
Wajah Shena langsung tegang saat Leo memberitahunya bahwa dirinya kini sedang berbadan dua. Matanya menyipit untuk memastikan bahwa Leo sedang tidak becanda dengannya.
"Apa yang baru saja kau katakan ini,
Leo? Benarkah aku ... aku hamil? Lagi?" tanya Shena memastikan.
"Ehm, benar Sayang. Selamat ya istriku ... kau mengandung anak kedua kita." Leo tersenyum sumringah. Tangannya melingkar erat di pinggang Shena dan Leo masih betah berlutut dihadapan Shena sambil menikmati wajah terkejut istrinya yang menggemaskan.
"Tapi ... Yeon masih terlalu kecil untuk punya adik," gumam Shena antara senang dan juga gelisah.
"Apa salahnya? Yeon masih bisa tumbuh besar bersama adiknya nanti. Sebab usia mereka tak terpaut jauh. Yeon akan punya teman bermain, bertengkar dan berbagi rasa bersama-sama dengan adiknya. Ia takkan kesepian sepertiku." Raut wajah Leo berubah menjadi sendu dan itu membuat Shena berubah simpati pada suaminya.
"Kau benar, Sayang." Shena memeluk leher suminya dan menempelkan keningnya di kening Leo seperti yang biasa suaminya lakukan. "Maaf kalau reaksiku membuatmu sedih. Aku hanya tekejut saja tadi. Aku kira kau hanya mamanas-manasi para karyawan itu dengan mengatakan kalau aku berbadan dua. Aku tidak menyangka bakal secepat ini bisa hamil lagi. Kau topcer sekali, heh?" Shena mulai mengajak bercanda suaminya.
"Topcer? Bahasa apalagi yang kau gunakan itu?" tanya Leo sambil tersenyum.
"Entahlah, aku hanya pernah mendengar orang-orang mengatakan itu."
"Kau ini ada-ada saja, Sayang." Leo kembali mencium mesra Shena dan menganggap bahwa dunia ini hanya milik berdua saja. Sedangkan yang lainnya cuma ngontrak.
Keromantisan Shena dan Leo sukses membikin baper para semua orang yang berada disini. Namun, kejutan dari Leo untuk para karyawan yang bekerja di distro ini, rupanya masih belum berhenti. Masih ada satu kejutan pamungkas lagi yang harus para wanita-wanita ini terima sebelum Leo dan Shena pergi dari sini untuk merayakan kehamilan kedua Shena.
__ADS_1
Mendadak, seseorang yang sangat dikenal baik oleh seluruh pegawai distro ini datang melangkah mendekati pasangan suami istri Shena dan Leo. Mata semua orang jelas tertuju ke arah orang yang datang itu.
"Maaf, saya agak sedikit terlambat, Tuan muda. Jalanan macet diluar," ujar wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik dari distro mahal ini.
"Tidak, kau datang tepat waktu." Leo bangkit berdiri dan menatap sinis wanita yang berdiri didepannya. "Tadinya, aku pikir ... aku bakal pecat mereka semua sebelum kau datang kemari. Namun, sepertinya kau sendiri yang harus memecat semua karyawanmu tanpa ada yang tersisa," tegas Leo dan pastinya membuat semua karyawan yang ada distro ini langsung terbujur kaku. Bagiamana tidak? Setelah apa yang Leo lakukan pada mereka semua, kini mereka harus dipecat begitu saja.
"Tunggu-tunggu, ada apa ini? Kenapa kami semua dipecat? Apa salah kami?" tanya semua karyawan itu. Mereka langsung menunjukkan aksi protes karena tidak terima diberhentikan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Apalagi tanpa alasan yang jelas.
"Ah ... aku lupa memberitahu kalian semua." Kilatan mata Leo menatap tajam semua orang yang ada dihadapannya. "Distro ini, sudah kuambil alih. Dengan kata lain, Distro ini sudah bukan milik wanita ini lagi, melainkan milik istriku, Shena. Wanita sederhana yang sudah kalian usir dari sini. Kini sudah menjadi pemilik sah Distro ini beserta seluruh isinya."
"Apa?" teriak semua karyawan itu. Mulut mereka langsung menganga lebar antara percaya dan tidak percaya.
Sedangkan Shena, langsung menatap tajam wajah suaminya. "Apa lagi ini Leo? Bagaimana bisa distro ini jadi milikku?"
"Tapi aku tak butuh semua barang-barang ini? Kenapa kau membuang-buang uangmu hanya untuk hal yang tak berguna?"
"Siapa bilang tidak berguna, kau tidak bisa menolaknya karena aku tidak suka ditolak. Sudahlah Sayang, anggap saja ini adalah salah satu hadiah dariku untuk kehamilanmu yang kedua." Leo memeluk pinggang Shena dan mengusap lembut perutnya.
"Salah satu? berarti masih ada lagi?" tanya Shena dan Leo hanya menjawab dengan senyuman penuh makna.
"Maaf jika aku harus mengganggu momen romantisme kalian berdua," ujar wanita pemilik distro ini sebelumnya. "Ini adalah berkas-berkas yang anda minta tuan muda Leo, semuanya sudah lengkap. Anda dan istri anda hanya tinggal menandatangani semua berkas-berkas ini. Setelah itu biar pengacaraku yang mengurus semuanya." wanita itu menyodorkan berkasnya.
__ADS_1
"Ehm tentu." Leo menatap salah satu pengacara Leo yang berdiri diantara para pengawal Leo untuk menerima berkas yang diberikan. pengacara tersebut langsung mengerti maksud Leo dan menerima berkas pemberian pemilik distro ini.
"Diskusikan semuanya nanti dengan pengacaraku setelah aku dan Shena menandatangani semuanya. Senang bisa bekerjasama denganmu, Madam Agne."
"Senang juga bisa bekerja sama dengan anda, Tuan muda. Sejujurnya, saya sangat terkejut tiba-tiba saja ada yang membeli distro ini dengan harga 3 kali lipat lebih tinggi dari harga jualnya. Saya penasaran siapa orang yang rela membuang-buang uangnya hanya untuk distro semacam ini. Ternyata, itu adalah anda ... jika anda berkenan, saya ingin mengundang anda untuk makan malam bersama." Wanita itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Leo sambil bersikap agak sedikit centil. Ia berharap dengan keseksian tubuh yang ia punya, wanita yang disapa sebagai madam itu bisa membuat Leo tergoda.
Belum juga Leo buka suara, Shena langsung mengambil alih posisi suaminya. Shena menggeser paksa tubuh Leo kearah samping dan menggantikan suaminya menjabat uluran tangan madam itu.
"Terimakasih atas tawaran makan malamnya, tapi maaf karena sepertinya Suamiku tidak akan punya banyak waktu untuk makan malam dengan orang lain, apalagi dengan wanita yang tidak kukenal. Sebab, dia akan sibuk mengurusiku," cetus Shena jutek. "Jika urusan anda di sini sudah selesai, maka sebaiknya anda pergi saja dari sini!" secara tidak langsung, Shena mengusir orang yang menjadi mantan pemilik distro.
Wanita itu mendengus kesal karena diperlakukan sedikit kasar oleh Shena. Iapun berlalu pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata.
Sedangkan Leo, ia hanya tersenyum senang melihat Shena bisa cemburu juga. Selama ini, istrinya ini jarang menunjukkan rasa cemburunya, dan baru kali ini ia bersikap posesif pada Leo.
"Kenapa kau senyam-senyum begitu?" tanya Shena masih bersikap jutek.
"Kau terlihat cantik kalau sedang cemburu," jawab Leo.
"Siapa yang cemburu?" sanggah Shena semakin kesal.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***