Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 133 Makan Malam


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, sementara ini Shena dan Leo tinggal di mension lama mereka bersama Byon dan Biyanca. Sepertinya, mertua Shena itu sudah baikan lagi dan lebih sering menghabiskan waktu bersama Yeon, cucu pertama mereka sebagai ganti setelah 3 bulan lamanya tak jumpa.


Berkas-berkas yang diberikan Byon kepada Biyanca, ternyata bukanlah berkas perpisahan, melainkan berkas kepemilikan hak waris yang pastinya jatuh ke tangan Leo dan Shena. Kedua orang tua Leo memang sepakat memberikan semua aset dan kekayaan keduanya kepada Leo dan Shena sama rata. Hal itu memang sudah mereka rencanakan sejak dulu, begitu Leo menikah dengan Shena. Sebab, bagaimanapun juga Byon merasa Shena berhak mendapatkan warisannya walaupun status Shena hanyalah menantu.


Rasa bersalah Byon atas meninggalnya orangtua Shena tak bisa hilang hingga sekarang meskipun menantunya itu sudah memaafkan dan melupakan semua kenangan masa lalunya. Padahal setelah kematian kedua orangtua Shena, gadis itu terpaksa harus hidup menderita selama bertahun-tahun lamanya. Meski pada akhirnya, kini Shena sudah bahagia bersama dengan Leo, putranya.


Kendati demikian, Byon tetap ingin memberikan harta warisannya juga pada Shena walau Shena terang-terangan menolaknya. Dan Byon tahu alasan Shena tak ingin menerima harta warisan yang diberikannya. Menantunya ini tak gila harta seperti wanita-wanita matre lainnya. Shena adalah gadis sederhana yang bersahaja meskipun sekarang dirinya sudah bergelimang harta karena menjadi bagian dari keluarga konglomerat keturunan bangsawan dimana harta kekayaannya, takkan habis tujuh turunan.


Kebaikan hatinya tetap sama seperti dulu dan tidak berubah. Byon juga tahu, diam-diam menantu kesayangannya menjadi donatur tetap di beberapa yayasan panti asuhan. Hati siapa yang tak bangga memiliki menantu sempurna seperti Shena. Sudah cantik, baik dan mampu memberikan generasi penerus keluarga Pyordova. Beruntungnya menjadi seorang Shena Leopard Pyordova.


“Ayah, Ibu … kenapa kalian memberikan semua ini padaku?” tanya Shena disaat mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama. “Secara hukum, Leo adalah pewaris tunggal harta kekayaan Ayah dan Ibu. Dan sebagai istri Leo, otomatis aku mendapat bagian juga dari suamiku, kalian tak perlu membaginya seperti ini.” Shena keberatan kalau harta warisan yang seharusnya jatuh seutuhnya ke tangan Leo, telah dibagi dua dengannya. Shena merasa sangat tidak pantas mendapatkan semua ini.


“Kau bukan hanya menantu satu-satunya dikeluarga ini, Shena.” Biyanca menambahkan. “Kau juga sudah kami anggap sebagai putri kami sendiri. Jadi, kau berhak mendapatkan warisan ini, kau tidak bisa menolaknya.” Biyanca tersenyum manis pada Shena sehingga membuat Shena berkaca-kaca. Sebenarnya, Shena sangat keberatan dengan keputusan mertuanya soal harta warisan ini, tapi kalau mertuanya sudah berkata begitu, Shena bisa apa?


“Lagipula, ini untuk berjaga-jaga saja, kalau-kalau kau bertengkar dengan Leo, kau tak perlu minta uang darinya untuk melarikan diri,” gurau Byon sekaligus menyindir istrinya yang pergi begitu saja meninggalkan dia waktu itu. Tentu saja Byon mendapat lirikan tajam dari Biyanca atas apa yang baru saja ia ucapkan.

__ADS_1


“Itu tidak akan pernah terjadi Ayah,” sahut Leo. “Aku sangat mencintai, Shena. Mana mungkin aku bertengkar dengannya. Dan Shena … tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku, kemanapun dia pergi, aku pasti bisa menemukannya.” Leo menggenggam erat tangan Shena. Dan mendadak wajah Byon menegang. Biyanca langsung menyadari apa yang terjadi pada suaminya dan ikut menggenggam erat tangan suaminya.


Kata-kata Leo barusan, sama persis seperti yang dulu pernah diucapkan Leon. Itulah kenapa Byon memberi nama putranya Leopard, yang hampir mirip dengan nama adik Byon, yaitu Leonard Pyordova. Biyanca baru menyadari, ada banyak kemiripan antara Leo dan mendiang adik iparnya yang sudah tiada puluhan tahun silam. Bukan wajah, melainkan sifat dan karakternya.


Sentuhan lembut tangan Biyanca menenangkan hati Byon. Buru-buru pria paruh baya itu bersikap biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa.


“Oh iya?” ujar Byon pada Leo yang masih saja menatap lembut Shena. Tapi beberapa hari yang lalu, aku lihat Shena pulang dalam keadaan marah? Bahkan ia tak mau disentuh olehmu. Apa kau yakin kalian tidak bertengkar waktu itu?” tanya Byon penuh selidik.


Shena dan Leo saling pandang, saat itu Shena memang sedang marah pada Leo. Bagaimana tidak? Leo memaksanya melakukan adegan bulan tertusuk ilalang ditempat yang tidak ingin ia lakukan, dan Shena tak bisa bilang tidak jika Leo sudah berkehendak. Tentu saja Shena sangat marah.


“Oh itu, sebenarnya Shenaku tidak benar-benar marah Ayah, dia hanya kesal padaku,” terang Leo sambil melirik Shena yang sudah mulai merutuki Leo dalam hati.


“Tidak Ibu, justru aku mainnya halus, sama sekali tidak kasar. Kami malah sama-sama menikmatinya, hanya saja tempatnya tidak sesuai keinginan Shena. Mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak tahan waktu itu.” Leo menyeringai dan Shena langsung mengumpatinya dalam hati tanpa berani menatap mata kedua mertuanya.


Dasar si Leo berengsek banget! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan ayah dan ibu? umpat Shena dalam hati.

__ADS_1


Alis Byon dan Biyanca jadi berkerut, sepertinya ada miscommunication disini. Yang dimaksud Ibu Leo dengan kata ‘kasar’ adalah kekerasan fisik. Wanita paruh baya itu khawatir Leo memukul Shena atau semacamnya, tapi yang ada diotak Leo malah sebaliknya. Isinya hanyalah adegan bulan tertusuk ilalang yang ia lakukan pada Shena itu cara mainnya kasar atau tidak. Benar-benar tidak nyambung sama sekali.


“Kau ini bicara apa? Tempat apa yang tidak Shena suka? Memangnya kau membawanya kemana? Mana ada kekerasan itu nikmat? Dasar berandal kau, Leo! Kalau sampai Shena kenapa-napa akan aku bikin jadi dadar gulung kau!” Biyanca masih belum ngeh dengan maksud perkataan Leo.


Namun berbeda dengan Byon, ia sangat mengerti kemana arah pembicaraan ini karena putranya itu memang anak yang nggak ada akhlak. Biyanca langsung beralih menatap Shena yang menunduk malu gara-gara ucapan blak-blakan suaminya di depan orangtuanya sendiri.


“Sayang, katakan pada Ibu? Apa Leo menyakitimu? Kau dipukul olehnya? Bagian mana yang kena pukul biar kupatahkan tangan suamimu itu!” ujar Biyanca sambil memerhatikan wajah Shena.


“Jangan dengarkan perkataan Leo ibu, aku rasa dia masih ketempelan setan mesum, makanya kalau ngomong ngelantur begitu.” Shena melirik suaminya yang sejak tadi senyam-senyum nggak jelas. “Aku sudah selesai makan, aku mau ke kamar Yeon dulu. Besok aku ada janji dengan kak Fey untuk pergi shoping bersama sekalian aku akan minta bantuan kak Refald agar menyembuhkan Leo. Permisi, Ayah Ibu ….” Shena bangkit berdiri dan langsung menuju kamar putranya. Entah kenapa ***** makan Shena mendadak hilang. Padahal, tidak biasanya dia begini.


Leo hendak mengikuti langkah istrinya tapi ditahan oleh Byon. “Biarkan istrimu sendiri Leo, ia butuh ruang. Terlalu banyak hal yang sudah ia lalui selama menjadi istri dan menantu dikeluarga ini. Harusnya kau perlakukan Shena lebih lembut lagi. Dan juga … cepat buatkan adik untuk Yeon supaya aku dan ibumu tidak berebut cucu. Ibumu tak mau mengalah padaku!”


“Aku juga sedang berusaha, Ayah. Tapi sepertinya Shena masih belum mau hamil lagi. Lagipula kalian pikir Yeon itu boneka apa? Kenapa kalian buat rebutan?” Leo kesal dan langsung meminum susunya lalu ia pergi mengikuti Shena.


“Kalian berdua memang benar-benar menyebalkan, kalian pikir hamil dan melahirkan itu enak apa? Dasar laki-laki!” geram Biyanca, dan giliran dia yang pergi menuju kamar Yeon mengikuti langkah Leo dan Shena. Kini, tinggallah Byon seorang diri di meja makan sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2