
Tiba-tiba dari atas atap kantor polisi tempat Leo berada, terdengar suara helikopter mendekat dan tak berselang lama atap kantor polisi tersebut dihancurkan dari atas. Tiga tali diturunkan dari helikopter dan Leo langsung memegang tali tersebut begitu juga dengan kedua anak buahnya.
"Adios!" Leo mengucapkan kata itu selagi ia dan 2 anak buahnya ditarik dari atas seolah memberi penghormatan terakhir pada polisi-polisi gadungan ini.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara tembakan dari luar gedung dan peluru-peluru itu memembus semua polisi yang ada di ruangan ini sebelum mereka sempat menembaki Leo dengan senjatanya. Mereka semua telah dikepung oleh orang-orang Leo dan pastinya tidak akan ada yang bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup.
Inilah yang dimaksud Leo dengan kata 'membasmi semua tikus-tikus yang banyak merugikan negara dan meresahkan masyarakat'. Ia menyerang para polisi gadungan itu tanpa ampun dengan cara mafianya. Jika hukum itu lemah, maka yang bisa membuat keadilan untuk menghukum orang-orang yang memanfaatkan hukum itu hanyalah orang yang sering melanggar hukum seperti dirinya. Itulah hukum yang diciptakan Leo selama ia menjadi gengster kelas kakap menggantikan posisi ayahnya yang sudah pensiun dari dunia permafiaan. Ia tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah berani berurusan dengannya.
Leo masuk kedalam helikopter yang sudah disiapkan untuknya sebelumnya. Ia juga sudah menyabotase seluruh media pemberitaan untuk tidak mengekspose kejadian ini kepada khalayak umum. Hal itu Leo lakukan agar tidak menimbulkan kontroversi diberbagai kalangan mengingat kasus ini masih intern baginya. Menghabisi tikus-tikus itu adalah permintaan pribadi dari wanita yang amat sangat dicintai Leo. Jadi ia tak ingin melibatkan apapun atas apa yang ia lakukan di kantor polisi yang sudah cacat hukum ini.
Dengan sigap pula, orang-orang Leo telah membereskan mereka semua tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Ia juga memerintahkan segera membangun kembali kantor polisi tersebut dan diganti oleh polisi-polisi jujur yang ia minta langsung dari rekomendasi pamannya, yaitu ayah Refald walaupun itu harus melalui berbagai macam proses yang rumit dan memakan waktu agak sedikit lama.
Sedangkan masyarakat di desa juga hanya bisa diam saja walau mereka tahu ada pembantaian tak terduga di kantor polisi tempat mereka tinggal. Sebab, para polisi di tempat itu memang bekerja untuk para preman-preman kampung yang sudah banyak menyiksa dan menindas masyarakat lemah. Tak hanya itu, Leo juga menerima laporan, kalau ada banyak sekali orang-orang hilang dalam kurun waktu sebulan terakhir ini tanpa sebab.
Tentu saja, Leo tahu apa yang menjadi penyebabnya dan untuk mengetahui itu semua, Leo sengaja mengajak Shena jalan-jalan malam untuk menyelidiki apa yang terjadi di desa ini. Dari situlah Leo mulai memahami siapakah dalang dibalik kasus hilangnya orang-orang di desa kelahiran isrtrinya sekaligus fakta mengejutkan tentang maraknya sindikat perdagangan manusia ilegal. Bahkan badan intelijen sekelas SWAT sampai turun tangan mengejar pimpinan sindikat ini. Artinya kejahatan di desa ini sudah memasuki level tinggi dan tidak bisa dianggap remeh.
"Maafkan aku Sayang, terpaksa aku melibatkanmu sedikit tentang apa yang terjadi di kampung halamanmu, dan berkat dirimu pula, aku tahu siapa pemimpin sindikat orang-orang jahat itu," gumam Leo setelah melihat para pasukannya menghancurleburkan kantor polisi itu menjadi abu seperti yang tadi ia ucapkan.
Beberapa hari sebelum kejadian, Leo sudah curiga ada yang aneh di desa Shena sekembalinya ia dari rumah sakit tempat istrinya dirawat. Hal itu membuat Leo berpikir keras untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sebab itulah Leo bersikukuh untuk terus melanjutkan kontes itu agar ia bisa tinggal di desa ini lebih lama.
Hal serupa ternyata juga dilakukan oleh Refald yang dimintai tolong langsung oleh ayahnya agar membantunya menangkap pemimpin sindikat ini. Dan agar tidak dicurigai iapun ikut kontes sama seperti yang diikuti Leo. Penyamaran mereka berhasil dan baik Leo ataupun Refald sudah mengantongi pemimpin sindikat kelas kakap ini.
__ADS_1
"Bawa aku ke sebuah kedai," pinta Leo pada pilot helikopternya.
"Tapi di sana tidak ada tempat mendaratkan helikopter, Tuan?"
"Kan ada tali! Aku akan turun pakai tali ini. Apa Refald sudah ada di sana?"
"Belum, Tuan muda," ujar pengawal Leo.
"Haish, apa yang dilakukan si biksu Tong itu! Dasar!" Leo kesal sendiri, padahal mereka janjian di kedai tempat ia dan Shena ngopi waktu itu. "Ada siapa saja di kedai itu?" tanya Leo lagi.
"Ada sekelompok preman sedang berpesta foya di sana, Tuan muda. Mereka sedang mabuk-mabukan di siang bolong begini," terang salah satu pengawal Leo yang duduk disebelahnya.
"Apa tidak kita bom saja kedainya, Tuan. Biar lebih praktis dan hemat waktu!" usul pengawal Leo.
"Tidak, itu akan menimbulkan spekulasi buruk bagi masyarakat tentang kita, sebab pemilik kedai itu terkenal baik di desa ini. Kita buat pertunjukan spektakuler saja di sana sambil menunggu kakakku datang."
"Siap, Tuan muda!"
"Habislah kalian semua! Aku akan berikan. kematian yang takkan pernah kalian lupakan." untuk kesekian kalinya, Leo tersenyum sinis.
****
__ADS_1
Suara bising helikopter Leo yang melayang di atas kedai, membuat para preman terjaga dari tidurnya. Mereka langsung marah karena waktu istirahatnya terganggu. Leo turun dari helikopternya dengan gaya khas kerennya. Ia berjalan sambil membenahi kacamata hitamnya agar lebih terlihat cool.
Kedatangan di kedai sederhana ini membuat para preman itu naik pitam. Mereka tidak bisa terima kalau ada orang asing yang datang mengganggu kenyamanan mereka.
"Hei pemilik kedai! Kesini kau!" seru salah satu preman berambut gondrong dan berbadan paling besar. Pemilik kedai tersebut langsung maju menghadap preman yang memanggilnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya pemilik kedai itu.
"Siapa bocah ingusan itu?" tanya Preman tersebut.
Pemilik kedai memicingkan mata untuk melihat siapakah laki-laki cool dan Charming yang berjalan masuk ke dalam kedainya. Kerena pemilik kedai ini masih muda, maka daya ingatnya masih sangat kuat.
"Laki-laki itu ... adalah laki-laki yang kemarin ngopi disini bersama istrinya, Tuan. Bahkan istrinya sempat kau goda dan terjadilah perkelahian di kedai saya yan jelek ini. Tolong jangan hancurkan lagi kedainya, Tuan. Saya sudah tidak punya uang untuk membangun kedai ini lagi." pemilik kedai mengatupkan kedua tangannya didepan dada dan memohon pada preman berbadan gempal itu agar mengabulkan kata-katanya.
"Tapi aku tidak melihat laki-laki itu dikeributan kemarin?"
"Itu karena akulah yang menyuruh anak buahku untuk menghajar kalian dan akhirnya aku baru tahu bahwa kalianlah orang-orang yang aku cari selama ini. Sungguh kebetulan yang menyebalkan." Leo menyahut kata-kata preman itu sambil menyeret kursi lalu duduk santai didepan para musuh-musuhnya seorang diri.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1