
Setelah keluar dari kediaman Leo, suami Shena beserta Roy bergegas pergi ke suatu tempat yang pastinya mereka berdua rahasiakan dari istri-istri mereka. Leo menyuruh supirnya menurunkan dirinya dan Roy di pinggir jalan tak jauh dari tempat tinggal sendiri.
"Turunkan kami di sini, jangan katakan apapun pada istriku atau siapapun. Tidak ada yang boleh tahu semua ini. Jemput aku lagi di sini begitu aku meneleponmu. Sekarang pergilah!" Perintah Leo pada supir pribadinya.
"Baik, Tuan." Dengan taat, supir itu menancapkan gas dan pergi melesat meninggalkan majikan dan sahabatnya dipinggir jalan dekat pantai.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Roy mengamati area disekitarnya. "Pemandangan yang lumayan indah juga.
"Xiaonai tak mungkin salah. Ia ahli dalam bidang menyadap ponsel orang lain. Inilah lokasi orang itu." Leo berjalan cepat dengan penuh waspada agar gerak geriknya tak diketahui oleh siapapun.
"Kenapa orang itu ingin bertemu dengan Yeon sendirian?" tanya Roy penasaran. Ia terkejut waktu Leo memintanya membantu pergi menyelamatkan putranya karena Yeon sedang dalam bahaya.
"Apalagi? Pasti untuk membunuh putraku. Motif orang itu adalah membuat keluargaku hancur berantakan dengan memanfaatkan kenakalan Yeon dan Bima. Putraku itu cerdas dan tahu niat jahat gurunya, makanya, anak itu sering mengirim bangkai ayam, dan bangkai-bangkai binatang lainnya ke loker gurunya sendiri. Dia masih anak-anak, jadi aksinya pasti langsung ketahuan. Sepertinya, orang itu sangat membenci putraku dan bermaksud menyingkirkannya."
"Kenapa kau tak meminta komite sekolah memecatnya. Kau penyumbang dana terbesar di sekolah itu."
"Guru itu punya prestasi yang unik disekolah itu, Roy. Komite lebih memilih kehilangan 10 orang guru ketimbang kehilangan si bangsat itu. Aku tak bisa menggunakan kekuasaanku tanpa bukti. Tidak akan ada yang percaya padaku kalau orang yang mereka banggakan sebarnya adalah bajiingan tengik. Orang itu bermuka dua. Dan yang sudah dikenal banyak orang adalah muka baiknya. Untuk menghancurkannya, aku butuh muka buruknya supaya bisa kutunjukkan pada dunia. Baru aku akan menghabisinya tanpa ampun," terang Leo panjang lebar pada Roy dengan segudang emosi yang terpendam dalam hati dan pikirannya.
"Kau memang selalu selangkah lebih maju dari musuhmu!" Entah mengapa, Roy merasa kalau semakin lama, Leo semakin keren saja. Bahkan sekarang, teman nggak ada akhlaknya ini jauh lebih keren dari ayahnya sendiri.
"Tumben kau memujiku, biasanya kau meledekku dan mengajakku bertengkar."
__ADS_1
"Siapa yang memujimu!" Sangkal Roy dan Leo hanya tersenyum.
Suami Shena itu berhenti berjalan dan menarik tangan Roy membungkuk bersamanya di balik batu yang ada di pinggir pantai. Ia melihat seseorang mencurigakan dan buru-buru menyembunyikan diri.
"Itu pasti mereka. Ada sekitar 6 orang dan mereka semua adalah pembunuh bayaran." Leo mulai menganalisis apa yang ia lihat.
"Darimana kau tahu?" tanya Roy bingung.
"Mungkin orang-orang bodoh itu tidak tahu kalau wilayah pantai ini masih milikku. Mereka sendiri yang salah masuk kandang. Tidak ada yang tidak diketahui diwilayah kekuasaanku." Leo tersenyum sinis melihat orang-orang ber jas hitam yang tak lain adalah anak buah orang yang diincar Leo sedang mencari tempat persembunyian yang aman.
Orang yang diincar Leo kali ini adalah guru BK Yeon. Dan orang-orang ber jas hitam itu adalah orang bayarannya dan pastinya ditugaskan untuk mencelakai putranya.
Kembali ke saat malam di mana Yeon menerima pesan misterius. Dengan bantuan Xiaonai, Leo telah menyadap seluruh ponsel yang digunakan putra putri mereka sehingga suami Shena itu tahu apa saja isi pesan yang masuk dan keluar dari ponsel ketiga anaknya. Hal itu sengaja Leo lakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sekarang ini.
Sebab itulah Leo merencanakan semua ini dan datang kemari bersama Roy. Ia dan Roy terus mengamati gerak gerik musuhnya dengan penuh hati-hati agar tidak ketahuan atau rencananya bakal gagal total.
Akhirnya, saat yang ditunggupun tiba. Yeon datang dengan ekspresi tenang menemui orang yang hendak berniat jahat padanya. Tak dapat dipungkiri ada rasa bangga tersembunyi dalam hati Leo saat melihat putra sulungnya tampak gagah berani dan tak tak takut pada apapun saat menghadapi bahaya.
Ditambah lagi, perkataan Yeon yang mengatakan bahwa putranya itu sangat bangga dan mengaguminya. Membuat perasaan Leo jadi bergejolak. Tak terasa, air mata Leopun mengalir melihat putranya yang sangat pemberani itu. Ternyata dibalik sikap jutek Yeon padanya. Yeon sangat mengaguminya. Ini semua benar-benar diluar dugaan Leo. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk putra sulungnya itu.
"Oey, Leo! Kau menangis?" Ledek Roy yang sebenarnya juga ikut terharu menyaksikan betapa luar biasanya putra pertama sahabatnya.
__ADS_1
"Diam kau! Jangan ganggu aku. Aku sedang beper akut sekarang. Seumur-umur, baru kali aku merasa sebaper ini. Aku tak pernah menyangka, putraku ternyata mengagumiku. Aku pikir ia lebih menyayangi kakakku, tapi ternyata, ia juga menyayangiku." Leo mengusap sisa bulir air matanya.
Sebenarnya Roy ingin tertawa tapi tak tega. Seorang gengster kelas kakap seperti Leo, bisa menangis juga?
"Dia itu putramu, apa kau tidak sadar? Kalau sebenarnya Yeon itu perpaduan antara dirimu dan kak Refald. Dia anak yang cerdas dan luar biasa. Harusnya kau bangga memiliki putra seperti Yeon, walaupun kuakui bengalnya melebihi dirimu." Roy mencoba menghibur sahabatnya.
Leo berdecak kesal mendengar komentar Roy, tapi ia lebih fokus pada putranya yang memang sangat keren itu. Sepertinya, konflik antara Yeon dan gurunya semakin memanas. Beberapa orang mulai menyerang Yeon.
Awalnya Leo ingin keluar dari tempat persembunyiannya tapu niatnya ia urungkan karena ternyata Yeon bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuan siapapun. Padahal dia masih anak-anak. Rasa bangga Leo semakin besar tatkala Yeon berhasil mengalahkan beberapa musuhnya dengan cara yang unik meski pada akhirnya ia terpojok dan kini sudah ada di bibir jurang yang menghadap langsung ke laut.
Pandangan mata Yeon terus menatap ke bawah. Tak ada rasa takut dalam diri anak itu meskipun ia sedang dalam keadaan terpojok. Sebaliknya, saat inilah yang paling ia tunggu karena bila dirinya dalam bahaya, maka seseorang yang sangat Yeon rindukan pasti akan datang.
"Paman, cepatlah datang!" gumam Yeon lirih sambil menatap luasnya lutan yang menghadap langsung ke salah satu samudra terluas di dunia, yaitu samudra Pasifik.
"Wah wah ... sepertinya sedang ada yang terpojok di sini?" ujar seseorang yang tak lain adalah guru BK Yeon sendiri. "Katakan padaku, Nak. Apa permintaan terakhirmu? Sebagai gurumu, aku akan mengabulkannya. Kecuali pengampunan nyawa. Aku tak bisa memberikannya." Guru BK itu tersenyum sinis pada Yeon.
"Sensei, aku ingin kau cepat melarikan diri dari sini, sebab jika tidak. Tamatlah riwayatmu!" Yeon menyeringai dan itu semakin memancing emosi gurunya.
"Dasar bocah ingusan tidak tahu diri! Sudah mau mati masih saja sok!" geram guru BK itu. "Enyahkan saja dia dari hadapanku!" Teriaknya dan berlalu pergi meninggalkan Yeon beserta anak buahnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****