Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 305 Kotak Hitam


__ADS_3

Dua pasang suami istri itu sedang menikmati hidangan masakan ala khas restoran hotel Les Armures di jantung kota tua Jenewa. Restoran ini merupakan sebuah restoran yang bersejarah dan mewah. Didirikan dari abad 13 dan direnovasi menjadi bentuk abad 17 karena terinspirasi oleh negara Italia.


Alasan Leo memilih restoran ini karena tempat ini berasosiasi mempertahankan semua pesona pedesaannya. Ada teras sederhana dalam bayang-bayang lengkungan kuno, perabotan interior nostalgia, dan ada bar berukir mosaik. Makanan dan suasana di restoran ini lebih mempertahankan nada tradisional sambil memberikan pengalaman gourmet yang canggih.


Menu makanannya bervariasi dan sangat menciri khaskan spesialisasi Swiss, termasuk alat pembersih yang terbuat dari karet dan pilihan fondue, bersama sup, pasta yang kebetulan merupakan makanan kesukaan Shena, serta hidangan daging dan ikan. Hanya hotel inilah yang bisa menyajikan masakan sesuai dengan kriteria Shena serta lainnya. Selain masakannya lumayan lezat dan nikmat, susananya juga mendukung bagi pasangan seperti Shena –Leo dan Roy-Laura.


“Bagaimana? Kau suka makanannya, Sayang? Ini adalah hotel paling populer hingga sampai terdengar ke telinga Bill Clinton karena masakannya lezat,” ujar Leo menjelaskan.


“Siapa Bilinton?” tanya Shena ngasal.


“Bukan Bilinton Sayang, Bill Clinton,” ralat Leo. Laura dan Roy hanya tersenyum mendengar nama yang sengaja diplesetkan Shena.


“Terserah kau saja, aku tidak kenal dan juga tidak ingin kenal siapa itu Bilinton.” Shena terus menikmati pastanya. Ia menuangkan sedikit saus barbeque diatasnya lalu melahapnya hingga habis. Leo hanya tersenyum melihat bibir Shena jadi belepotan karena saus, iapun mengusap lembut bibir istrinya dengan jari jempolnya sehingga Shena berhenti makan.


“Pelan-pelan kalau makan Sayang, kau bisa tersedak,” ujar Leo penuh perhatian pada Shena.


Buru-buru istri Leo itu mengambil lap dan membersihkan mulutnya. “Kau tidak makan? Kenapa hanya melihatiku saja?” tanya Shena pada Leo. Makanan dihadapan suaminya masih utuh dan tak tersentuh.


“Aku kenyang hanya dengan melihatmu makan Sayang, aku senang nafsuu makanmu lebih banyak dari biasanya. Kalau kau mau … habiskan juga makananku.” Leo mendorong raviolinya ke depan Shena.


“Aku tidak suka ravioli. Kau saja yang makan. Jika kau tidak mau makan juga, setelah ini aku tidak akan mau makan lagi,” ancam Shena.


“Baiklah, tapi suapi aku,” pinta Leo sambil mendekatkan kursinya pada Shena.

__ADS_1


Tanpa merasa malu pada pasangan sejoli yang memerhatikan dengan risih keromantisan mereka berdua, Shena menyuapi Leo sesuap demi sesuap di depan Roy dan Laura. Yang lebih parah dari pasangan ini adalah, setiap kali suapan yang masuk ke dalam mulut Leo, ia selalu meminta bonus jatah ciuman di pipi manis Shena.


Benar-benar bengek dan nggak ada akhlak sekali si Leo ini. Bisa-bisanya ia makan sambil kissing-kissingan seperti itu dihadapan Roy-Laura dan di tempat umum pula. Bukannya Leo atau Shena yang malu dilihatin banyak orang atas aksi eksotis mereka, melainkan pasangan Roy-Laura yang jadi malu sendiri karena duduk satu meja dengan pasangan gila. Untung saja ini di luar negeri, kalau di Indonesia, Leo dan Shena sudah pasti kena lemparan sandal.


“Kenapa aku jadi ingin muntah melihat tingkah mesum temanmu itu,” ujar Laura sambil menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia pun juga tak ingin wajah cantiknya ikut menjadi pusat perhatian banyak orang.


“Hah?” Roy langsung tersentak dan seketika meletakkan sendoknya lalu menghadap Laura. Apa … kau hamil lagi, Sayang? Sudah berapa bulan?” tanya Roy memerhatikan tubuh istrinya dari atas hingga bawah.


“Hamil kepalamu? Aku baru saja datang bulan beberapa hari lalu,” sengal Laura karena suaminya telah salah paham dengan maksud ucapannya.


“Oh, aku kira kau hamil.” Roy terdengar lega.


Tidak seperti Leo yang selalu ngebet punya anak, sahabat Leo ini malah santai dan tak ingin buru-buru. Kalau punya anak lagi, sepertinya Roy masih belum siap. Ia sangat berbeda dengan Leo yang gila ranjang. Roy lebih memilih fokus membesarkan Rai terlebih dulu, baru bisa program anak lagi. Itupun kalau Laura mau. Kalau tidak mau ya … satu anak saja sudah cukup bagi Roy.


“Sudahlah Sayang, jangan terus marah-marah. Nanti kau bisa cepat tua. Ini bukan pertama kalinya kita melihat pasangan aneh bin langka ini seperti itu. Kenapa kita tidak menikmati saja hidangan lezat ini dan abaikan mereka. Anggap saja mereka tidak ada seperti mereka menganggap dunia ini hanya milik mereka berdua tanpa peduli pada yang lainnya.” Roy mencoba menenangkan suasana hati Laura.


Siapapun yang tidak kenal seperti apa Leo, pasti akan mengira kalau ia adalah psikopat cinta. Padahal nyatanya, Leo hanya tak bisa mengontrol diri saat bersama dengan Shena.


Mendengar ucapan suaminya, Laura sedikit mengerti, memang seperti itulah dua sejoli ini dimanapun mereka berada. Tak peduli tempat dan waktu, yang penting mereka tetap bisa beromantis ria.


“Kau benar, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi,” ujar Laura sambil memotong daging steaknya.


Saat sedang menikmati makan siang bersama suami dan teman-teman Laura, tiba-tiba ada seorang pelayan restoran pria datang mendekat dan memberikan sebuah kotak hitam berukuran besar kepada Laura. Tentu saja, istri Roy itu bingung karena ia tak merasa memesan kotak apapun.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Laura pada pelayan itu.


“Buka saja, Nyonya. Saya hanya disuruh menyerahkan kotak ini dan memastikan anda membukanya,” jawab pelayan itu.


“Memangnya siapa yang memberikan kotak ini?” tanya Laura lagi.


Sekarang, bukan hanya Laura yang bingung dan penasaran siapakah pengirim kotak hitam itu. Roy, Leo dan Shena langsung menoleh pada pria pelayan yang sedang memegang kotak hitam besar ditangannya. Mereka semua menunggu jawaban dari pelayan tersebut.


“Seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari restoran ini.” pria pelayan itu menunjuk pintu keluar.


Dari kejauhan, tampak seorang wanita berambut panjang dan memakai pakaian super duper seksi memasuki mobil Hudson convertible merahnya dan langsung melesat pergi tanpa bisa terlihat seperti apa rupa wanita seksi itu.


Leo dan Roy menyadari sesuatu dan tanpa pikir panjang, keduanya berlari keluar dan bermaksud mengejar mobil convertible itu. Sayangnya, Leo dan Roy terlambat. Mobil yang atapnya dibiarkan terbuka itu sudah melesat jauh meninggalkan restoran.


“Sial! Itu pasti dia! Harusnya kita menangkapnya tadi!” umpat Leo sambil berkacak pinggang.


“Mereka menemukan kita!” ucap Roy tak kalah kesal.


“Gawat! Kotaknya!” teriak Leo dan iapun berlari masuk kembali ke dalam begitu pula dengan Roy yang langsung mengikuti langkah temannya. Keduanya mengerahkan seluruh tenaga dalam agar segera sampai kembali ke tempat para istri mereka berada.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2