Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 262 Tak Terduga


__ADS_3

“Apa? Apa kau sudah tidak waras?” mata Yeon memelototi Yuna. “Bagaimana bisa kau … hoooo … “ Yeon manggut-manggut. Wajahnya terlihat semakin marah. “Huh, ternyata benar dugaanku, kau mendekati keluarga kami kerena kau lelah hidup miskin, kan? Makanya kau memasang wajah melas seperti itu supaya ibuku berbelas kasih padamu?


"Dasar tidak tahu diri. Katakan! Apa rencanamu selanjutnya? Kau ingin menjadi bagian dari keluarga kami? Lalu mengambil semua harta kami? Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja? aku takkan mudah tertipu. Meskipun aku masih anak-anak, tapi aku tahu orang seperti apa kau itu!” nada suara Yeon semakin meninggi. Jika saja Yuna laki-laki, pasti sudah Yeon hajar sejak tadi.


“Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu, aku hanya berpikir jika aku jadi pelayanmu, maka aku bisa bertemu setiap hari dengan ibumu. Aku tak ingin apapun selain berada dekat dengan bibi Shena. Aku menyukai ibumu. Bersamanya aku seolah bersama ibuku sendiri. Apa itu salah?” rengek Yuna sambil menangis.


“Tidak masalah kau membenciku, mengataiku ini itu, menghinaku, mengolokku bahkan memukulku sekalipun, aku bisa menerimanya. Asalkan aku bisa melihat bibi Shena setiap hari aku bersedia ditindas olehmu.”


“Heh bocah? Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?” tanya Yeon.


“Sadar, kau ingin tahu kenapa aku menyukai ibumu, kan? Itu karena aku harus belajar banyak darinya supaya aku bisa kuat menghadapi keluargaku yang sudah membuangku. Aku harus tahu seperti apa caranya? Hanya itu yang ingin aku lakukan? Sungguh! Disaat semua orang membenciku, cuma bibi Shenalah yang baik padaku. Jika semua dunia menjauhiku, hanya bibi Shena saja yang menunjukkan kasih sayangnya padaku. Jika aku menyukainya, apa itu salah? Huaaaa ….” Yuna menangis. Ia menangis kencang sekali sampai membuat Yeon jadi bingung sendiri.


Baru kali ini Yeon mendengar suara anak kecil menangis sekencang Yuna dan membuat Yeon mati rasa. “Apa kau tidak bisa memelankan sedikit suara tangisanmu? Telingaku sakit?” teriak Yeon.


“Tidak bisa!” bentak Yuna masih sambil menangis dan terisak. “Kau tahu berapa tahun aku menahan tangsian ini? Rasanya sakit sekali? Kau tidak pernah merasakan hidup sepertiku, makanya kau kasar padaku. Aku hanya menyukai kebaikan hati ibumu, harusnya sebagai anak kau bangga padanya! Ibumu punya fans!” Yuna terus saja menangis.


“Aku memang bangga! Dan aku sayang ibuku! Karena itulah aku tidak ingin dia tertipu olehmu!”


“Aku bukan penipu!” bentak Yuna dan tangisnya semakin menjadi. “Kenapa kau terus saaj bilang aku penipu? Kapan aku menipu kalian?” isak Yuna.


Pertanyaan Yuna tak bisa Yeon jawab. Tak ada bukti yang menguatkan kalau Yuna memang berniat menipu keluarganya. Namun, tetap saja tidak ada salahnya jika berjaga-jaga.

__ADS_1


“Aku tak pernah menyakiti siapapun dan tak punya niat menyakiti siapa-siapa. Aku hanya menyukai ibumu? Itu saja, kenapa kau membenciku?” Yuna masih menangis. Air matanya tak pernah bisa berhenti mengalir.


Melihat Yuna seperti itu, timbul rasa kasihan di hati Yeon. Ia berjalan mendekat kearah Yuan dan memberinya saputangannya. “Pakai ini,” ujar Yeon lirih.


Yuna meraih saputangan itu dan mengusap air mata serta ingusnya sampai terdengar bunyi ‘sssrrrttt’ yang membuat Yeon bergidik ngeri, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati, ia hanya mengucapkan selaamt tinggal pada saputangan mahalnya yang khusus ia bawa dari Jerman.


“Kenapa kau menyukai ibuku?” tanya Yeon setelah melihat Yuna sedikit lebih tenang meskipun terdengar sedikit isakan.


“Apa kau tidak tahu? Aku rasa, banyak sekali orang yang suka pada ibumu. Sebab beliau adalah orang yang baik.”


“Bukan begitu … Tentu saja aku tahu. Ada banyak ibu di desa ini? Dan juga orang-orang baik lainnya, kenapa kau menyukai ibuku? Sukai saja ibu orang lain? Jangan ibuku?” Yeon bisa juga bicara blak-blakan.


“Karena ibumu bilang, aku mirip dengannya sewaktu beliau masih kecil,” jawab Yuna jujur dan jawaban itu langsung membuat Yeon tertegun.


“Ibumu bilang, meskipun ia tidak ingat pasti, tapi ketika melihatku, ia merasa aku sangat mirip dengannya. Aku juga tidak tahu kenapa tapi aku merasa sangat nyaman berada di dekat bibi Shena. Aku tak pernah menemukan wanita berhati malaikat seperti beliau. Aku sangat mengaguminya. Tolong, izinkan aku tinggal di sini sebagai pelayanmu agar aku bisa belajar banyak dari bibi Shena.


"Aku tak minta digaji, setidaknya aku ingin tinggal sampai aku benar-benar siap memaafkan seluruh keluargaku yang sudah berbuat jahat padaku. Baru setelah itu, aku akan pergi dari sini selamanya dan tidak akan menggangggu keluargamu lagi. Aku mohon, Yeon.” Mata Yuna menatap tajam manik mata Yeon.


Dua anak menggemaskan ini saling bertatapan satu sama lain. Namun, kejadian tak terduga tiba-tiba saja terjadi. Entah darimana datangnya, beberapa orang muncul dan langsung menggendong paksa tubuh kecil Yeon dan Yuna lalu membawa mereka berdua pergi dari perkebunan teh ini.


“Siapa kalian? Lepasakn aku!” terika Yeon dan Yuna bersamaan. Mereka berusaha kuat melepaskan diri tapi kalah tenaga. Orang-orang itu sangat kuat. Mustahil bagi Yeon dan Yuna lepas dari cengkeraman mereka.

__ADS_1


Pengawal Leo yang sejak tadi mengawasi gerak gerik kedua anak itu, langsung menghadap orang-orang yang hendak menculik Yeon dan Yuna. “Lepaskan mereka!” ujar pengawal Leo setelah memberitahu Leo apa yang sedang terjadi di sini.


Orang-orang berbadan gempal itu saling pandang dan memberi kode untuk melawan pengawal Leo yang kebetulan ia hanya seorang diri. Komplotan itu membagi tugas. Orang yang membawa Yeon dan Yuna disuruh pergi lebih dulu sementara sisanya menghadapi pengawal Leo.


Satu lawan banyak, tentu saja kondisi ini tidak seimbang. Dengan cepat, pengawal Leo yang tidak bersenjata ini dengan mudah dikalahkan. Mereka langsung bergegas menyusul rekan-rekannya yang telah berhasil menculik Yeon dan Yuna.


Kedua anak kecil itu diikat dan mulutnya disumpal dengan kain. Yeon bersikap sangat tenang sementara Yuna panik dan ketakutan. Rasa traumanya kembali muncul sehingga gadis itu meringkuk dalam-dalam dipojokan mobil. Beberapa orang memaksa mereka masuk ke dalam mobil Alphard hitam dan langsung melesat pergi meninggalkan desa.


Sementara Leo, langsung mengepalkan tangan kuat-kuat begitu mendapat laporan dari anak buahnya jauh sebelum pengawal Leo dikalahkan oleh koplotan penjahat tak dikenal.


“Beraninya kalian cari gara-gara denganku. Tunggu dan lihat saja! Akan kuhancurkan kalian semua menjadi abu!” geram Leo. Napasnya naik turun karena amarah yang memuncak.


Mata Leo memerah karena marah. Iapun mengambil beberapa sejata api kesayangannya dan menghubungi banyak orang. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui dimana lokasi penculikan putranya. Dengan cepat, Leo langsung bergegas berangkat menuju ke lokasi tersebut begitu ditemukan.


“Aku ikut!” seru Shena sambil membuka pintu mobil Leo dan duduk di samping suaminya.


“Tidak Sayang, aku sedang tidak pergi ke mall. Ini berbahaya. Aku tak ingin kau kenapa-napa. Kau baru saja pulih. Tetaplah di rumah dan tunggu aku kembali. Akan kupastikan kalau putra kita pulang dalam keadaan selamat.” Leo berusaha meyakinkan Shena.


“Tidak, putraku sedang dalam bahaya, mana bisa aku duduk berdiam diri saja di rumah. Cepat jalan! Jangan buang-buang waktu lagi atau aku akan pergi bawa mobil sendiri!” ancam Shena.


Raut wajah istri Leo itu terlihat sangat serius. Karena Leo dikejar waktu, iapun tak ingin menyita waktu dengan berdebat dengan Shena. Mau tidak mau, Leo menuruti keinginan istrinya untuk ikut bersamanya menyelamatkan putra mereka. Akhirnya, Leo dan seluruh pasukannya berangkat menuju lokasi Yeon dan Yuna berada.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2