Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 244 Kejadian itu ...


__ADS_3

Pesawatpun mulai bergerak. Awalnya tidak ada masalah dengan Shena yang merasa pertama kali naik pesawat, tapi begitu pesawatnya lepas landas. Shena merasakan mual dan ia sangat ketakutan. Refleks, Shena langsung memegangi lengan Leo dan suaminya itu memeluknya dengan erat.


“Tenanglah, tidak ada apa-apa selama kau bersamaku.” Leo menatap Shena yang gemetar ketakutan. Baru kali ini ia tahu kalau sebenarnya Shena takut ketinggian. “Kau tahu, Sayang? Kini aku mengerti kenapa kau terlihat biasa saja saat kita naik pesawat walaupun pada kenyataannya, kau takut ketinggian.


“Kenapa?” tanya Shena dengan nada suara gemetar.


“Aku rasa … itu karena aku ada bersamamu. Memegangmu erat seperti ini.” Leo semakin mengeratkan pelukannya sampai Shena merasa tenang.


Dan benar saja, seketika suasana hati Shena mulai membaik dan ia menjadi lebih rileks. Perlahan, rasa mual dan panik itu hilang saat Leo yang tak lain adalah suaminya memeluknya dengan penuh cinta.


“Ke-kenapa bisa … begitu?” Shena mulai memberanikan diri menatap wajah tampan Leo. “Kenapa, aku bisa jadi tenang saat kau … memelukku?” tanya Shena meminta jawaban pada Leo. Karena ia sendiri tak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini.


“Sudah jelas, kan? Karena kau … sangat sangat sangat mencintaiku.” Mata Leo menatap manik mata Shena. “Kisah cinta kita berdua sangat ekstrim, Sayang. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita berdua dan kita bisa melaluinya bersama-sama. Susah senang dan pahit getirnya berumah tangga sudah kita arungi berdua. Kali inipun juga sama, kau dan aku harus bisa melewati ini semua meskipun kau tak bisa mengingatku.


“Setiap detak jantungmu, napasmu, dan isi kepalamu hanya ada aku seorang. Dan akupun begitu, kita takkan pernah terpisah bagaimanapun keadaannya. Karena itulah, mulai detik ini … aku … akan mengembalikan ingatanmu tentang diriku tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan ingatanmu kembali.”


Mata Shena berkaca-kaca saat mendengar ucapan Leo. Bibirnya bergetar dan hatinya bergejolak kuat. Ingin rasanya ia menolak semua ini, tapi pandangan mata Leo tak mampu membuat Shena berpaling dari wajah tampannya.


“Kau mau kucium?” tanya Leo tiba-tiba. Sepertinya ia sudah tak bisa menahan perasaannya lagi dan langsung mencium Shena tanpa menunggu apakah Shena setuju atau tidak.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Leo.


“Inikah caramu memperlakukan seorang wanita? Sekalipun aku memang istrimu, tidakkah itu terlalu vulgar?” mata Shena memelototi wajah Leo.

__ADS_1


“Biasanya … dalam situasi seperti ini … kita … ehm, anu … itu … kita … memang berciuman,” ujar Leo jadi salting sendiri saking terkejutnya. Ia tak menyangka bakal ditampar Shena.


“Apa?” Seketika Shena langsung mendorong kuat tubuh Leo dan menjauh darinya. “Apa kau selalu seperti ini padaku? Dasar tidak sopan!” Shena memasang wajah kesal pada Leo. Ia terkejut ternyata suaminya itu mesum juga. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa dirinya yang dulu sebelum kehilangan ingatan. “Aku heran, bagaimana aku yang dulu jatuh cinta pada pria mesum ini? Jangan-jangan dulu aku salah minum obat,” gumam Shena dan itu membuat Leo tertawa tanpa suara karena ia bisa mendengar kata-kata Shena. “Kenapa kau tertawa? Kau baru saja kutampar?” Shena memicingkan matanya melihat Leo.


“Kerena … kau juga pernah menamparku dulu, dan itu terjadi sebelum kau jatuh cinta padaku. Hari ini, kau mengingatkanku lagi kejadian itu.” Leo mengusap pipinya yang panas akibat tamparan Shena. Melihat hal itu, Shena kembali jadi tidak enak hati.


“Maaf karena sudah menamparmu. Sungguh itu tadi gerakan refleks. Aku … hanya, merasa kau … tidak sopan padaku meskipun kau adalah suamiku. Maaf.” Shena menundukkan wajahnya.


“Tidak apa-apa. Aku mengerti bagaimana kondisimu saat ini, aku bahkan rela ditampar olehmu setiap hari asalkan kau bisa mengingat kembali kenangan indah kita berdua.” Leo tetap menatap tajam istrinya.


Shena terdiam lagi, ia sungguh tidak mengerti ada apa dengan orang ini? Pria manapun kalau ditampar wanita, pasti dia akan tidak terima dan marah atau bisa juga membalas tamparan itu. Lah Leo malah bersikap sebaliknya, jangankan membalas, marah saja tidak.


“Kau sungguh ingin tahu bagaimana Shena yang dulu bisa jatuh cinta padaku?” tanya Leo antusias dan ia bersiap menceritakan segalanya. Bagaimana awal mula keduanya bisa jatuh cinta.


“Tidak!” ujar Shena cepat sebelum orang yang bernama Leo ini buka suara. “Aku tidak mau dengar, membayangkannya sudah membuatku ngeri apalagi mendengarnya.” Shena mulai berpaling lagi dari pandangan mata Leo.


“Ya, sudah.” Leo mencoba memahami kondisi istrinya dan tidak ingin memaksa. “Tapi aku serius …”


“Tidak! Jangan ganggu aku!” cetus Shena cepat dan masih enggan menatap wajah Leo.


Tak ada yang bisa dilakukan Leo selain menuruti apapun keinginan Shena. Ia membiarkan Shena bergelut sendiri dengan hati dan pikirannya. Sementara Leo mempelajari setiap reaksi Shena terhadapnya. Namun, tak dapat dipungkiri, tamparan Shena, lumayan sakit juga.


“Auch,” gumam Leo lirih sambil mengusap-ngusap pipinya yang memerah dan terlihat seperti tato lima jari.


***

__ADS_1


Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Shena dan Leo tiba di desa kelahiran Shena. Untuk sampai di rumah yang akan ditinggali Leo dan Shena, Leo memilih menggunakan jalur darat. Tujuannya adalah ia ingin Shena mengamati seperti apa seluk beluk tempat tinggal mereka dulu. Siapa tahu, dari sini ada hal yang diingat Shena meskipun itu tak ada sangkut pautnya dengan Leo. Selama perjalanan, Shena lebih banyak diam dan dengan telaten Leo menjelaskan siapa-siapa yang ada di desa itu termasuk orang-orang yang berarti bagi Shena. Kali ini, Leo lebih hati-hati karena ia tak mau kena tampar lagi.


“Bagaimana kalau aku tidak mengingat semua orang-orang yang kau sebutkan tadi?” tanya Shena mulai panik. Iapun mulai merasakan sedikit sakit dikepalanya.


“Aku sudah memberitahu mereka perihal kondisimu yang sekarang. Aku yakin, mereka akan memahami dirimu sama sepertiku. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun dan jangan dipaksakan bila kau tak ingat mereka semua.”


“Aku pasti menyakiti hati mereka dan juga hatimu,” gumam Shena mulai menyalahkan dirinya sendiri.


“Kenapa kau berkata seperti itu? Ini semua bukan salahmu.”


“Meskipun aku tak ingat apapun, tapi aku juga manusia. Pasti rasanya sakit banget dilupakan oleh orang yang kita sayangi. Begitu juga denganmu, dan anak-anak …” Shena tak sanggup berkata-kata lagi. Perang batin yang terjadi dalam diri Shena mulai membuatnya panik kembali. “Aku berusaha keras untuk … bersikap seperti istrimu, tapi … baru beberapa waktu bersamamu, aku … kepalaku … terasa sangat sakit.” Shena memegangi kepalanya dan hal itu membuat Leo jadi semakin tidak tega.


Leo ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba saja mobil yang ia tumpangi berhenti secara mendadak. Hampir saja kepala Shena membentur kabin depan seandainya Leo tidak sigap melindungi kepala Shena dengan tangannya.


“Ada apa?” seru Leo agak marah karena supirnya menghentikan mobilnya tanpa pemberitahuan lebih dulu. “Kenapa berhenti?” tanya Leo.


“Maaf Tuan muda. Saya juga tidak tahu, sepertinya ada masalah dengan mobilnya.” Supir itu jadi panik sendiri.


“Kenapa kalian tidak periksa dulu sebelum pergi?” protes Leo marah.


“Sudah Tuan, kami sudah memeriksanya tadi dan tidak ada masalah dengan mobilnya,” jelas supir tersebut. “Saya akan memeriksanya kembali. Mohon tunggu sebentar di sini.” Supir itupun bergegas keluar mobil dan membuka cap depan untuk memeriksa apa yang salah dengan mobil ini. Begitu cap depan mobil terbuka, seluruh asap tebal langsung berhamburan keluar sehingga membuat sang supir terbatuk-batuk.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Leo mengkhawatirkan keadaan Shena.


“Iya, tidak apa-apa, terimakasih.” Shena agak gugup dan ia mencoba membuang muka menghindar dari tatapam Leo. Ia jadi terkejut ketika tak sengaja melihat hamparan padang teh terbentang luas dihadapannya. Perkebunan teh itu, sungguh mencengangkan Shena.

__ADS_1


“Kau tunggu disini, Sayang. Aku akan membantu memeriksa mobil ini,” ujar Leo pada Shena yang tak menyahuti ucapannnya.


****


__ADS_2