
Setelah merapikan diri, Leo bergegas pergi kerumah sakit untuk menemui wanita pujaan hatinya serta putra pertamanya dari buah hatinya bersama Shena. Sejuta perasaan lega menyelimuti Leo karena kini, ia dan Shena bisa mengarungi bahtera rumah tangga yang bahagia selamanya. Ia juga tetap tidak akan membiarkan siapapun mengganggu ketenangan hidupnya bersama dengan Shena. Leo akan terus menjaga dan melindungi Shena beserta seluruh keluarganya dari segala macam mara bahaya. Leo yang sekarang, sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Sedangkan Shena sendiri, masih berada diruang perawatan untuk menjalani proses pemulihan setelah ia melahirkan. Di ruangan VVIP ini, Shena tidak hanya sendirian. Ia ditemani ibu mertuanya dan juga Laura yang perutnya juga sudah mulai membesar. Sebentar lagi, Laura akan menyusul sahabatnya menjadi seorang mama muda.
Semuanya bahagia melihat putra Leo dan Shena yang sudah diberi nama Yeon Leon Pyordova oleh Leo sendiri. Kehadiran bayi mungil Yeon, benar-benar semakin menambah lengkap kebahagiaan keluarga kecil Shena bersama Leo.
"Darimana suamimu mendapat inspirasi nama unik begitu?" tanya Laura yang duduk di samping Shena sambil mengupas buah apel.
"Entahlah, aku bahkan masih bingung nama apa yang akan aku berikan pada putraku yang tampan. Tapi, aku suka nama pemberian Leo. Nama itu sangat cocok untuk putraku. Bagaimanapun juga, Yeon adalah Leo junior kami." Shena tertawa bahagia melihat Yeon berada dalam gendongan neneknya.
Shena bisa melihat, betapa bahagianya Biyanca ketika wanita paruh baya itu menimang-nimang cucu pertamanya. Ia tak henti-hentinya memandang wajah bayi mungil kemerahan itu sambil tersenyum senang.
"Wajah cucuku ini benar-benar perpaduan kalian berdua. Sungguh tampan dan sempurna. Pasti ketika dewasa nanti banyak wanita yang menggandrungi cucuku ini melebihi ayahnya," ujar Biyanca sambil tertawa. Belum apa-apa Ibu mertua Shena itu sudah berpikiran yang bukan-bukan.
Tak ada reaksi dari Shena kecuali senyuman manisnya. Saat ini, yang ada dikepala Shena hanyalah Leo Leo dan Leo saja. Ia sulit berkonsentrasi dengan apa yang ada disini. Shena benar-benar mencemaskan suaminya yang sedang berjuang membasmi musuhnya diluar sana demi kesejahteraan keluarganya. Meski sudah ada Refald, Roy dan ayah mertuanya yang pergi membantu Leo, tetap saja hati Shena masih tidak tenang karena terlalu mencemaskan keadaan suaminya. Apalagi, sampai detik ini Shena belum mendapat kabar apapun dari Leo.
Disaat hati Shena sedang was-was, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan berdirilah seseorang sambil membawa sebuket bunga mawar merah berukuran besar. Saking besarnya, wajah orang itu sampai tak terlihat. Meski begitu, Shena sangat tahu siapakah orang yang berdiri di belakang bunga mawar merah itu. Siapa lagi kalau bukan suami Shena.
Ingin rasanya Shena bangun dan berlari memeluk tubuh suaminya yang dikhawatirkannya sejak tadi, tapi selang infus yang terpasang dipunggung tangan Shena menghentikan niatnya. Alhasil, Shena hanya bisa menatap suaminya yang berjalan pelan ke arahnya sambil tetap bersembunyi dibalik bunga mawar merah yang dibawanya.
Mata Shena sudah mulai berkaca-kaca saat Leo berdiri tepat disampingnya dan langsung duduk menghadapnya. Sedangkan Laura yang mengerti seperti apa ritual dua insan yang dimabuk asmara itu, mulai bergerak mundur pelan-pelan dan menghampiri suaminya yang bersandar di daun pintu untuk melihat adegan life streaming pertemuan pasangan sensasional ala gengster mesum nggak ada akhlak Leopard Bay Pyordova dan Shena Narendra Bonscha.
"Kau merindukanku, Sayang?" tanya Leo sambil memberikan sebuket bunga mawar itu untuk istri tercintanya. Tak lupa, senyum menggoda juga ia pancarkan khusus untuk Shena.
Air mata Shena sudah tak bisa dibendung lagi. Ia menerima bunga pemberian Leo dan langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, sangat sangat sangat merindukanmu. Aku bahkan tidak bisa berhenti mencemaskanmu," isak Shena dipelukan Leo.
Leo tertawa bahagia melihat Shena seperti ini. Seakan dunia bagai milik mereka berdua, Leo membelai lembut rambut Shena dan membalas pelukan erat istrinya tanpa peduli pada beberapa pasang mata yang sedang memerhatikan gerak gerik Leo saat sedang pamer kemesraan dengan Shena.
"Aku juga sangat merindukanmu, Sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau sudah makan?"
"Sudah, kau sendiri bagaimana? Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Shena melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan suaminya untuk memeriksa keadaan Leo.
"Aku tidak apa-apa dan tidak akan pernah kenapa-kenapa. Aku akan terus hidup untukmu. menjagamu, melindungimu, membahagiakanmu, dan menyayangimu seumur hidupku. Aku mencintaimu, Sayang." sebuah ciuman manis mendarat di bibir ranum Shena tanpa aba-aba terlebih dulu. Mama muda itu juga langsung terhanyut oleh gelora cinta yang diberikan Leo padanya.
"Ehem!" Roy berdeham untuk memberitahu Leo bahwa masih ada orang di ruangan ini.
"Dasar buaya laknaat!" gumam Biyanca melihat putranya yang sok sweet itu.
Sedangkan Laura hanya mengelus pelan perutnya supaya anaknya nanti tidak gila seperti Leo yang tidak tahu situasi dan kondisi. Dimanapun ia berada, seenak udelnya main nyosor gitu aja.
Biyanca mencopot sandal satunya lagi dan hendak melemparkan sandal tersebut pada putranya yang benar-benar nggak ada akhlak itu. Untung ia sudah meletakkan Yeon di box bayi.
"Tunggu, Ibu!" pekik Leo. "Apa yang Ibu lakukan? Kenapa melempariku sandal?"
"Kenapa? Huh, bagaimana bisa aku melahirkan putra sebengal dirimu, ha!" teriak Biyanca sehingga mengagetkan bayi Yeon yang tadi sempat tertidur pulas.
"Tuh, lihatkan? Yeon menangis karena teriakan dari Ibu." Leo malah menyalahkan ibunya, padahal keributan ini disebabkan oleh Leo sendiri.
Biyanca meletakkan kembali sandalnya, dan memberikan Yeon pada Shena agar segera disusui oleh ibunya.
__ADS_1
"Tunggu! Apa yang kau lakukan, Sayang? Kenapa kau melepas kancing bajumu?" tanya Leo dengan mata melotot tanda tidak setuju. Ditambah lagi, Shena memperlihatkan buah mangga indah Shena yang harusnya hanya untuk Leo saja.
"Tentu saja mau menyusui putramu! Apalagi?" jawab Shena sewot.
"Tidak! Masa di depan semua orang? Tidak boleh! Buah manggamu hanya untukku! Biar Yeon kuberikan susu yang lain." Leo langsung menoleh ke arah Roy dan mengusirnya. "Roy, pergi kau dari sini? Jangan lihat istriku!" bentak Leo dan Roy pun langsung didorong Laura keluar.
"Kau juga! Keluarlah dari sini!" ganti Biyanca yang mengusir Leo.
"Kenapa Ibu mengusirku juga?"
"Karena kau itu berisik sekali! ASI itu lebih baik dari susu manapun di dunia ini. Beraninya kau memberikan cucuku susu lain, ha? Kau mau cari mati?" Biyanca benar-benar kesal dengan Leo.
"Nggak mau! Aku akan menemani Shena dan putraku disini. Ibu saja yang pergi!"
"Apa?" Biyanca memelototi putranya. "Kau berani mengusir ibumu sendiri, ha?" Ibu mertua Shena itu mengambil sendalnya lagi dan memukulkannya di tubuh Leo. Tapi Leo segera berlari keluar agar tidak kena lemparan sandal ibunya lagi. "Pergi kau! Dasar bengek!"
"Ibu! Harusnya ibu senang aku sudah memberimu cucu! Kenapa Ibu jadi kejam padaku!" teriak Leo setelah ibunya menutup pintu ruangan dengan keras lalu menguncinya supaya Leo tidak bisa masuk lagi kedalam. Ibunya hanya melotot menatap Leo.
Roy yang berada diluar ruangan bersama Laura langsung tertawa melihat Leo diusir juga dari ruangan.
"Kenapa kau tertawa?" bentak Leo kesal.
"Baru kali ini aku tahu ada seorang gengster kelas kakap dilempar sandal oleh maknya sendiri." Roy tertawa lagi dan kali ini lebih keras dari yang tadi.
Sedangkan Leo hanya berdiri diam melihat Shena yang sedang menyusui putranya dari balik pintu kaca. Ini pertama kalinya juga, Leo tidak meladeni olokan Roy padanya dan lebih fokus melihat Shena.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***