
Shena masuk ke dalam kamar Yeon yang sedang tertidur pulas diranjangnya. Entah mengapa kepala Shena mulai pusing dan tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Padahal sebelumnya, ia sangat baik-baik saja. Shena merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya. Perlahan, istri Leo itu mengelus lembut rambut putranya yang tergolek menggemaskan di tempat tidur mungilnya. Perawat yang menjaga Yeon hanya diam mengamati gerak gerik Ibu dan anak itu.
“Ada apa denganku? Kenapa rasanya tidak enak sama sekali? Apa … kau bakal punya adik, Yeon? Ah, tidak … itu tidak mungkin. Aku hanya lelah saja,” gumam Shena lirih dan tersenyum senang menatap wajah tampan putranya. Tiba-tiba saja, pintu ruangan terbuka dan muncul Leo dari balik pintu itu.
“Yeon sudah tidur, Sayang?” tanya Leo lirih. Ia berjalan mendekat kearah putra tampannya tertidur.
“Sepertinya begitu, ia lebih sering tidur sekarang.” Shena ikut berdiri di sisi seberang tempat Leo sambil terus mengamati putranya yang tertidur pulas.
“Kau marah padaku?” tanya Leo menatap tajam istrinya.
“Marah kenapa? Aku tidak marah. Lagipula, dari dulu kau memang seperti itu, suka bicara dan berbuat seenaknya. Aku hanya sedang badmood saja dan aku tidak tahu kenapa? Aku … juga agak sedikit pusing.” Shena memegang kepalanya dan Leo langsung berjalan mendekat kearah Shena.
“Kau tidak apa-apa, Sayang? Kau mau aku panggilkan dokter?” tanya Leo penuh perhatian. Ia meraih pinggang Shena dan berjaga-jaga kalau-kalau Shena oleng.
“Tidak, aku rasa … aku hanya sedikit lelah.”
“Kalau begitu istirahat saja di kamar. Ayo, aku antar kau kesana selagi Yeon tertidur.” Leo tersenyum manis.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Shena sedikit curiga.
“Aku tidak tersenyum,” sanggah Leo, tapi Shena tak bisa percaya begitu saja. Jelas-jelas tadi ia lihat kalau suaminya ini tersenyum. “Berhenti menatapku seperti itu Sayang, kau bisa tergila-gila padaku,” ujar Leo membalas tatapan mata Shena.
“Kau benar, aku memang sudah gila karena hidup bersama dengan orang gila yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba dia senyam-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas,” sindir Shena dan iapun beralih pergi meninggalkan Leo yang tertawa tanpa suara.
“Itu karena aku bahagia, Sayang. Bahagia atas anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita berdua,” gumam Leo lirih dan sekali lagi memeriksa keadaan Yeon yang tetap tertidur pulas sebelum Leo pergi menyusul Shena.
“Apa yang kau lakukan pada Shena?” tanya Biyanca yang tiba-tiba sudah ada di depan Leo saat cowok itu membuka pintu. Spontan Leo langsung terkejut.
“Ibu! Kenapa Ibu mengagetkanku?” seru Leo.
__ADS_1
“Kau apakan Shena?” Biyanca masih menginterogasi putranya.
“Aku tidak apa-apakan dia, Ibu?” jelas Leo.
“Lalu, kenapa dia cemberut gitu?”
“Dia bilang dia hanya lagi badmood.”
“Pasti ada sebabnya dia badmood, katakan pada Ibu, kau apakan dia?” Biyanca tetap tidak percaya pada Leo dan menatap tajam mata putranya.
Melihat ibunya kukuh dengan asumsinya, muncul sebersit kejailan di otak Leo. “Baik, akan aku katakan, tapi Ibu harus janji dulu, ibu takkan protes apapun dan juga … tak boleh berteriak, Yeon bisa bangun lagi nanti.”
“Sudah, jangan berbelit-belit! Katakan ada apa?”
“Ibu … aku … sepertinya … harus membagi cintaku, bukan hanya pada Shena dan Yeon saja, tapi … aku harus membaginya dengan yang lain.” Leo memasang wajah semelas mungkin untuk membuat Biyanca kesal.
Dan jangan ditanya, wajah istri Byon itu tak hanya kesal, tapi ia juga marah hingga 10 tanduk keluar dari kepalanya. Napasnya naik turun mendengar pernyataan Leo barusan yang mengira kalau putranya ini punya WIL alias wanita idaman lain.
“Siapa yang mau nambah istri, Bu? Aku hanya …” belum juga Leo menyelesaikan kalimatnya, Biyanca sudah menyelanya.
“Kau memang harus dibikin dadar gulung supaya sadar atas apa yang kau lakukan.” Biyanca melepas sandalnya dan memukulkannya pada Leo. “Dasar kurang ajar kau! Berani kau menduakan Shena, ha?” seru Bianca sambil memukuli putranya dengan sandal, tentu saja Leo berusaha menghindar dan ia berlari ketempat ayahnya berada untuk meminta perlindungan. Leo bersembunyi dibalik punggung Byon yang bingung dengan situasi panas ini.
“Jangan lari kau bedeebah! Akan aku cincang tubuhmu jadi 100 bagian dan kumasukkan kau ke dalam kandang Leopard! Lebih baik aku tidak punya anak model sepertimu daripada harus menyaksikan Shena dimadu! Dasar siamang! Enyah saja kau dari sini!” Biyanca melempari Leo dengan sandal saking marahnya. Ia tak pernah menyangka putra yang selama ini ia bangga-banggakan telah mengecewakannya.
Bagaimana bisa Leo punya pikiran bakal menduakan Shena? Jelas-jelas Leo sangat mencintainya. Jangan-jangan yang dikatakan Shena itu benar, anaknya ini sedang kerasukan setan mesum dan hanya Refaldlah yang bisa membantu menyembuhkan Leo.
“Ada apa ini?” tanya Byon heran melihat kemarahan istrinya. Padahal tadi, masih baik-baik saja.
“Ayah, tolong aku Ayah! Aku tidak menyangka ternyata ibu kalau marah bisa seseram itu. Pantas saja tidak ada dedemit di rumah ini, ternyata mereka semua takut pada Ibu,” ujar Leo yang masih bisa asal jeplak saja saat bicara, padahal ia sendiri sedang dalam bahaya kena amukan ibunya.
__ADS_1
“Huh, kau baru tahu? Sandal ibumu itu jauh lebih seram daripada senjata apiku.” Byon malah menambahi sehingga semakin ngamuklah Biyanca dan langsung melayangkan sandalnya kepada ayah dan anak yang nggak ada akhlak itu. Sayangnya, dua pria beda usia itu bisa menghindar dengan cepat sehingga lemparan Biyanca meleset.
“Kalian berdua memang benar-benar menyebalkan! Sayang … minggir! Biar kubinasakan putramu itu!” seru Biyanca masih emosi.
“Tunggu, Bii. Ada apa ini? Kenapa kau semarah itu?” tanya Byon mencoba menengahi.
“Tanyakan sendiri pada anakmu yang gila itu?” bentak Biyanca.
Byon beralih menatap Leo. “Memangnya apa yang kau katakan pada ibumu sampai dia semarah itu?”
“Aku hanya bilang akan membagi cintaku Ayah, lah ibu langsung marah!” jawab Leo jujur.
“Apaaa?” pekik Byon tak kalah syok dari Biyanca. “Beraninya kau!” sekarang ganti giliran Byon yang keluar tanduk.
Melihat amarah ayahnya, Leopun memutusakan mengakhiri kejailannya. “Tunggu-tunggu! Kalian berdua salah paham? Harusnya kalian bangga padaku, kenapa kalian berdua malah marah padaku?”
“Bangga? Punya anak laki-laki seberengsek dirimu kami harus bangga? Kami berdua berjanji pada mendiang kedua orangtua Shena untuk membahagiakan hidupnya sampai titik darah terakhir kami, tapi apa yang sudah kau lakukan padanya? Tidakkah kau berpikir apa yang bakal ibumu ini katakan pada orangtua Shena jika kau mengkhianatinya? Inikah cinta dan luka yang kau berikan padanya?” sengal Biyanca masih emosi begitu juga dengan Byon. “Kami tahu kau itu tak punya akhlak! Tapi kami sama sekali tidak menyangka kau bakal menjadi pria serendah ini.” mata Biyanca berkaca-kaca menahan emosinya.
“Bukan menduakan Ibu, mentigakan!” Leo bantu meralat ucapan ibunya sehingga semakin emosilah Biyanca dan Byon.
“Apaa? Wah kau benar-benar belum pernah kena peluruku, Leo!” geram Byon jadi ikut naik pitam mendengar pengakuan mengejutkan Leo. “Bii, ambilkan pistolku! Aku sendiri yang akan menembak kepala anak ini!”
“Baik!” tanpa pikir panjang, Biyanca pun pergi mengambil senjata andalan suaminya.
“Apa?” mata Leo terbelalak, ia sama sekali tidak menyangka reaksi orangtuanya bakal seheboh ini. “Ayah, Ibu … kalian berdua salah paham,” Leo mencoba menjelaskan tapi sudah terlambat. Baik Byon dan Biyanca sudah termakan oleh kejahilan Leo sendiri. Ini namanya senjata makan tuan.
Biyanca datang dan memberikan senapan andalan Byon. Laki-laki paruh baya itu mengangkat senjatanya dan akan menembakkan pelurunya tepat di kepala Leo.
“Katakan padaku? Siapa orang ketiga itu! Setelah aku membunuhmu di sini! Akan aku habisi dia juga.” Tatapan tajam mata Byon tertuju pada Leo yang langsung tertegun.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***