Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 201 Tertembak


__ADS_3

Di mension milik keluarga Pyordova, Shena bermain-main dengan Yeon sembari menunggu kabar dari Leo yang katanya akan mengajaknya pergi kencan begitu suaminya menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saja Shena bahagia, wanita mana yang bisa menolak ajakan kencan suaminya. Hal itu membuat Shena menjadi semakin bersemangat menunggu kepulangan pria yang amat sangat dicintai Shena. Ia sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan Leo secepatnya tanpa Shena tahu kalau suaminya sekarang sedang bertempur dengan kematian.


Hari ini adalah hari yang cerah dan indah, Shena sangat senang berada di sini. Pemandangan kota Tokyo terlihat menakjubkan dan menenangkan hati. Sampai detik ini Shena bahkan belum percaya kalau dirinya, sedang berada di negeri sakura, negeri dimana Shena ingin sekali mendatangi latar-latar yang ada di cerita anime kesukaan Shena. Salah satunya ya detektif Conan itu.


"Towernya sangat keren, Yeon. Aslinya jauh lebih bagus daripada di kartun," gumam Shena pada putranya. Yeon hanya tertawa riang sambil bermain-main. Sekarang Yeon kecil sudah bisa tengkurap dan bergerak aktif kesana kemari. Wajah tampan Yeon semakin hari jadi semakin terlihat menggemaskan.


Karena ini di Jepang, Shena jadi ingin melihat film-film apa saja yang diputar di negeri Sakura ini. Shena berjalan pelan mengambil remote tv dan menyalakannya. Tapi sang tv berukuran besar itu tak menyala juga. Berkali-kali Shena memencet tombol on, tetap saja tv nya tidak bisa menyala.


"Ada apa ini? Kenapa tv nya tak bisa menyala?" Shena heran dan berjalan pelan mendekati televisinya.


Shena mengamati kabel belakang tv tersebut dan ternyata, kabelnya terputus. Buru-buru ia memanggil pengawalnya untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Anda memangil saya, Nyonya?" tanya seorang pengawal yang berdiri dibelakang Shena.


"Siapa yang memotong kabel tv ini?" tanya Shena tanpa basa basi.


Pengawal itu terdiam karena tidak mungkin ia bilang kalo dialah yang memotong semua kabel televisi atas perintah Leo.


"Katakan padaku, apa Leo yang menyuruhmu?" tanya Shena dengan wajah serius.


Pengawal setia Leo itu tidak berani menjawab karena ia tidak ingin mengambil resiko. Diamnya sang pengawal membuat Shena jadi semakin curiga kalau memang Leolah yang menyuruh anak buahnya untuk memotong semua kabel televisi di rumah ini. Jika benar begitu, berarti ada yang Leo sembunyikan darinya.


Shena mengambil ponselnya dan menghubungi Leo, tapi nomer yang dihubungi tidak aktif. Semakin paniklah Shena sekarang karena tak biasanya ponsel suaminya itu mati.


"Katakan padaku apa yang terjadi diluar sana!" teriak Shena sembari mencengkeram kerah baju pengawal Leo dengan kedua tangan Shena. Matanya sudah merah menyala akibat kesal bercampur panik.


"E ... tu ... tuan muda Leo ... terluka karena ada penyerangan dadakan di kantornya Nyonya," jawab pengawal itu gugub, ia bahkan tak berani memandang wajah Shena dan terus menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Bagai disambar petir disiang bolong, Shena langsung shock berat sampai tubuhnya terhuyung mundur ke belakang. Napasnya kembang kempis dan Shena mati-matian menahan emosinya. Ia mencoba berpikir positif agar tidak berpengaruh pada janin yang dikandungnya setelah mendengar kabar buruk dari suaminya.


"Bagaimana keadaan suamiku sekarang? Katakan!" tanya Shena lagi dengan nada suara bergetar saking shocknya.


"Saya belum mendapat kabar terkini dari tuan muda, semuanya sedang sibuk di sana Nyonya, tapi anda jangan khawatir, tuan muda Leo takkan mudah dikalahkan," jawab pengawal itu agak sedikit berusaha menenangkan Shena.


"Lalu ... dimana suamiku sekarang?" tanya Shena.


"Mungkin sudah di rumah sakit."


Tanpa suara, Shena bergegas pergi meninggalkan balkon ruangan putranya setelah menitipkan Yeon pada bibi pengasuhnya. "Siapkan mobil untukku dan antar aku ketempat suamiku berada," pinta Shena pada pengawalnya.


"Baik, Nyonya." Pengawal itu berlari menyiapkan mobil untuk Shena dan mengantarkan Shena ketempat tujuannya.


Tiga puluh menit telah berlalu, dan sopir mobil yang membawa Shena mengehentikan laju mobilnya tepat di gerbang Tokyo tower. Tadinya, Shena belum ngeh kalau sopir dan pengawalnya membawanya ke tempat yang sangat ingin di datangi Shena, dan bukannya ke rumah sakit tempat Leo dirawat seperti yang dikatakan pengawalnya barusan. Namun, ia langsung terkejut setelah menyadari ada dimana dia sekarang.


"Maaf Nyonya, tapi tuan muda Leo meminta saya membawa anda kemari." Pengawal itu turun dari mobil dan membantu membukakan pintu mobil untuk Shena. "Silahkan, Nyonya. Tuan muda Leo ada di dalam sana." Pengawal itu mempersilakan Shena keluar dan memintanya berjalan masuk menemui Leo.


Dengan ragu dan alis berkerut karena bingung, Shenapun berjalan masuk ke dalam area Tokyo tower dimana memang sudah ada Leo sedang menunggu kedatangannya. Shena terkejut karena ada seorang pria berjas silver berdiri tegap menghadap tower yang menjulang tinggi dihadapannya. Istri Leo itu langsung mengenali siapa orang itu dan langsung terlihat lega karena suaminya baik-baik saja. Hanya ada noda darah di lengan baju Leo.


"Hai Sayang?" ujar Leo dengan senyuman menggodanya. Ia juga melambaikan satu tangannya untuk Shena.


Namun wajah sang istri tak terlihat senang, sebaliknya ia sangat khawatir dengan luka yang ada di lengan Leo. Shena menoleh kesana kemari dan langsung pergi ke sebuah apotek yang kebetulan, letaknya ada didekat seputar Tokyo tower. Tanpa pikir panjang, Shena berlari kecil menuju tempat itu.


"Sayang, kau mau pergi kemana?" teriak Leo. Ia hendak menyusul istrinya tapi tiba-tiba saja bahu kanan Leo terasa ngilu.


"Biar saya yang mengawalnya, Tuan. Anda tak boleh banyak bergerak dulu." Pengawal Leo langsung berlari mengikuti Shena yang ternyata memberi beberapa perlengkapan obat untuk mengobati luka Leo.

__ADS_1


Shena dan Leo duduk disebuah taman tepat di bawah tower yang sangat ingin didatangi Shena. Namun, sekarang tower ini tak berarti lagi bagi Shena setelah melihat suaminya terluka. Dengan telaten, Shena mengobati luka Leo yang lumayan dalam juga untuk ukuran luka gores dan pastinya terasa sakit.


Sejak tadi mata Leo tak pernah lepas dari wajah cantik Shena yang terus saja fokus merawat luka-lukanya. Ada untungnya juga Leo terluka, Shena jadi sangat perhatian padanya.


"Jika kau terus menatapku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku," ucap Shena tanpa mau melihat suaminya. Ia mulai membalut luka Leo dengan perban setelah membersihkan lukanya dengan alkohol dan mengoleskan antibiotik.


"Aku memang sudah jatuh cinta padamu sejak lama, Sayang. Tapi aku juga tak keberatan jika aku jatuh cinta lagi padamu."


"Dasar tukang gombal," gerutu Shena. Kali ini, Shena menatap wajah Leo yang juga menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


"Kenapa kau bisa terluka seperti ini, ha? Pakai acara memotong kabel tv, meminta pengawalmu berbohong soal lukamu dan membawaku kemari?" Shena memulai interogasi.


"Terjadi hal tak terduga di kantor, Sayang. Tapi aku sudah membereskannya. Kau jangan khawatir lagi, oke."


"Tapi ... kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah harusnya kau ada dikantor polisi untuk memberikan keterangan atas penyerangan yang dilakukan padamu?"


"Roy sudah mengaturnya, aku malas jika harus duduk ber jam-jam disana dan menjawab pertanyaan yang membosankan. Mending aku duduk disini bersamamu. Kencan romantis denganmu dan nantinya diakhiri dengan ciuman manis darimu. Auww," teriak Leo tiba-tiba karena Shena menekan kuat luka Leo. "Kenapa kau menekan lukaku?" rintih Leo sambil meringis menahan sakit.


"Apa hanya itu yang ada di otakmu? Tidakkah kau berpikir bagaimana cemasnya aku saat mendengar kau terluka? Aku bahkan hampir mencekik leher pengawalmu jika dia tidak mau memberitahuku apa yang terjadi padamu. Kau jahat sekali Leo, kau hampir saja membuatku menjadi seorang pembunuh." Shena membuang muka untuk menyembunyikan air matanya. Ia kesal dengan suaminya yang suka sekali memainkan perasaannya.


"Sayang, peluru adalah kehidupanku. Dimanapun aku berada, bahaya selalu mengintaiku. Ini adalah takdirku, tapi kehadiranmu membuat takdir malang yang menimpaku menjadi kekuatanku. Menurutmu kenapa aku masih hidup hingga sekarang? Itu karena ada kau disisiku. Aku takkan mati dengan mudah. Sebab, aku tak ingin meninggalkanmu di dunia ini sendirian. Aku akan berjuang terus agar bisa tetap hidup bahagia bersamamu selamanya sampai cucu dan cicit kita lahir ke dunia. Jangan khawatir lagi, oke."


Leo hendak mencium bibir ranum Shena tapi tak jadi ia lakukan karena Leo melihat sebuah peluru melesat cepat kearah Shena. Spontan Leo menggeser tubuh istrinya dan bertukar posisi dengan Shena sehingga peluru itu menembus punggung Leo.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2