Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 171


__ADS_3

Leo terdiam mendengar ucapan istrinya, bukannya ia tak ingin berbaur dengan apa yang ada dikehidupan istrinya selama Shena tinggal di desa, tapi sejak kecil Leo hanya dilatih menggunakan senjata dan cara melindungi diri dari musuh. Ia jarang bicara dengan orang asing yang tidak Leo kenal.


Sangat aneh jika ia diminta Shena harus beradaptasi dengan cara hidup orang-orang yang tinggal di desa. Namun, Leo juga tak bisa menolak keinginan Shena. Walau bagaimanapun juga, kehidupan Shena juga kehidupannya. Sama seperti Shena yang mencoba berbaur dengan keluarga besarnya. Akhirnya, Leo menurut dan berjalan menuju sebuah kedai sederhana yang dimaksud Shena.


Begitu masuk ke dalam, Leo langsung mendudukkan istrinya di sebuah kursi yang terbuat dari kayu jati. Ini sudah tengah malam menjelang pagi, tapi kedai ini masih ramai didatangi orang-orang penduduk desa. Entah orang-orang itu hanya sekedar ngobrol dengan teman-temannya yang ada di sini ataupun hanya untuk ngopi. Yang jelas, tempat ini tidak pernah sepi.


"Kopi 2 ya, Bang!" seru Shena pada penjual laki-laki lebih tua darinya yang ada di kedai ini.


"Baik, Neng!" ujar penjual kedai itu.


"Kau kenal orang itu?" tanya Leo.


"Nggak! Aku sama sepertimu. Meskipun aku tinggal di sini, aku tak begitu kenal dengan semua penduduk desa yang ada di tempat ini."


"Mereka semua memerhatikan kita," ujar Leo setelah melihat sekeliling.


"Wajar saja, pakaian kita paling mahal di sini. Harusnya tadi kita pinjam pakaian tukang kebun dulu di rumah supaya tak menarik perhatian dan berbaur dengan mereka. Lain kali, ingatkan aku kalau mau jalan-jalan keluar di sekitar sini." Shena mencomot pisang goreng yang ada dihadapannya tapi Leo mencegahnya sebelum pisang goreng yang menggiurkan itu masuk kedalam mulut istrinya.


"Sayang, jangan makan sembarangan, kita tidak tahu kandungan apa saja yang ada dalam makanan itu? Kalau kau mau ... aku akan minta pelayan untuk membuatkan makanan ini di rumah." Leo hendak menelepon tetapi ponselnya langsung direbut Shena sama seperti saat Leo merebut pisang goreng itu dari tangannya.


"Ini hanya pisang goreng Leo, bukan racun? Kalau kau meminta pelayanmu membuatkan pisang goreng untukku? Kenapa kita repot-repot datang kemari?" sewot Shena.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!"


"Kita kan baru saja, datang? Masa mau pergi? Aku juga sudah pesan kopi tadi." Mata Shena berbinar-binar mencoba meyakinkan Leo untuk sementara menemaninya di kedai ini. Setidaknya sampai ia menghabiskan kopi yang ia pesan.


Tak ada yang bisa dilakukan Leo jika Shena sudah seperti itu. Ia pun tak tega menolak keinginan Shena meskipun ia tidak nyaman dan tak biasa berada di tempat seperti ini.


"Ini kopinya, Neng!" pemilik kedai datang dan meletakkan gelas kopi di meja Leo dan Shena.

__ADS_1


"Terimakasih ya Bang," ujar Shena.


"Sama-sama, permisi." pemilik kedai itupun kembali ke dalam.


Mata Leo semakin melotot lebar ketika melihat dua gelas kopi hitam disuguhkan padanya. "Apa ini?" tanya Leo.


"Kopi?" jawab Shena singkat. Ia meniup-niup kopinya yang masih panas.


"Masa kopi ada ampasnya, begini?" protes Leo.


"Itu bukan ampas, aku tidak tahu persis apa namanya. Yang jelas rasanya enak kok, gk kalah enak kayak kopi Vietnam, coba saja!" suruh Shena.


"Nggak? Masa kopi atasnya kayak ada dedaknya gitu? Nggak mau, aku!"


"Itu bukan dedak, Leo. Rasanya enak, sungguh!" Shena meyakinkan Leo. "Cobalah, sini ... aku kasih tahu sebuah cara supaya dedak yang kau maksud itu tak ikut terminum." Shena mengambil lapik atau alas gelas kopi, lalu ia menuangkan kopi tersebut ke dalam lapik atau kalau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan 'lepek' untuk memisahkan ampas kopi dengan airnya. Setelah itu Shena memberikan lapik yang berisi kopi hitam pada suaminya Leo.


"Minumlah, ini enak sekali. Sudah tidak ada ampasnya lagi."


"Bagaimana, enak kan?" tanya Shena sambil mengamati ekspresi Leo saat meminum kopi.


"Lumayan," jawab Leo mulai menikmati kopinya.


"Makan ini, juga!" Shena menyuapi suaminya dengan pisang goreng. "Enak juga, kan?"


Mau tidak mau Leo mengunyah pisang goreng tersebut walau ia sangat terkejut dengan aksi pemaksaan yang dilakukan istrinya. Namun Leo tak menampik kalau rasanya memang enak dan ini pertama kalinya bagi Leo bisa menikmati makanan khas daerah ala rakyat jelata bersama wanita pujaan hatinya.


"Selamat datang di dunia kesederhanaanku Suamiku." Shena tersenyum senang melihat Leo yang juga membalas senyumannya. Leo tak bisa bicara karena mulutnya dipenuhi dengan makanan.


Mata beberapa orang melihat aneh Leo dan Shena. Bukan karena wajah mereka yang rupawan dan pakaian mereka yang mahal. Tapi karena mereka berdua datang di saat dan waktu yang salah. Pasangan serasi itu sedang dalam masalah besar kalau mereka tidak segera pergi dari kedai ini secepatnya. Itulah mengapa semua orang yang ada di kedai ini menatap tajam Leo dan Shena. Hanya saja, mereka semua tidak berani mengingatkan karena mereka tidak kenal siapa Leo dan Shena dengan baik.

__ADS_1


Pemilik kedai datang dan memberanikan diri mendekat kearah Leo dan Shena yang sedang bersenda gurau menikmati momen nongkrong mereka di tempat yang amat sangat jauh dari dunia seorang Leo. Bila diskotek, kafe, serta restoran mahal bintang lima adalah tempat keseharian Leo, maka saat bersama dengan Shena, tempat itu tak semenyenangkan kedai kafe sederhana ini. Leo baru tahu kalau istrinya ini lebih bahagia dan bisa tertawa lepas ketika ia ada di dunianya sendiri bila dibandingkan dengan dunia kemewahan Leo.


Leo sangat senang melihat Shena bahagia seperti sekarang ini terlepas dari semua hal yang menimpa mereka selama ini.


"Maaf, Neng...." ujar pemilik kedai itu ragu untuk memberitahu atau tidak apa yang bakal menimpa Leo dan Shena jika mereka berada di sini lebih lama.


"Kenapa, Bang?" tanya Shena.


"Ehm begini, Neng. Maaf ya ... bukannya saya tidak suka dengan kedatangan kalian berdua. Tapi sebentar lagi akan ada preman kampung yang datang untuk mengobrak abrik tempat ini. Kalau saya dan semua orang yang ada di sana sih sudah biasa. Kami tinggal bayar pajak yang mereka minta, maka kami aman. Tapi tidak dengan kalian. Beberapa Minggu lalu, beberapa orang terbunuh karena melawan preman itu. Saya tidak ingin kejadian sama terulang lagi, sebelum terlambat saya sarankan anda cepat pulang kembali ke rumah dan tutup pintu rapat-rapat." pemilik kedai itu mulai gemetar ketakutan mendengar ucapannya sendiri.


"Wuah ... dikampung seperti ini masih saja ada preman ya bang?" Shena malah bersikap tenang dan santai. Ya iyalah, orang yang duduk didekatnya ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dengang preman yang diceritakan pemilik kedai.


"Kenapa tidak lapor polisi saja, Bang?" tanya Leo sambil meminum kopinya. Ia sma sekali tak kaget mendengar peringatan pemilik kedai.


"Berkali-kali, polisi itu memenjarakan mereka semua tapi, entah kenapa mereka semua masih bisa bebas Bang. Seperti sekarang, setelah membunuh orang, mereka langsung ditahan, tapi belum ada seminggu mereka bebas lagi dan lagi, Bang! Nah ... itu mereka datang! Sebaiknya anda segera pergi, sebelum mereka sampai kemari." Pemilik kedai itupun berlari masuk ke dalam sementara Leo masih menikmati kopinya. Sedangkan Shena memicingkan mata untuk melihat seperti apa prejengan para preman-preman itu.


"Ayo kita pergi, Leo. Jangan buat ulah dulu. Besok adalah kontesmu kecuali kau mau mundur dari kontes Itu."


"Aku bukan orang yang suka mundur dari segala hal, Sayang. Tapi yang kau katakan itu benar. Baiklah, kita akan datang lagi kemari, nanti. Ayo pergi, kau mau aku gendong?"


"Aku jalan saja!" ujar Shena cepat.


"Ya sudah, tapi kalau kau berubah pikiran ..."


"Sudahlah, jangan banyak bicara, ayo cepat!" Shena menarik tangan suaminya. Kedua orang itu keluar kedai setelah Leo membayar pesanan mereka.


Awalnya, Leo santai dan tak peduli pada kumpulan preman-preman kampung saat berpapasan dengannya. Namun, salah satu dari preman itu malah bersiul begitu melihat kecantikan Shena, padahal jelas-jelas preman itu tahu kalau Leo menggenggam erat tangan istrinya.


Gawat! Sialan itu preman! Kenapa malah cari gara-gara, sih? rutuk Shena karena ia merasakan aura membunuh Leo digenggaman tangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2