
Sebuah pesta megah digelar di tempat hunian mewah yang terletak 10 km dari lokasi markas Leo berada. Penghuni pesta itu siapa lagi kalau bukan orang-orang yang bekerja di perusahaan Leo dimana sang pemilik perusahaan telah berhasil mereka lenyapkan dengan cara yang keji. Bukannya berduka ataupun datang melayat ke makam orang yang sudah mereka bunuh, orang-orang tak punya hati ini malah mengadakan pesta ria disini tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kau yakin kalau si tuan muda dan istrinya benar-benar telah tiada?" tanya seseorang yang bernama Mike, ia adalah menejer di perusahaan Leo.
"Semua anak buahku sudah memastikan berita itu. Tidak ada Tuan muda lagi di perusahaan kita, sekarang perusahaan Pyordova telah menjadi milik kita semua! Ayo kita bersulang untuk merayakan keberhasilan kita sekarang!" Pria tua yang bernama mister Ben itu mengangkat red wine nya dan mengajaknya koleganya bersulang.
"Ayo!" ujar seluruh orang yang ada di pesta ini. Mereka semua bersama-sama mengangkat gelas mereka dan bersulang dengan riang tanpa tahu bahwa diluar gedung ini, seluruh anak buah mereka sedang dilenyapkan anak buah Leo satu persatu.
Sedangkan Leo dan Roy sendiri, berjalan santai dibelakang pasukannya yang sedang sibuk membantai pengawal musuh-musuhnya. Duo somplak itu melangkahi mayat-mayat berserakan di sekitar jalan yang mereka lewati. Ekspresi wajah keduanya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Tatapan mata Leo dan Roy tetap lurus kedepan dan menikmati aksi pasukan Leo yang unjuk gigi dihadapan majikannya. Kedua gengster itu terus menaiki tangga tanpa melakukan apa-apa menuju ruang para pegawai Leo yang sedang berpesta foya merayakan kematiannya.
Pintu utama ruang pesta terbuka lebar dan pengawal yang berjaga di luarnya dibantai habis-habisan oleh pasukan Leo hingga terpental jauh dan mendarat mulus diatas meja makan pesta. Akibat hantaman itu, meja pesta tersebut jadi hancur lebur berserta seluruh hidangan pesta yang ada diatasnya.
Semua orang terkejut dan bertanya-tanya siapakah orang yang berani mengacaukan pesta mereka. Dan jawabannya adalah siapa lagi kalau bukan si duo somplak, Leo dan Roy.
"Siapa kalian?" teriak Ben yang jadi takut juga melihat mayat tak berdaya tergeletak didepannya dengan kondisi mengemaskan.
Pasukan Leo bersenjata lengkap ala densus 88 masuk dan langsung berlari mengepung semua orang yang sedang berpesta. Seluruh pasukan tersebut hanya diam dan tak ingin menjawab pertanyaan apapun. Pasukan Leo ini hanya bicara lewat senjata. Bila ada orang yang mencoba menyerang mereka, maka sudah bisa dipastikan sebuah timah panas langsung melayang menembus jantung atau kepala orang-orang yang menyerang tersebut.
Tentu saja kejadian itu membuat kaget semua orang yang ada didalamnya. Mata mereka bahkan hampir melotot keluar saat Leo dan Roy muncul dengan gaya khas kerennya. Ditambah lagi, Leo membawa senapan paling mematikan di dunia dan sedang ia panggul di pundaknya.
"Wuah, kalian baik hati sekali. Apa sedang ada upacara pemakamanku disini? Aku terharu loh, upacaranya mewah sekali," ujar Leo sambil duduk di mayat salah satu pengawal yang tadi sempat kena peluru senapannya.
__ADS_1
"Ka-kau ... " ujar salah satu orang pertama yang melihat Leo dan Roy.
"Tidak mungkin ...." seru yang lainnya karena terkejut melihat sang tuan muda ternyata masih hidup dan bahkan baik-baik saja.
"Bukankah dia ... tuan muda Leo? Bagaimana bisa dia ada disini?" tanya orang yang lainnya.
"Entahlah, apa dia hidup lagi?"
"Jika tuan muda Leo ada disini, lalu mayat siapa yang ada dirumah sakit itu?"
Semua orang berbisik-bisik dan tak bisa lepas dari gerak gerik Leo yang mulai berdiri di hadapan semua orang.
"Dia itu hantu bukan, sih?" ujar seseorang sambil mengusap-usap matanya.
"Huh, kalian adalah orang kedua yang berani mengataiku hantu. Ayolah, masa wajah tampan begini bisa jadi hantu? Itu sangat tidak mungkin. Ya nggak Roy!" seru Leo senang.
"Yang akan jadi hantu itu bukan aku, tapi kalian semua!" Leo langsung mengangkat senapannya dan bersiap menembak.
Sontak semua orang menjadi panik dan refleks mengangkat kedua tangan mereka. Keringat dingin mulai bercucuran memenuhi wajah tegang orang-orang berhati keji ini. Belum hilang rasa shocknya dengan hadirnya Leo diantara mereka, kini Leo telah terang-terangan akan segera membunuh mereka semua.
"Jadi, kau belum mati?" tanya pria tua yang bernama Ben. Hanya dia saja yang tidak berkeringat dingin seperti yang lainnya. Orang jahat sih memang seperti itu.
"Aku ... adalah Leopard Bay Pyordova. Kucing besar yang punya 9 nyawa. Meskipun kau membunuhku hari ini, aku masih punya 8 nyawa lagi."
__ADS_1
Dor!
Tanpa peringatan, Leo melepas tembakannya pada orang yang diam-diam mengeluarkan pistolnya untuk menyerang Leo. Orang itupun langsung mati seketika dan semakin ketakutanlah orang-orang yang ada disekelilingnya.
"Satu gerakan kecil saja, maka peluru ini akan menembus kepala kalian. Jadi jangan macam-macam. Selain punya 9 nyawa, aku juga punya mata elang yang tajam. Gerakan sekecil apapun, aku pasti langsung tahu. Menyerahlah! Karena kalian semua sudah dikepung. Takkan ada siapapun yang bisa menyelamatkan kalian dari sini."
Leo menatap tajam orang-orang yang berdiri ketakutan didepannya. Meskipun sekarang ia sudah menang telak, Leo dan Roy tetap waspada. Sebab, musuh yang sedang mereka hadapi ini bukanlah musuh kaleng-kaleng.
"Apa maumu? Kenapa kau menyerang kami. Kami bisa menuntutmu," ujar Pria yang bernama Bento dan Leo langsung tertawa terbahak-bahak.
"Buahahahaha ... kau bilang apa? Menuntutku? Wah, hebat." Leo bertepuk tangan meriah. "Kau berani berkata seperti itu seolah tak terjadi apa-apa padaku. Dan memang benar sih, aku tidak apa-apa dan masih segar bugar seperti yang kalian lihat sekarang. Dengan kata lain, usaha kalian untuk melenyapkanku telah gagal total. Aku jadi turut sedih." Leo menyeringai penuh makna menatap wajah-wajah pucat didepannya karena belang mereka telah ketahuan.
"Tuan muda, anda salah paham. Kami tidak mengerti apa maksud ucapan anda," seru Mike sambil tertawa dibuat dan pura-pura tidak ngeh dengan ucapan Leo.
"Aaahhh ... jadi kalian tidak tahu apa-apa, ya? Karena itulah kalian datang kemari untuk berpesta dan bersenang-senang sementara mayat palsuku yang ada dirumah sakit sedang diproses untuk segera dimakamkan? Wauw ... amazing. Bagaimana kalau setelah ini kalian semua beralih profesi sebagai artis saja. Pasti film kalian akan laku keras. Soalnya akting kalian itu benar-benar top markotop! Apa perlu aku belikan studio film khusus untuk kalian? Dengan begitu kalian bisa membuat film berjudul, 'Petinggi Perusahaan Pyordova Grup telah Membunuh Pewaris Tunggal Keluarga Pyordova'!" sindiran Leo langsung mengena sehingga tak ada siapapun yang berani buka suara.
"Itu tidak benar Tuan muda, jangan pojokkan kami seperti itu. Jika benar itu terjadi apa buktinya?" tanya pria tua berjas silver. Dia adalah Robert, sahabat dekat dari Ben yang juga berambisi menguasai seluruh perusahaan Pyordova.
"Bukti? Huh, aku khawatir kalau aku menunjukkan bukti itu pada kalian, kalian semua akan menyesal. Bahkan matipun, kalian takkan pernah bisa tenang dan selamanya akan menjadi arwah gentayangan." Mata elang Leo terlihat sangat menakutkan. Aura membunuh, benar-benar terpancar jelas dalam diri seorang Leo.
"Silahkan tunjukan buktinya? Kami tidak takut!" seru Ben dengan penuh percaya diri. Sebab, ia yakin telah melenyapkan bukti yang ada termasuk cctv.
"Hei kau paman hoka-hoka Bento. Bersiaplah! Begitu kutunjukkan buktinya, kalian takkan bisa mengelak lagi! Habislah kalian semua!" ancam Leo.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***