Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 302 Hari yang Indah


__ADS_3

Tepat tengah malam, Leo terbangun dari tidurnya. Ia berjalan pelan menuju jendela kamarnya dan menatap langit-langit yang masih gelap. Sesekali ia memandangi istrinya yang tertidur pulas di atas tempat tidur. Baru beberapa menit Leo berdiri, tiba-tiba saja, ponselnya berdering dan Leo langsung mengangkat panggilannya agar tak membangunkan Shena.


“Ehm, aku sudah baca pesan yang kau kirim. Kita bertemu besok … kapan kau tiba … oke … dia masih tidur. Sampai jumpa lagi.” Leopun menutup panggilannya dan kembali menikmati pemandangan alam dari balik mensionnya.


“Siapa yang berani meneleponmu tengah malam begini?” tanya Shena yang ternyata terbangun gara-gara suara nada dering Leo.


Biasanya, Leo tidak suka diganggu dan pasti marah pada orang yang mengusiknya di jamnya istirahat, tapi kali ini Leo tidak marah. Artinya, orang itu spesial bagi Leo, selain dirinya pasti.


“Roy, dia yang meneleponku karena aku tak membalas pesannya,” jawab Leo santai dan balik badan menghadap Shena.


“Roy? Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Shena semakin penasaran. Untuk apa sahabat Leo itu menelepon suaminya tengah malam buta begini.


“Ada masalah perkerjaan yang harus aku selesaikan dengannya, Sayang. Aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan dan membiarkan Roy menanganinya sendirian. Ada beberapa masalah yang belum bisa ia selesaikan makanya ia butuh bertemu denganku.” Leo mendekat ke tempat Shena dan duduk disampingnya.


“Maafkan, aku ….” ujar Shena lirih. Ia jadi merasa bersalah pada Leo.


“Kenapa kau minta maaf Sayang, kau tidak melakukan kesalahan apapun.” Leo bersandar dinahu istrinya dan memluk tubuh Shena dengan erat.


“Kau meninggalkan banyak hal gara-gara aku. Terlebih saat aku kehilangan ingatanku. Kau terlalu fokus padaku dan mengesampingkan hal lain. Perusahaan tidak akan berjalan tanpamu Leo. Dan kau terpaksa meninggalkan semua urusan hanya gara-gara aku. Bukannya membantumu menyelesaikan masalah yang kau hadapi, aku malah menyebabkan kekacauan dalam hidupmu.” Nada suara Shena terdengar sedih karena ia merasa bersalah pada suaminya atas apa yang sudah terjadi.


“Bagus dong,” ujar Leo sambil tersenyum.


“Kok bagus?” tanya Shena bingung. Ia menatap wajah suaminya dan langsung mendapat kecupan mesra.


“Iya bagus, artinya kau menantu yang baik.” Jawaban Leo masih menyimpan teka-teki.


“Apa hubungannya aku yang sudah banyak buat masalah dengan jadi menantu yang baik?” tanya Shena lagi, alisnya sudah berkerut karena semakin tidak mengerti.


“Beri aku ciuman maut dulu baru kuberitahu.” Bisa-bisanya Leo minta jatah. Dasar perusak suasana.


“Kan barusan sudah, baru sedetik yang lalu kau menciumku,” protes Shena.

__ADS_1


“Tapi kan kau belum menciumku Sayang, yang barusan tadi, akulah yang menciummu. Sekarang giliranmu. Cium aku, yang lama.” Leo menahan senyum melihat ekspresi bingung Shena.


“Kau selalu saja seperti itu.” Shena memasang wajah manyun. Ia cemberut berat dengan suami nggak ada akhlaknya ini.


“Kau tidak mau? Kau tahu kalau aku tak suka ditolak!” ada sedikit ancaman dari ucapan suami Shena ini.


Mau tidak mau, Shena pun menuruti keinginan suaminya. Ia mencium mesra bibir suaminya sedikit lama. Keduanya saling mengisap bibir masing-masing dan menikmati hasrat cinta yang bergelora diantara mereka berdua. Tangan Leo mulai nakal menggerayangi tubuh Shena kemana-mana.


“Mau apa kau?” tanya Shena menghentikan aksi nakal suaminya.


“Mau … itu ….”


“Nggak! Kau janji mau memberitahuku tadi?”


“Setelah kita selesai melakukan ritual,” bujuk Leo.


“Nggak! Kau tadi janji mau memberitahuku kalau aku menciummu! Aku sudah melakukan apapun yang kau inginkan. Kau mau bohongi aku?” Shena benar-benar dongkol akut pada Leo.


“Habis mau bagaimana lagi, Sayang. Aku selalu saja tak bisa menahan birahiku jika berdekatan denganmu. Kau seperti magnet bagiku yang selalu menarikku untuk tidak menjauh darimu. Seperti sekarang ini. ciumanmu, benar-benar memabukkan.”


“Kok gitu?”


“Cepat beritahu aku! Apa hubungannya kekacauan yang aku buat dengan menjadi menantu baik? Jika kau tak memberitahuku, jangan harap aku mau bicara padamu!” kini giliran Shena yang mengancam balik suaminya.


“Oke-oke, setelah kuberitahu, kita main.”


Leo benar-benar suami terbengek yang pernah ada di alam jagad raya ini. Bisa-bisanya ia tawar menawar dengan istrinya sendiri supaya bisa menyalurkan etalibunnya ke dalam lubang sumur milik Shena. Bibir Shena masih manyun menatap suaminya. Ia memilih bungkam dan tak bersuara sebelum Leo amu menjelaskan apa maksud ucapannya.


“Kau berhak melakukan kekacauan apapun yang kau suka, Sayang. Dan tugasku adalah membereskan kekacauan itu. Ibulah yang memintamu melakukannya. Kau masih ingat, kan? Artinya kau menantu yang baik karena kau telah melakukan apa yang ibu katakan,” terang Leo, tapi tidak ada sahutan lagi dari Shena. Istrinya itu malah diam menatap lurus wajah tampan Leo. “Saayang, kau dengar aku, kan?” tanya Leo membalas tatapan istrinya.


Tanpa bersuara, Shena meraih selimut dan langsung berbaring membelakangi Leo. Shena tersenyum karena ternyata hanya itu saja alasan Leo. Baru kali ini ada seorang suami yang mendukung istrinya buat kekacauan sesuka hati. Dimana-mana, yang namanya suami pasti menginginkan istri yang sempurna dengan tidak berbuat kesalahan apapun. Namun berbeda dengan Leo yang malah senang kelau Shena banyak buat masalah dan dialah yang bakal menyelesaikan masalahnya. Dasar Leo aneh.

__ADS_1


Karena tak mendapat reaksi apapun dari Shena, Leo mulai melancarkan aksi nakalnya dengan mengajak Shena main ritual bulan tertusuk ilalang. Leo memulainya dari belakang dan tentu saja Shena kaget bukan kepalang.


“Leo! Apa yang kau lakukan?”


“Main,” jawab Leo singkat padat dan jelas.


“Hentikan! Aku tidak mau!”


“Bodo amat, kau milikku, pokoknya kau hanya milikku!”


“Lepaskan aku! Atau aku bakal teriak!” ancam Shena.


“Teriak saja! Tidak akan ada yang dengar. Ruangan ini kedap suara, kau jangan lupakan itu Sayang.”


Shena terus memberontak, namun Leo tidak peduli, ia tetap melaksanakan ritual rutinan itu sampai pagi tanpa peduli dengan pemberontakan istrinya.


***


Keesokan harinya, Leo mengajak Shena pergi ke Jenewe. Bukan tanpa alasan kenapa Leo mengajak istrinya jalan-jalan ke tempat yang terkenal akan pemandangan makanan di jantung kota tua Jenewa. Ada banyak sekali restoran berbintang Michelin dan restoran mewah hingga kafe tradisional yang menawan. Tempat-tempat ini menyajikan makanan yang terjangkau dan lezat dalam suasana pedesaan. Leo sangat yakin, Shena pasti menyukai tempat ini karena pemandangan tepi danaunya terlihat sangat indah dan cocok sekali dibuat nongkrong.


“Tempat apa ini? Dan kenapa kita ke sini?” tanya Shena setelah Leo membukakan pintu mobil Ferarri merah untuknya.


“Ini adalah tempat ternyaman yang menyediakan banyak makanan lezat dengan budaya makanan Jenewa. Aku tahu kau tak terlalu suka makan makanan Eropa. Kau terlihat agak sedikit kurus Sayang. aku tidak ingin orang menilai kau tak bahagia bersamaku.”


“Aku tidak peduli, aku kurus bukan berarti tidak bahagia bersamamu, aku sangat bahagia. sungguh!”


“Tapi aku peduli. Aku mengajakmu kemari, karena tempat ini, menyediakan makanan khas pedesaan yang sangat lezat. Setelah kau mencicipinya, kau pasti bakal ketagihan.” Leo menjelaskan alasan mengapa ia membawa Shena ke tempat indah ini sambil menggandeng erat tangan istrinya melintasi jalan-jalan yang memang nampak sekali nuansa pedesaannya sehingga membuat Shena jadi merindukan negara asalnya.


“Shena!” teriak seseorang yang sangat Shena kenal. Dari kejauhan, seseorang itu melambaikan tangannya dan Shena langsung tersenyum senang melihatnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


terus pantengin igku ya ..karena nanti malam ada pengumuman cara mengikuti give away, hehehe ...


__ADS_2