Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 33 Pemanasan


__ADS_3

Para hadirin yang ada diruang sidang dengan khidmad menyimak dakwaan yang ditujukan pada pihak Leo dan Shena sebagai terlapor atas kasus perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan Leo dan Shena terhadap putri tunggal hakim agung beberapa waktu lalu. Secara kebetulan yang memang sudah direncanakan, ayah dari wanita itulah yang bertugas sebagai hakim dalam kasus ini.


Setelah membuka acara sidang, hakim membacakan dakwaan yang ditujukan pada Leo dan Shena berserta tuntutan yang diajukan serta sanksi yang harus diterima pasangan suami istri tersebut untuk menyelesaikan kasus ini. Begitu semuanya selesai disampaikan, hakim mempersilahkan pengacara Leo memberikan pembelaan sebelum menjatuhkan putusan.


“Terimakasih atas kesempatan yang diberikan pada kami, Yang mulia. Saya tidak akan membuang-buang waktu lagi untuk membela klien saya,” ujar Abas sang pengacara muda dan berbakat, ia merupakan putra tunggal dari pengacara kondang pak Bas. Pria berwibawa itu berdiri dari kursinya dan maju ke depan meja pembela. “Tuduhan yang pertama, yaitu nyonya Shena, istri dari tuan muda Leopard Bay Pyordova telah dituduh menampar wajah cantik putri anda. Ehm, maksud saya, nona Elise Gandi.” Abas berhenti berbicara sejenak sambil menatap Shena yang terlihat sedikit gugup disamping suaminya Leo.


Pria itu beralih menatap hakim dengan tatapan meyakinkan. “Pak hakim, saya rasa ... terjadi kesalahpahaman disini. Menurut keterangan saksi dari klien saya, nyonya Shena tidak benar-benar menggampar wajah nona Elise. Nyonya Shena hanya menyelamatkan wajah nona Elise dari serangga yang bernama nyamuk, karena telah mencoba menggigit pipi indahnya kala itu.”


Beberapa orang langsung tertawa mendengar pembelaan dari pengacara Abas tentang apa yang dikatakannya barusan. Begitu juga dengan Shena, istri Leo itu melongo mendengar alasan tidak masuk akal yang dibuat Abas untuk membelanya.


“Siapa yang percaya dengan alasan konyol seperti itu?” bisik Shena pada Leo yang juga ikutan tertawa.


“Siapa yang peduli? Mau itu konyol apa tidak? Yang penting kita punya alasan kenapa kau menamparnya.”


“Wanita itu sudah berbuat kasar pada seorang kakek dan membuat keributan di hotelmu. Wajar jika aku memberi pelajaran berharga agar ia tidak mengulangi tindakannya yang tidak bermoral itu. Kenapa kita tidak mengatakan yang sebenarnya?” Shena kembali menjelaskan alasannya.


“Sayang, di dunia kejahatan, ada satu hal yang harus kau pahami. Kejahatan itu agung dan megah. Kau tidak bisa hanya mengandalkan kebenaran ketika berhadapan dengan hukum. Apalagi hukum itu diciptakan manusia. Karena hukum bisa dibeli, dan tentu saja, hanya orang-orang tertentu yang bisa membelinya. Itulah kenapa aku memilih cara mafia untuk menghadapi semua kasus yang melibatkan kita. Karena dalam hukum, kebenaran itu lemah. Hanya orang berkuasalah yang bisa memenangkan kebenaran, meskipun pada dasarnya mereka salah. Sepertinya, wanita itu tidak punya niat mengakui kesalahannya. Apapun pasti ia lakukan untuk menjatuhkan kita. Aku memang punya segalanya, tapi untuk memenangkan kasus, aku lebih suka menggunakan cara mafia, itu lebih mengasyikkan daripada menggunakan kekuasaan yang kupunya.”


Shena berpikir keras untuk mencerna arti dari kata-kata Leo. “Kau benar, Leo. Aku memang pernah mendengar hal semacam itu.”

__ADS_1


“Aku senang kau cepat paham maksudku, Sayang. Kau harus tetap diam dan lihat saja. Suami tampanmu ini akan melindungimu sampai akhir. Nikmati suasana disini, karena pertunjukannya belum dimulai.” Leo menggenggam erat tangan Shena. Shenapun mengangguk dan membalas genggaman tangan Leo.


“Bohong, pak Hakim!” teriak Elise seketika dan mengagetkan semua orang yang ada di dalam ruangan. “Tidak ada nyamuk yang menempel diwajahku waktu itu, dia memang sengaja menamparku!” wanita yang ternyata bernama Elise itu menunjuk-nunjuk Shena dengan jari telujuknya. Ingin sekali Shena berlari ke hadapan Elise dan menggigit jari telunjuk itu saking kesalnya bila mengingat perlakuannya pada seorang kakek tua saat itu.


“Tapi itulah yang terjadi, Nona ... kau salah paham.” Abas masih kukuh dengan pendapatnya.


“Itu tidak benar! Jelas-jelas itu bukan kesalahpahaman!” teriak Elise lagi lebih kecang dari sebelumnya sehingga membuat heboh ruang sidang.


Hakimpun menenangkan semua orang sambil mengetukkan palunya. “Harap tenang semuanya!” teriak hakim tersebut meredakan semua orang yang mulai bergunjing ria sampai supaya suasana kembali kondusif. “Nona Elise, akan ada waktunya nanti bagi anda untuk menyanggah semua pernyataan dari pihak pembela. Sementara ini, dengarkan saja apa yang mereka utarakan, jika sekali lagi kau berteriak dan membuat gaduh, maka kami terpaksa mengeluarkan anda dari ruang sidang ini.” Hakim tersebut menatap tajam mata Elise untuk memberikan peringatan agar tidak bertindak gegabah. Sepertinya, hakim itu berencana tetap akan memenangkan kasus putrinya bagaimanapun caranya.


“Baik, pak Hakim, maafkan saya.” Elise pun membungkuk dan kembali duduk tenang dikursinya. Sidangpun dilanjutkan.


“Bagaimana jaksa penuntut? Ada yang ingin anda tanyakan pada saksi yang akan dihadirkan pembela?” tanya sang hakim pada jaksa.


“Saya tidak keberatan, Yang mulia,” jawab jaksa penuntut itu.


“Termakasih yang mulia,” Abas pun menatap wajah Leo sambil tersenyum simpul.


Mereka berdua sepertinya sudah merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh Shena. Seperti yang sudah Leo katakan sebelumnya, selama di ruang sidang, Shena dilarang bersuara dan hanya boleh diam saja. Shena sendiri juga sangat terkejut saat pengacaranya mengatakan bahwa apa yang ia lakukan itu hanya karena melindunginya dari nyamuk. Itu adalah alasan yang tidak masuk akal. Namun, tidak ada yang bisa Shena lakukan selain mengikuti alur yang diciptakan suaminya ini.

__ADS_1


“Saksi pertama yang saya hadirkan adalah, tuan muda Leopard Bay Pyordova yang kala itu berada di lokasi keajdian. Silahkan, tuan muda Leo.” Abas mempersilahkan Leo maju dan duduk di tempat saksi.


Jaksa penuntut pun ikut maju dan mendekati Leo untuk mengajukan pertanyaan yang sudah ia siapkan. “Tuan Leopard Bay Pyordova, benarkah pada saat kejadian ... anda melihat istri anda menggampar nona Elise?”


“Lebih tepatnya menyelamatkannya dari gigitan nyamuk yang ganas,” jawab Leo datar tanpa ekspresi.


“Bagaimana anda yakin kalau ada nyamuk yang menggigitnya? Apa anda punya buktinya?” tanya jaksa penuntut itu berusaha memojokkan Leo.


Untuk beberapa saat, Leo terdiam dan tanpa diduga ia langsung menggampar wajah jaksa penuntut itu dengan keras sehingga mengagetkan semua orang yang ada diruang sidang atas tindakan tak pantas yang dilakukan Leo pada seorang jaksa apalagi diwaktu sidang. Shena juga langsung shock parah karena tak menyangka Leo bakal bertindak sejauh itu.


Itukah cara mafia yang dimaksud Leo? batin Shena semakin khawatir karena Leo bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah memperkeruh keadaan.


“Tuan muda Leo! Apa yang kau lakukan?” tanya hakim yang langsung terkejut melihat kejadian mengejutkan tadi. “Kau tahu tindakanmu sangat tidak pantas dilakukan.”


Leo hanya diam sambil menatap wajah jaksa yang memegangi pipinya akibat tamparannya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2