
“Kau mau pergi sekarang?” tanya Refald pada Leo begitu mereka berdua saling berhadapan.
“Ehm, aku tidak akan pernah membiarkan hidup orang itu tenang walau hanya sedetik saja.” Leo menatap Shena yang terbaring lemah diatas ranjangnya. "Siapapun orang itu, ia harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa istri dan anakku. Berani-beraninya dia mengusik ketenanganku." Leo mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
“Aku tak bisa ikut campur urusanmu lebih dari ini. Berhati-hatilah, dia bukan orang biasa. Kau bahkan pernah digendongnya sewaktu kau masih kecil.” Refald menepuk pelan bahu Leo dan ikut memerhatikan wajah Shena sambil tersenyum seakan ia tahu apa yang bakal terjadi setelah ini.
"Aku ingat, dan aku langsung menendang wajahnya karena kukira dia monster," ujar Leo. Sedikit mengenang orang yang dimaksud Refald.
Tentu saja, Leo tidak tahu kalau kakaknya itu sedang senang bahkan tertawa pelan dalam diam. Mata Leo hanya tertuju pada Shena, ia berharap Shena kembali mengingat semuanya tanpa mengalami sakit lagi. Sebab, rasa sakit yang dirasakan Shena, juga bisa dirasakan oleh Leo. Inilah yang dinamakan cinta, jika melihat orang yang dicintai bahagia, pasti kita ikut bahagia. Sebaliknya, jika kita melihat orang yang kita cintai bersedih, kita jauh merasakah pedih dari orang yang kita cintai.
Leo berjalan mendekat ke tempat istrinya dan menggenggam erat tangan Shena. “Maaf tak bisa menungguimu hingga kau terjaga, Sayang. Aku takkan pernah bisa bernapas lega sebelum membuat orang yang menyebabkan kau dan Yeon mengalami semua ini hidup tenang. Aku akan kembali setelah membuat orang itu menangis darah dan menyesali perbuatannya. Aku mencintaimu, Shena." Leo mencium mesra kening Shena yang tak bergeming dari tempatnya lalu bangkit dan beranjak pergi. Sekali lagi, Leo menatap wajah pucat istrinya sebelum ia menutup pintu ruangannya.
“Aku akan membawa Yeon pulang, kabari aku jika ada yang kau butuhkan,” ujar Refald berjalan beriringan dengan Leo.
“Aku butuh kilang minyak mentahmu dan juga pesawat jet pribadimu.” Leo berjalan cepat dan tatapannya lurus ke depan.
Seakan tahu apa yang bakal dilakukan adiknya, Refaldpun berkata, “Kenapa kau tidak memakai jet pribadimu sendiri?”
“Jet pribadiku masih tertahan di Jepang karena insiden waktu itu. Tidak ada waktu untuk memebeli jet pribadi lagi, nanti akan aku ganti begitu urusanku selesai!” ujar Leo sambil berjalan mendahului Refald.
__ADS_1
“Dasar berandal, bisanya membuang uang!” Refald berhenti berjalan sambil berkacak pinggang menatap kepergian adiknya yang sebentar lagi membuat kekacauan besar.
“Siapkan uang tunai dua koper besar,” perintah Leo pada anak buahnya melalui headset yang ia pakai. “Tunjukkan lokasi keberadaan orang itu sekarang … gedung putih? Pesta domino?” Leo mengerutkan alisnya saat berbicara dengan anak buahnya. “Dia memang teman lama ayahku. Huh … jadi begitu … baik … kita akan mencoba berbisnis malam ini. Kalian semua … bersiap-siaplah! Kirim senjata terbaru milik perusahaan ayahku di Jerman kepadaku. Sekarang juga!” Leo menutup sambungannya dan masuk kekabin belakang mobil limosin hitamnya.
“Tuan muda … apa anda yakin? Kita bisa rugi besar bila berurusan dengannya. Rentenir itu adalah mafia kelas kakap dan punya perjajian hitam di atas putih dengan ayah anda.”
“Perjanjian itu sudah dia langgar ketika ia menculik cucu dari sekutunya sendiri. Harusnya ia tak melakukan hal itu jika ingin hidup lebih lama menikmati segala harta benda yang ia punya. Siapa suruh dia mengusik keduargaku! Kerugian kita takkan sebanding dengan apa yang bakal diterima oleh si tua bangka itu!” Leo menatap lurus anak buahnya. Ia menghargai kekhawatiran orang-orang Leo, tapi mereka tidak tahu kalau kekhawatiran para pengawal Leo itu hanya sia-sia belaka.
Seorang Leo, pantang mundur dan juga pantang menyerah menghadapi musuh-musuhnya. Sebaliknya, Leo selalu menggunakan cara mafia yang takkan pernah bisa dibayangkan oleh siapapun yang mencoba mengusik ketenangan kehidupan Leo dan seluruh keluarganya.
“Tuan muda, pesawat jet tuan muda Refald baru saja mendarat dibandara,” lapor anak buah Leo.
“Benarkah? Secepat itu? Biksu Tong itu memang selalu bisa diandalkan. Cepat lakukan rencana kita selanjutnya dan tunggu aba-aba dariku,” seru Leo bersemangat. Iapun mengotak atik ponselnya sambil menikmati perjalanan menuju gedung putih dimana tempat itu merupakan tempat berkumpulnya orang-orang berkelas seperti Leo dan sejenisnya serta orang-orang borjuis lainnya.
Hal itu juga berlaku untuk Leo. Awalnya, penjaga keamanan tak mengizinkan Leo masuk karena mereka baru pertama kali ini melihat tuan muda seperti Leo datang ke acara mewah ini. Sebelumnya, mereka tidak pernah melihat Leo.
“Maaf, Tuan. Bisa tunjukkan lisensi anda?” tanya penjaga keamanan yang berbadan tinggi besar. Setelan jas hitamnya terlihat ketat sekali dan wajah penjaga itu tampak sangar karena brewok tebalnya menutupi sebagian besar wajahnya.
Pengawal Leo hendak maju kedepan karena tak terima tuan mudanya diperlakukan tidak sopan, tapi Leo mencegah aksi mereka. “Mundurlah, aku bisa menangani ini,” ujar Leo tenang dan pengawal Leo itu menundukkan kepalanya mundur kembali kebelakang Leo.
__ADS_1
“Aku tidak punya lisensi yang kau bicarakan, tapi aku punya ini.” Leo mengambil dompetnya dan mengeluarkan tanda kartu pengenalnya lalu memberikannya pada penjaga yang berdiri tegak dihadapannya.
Penjaga itu langsung tercengang membaca nama lengkap Leo. Tak banyak yang tahu seperti apa wajah tuan muda dari pewaris tahta tunggal keluarga Pyordova. Padahal semua orang tahu seperti apa keluarga Pyordova yang banyak ditakuti musuh-musuhnya. Namun sangat aneh sekali jika seorang tuan muda besar seperti Leo tak punya lisensi orang terkaya seperti yang dimiliki sultan-sultan lainnya.
“Bagaimana anda tidak memiliki lisensi, Tuan muda? Anda adalah salah satu pewaris tahta terkaya di dunia. Saat ini, banyak sekali orang yang membicarakan kiprah anda di seluruh jagad raya terlepas apa yang sudah anda lakukan terhadap semua musuh-musuh anda.” Entah penjaga itu sadar atau tidak, nada bicaranya seolah terdengar sangat mengagumi sosok pria tampan, ayah dari tiga anak ini.
“Huh, aku tak membutuhkannya, dan aku juga tidak suka datang ketempat seperti ini kecuali terpaksa!” mata Leo menatap tajam wajah penjaga yang terkagum-kagum itu.
Selama ini, orang berjas hitam dan berdasi kupu-kupu itu mengira kalau orang yang bernama Leopard Bay Pyordova adalah orang yang garang dan menakutkan, ternyata ia salah besar. Leo sangat tampan dan juga tajir melintir habis. Tak banyak orang seperti Leo di sini. Bahkan sangat langka.
“Kau sudah tahu siapa aku, kan? Kembalikan tanda pengenalku dan jangan beritahu siapapun soal keberadaanku di tempat ini, kalau sampai mereka tahu, habislah kau!” Leo tidak main-main dengan ancamannya.
“Baik, Tuan muda!” ujar penjaga itu memberikan tanda pengenal Leo dan membungkukkan tubuhnya mempersilahkan Leo masuk ke dalam bersama pengawal-pengawalnya.
Wajar jika semua orang tak begitu tahu seperti apa Leo yang merupakan putra tunggal dari Byon. Sang pewaris tahta selanjutnya. Sebab, suami Shena itu jarang sekali menampakkan batang hidungnya dihadapan para kaum sultan yang ada di seluruh dunia. Leo lebih suka berkumpul dengan istri dan anak-anaknya ketimbang menghadiri acara pesta yang pastinya membuatnya bosan, seperti acara pesta ini. Kalau saja ia tak punya kepentingan, mana mau Leo datang ke acara berkumpulnya para sultan.
“Cari tahu keberadaan Datuk, dan beritahu aku segera begitu kau menemukannya,” perintah Leo pada anak buahnya.
"Baik, Tuan!" seru pengawal Leo dan langsung beranjak pergi melaksanakan titah tuannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***