
Semua berawal dari Leo mendapat laporan dari anak buahnya yang melaporkan pada Leo bahwa Aryani dan Rega merencanakan sesuatu. Tentunya bukanlah hal yang baik pasti. Kejadian itu terjadi sebelum Leo melakukan perjalanan bisnis. Semua itu sudah diduga oleh Leo sejak ia memutuskan untuk menetap di desa tempat kelahiran istrinya. Sepupu Shena itu apsti tidaka ak terima jika ia dan Shena tinggal di desa ini. Karena itulah sejak awal suami Shena mengirim mata-mata untuk mengawasi semua pergerakan Aryani dan suaminya. Leo juga memesan alat penyadap khusus langsung dari sepupunya di China. Siapa lagi kalau bukan dari Xiaonai.
“Itu adalah alat penyadap paling canggih buatanku sendiri dan belum aku rilis dipublik. Kau adalah orang pertama yang menggunakannya. Agen-agen khusus dalam kepolisian saja pasti kalah denganmu. Sebab alat ini sangat canggih.” Xiaonai menjelaskan alat yang ia kirim untuk Leo melalui video call.
“Aku tidak akan pernah meragukan kemampuanmu, kau hacker kelas kakap yang paling ditakuti didunia. Terimakasih.” Itulah percakapan singkat antara Leo dan sepupunya.
Diam-diam, Leo memasang alat penyadap tersebut dikediaman sepupu Shena yang jahat itu untuk mengetahui semua rencana buruk mereka yang pastinya, ditujukan pada Leo dan Shena. Sebab Leo curiga, selain Aryani, Rega juga masih terobsesi untuk memiliki Shena.
“Awasi seluruh gerak gerik mereka selama 24 jam penuh. Jangan lewatkan sedetikpun,” perintah Leo pada anak buahnya. “Laporkan semua hal yang terjadi tanpa ada yang ditutupi. Mereka berdua, akan masuk kedalam perangkap yang mereka buat sendiri.” Leo tersenyum sinis sambil mengotak-atik ponselnya.
“Baik Tuan,” ujar salah satu pengawal Leo sambil menundukkan kepalanya.
“Ah, satu lagi. Jangan sampai istriku tahu masalah ini. Buat seolah tidak terjadi apa-apa. Yang penting dia tidak boleh curiga kalau kita mengetahui apa yang akan dilakukan Aryani dan suaminya.”
“Siap Tuan, saya permisi dulu.” Sekali lagi pengawal Leo menundukkan kepalanya dan langsung pergi melakukan tugas dan kewajibannya seperti apa yang diperintahkan Leo.
Tiba-tiba saja, Leo menerima panggilan telepon dari Kun, kembarannya yang juga artis idola Shena. Leo merasa heran karena tidak ada angin ataupun hujan, sang artis meneleponnya. Kebetulan, saat itu Shena sedang keluar dengan bibinya jalan-jalan membawa Yeon bersama mereka. Sehingga Leo bisa leluasa bicara dengan kembarannya.
“Ada apa? Tumben kau meneleponku,” ujar Leo setelah ia mengangkat panggilan dari Kun.
“Tolong aku!” ucapnya dari seberang. Artis idola Shena itu langsung menceritakan apa yang terjadi padanya sampai ia harus meminta Leo membantunya.
__ADS_1
“Oke, itu mudah saja. Aku akan membantumu, tapi prosesnya tidak bisa cepat semudah kau membalikkan tanganmu. Butuh waktu paling lama seminggu dari sekarang. Sembari menunggu, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu. Anggap saja sebagai imbalanku menolongmu.” Leo tersenyum simpul.
“Kedengarannya mengerikan,” jawab Kun mulai curiga. “Kata bersenang-senang yang kau ucapkan biasanya kebalikan dari fakta yang terjadi.”
“Kau kan artis papan atas, aku rasa tidak sulit untukmu memerankan diriku, dan kau sudah berkali-kali melakukannya.”
“Sudah kuduga, kau pasti memintaku menggantikanmu lagi.”
“Lebih tepatnya tukar posisi. Selain itu … kaulah nanti yang akan bertemu dengan ayahku. Bawa dia padaku begitu dia muncul, tapi jangan sampai dia tahu kalau itu kau.”
“Aku tidak mengerti apa maksudmu. Memangnya apa yang terjadi dengan ayahmu?” tanya Kun dari seberang sana.
“Apa istrimu tahu?” Tanya Kun setelah Leo mengakhiri ceritanya.
“Dia tidak tahu apa-apa dan sebaiknya memang begitu. Aku tidak ingin dia khawatir.”
“Huh, kau suami yang pengertian,” ledek Kun.
“Terimakasih atas pujianmu, tapi aku tidak tersanjung!”
“Terserah!”
__ADS_1
Panggilan telepon terputus dan Leo mulai menyiapkan semua rencana besarnya. Ada keuntungan yang akan didapat Leo dari rencana jahat yang dilancarkan Aryani terhadap kelurganya. Leo bisa saja menggagalkan rencana jahat sepupu Shena yang mengganggu ketenangan keluarganya, tapi Leo tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebaliknya, jika Leo mengikuti arus permainan musuhnya, ia akan menang banyak. Seperti yang terjadi saat ini.
Segala sesuatu yang direncanakan baik oleh Aryani sendiri ataupun rencana Rega, semua sudah Leo ketahui. Mereka berdua memang pasangan suami istri dan bekerja sama untuk menculik Shena serta berniat membuat Leo kalah dari pertandingan yang sudah Shena sepakati dengan Aryani. Sepupu Shena itu tidak ingin saudaranya memenangkan turnamen sehingga ia menghalalkan segala cara walau ia harus melakukan tindak kejahatan. Namun disisi lain, Rega ternyata punya niat jahat yang berseberangan dengan Aryani, yaitu membuat Shena menjadi miliknya setelah ia yakin berhasil menyingkirkan Leo tanpa Rega tahu bahwa posisinya itu nanti akan digantikan oleh kembarannya, si Kunkun.
Rencana Leo itu langsung ia gencarkan saat Shena mengajaknya pergi ke makam almarhum Sasa. Karena itulah pagi-pagi buta ia menelepon seluruh anak buahnya untuk standby dilokasi-lokasi yang akan digunakan Aryani saat ia menculiknya dan seluruh keluarganya. Selain itu, Leo juga menghubungi Kun supaya segera menuju lokasi dimana mereka nanti akan bertukar posisi. Untuk itulah Leo langsung menutup panggilannya begitu Shena datang agar rencananya itu tidak diketahui oleh istrinya.
Semua prediksi Leo memang tepat dan sesuai rencana. Tanpa sadar, Aryani dan Rega masuk kedalam jebakan dari rencana jahat yang pasutri itu buat. Tak lupa, Leo juga meminta bantuan Refald untuk melindungi putranya ketika Shena sedang dalam bahaya.
Ada suatu peristiwa mencekam yang membuat Leo tidak akan pernah memaafkan Rega atas perbuatannya yang tidak diketahui oleh siapapun tapi diketahui Leo dan Refald. Setelah ia membawa Shena pergi dari ruang penyekapan yang dipilih Aryani. Rega memerintahkan anak buahnya untuk membunuh dan membuang bayi Yeon kedalam jurang.
Saat itu, Leo hampir lepas kendali dan ingin sekali membunuh Rega didetik itu juga. Namun, Refald berhasil mencegahnya.
“Tidak Leo! Kematian Rega terlalu mudah jika kau membunuhnya sekarang. Ia harus mendapatkan kehidupan yang sangat mengerikan dan tidak akan pernah bisa ia bayangkan sebelum si bangsat itu pergi ke alam baka. Aku akan menyelamatkan Yeon. Kau selamatkan saja istrimu.”
Kata-kata Refald itu mampu membuat amarah Leo yang tadinya meluap-luap, perlahan mulai mereda. Ia menarik napas dalam-dalam dan memasukkan kembali senjata apinya.
“Kau benar, Kak. Akan aku buat bedebah itu menyesal karena sudah lahir kedunia ini,” geram Leo masih dengan kilatan api kemarahan yang amat sangat besar.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1