
Masih dalam keadaan shock tak terkira, Shena terus menatap tubuh suaminya yang terus menuntunnya entah kemana. Sepanjang perjalanan, pasangan suami istri ini tak saling bicara. Ditambah lagi, Leo sedang sibuk dengan ponselnya dan berbicara dengan orang-orang yang meneleponnya. Shena tak begitu menyimak obrolan mereka karena ia sendiri masih menata hati yang sempat membuatnya frustasi setelah mendengar kematian suaminya yang ternyata itu hanyalah fiktif belaka.
Leo sendiri juga belum bisa bicara dengan istrinya yang pasti memiliki sejuta pertanyaan untuknya, sebab si gengster itu disibukkan dengan hal yang akan ia lakukan begitu keluar dari sini serta mencoba menekan kekacauan tang terjadi diluar sana akibat berita heboh kematiannya. Namun, terlepas dari itu semua, tangan Leo tak pernah lepas dari genggaman tangan Shena. Bahkan tautan tangan keduanya semakin lama, semakin mengerat seolah tak mau dilepaskan.
Entah berapa lama Shena berjalan dalam diam bersama Leo hingga akhirnya keduanya sampai disebuah basmen yang digunakan untuk memarkir mobil. Anehnya, baseman ini sangat sepi dan tak seperti baseman-baseman lainnya. Biasanya tiap basemen pasti dipenuhi dengan berbagai jenis mobil mengingat rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit terbesar di Tokyo. Hanya baseman inilah yang tak ada penghuninya dan sepertinya ini merupakan tempat rahasia yang tak banyak diketahui oleh orang lain.
Sebuah mobil putih mirip mobil inisial D, sedang menunggu Leo dan Shena tak jauh dari tempat mereka keluar dari sebuah pintu. Leo berjalan cepat dan membukakan pintu mobil untuk istrinya yang masih diam seribu bahasa dan sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Geser, Sayang! Aku tidak bisa memangkumu karena luka dipunggungku masih belum sembuh total," ujar Leo begitu Shena sudah masuk dan duduk di kabin belakang. Masih dalam diam, Shenapun menggeser posisinya sambil terus menatap wajah tampan suaminya.
Entah mengapa mendengar ucapan Leo barusan membaut perasaan Shena yang sedang kalut kembali lega. Shena jadi yakin kalau Leo benar-benar masih hidup meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Bagaimana keadaan diluar?" tanya Leo pada sopir yang tak lain adalah anak buah Leo sendiri.
"Masih ramai, Tuan muda. Para wartawan dari berbagai belahan dunia telah bergerombolan datang untuk mencari informasi kebenaran dari berita kematian anda," jawab sopir itu.
Leo dan Shena, sudah sampai dihalaman rumah sakit yang memang dipenuhi dengan wartawan baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka semua bergerumbul di depan pintu masuk tanpa tahu bahwa orang yang mereka cari beritanya sudah lewat dibelakang mereka. Pihak rumah sakit juga tak berani mengizinkan mereka semua masuk tanpa izin dulu dari Leo.
"Leo," panggil Shena dengan lembut setelah mengamati para wartawan itu yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya. Akhirnya, istri Leo itu mau bicara lagi pada suaminya setelah perang batin yang menyelimuti hati dan pikiran Shena.
"Iya, Sayang. Maaf, tadi aku cuek padamu." Leo mulai bergeser menghadap tubuh Shena.
__ADS_1
"Benarkah kau ... benar-benar Leoku?" Manik mata Shena menatap tajam ke arah Leo.
Leo membalas tatapan wajah sedih Shena dan langsung mencium mesra kening istrinya. "Iya Sayang. Ini aku, suamimu. Maaf kalau aku terpaksa membuatmu harus mengalami hal ini. Sungguh aku terpaksa melakukannya demi kebaikan kita berdua dan Yeon juga. Jika kau ingin marah, lampiaskan pula pada si Roy yang merencanakan semua ini."
"Roy?" tanya Shena bingung. "Jadi, Roy juga sudah tahu kalau kau ... pura-pura mati?"
"Ehm, bajingaan tengik itu memaksaku untuk tidak memberitahu terlebih dulu sampai waktunya tepat ...."
"Tunggu-tunggu, jika Roy tahu ... apakah Laura ...."
"Dia tidak tahu," sela Leo. "Aku yakin sahabatmu itu sedang menangis di sana. Bukan menangisiku, tapi menangisimu."
"Apa?" Shena jadi semakin bingung dengan ucapan Leo. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya ini. "Kenapa Laura menangisiku?" tanya Shena yang sudah sangat penasaran.
"Apa?" teriak Shena seketika dan spontan Leo menutup telinganya karena suara teriakan istrinya itu terlalu kencang.
"Jangan berteriak Sayang, orang lain bisa dengar?"
"Ada apa ini Leo? Bagaimana aku bisa mati sementara aku masih hidup? Jelaskan padaku? Lagian mereka tidak akan percaya kalau aku sudah mati. Kan tubuhku ada disini bersamamu!" nada suara Shena semakin tinggi mengetahui sandiwara yang dibuat Leo entah untuk tujuan apa.
"Jangan panik begitu Sayang?"
__ADS_1
"Siapa yang panik? Aku shock!" bentak Shena.
"Oke-oke, kau sedang shock. Tapi shocknya tunda dulu dan dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai." Leo mencoba menenangkan Shena dengan sikap tenangnya. Leo berusaha mengerti keadaan Shena yang labil karena hamil muda.
"Baik, jelaskan padaku. Apa yang sedang terjadi? Kenapa aku dan kau harus pura-pura mati? Dan bagaimana caramu meyakinkan mereka kalau aku sudah mati sementara jasadku duduk di sini bersamamu?"
"Sayang, para dokter disana juga membuat kloningan tubuhmu jauh sebelum kita datang kemari. Mereka membuat kloningan tubuh kita berdua beberapa bulan yang lalu saat Roy memberitahuku ada yang tidak beres dengan perusahaan ayahku. Itulah alasan utama Roy dan Laura memutuskan tinggal di Jepang. Ia kuminta untuk melakukan misi penting yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali aku dan Roy saja yang tahu."
"Lalu, kenapa kau harus memanipulasi kematian kita berdua?" tanya Shena masih bingung.
"Sebab, kau dan Yeon sedang dalam bahaya besar Sayang. Malam dimana Roy datang untuk memberitahumu kalau Yeon menangis, itu adalah malam yang direncanakan musuh untuk melenyapkan kita semua."
"Hah? Kau bilang apa tadi?" Mata Shena langsung terbelalak menatap Leo. Ia tidak tahu kalau dirinya dalam bahaya seperti itu.
"Itulah kenyataannya Shena Sayang. Ada orang yang ingin membunuh kita. Roy yang tahu itu akan terjadi bergegas mengelabuhi mereka semua dengan menukar ruanganmu dengan ruangan lain. Kau mungkin tidak sadar kalau para pengawalku menyamar dan berjaga ketat agar keberadaanmu dan Yeon tak diketahui musuh.
"Sementara aku, sebenarnya sudah sadar lebih dulu darimu pasca operasi yang dilakukan Refald padaku. Namun, aku terpaksa harus bersandiwara karena para musuh sedang mengintai kita. Selama aku tak sadarkan diri, mereka takkan berani melukaimu walaupun itu tak berlangsung lama. Sesuai dugaanku, mereka merencanakan membunuhku dan keluargaku dimalam harinya dan mereka tidak tahu kalau aku sudah tahu rencana mereka."
Tubuh Shena langsung lemas mendengar berita mengerikan ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***