
Shena menjawab pertanyaan Laura hanya dengan senyuman manis saja. ia tak bisa menjelaskan darimana ia bisa mendapatkan undangan ini, yang jelas semua hal yang diketahui dan dilakuakn Shena semuanya atas petunjuk dan informasi yang diberikan kakak iparnya. Saat Shena berlari mengejar Laura untuk menenangkan sahabatnya yang sedang dirundung duka.
Entah datang darimana, tiba-tiba Refald muncul dan sudah berdiri di samping Shena. Refald langsung memberitahukan segala hal yang harus Shena lakukan untuk menyingkirkan orang-orang perusak ketenangan hidup Shena. Tentu saja, Refald meminta Shena untuk tidak memberitahu Leo perihal pertemuan dan pembicaraan mereka berdua kala itu.
Begitupula dengan undangan yang ada di tangan Shena sekarang, semuanya sudah disiapkan oleh kakak iparnya, Refald yang baru saja menabraknya dan menghilang setelah misinya selesai. Istri Leo itu, berjalan senang menuju kediaman Magdalena untuk ikutan berpesta, lebih tepatnya adalah buat onar dan mengacaukan pesta wanita perusak rumah tangga orang.
Begitu sampai di depan pintu, penjaga meminta Shena untuk memperlihatkan undangannya. Dengan gaya yang keren dan cool, Shena menunjukkan undangan itu dan mereka berdua dipersilakan masuk tanpa dicurigai sedikitpun.
“Silahkan masuk Nyonya ehmm …” penjaga berhenti bicara karena tidak tahu nama belakang Shena.
“Miss Bonscha, dan ini temanku, Miss Laura. Kami masih lajang,” sahut Shena. Ini pertama kalinya Shena memperkenalkan diri sebagai wanita lajang tanpa menggunakan embel-embel nama belakang suaminya, dibelakang nama Shena.
“Apa yang kau lakukan? Jika sampai Leo tahu, habislah kau. Bisa-bisanya kau mengaku lajang,” bisik Laura pelan di telinga Shena.
“Justru kalau aku menggunakan nama Leo dibelakang namaku, kita bakal ketahuan dan dicurigai, Ra. Apa kau tidak tahu? Nama Leo, sangat terkenal di negara ini. Bisa jadi, suamiku itu bakal menemukan kita dalam hitungan detik jika aku menggunakan nama belakang suamiku. Rencana kita juga bakal hancur berantakan. Sia-sia aku membuang ponselku di tempat sampah tadi jika kita ketahuan terlalu cepat sebelum melakukan apa-apa.” Shena membalas berbisik-bisik dengan laura sambil seseklai melempar senyum pada orang-orang yang berpapasan dengannya.
“Apa?” pekik Laura terkejut karena sahabatnya ini ternyata jauh lebih gila darinya.
Bisa-bisanya Shena membuang ponsel seperti membuang bungkus permen saja. Mentang-mentang ia istri sultan dengan kekayaan tak terhingga, Shena bisa seenak udelnya.
“Jangan berteriak! Orang-orang bisa memperhatikan kita. Ponselku sudah disadap oleh Leo, Ra. Kalau aku terus membawanya, kita bakal ketahuan sebelum balas dendam,” terang Shena lagi agar sahabatnya ini tidak salah paham atas tindakan yang ia lakukan.
__ADS_1
“Tetap saja, nggak dibuang juga kali, kan kau bisa sembunyikan di suatu tempat supaya nanti bisa kita ambil kembali.” Laura dongkol juga pada sahabatnya yang sejak dulu memang selalu ceroboh.
“Nah, itu maksudku, Ra. Aku membuang ponselku di tempat sampah yang ada di bandara Charles de Gaulle. Saat ini, mungkin Leo mengira aku ada di sana.” Bukannya cemas, Shena malah cekikikan sendiri membayangkan suaminya pasti kebingungan karena ia hanya menemukan ponselnya saja, sedangkan dirinya malah berada di tempat yang mungkin tak pernah diketahui oleh Leo.
Yang dikatakan Shena memang benar, Leo kelabakan begitu mengetahui kalau Shena ada di bandara Paris. Artinya, lokasinya juga tidak jauh dari posisi Leo kini berada. Iapun fokus mencari keberadaan istrinya setelah keluar dari markas rahasia pemimpin mafia Paris yang bernama Faid, diikuti Roy dan beberapa pengawal kepercayaan Leo. Leo benar-benar tertegun dan shock ketika ia hanya menemukan ponsel Shena saja. Tapi tak menemukan sosok Shena diseluruh bandara. Bahkan dari cctv, tak ada tanda-tanda kemunculan Shena. Mereka semua kesulitan melacak keberadaan istri Leo.
“Sial! Ada apa ini? Bagaimana bisa Shena ada di sini? Apa ia sedang menyusulku kemari? Tapi kenapa ia membuang ponselnya? Mungkinkah sesuatu sedang terjadi padanya?” gumam Leo. Ia memeriksa ponsel istrinya yang hanya berisi panggilan dan chat darinya. Shena bahkan belum sempat membuka chat itu.
“Apa dia juga bersama dengan Laura? Aku menghubunginya sejak tadi tapi ponsel Laura masih belum aktif juga.” Roy jadi ikut mengkhawatirkan istrinya.
“Tentu saja, mereka bersama. Shena adalah tipe wanita yang selalu setia kawan. Apalagi istrimu itu sedang terluka karenamu, tidak mgkin istriku membiarkannya sendirian. Mereka berdua pasti selalu bersama-sama. Sejauh ini Shena belum menggunakan black cardnya. Artinya, ia masih ada disekitar bandara. Jiak mereka check in hotel, pasti kita bakal segera tahu.”
“Pasti mereka bakal butuh uang untuk hidup di negara ini, Roy. Walaupun mereka membawa banyak uang tunai, cepat atau lambat uang itu juga akan habis mereka gunakan untuk keperluan mereka. Kita tinggal tungga saja.” Meski berkata demikian, tak dapat dipungkiri, Leo dan Roy sangat mencemaskan keberadaan istri-istri mereka mengingat penjahat bisa ada di mana-mana.
“Tetap saja, kita tak bisa diam berdiri saaj di sini. Ayo kita ke rumah waniat itu dan membereskan semuanya, baru kita fokus lagi cari Shena dan Laura.”
Leo setuju dengan usulan Roy, tapi belum juga mereka berdua pergi keluar dari bandara, tiba-tiba beberapa pengawal setia Faid datang menghampiri Leo dan rombongannya.
“Tuan, muda … kami akan membantu mencari keberadaan Nyonya Shena diseluruh kota ini, tapi ini membutuhkan waktu agak sedikit lama. Mohon bersabar,” ujar anak buah Faid yang memang ditugaskan untuk membantu Leo mencari Shena.
“Terimakasih atas tawaranmu. Gunakan ponsel istriku ini untuk membantu pelacakan kalian.” Leo menyerahkan ponsel Shena pada salah satu hacker terbaik yang dimiliki Faid.
__ADS_1
Sembari menunggu informasi, baik dari sepupunya ataupun sekutunya, Leo dan Roy pergi menuju lokasi sekitra hotel Raphael untuk mengambil chip serta flasdish yang ada di rumah Magdalena tanpa mereka berdua tahu bahwa wanita yang sedang mereka cari ada di dalam rumah yang akan Leo dan Roy datangi.
***
Sementara itu, Shena dan Laura sudah mulai melancarkan aksi mereka di rumah wanita incaran mereka. Dihadapan tamu pesta yang hadir, mereka bersuaha membaur seolah-olah Shena dan Laura ini adalah teman baik Magdalena. Padahal mereka tidak saling kenal.
Sang Tuan rumah sendiri juga masih belum menampakkan batang hidungnya dan mungkin ia sedang sibuk berdandan diruangannya. Kesempatan emas ini tak disia-siakan oleh Shena dan Laura. Kedua wanita cantik ini menuju dapur dan mulai memasukkan obat tidur kedalam seluruh makanan dan minuman yang akan dihidangkan pada para tamnu undangan tanpa kentara.
Setelah berhasil, keduanya berpura-pura pergi ke toilet untuk menghitung waktu sampai semua orang yang ada di dalam rumah ini tertidur pulas. Dengan begitu, Shena bisa memulai mengeksekusi wanita yang sudah berani merusak hubungan Laura dan Roy.
“Sepertinya sudah sepi, kita langsung saja menuju keruangan ular kobra itu untuk mengambil chip dan flasdishnya,” bisik Shena pada Laura. Laurapun mengangguk setuju karena ia juga sudah tidak sabar ingin buat perhitungan dengan wanita murahaaan itu.
Dan benar saja, begitu Shena dan Laura keluar dari dalam toilet, semua orang sudah terkapar bagai ikan asin yang dijemur di pantai. Dengan hati-hati, Shena melangkah menuju ruang kamar Magdalena yang pastinya juga sudah tertidur bila meminum minuman beracun yang diberikan pelayannya dari dapur. Namun sial, baru juga beberapa langkah Shena berjalan, ia tak sengaja melihat kedatangan Leo beserta pengawalnya menuju rumah Magdalena.
Tentu saja Shena terkejut dan langsung memutar otak memikirkan cara agar ia tak ketahuan suaminya. “Ra! ayo masuk ke dalam, jangan sampai Leo dan Roy menemukan kita,” bisik Shena sambil mendorong tubuh Laura masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah ruangan Magdalena.
BERSAMBUNG
***
video visual episode ini ada Ig ku ... cek aja ya ... kok aku berasa kayak kita filmnya Shena dan Leo wkwkwk
__ADS_1