikus yang ada di sini dan mengeksekusi pemimpin sindikat itu. Baru kau kuizinkan keluar."
Melihat tatapan mata suaminya terlihat begitu serius, Shena tak bisa lagi membantah. Iapun menuruti apa yang dikatakan Leo untuk tetap diam di rumah dan tidak ingin mengambil resiko apapun.
__ADS_1
Shena mengantar Leo sampai ke depan pintu rumah, "Hati-hati, habisi mereka semua untukku."
"Ehm, pasti. Ingat kata-kataku tadi, Sayang. Jangan pergi kemanapun sampai aku kembali."
"Siap tuan muda Leopard Bay Pyordova. Aku akan menunggumu pulang," ujar Shena sambil mencium mesra suaminya.
****
Setengah jam kemudian Leo dan pengawalnya mendatangi kantor polisi pusat sebelum ia janjian bertemu dengan Refald. Leo langsung turun dari mobil dan memerintahkan anak buahnya untuk menunggu diluar.
"Tutup rapat gerbang polisi itu. Jangan sampai ada yang masuk ataupun keluar," ujar Leo pada seluruh anak buahnya.
"Baik, Tuan muda!" Tanpa menunggu komando lagi, pengawal itu langsung bergerak cepat ke tempat mereka. Sedangkan 2 pengawal lain mengikuti Leo masuk ke dalam.
"Ada yang bisa kami bantu, Sir? tanya salah satu opsir polisi. Sepertinya ia tidak tahu siapa Leo sebenarnya.
"Aku ingin melaporkan kejadian yang tidak menyenangkan," jawab Leo dengan tenang.
"Apa yang ingin anda laporkan?" Tanya polisi yang ada didepan layar komputer begitu Leo duduk dihadapannya. Ia terlihat begitu serius dengan komputernya.
"Ada yang membunuh anak buahku dan aku ingin anda menangkap mereka?" ujar Leo santai, dan tanpa basa-basi. Suami Shena itu bahkan bersikap tidak sopan dengan mengangkat kedua kakinya di atas meja. Hanya saja, Leo bukan perokok. Ia adalah satu-satunya gengster yang tidak suka dengan asap rokok.
"Bisa anda turunkan kakinya, Sir? Itu sangatlah tidak sopan."
"Dibawah sana ada kecoak, Pak? Sepatuku nanti kotor jika kecoak itu melewati sepatuku. Ini mahal loh, meskipun anda menjual aset berharga anda, tetap tidak akan mampu membeli sepatu mahalku ini." Leo mulai bertingkah dengan membuat kesal polisi disini.
Polisi itu langsung tersinggung dan mulai berdiri menatap Leo yang berani bersikap bersikap kurang ajar padanya, apalgi sampai dihina tak mampu beli sepatu mahal seperti milik Leo.
"Jaga bicara anda, Sir? Ini kantor polisi, bukan tempat sembarangan yang bisa kau pamerkan untuk menyombongkan kekayaanmu!" bentak polisi itu pada Leo.
Leo mulai menatap sinis polisi tersebut, dan ikut berdiri juga. Tubuh Leo lebih tinggi, jadi dia agak membungkuk supaya sejajar dengan pria buncit yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Kalau begitu ... tangkap para preman kampung yang ada di desa ini, karena merekalah yang yang sudah membunuh orang-orangku ..."
"Kami tidak bisa menangkap orang tanpa bukti ...." potong polisi itu.
"Ini buktinya!" Leo balas memotong sambil menyerahkan koper hitam dengan kasar pada polisi menyebalkan ini. "Semua bukti yang kau butuhkan ada di sini. Aku juga punya bukti lain lagi seandainya ini kau lenyapkan karena kau ... adalah salah satu bagian dari mereka!" tandas Leo dan orang yang ada didepannya langsung terbujur kaku. Ia terkejut Leo bisa tahu tentang dirinya. Namun polisi ini tidak mau bertindak gegabah dan mencobanya mengelak tuduhan Leo padanya.
"Anda jangan asal tuduh, Sir! Anda bisa saya tuntut atas pencemaran nama baik!" Polis tersebut mulai marah.
Leo tertawa keras sehingga mengundang perhatian banyak orang yang ada disekitarnya. Ia melirik klip nama yang ada di seragam polisi itu.
"Mister Antoni Aljufri, kau tak bisa menyangkal apa yang sudah kukatakan. Kau bahkan tidak bisa menuntutku kalau kau sendiri sudah mendekam di penjara." Tepat setelah Leo berbicara, ia langsung ditodong senjata oleh semua polisi yang ada di sekitar Leo tadi. Mereka semua adalah orang-orang kepercayaan polisi yang bernama Antoni Aljufri.
"Anda salah masuk kandang, Sir. Dan anda telah salah memilih musuh. Mereka semua ... tidak akan pernah percaya pada apa yang anda katakan. Sebab, kami di sini sangat menjunjung tinggi nilai keadilan dan kebenaran.
Tawa Leo semakin meledak sampai ia membungkukkan tubuhnya mendengar ucapan polisi itu. "Kau bilang apa tadi?" tanya Leo masih sambil tertawa. "Menjunjung tinggi nilai keadilan dan kebenaran?" Leo mulai kembali berdiri tegak tanpa merasa takut sedikitpun. "Kalau begitu ... kenapa kau melindungi para preman yang suka membunuh dan merampok masyarakat di desa ini?" teriak Leo berubah marah. "Kenapa orang-orang itu selalu saja bebas dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu sedangkan warga sipil biasa dihukum 5 tahun hanya untuk menebang pohon tetangga? Apakah itu yang kau sebut keadilan dan kebenaran? Apa waktu sekolah dulu kau tidak lulus mata pelajaran PKn dank kewarganegaraan sehingga tak bisa membedakan mana yang disebut adil dan benar?"
"Sudah ku bilang, kami tak bisa menangkap orang tanpa bukti yang jelas!" Polisi itu masih saja mencoba membela diri dari tuduhan dan hinaan Leo yang pada dasarnya memang benar.
"Bagaimana bisa kau mengumpulkan bukti kalau semua bukti itu kau lenyapkan?" Leo menskakmat polisi itu dan ia tak bisa menjawab lagi.
Selama ini, bukti-bukti yang mengarah pada kejahatan preman itu memang sengaja dilenyapkan oleh oknum polisi ini karena mereka menerima pelicin yang menggiurkan dari orang-orang jahat itu. Dan mereka sama sekali tidak menyangka kalau Leo bisa tahu kebobrokan mereka yang artinya, jika ini sampai bocor ke telinga luar, maka tamat sudah riwayat mereka sebagai polisi.
"Cepat buka kasus ini dan tangkap semua orang yang ada di kampung ini atau ... kumusnahkan tempat ini beserta isinya menjadi abu!" ancam Leo.
Tidak ada reaksi dari polisi itu dan semua anak buahnya malah menodongkan senjata api mereka dekat dikepala Leo dan 2 orang pengawal Leo yang sejak tadi diam dibelakang majikannya tanpa ekspresi.
"Huh, jadi ini pilihan kalian!" Leo tersenyum sinis penuh makna. "Baik, negara ini tak membutuhkan orang-orang penegak hukum palsu seperti kalian semua. Habislah kalian!" Mata elang Leo memandang semua orang yang sesang modongkan senjata api padanya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1