
Yang dikhawatirkan oleh pemimpin sindikat bos mafia itu benar. Shena memang dijemput Fey untuk diajak pergi ke pasar bersama-sama tanpa ingin dikawal oleh siapapun dengan alasan tak ingin mengundang banyak perhatian orang. Shena dan Fey ingin berbaur dengan penduduk desa yang lainnya dan menikmati acara belanja layaknya kaum sudra.
Tentu saja, Fey punya alasan kenapa ia mengajak Shena pergi ke pasar. Hal itu karena Refaldlah yang memintanya. Suaminya itu tahu apa yang akan menimpa Shena selama Leo tidak ada, dan Refald meminta bantuan istrinya untuk mengatasi lalat-lalat yang mencoba melenyapkan Shena. Feypun setuju dan melakukan apa yang diinstruksikan suaminya, dan tentunya tanpa sepengetahuan Shena.
"Apa yang ingin kakak beli?" tanya Shena pada Fey tanpa curiga ketika mereka berdua sudah ada di pasar.
Suasana di pasar ini sangat ramai. Banyak orang berlalu lalang untuk membeli barang-barang kebutuhan mereka. Feypun tidak langsung menjawab pertanyaan Shena. Mata istri Refald itu tertuju pada sesuatu. Sejak tadi ia sudah mengantongi wajah orang-orang yang akan menyerang Shena dan bersikap waspada.
"Kakak ... kau dengar aku?" tanya Shena sekali lagi karena Fey tak kunjung menjawab pertanyaannya dan malah sibuk celingukan kesana kemari.
"Iya ... aku dengar. Ehm, aku ingin ikan panggang saja, kau bisa masakkan untukku nanti di rumah, kan? Masakanmu sangat enak," ujar Fey sambil memandang sekeliling. Matanya menatap tajam gerak gerik seseorang.
"Tentu, Leo juga suka ikan panggang. Kita akan makan malam bersama begitu suami-suami kita pulang dari urusan mereka." Shena tersenyum dan berjalan menuju kedai penjual ikan segar. Shena memilah-milah ikan yang akan ia beli sementara Fey sedang bersiap-siap untuk menghalau serangan.
Perkiraan Fey benar-benar tepat. Dari kejauhan, sebuah pisau melesat cepat di udara menuju arah Shena dan dengan sigap Fey menghalau pisau itu menggunakan satu tangannya. Tak butuh waktu lama untuk Fey melemparkan kembali pisau tajam itu kearah orang yang mencoba menyerang Shena.
Lemparan Fey tepat mengenai dada musuh yang bersembunyi dibalik tumpukan keranjang kosong di sebelah kedai tutup dan tumbanglah ia seketika. Untunglah yang dilakukan Fey tak diketahui banyak orang. Dan juga tidak ada yang tahu kalau ada orang mati di balik keranjang tempat musuh bersembunyi.
Semua orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing sehingga mereka tak sadar kalau sedang ada pertempuran sengit antara ratu dedemit dan komplotan penjahat tak dikenal.
Melihat rekannya tumbang dan telah gagal membunuh Shena, maka orang-orang suruhan Abraham itu mengubah taktik mereka. Yaitu melenyapkan Shena dari jarak dekat. Kalau boleh jujur, mereka tidak ingin bernasib sama seperti rekannya yang bisa dikatakan gagal.
__ADS_1
Beberapa orang mulai berjalan mendekati Shena yang kini berjalan dengan Fey menuju tempat orang berjualan sayur. Fey yang sudah tahu kalau ada bahaya lagi, mencoba mengalihkan perhatian Shena agar ia tidak tahu kalau ada beberapa orang yang berusaha melenyapkannya. Namun, Fey harus mencari cara agar saat ia menumpas para penjahat ini tak dicurigai oleh siapapun, termasuk Shena sendiri.
Mata Fey tertuju pada buah busuk yang ia temukan di bawah lantai dekat kedai penjual buah dan langsung memungutnya. Fey sengaja menorehkan buah busuk itu dipakaian Shena bagian belakang tanpa kentara saat keduanya berjalan beriringan.
"Shena!" Seru Fey menghentikan langkah Shena.
"Ada apa, Kak?" tanya Shena bingung.
"Baju bagian belakangmu kotor. Bagaimana kalau kita ke toilet dulu untuk membersihkannya, baunya juga tidak enak." Fey berpura-pura menutup hidung. Padahal baju Shena kotor akibat ulahnya sendiri.
"Kakak benar, pantas saja aku mencium aroma busuk di sini. Ternyata dari pakaianku sendiri."
"Ayo kita bersihkan di toilet! Mungkin kau tak sengaja menubruk buah busuk tadi," ajak Fey sambil tersenyum mencurigakan.
"Habislah kalian semua!" gumam Fey menatap tajam orang-orang yang berjalan mendekat ke arah Fey.
Para penjahat yang terdiri dari beberapa pria itu berlari bersamaan untuk menyerang Fey. Tentu saja istri Refald itu melumpuhkan pria bersenjata tajam dan balik menusukkan belati-belati mereka ke tubuh masing-masing orang yang hendak menyerang Fey. Gerakan ratu dedemit itu sangat cepat bagai angin, sampai para penjahat itu tidak sadar kalau mereka semua sudah terkena tikaman senjata mereka sendiri.
Tiba-tiba saja semua orang berhenti bergerak dengan darah segar mengalir di perut para penjahat itu. Padahal mereka belum menunjukkan aksi mereka tapi sepertinya mereka sudah kalah sebelum bertarung.
Awalnya penjahat-penjahat itu tidak mengerti karena kejadian penikaman yang dilakukan Fey, begitu cepat terjadi. Akhirnya mereka tumbang bersamaan bertepatan dengan datangnya banyak orang berpakaian santai. Sekelompok orang itu menunduk dihadapan Fey sebagai bentuk tanda hormat. Tidak salah lagi, orang-orang keren dan tampan ini adalah pasukan Refald dan Fey yang menyamar menjadi manusia.
__ADS_1
"Bereskan orang-orang ini dan jangan sampai meninggalkan jejak. Dan lakukan dengan cepat sebelum ada orang yang melihat," perintah Fey pada anak buahnya, dan dalam waktu sekejap, semua penjahat yang terkapar tak berdaya tadi menghilang sehingga keadaan kembali seperti sebelumnya.
Begitu Shena keluar dari dalam toilet, ia sama sekali tidak curiga kalau barusan ada pertempuran menakjubkan di tempat ini. Shena berlari ke tempat Fey berdiri dan melanjutkan aksi belanja mereka.
****
Ditempat Leo, suami Shena itu mendapat kabar baik dan menarik melalui sambungan teleponnya. Iapun tersenyum menatap tajam wajah gembong sindikat perdagangan manusia itu.
"Oke! Aku mengerti!" Leo menutup sambungannya. "Kabar baik untukmu, mister Abraham Lonpey!" ujar Leo pada pria bengis itu. "Anak buahmu yang kau suruh untuk membunuh istriku telah pergi dengan senang hati ke alam baka. Sekarang adalah giliranmu!" tandas Leo dengan kilatan mata api menakutkan.
"Lalu bagaimana dengan kami?" tanya salah satu preman yang masih gemetar di pojok kedai bersama rekan-rekannya yang lain.
"Oh, giliran kalian masih lama, tenang saja. Santai saja disitu, oke!" Leo tertawa manis pada preman-preman kampung itu. Entah mengapa di mata mereka senyuman manis Leo bagai iblis jahat yang siap menerkam mereka hidup-hidup.
Namun diluar dugaan, pemimpin sindikat itu melemparkan bom asap yang entah ia dapatkan darimana kearah Leo berdiri sehingga suami Shena itu terpaksa menjauhi kedai agar tak menghirup gas beracun yang terdapat dalam bom asap tersebut.
"Sial!" umpat Leo kesal karena si Abraham berhasil meloloskan diri darinya. Para pasukan Leo hendak mengejar Abraham tapi di cegah oleh Leo. "Biarkan saja dia! Dia sudah ada diluar kapasitas kita. Bereskan saja preman-preman kampung itu dan pastikan tidak ada premanisme lagi di desa ini!" seru Leo dengan lantang.
"Siap Tuan muda, apa rencana anda setelah ini?" tanya salah satu pengawal Leo.
"Apalagi, berkencan dengan Shena!" jawab Leo singkat dan ia pun menyabet kunci motor salah satu anak buahnya lalu melaju dengan cepat menuju tempat Shena berada.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***