
Shena dan Leo bermaksud kembali pulang menuju ke rumah mereka dengan mengendarai motor curian Leo yang ia ambil dari anak buahnya sendiri. Berbeda dengan saat mereka berangkat, perjalanan pulang kali ini, Leo lebih banyak diam. Mungkin kejadian di pemakaman membuat Leo masih belum bisa meredakan amarahnya. Shena sendiri juga tak banyak bicara. Ia sengaja membiarkan suaminya berkutat dulu dengan hati dan pikirannya tanpa ingin mengganggunya.
Yang bisa Shena lakukan sekarang adalah memeluk erat Leo seolah enggan melepaskannya. Pelukan hangat Shena, membuat Leo merasa senang. Inilah yang dibutuhkan Leo sekarang, dengan begini keduanya tetap bisa bermesraan dalam diam dan Leo bisa merasakan kehangatan tubuh Shena.
Saat melintasi kedai buah, yang ada dipinggir jalan, entah kenapa Shena tergiur dengan buah semangka yang menggantung di kedai tersebut sehingga Shena berteriak agar Leo mau menghentikan laju motornya.
"Leo! Hentikan motornya!" Teriak Shena dan Leopun menuruti permintaan istrinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Leo heran.
"Itu!" Shena menunjuk sebuah kedai buah. "Aku ingin semangka itu. Aku ... benar-benar ingin makan semangka!" Mata Shena berbinar terang berharap agar Leo mau membelikannya.
"Baiklah, ayo kita kesana!" Leo tersenyum menatap wajah senang Shena saat melihat buah semangka.
Leo memutar balik motornya kembali ke tempat kedai itu berada dan memarkirnya di pinggir jalan. Shena langsung turun dan berlari kecil menuju kedai buah itu.
"Silahkan, Neng ... mau beli apa?" tanya penjual kedai yang ternyata seorang ibu-ibu paruh baya.
"Semangkanya segar sekali, Bi. Boleh pecahkan satu untukku? Aku ingin memakannya di sini," ujar Shena sudah tidak sabar ingin memakan buah semangka itu.
"Sayang, apa sebaiknya tidak dibawa pulang? Kita bisa terlambat makan malam, dengan biksu Tong da kakak ipar," ucap Leo.
"Aku ingin makan buah semangka itu Leo, sungguh aku sangat ingin memakannya sekarang. Tidak bisa ditunda lagi. Boleh ya ...." Shena mengedip-ngedipkan matanya agar Leo mau menuruti keinginannya.
Melihat tingkah Shena yang menggemaskan itu, Leo jadi tertawa. Mana mungkin Leo bisa menolak apapun yang diinginkan Shena. Jangankan hanya makan buah dipinggir jalan, matipun siap Leo lakukan demi istri tercintanya.
Bersama Shena, Leo seolah menjadi orang lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sejak kecil Leo sudah terbiasa dengan kemewahan dan segala hal-hal yang mahal. Namun, sejak Shena hadir di hidupnya, Leo seolah memasuki dunia baru di mana ada hal yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan kemewahan, yaitu kesederhanaan yang dipenuhi cinta.
__ADS_1
Sikap Shena yang selalu apa adanya membuat Leo menyadari bahwa dunia ini begitu luas dan tak selamanya kemewahan membuat orang bahagia. Kebahagiaan itu datang bila orang itu menikmati hidupnya dalam keadaan apapun. Seperti yang Shena tunjukkan pada Leo sekarang. Istrinya itu terlihat bahagia menikmati semangka yang ia makan di pinggir jalan begini.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ... ada yang salah pada wajahku?" tanya Shena heran karena sejak tadi, Leo terus menatapnya.
"Kau cantik, Sayang." Leo tersenyum.
"Terimakasih, aku tahu aku memang cantik, karena itulah kau jadi cinta mati padaku," gurau Shena sambil tertawa, Leo juga ikut tertawa.
"Kau belepotan sekali Sayang, seperti anak kecil saja." Leo mengusap sisa semangka yang menempel di bibir Shena. Sebenarnya, Leo ingin mencium Shena, tapi tidak enak dilihat pemilik kedai yang sedang sibuk memotongkan buah semangka untuk Shena.
Mereka berdua saling menatap dan bergandengan tangan. Sesekali, Leo mengecup kening Shena saat istrinya menikmati buah semangkanya.
"Mau? Cepat, buka mulutmu, Sayang, aaaa ...." Shena menyodorkan potongan semangka untuk Leo.
"Tidak, kau saja yang makan," tolak Leo halus.
"Ayolah, ini enak sekali, cobalah. Aku tidak bohong, makanlah!" pinta Shena. Ia menyuapkan semangka yang sudah dipotong kecil-kecil ke dalam mulut suaminya. Leo memakan semangka itu dan kepalanya manggut-manggut senang. "Enakkan?" tanya Shena.
"Dasar gombal!" Shena tertawa senang karena akhirnya suaminya sudah kembali seperti semula.
Pemilik kedai juga ikut tertawa melihat betapa romantisnya Leo dan Shena. Mereka berdua juga terlihat serasi. Satunya cool dan tampan, satunya lagi cantik dan periang. Benar-benar pasangan yang cocok. Ada banyak pasangan yang sering dilihat pemilik kedai ini, tapi baru kali ini ia melihat betapa sweetnya Leo saat memperlakukan Shena yang pastinya bikin iri siapa saja yang melihat mereka.
Jalanan disini sangat sepi karena terletak di perbukitan panjang. Tak banyak orang yang melewati tempat ini akibat jalan yang terjal dan berkelok-kelok kecuali di hari libur atau hari-hari besar. Sebab di hari itu banyak orang memanfaatkan waktu liburan untuk bepergian. Namun, pemandangan alam di tempat ini sungguh sangat menakjubkan sehingga sangat pas jika ingin dijadikan tempat rehat sejenak jika lelah dalam perjalanan.
Dari kejauhan sebuah mobil Inova putih datang dan memarkir mobilnya tepat disebelah kedai tempat Shena dan Leo berdiri. Sepasang suami istri itu turun dari mobilnya dan si wanita berlari kecil menuju kedai dengan buru-buru. Karena terlalu bersemangat, wanita itu menabrak Shena yang berdiri tak jauh didekat wanita tersebut hingga Shena oleng dan hampir saja jatuh jika Leo tak sigap menangkap tubuh Shena.
Melihat hal itu, Leo langsung naik pitam. "Heh, berengsek? Kau punya mata nggak, sih? Apa kau tak lihat ada orang didekatmu!" Teriak Leo penuh emosi. Ia tak terima atas apa yang hampir menimpa istrinya.
__ADS_1
"Apa? Kau bilang apa tadi? Siapa yang kau panggil berengsek, ha? Kau tuh yang berengsek! Seenaknya saja ngatain orang." Wanita itu memelototi Leo.
"Kau!" Leo hendak menggampar waniita yang sudah berani padanya tapi Shena berhasil menghentikan aksi Leo.
"Sudahlah Leo, jangan marah. Aku tidak apa-apa, kau kan selalu menjagaku. Lihat, aku baik-baik saja, kan?"
"Sayang, kau sedang hamil ... monyet itu sengaja menabrakmu. Jika sampai terjadi apa-apa pada anakku, akan kubunuh dia!" geram Leo menggebu-gebu.
"Siapa yang kau sebut monyet, ha?" wanita itu berteriak pada Leo.
"Sayang, hentikan!" ujar suami wanita tersebut ikut melerai.
"Aku kan tidak sengaja! Kenapa dia marah-marah pakai acara mengataiku segala?" sengalnya.
"Tetap saja kau juga salah, kau yang menabrak istrinya yang sedang hamil, untung suaminya sigap, jika tidak wanita yang kau tabrak bisa dalam bahaya," jelas suami wanita yang melotot pada Leo. "Sudahlah kita tak punya waktu, ayo cepat kita pergi dari sini dan bertemu dengan tuan muda Pyordova. Aku harus dapatkan kontraknya!"
Wanita itu terdiam mendengar ucapan suaminya. Ia menatap sinis Shena dan Leo lalu berjalan masuk kedalam mobil sambil mendengus kesal.
Leo dan Shena saling pandang karena mereka sangat tahu siapa yang dibicarakan wanita jutek tadi. Tak disangka, dua orang asing menyebalkan ini sedang mencari orang yang ada dihadapan mereka tetapi mereka tidak tahu.
"Maafkan istri saya, tuan, nyonya. Emosinya sedang tidak labil. Kami harus pergi dulu karena buru-buru. Permisi!" ujar laki-laki itu pada Leo dan Shena tanpa tahu bahwa orang yang ia cari aja dihadapannya.
"Tunggu!" seru Leo menghentikan langkah pria pemilik mobil Inova putih itu. "Kau mencari siapa tadi?" tanya Leo memastikan.
"Kami berdua mencari tuan muda Pyordova untuk menandatangani berkas kontrak kerja kami. Saya dengar dia dan keluarganya ada di daerah sini?" tanya pria asing itu.
"Aaah ... keluarga Pyordova, ya? Aku kenal ... tapi kau salah arah." Leo memasang wajah serius dan sangat meyakinkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***