
Anak-anak Leo segera dibawa Refald dan Fey ke Jerman selagi Leo bersiap-siap pulang ke Indonesia. Sebelum itu, Leo menyerahkan semua segala urusan pekerjaan pada Roy dan orang-orang kepercayaan Leo lainnya sekaligus berpamitan pada mereka semua.
“Kau yakin aku tak perlu ikut denganmu? Siapa tahu, aku bisa membantu?” tanya Laura pada Leo.
“Tidak sekarang, Ra. Rai masih membutuhkanmu disini,” tolak Leo. Ia masih menatap Shena yang terus saja menghadap ke jendela dan acuh tak acuh pada semuanya.
“Kami semua bisa pindah ke Indonesia,” ujar Laura lagi.
Sama halnya dengan Leo, sebagai sahabat terdekat Shena, ia juga ikutan sedih atas apa yang menimpa Shena saat ini. Apalagi, sahabatnya itu juga tidak ingat padanya. Sungguh hati Laura serasa sakit dilupakan sahabat sendiri. Tapi ia tak bisa menyalahkan Shena karena ia terkena amnesia. Bukan salah Shena kalau Shena melupakan dirinya dan juga orang-orang terdekatnya.
“Tidak, Ra. Kau juga harus memikirkan kondisi Rai, jangan paksakan kehendakmu padanya. Belum tentu Rai bisa beradaptasi di Indonesia dengan lingkungan baru sementara teman-teman yang ia kenal tak ada disisinya. Sebaiknya, biarkan aku melihat seperti apa kondisi Shena begitu kami tiba di desa. Baru aku akan merencanakan kembali apa yang akan aku lakukan selanjutnya.” Suara Leo terdengar datar. Tak ada senyum lagi diwajahnya karena terus saja memikirkan Shena.
Roy berjalan mendekat kearah Leo sambil memegang pelan bahu sahabatnya. “Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu, beritahu aku jika kau butuh sesuatu. Masalah pekerjaan, kau tak perlu risau. Aku akan mengurus segalanya. Keluargamu yang lain juga pasti akan membantuku. Fokuslah pada Shena. Kami akan menunggu kedatangan kalian berdua.”
Mendengar ucapan Roy, tak hanya Leo yang jadi trenyuh. Laura juga meneteskan air mata. Ingin sekali ia berlari memeluk tubuh sahabatnya. Menangis dan tertawa bersama seperti dulu. Namun, tak mungkin Laura melakukan itu karena ia tak ingin Shena memaksakan diri untuk mengingat kembali siapa dirinya dan semua orang yang ada disini.
“Kami akan pergi sekarang. Apa kau ingin aku mengantar kalian ke bandara?” tawar Roy.
“Tidak, sebaiknya aku pergi sendiri. Laura bisa menangis sepanjang jalan jika kalian mengantarku dan itu tidak baik untuk mental Shena. Temani istrimu, karena dia juga terpukul melihat keadaan sahabatnya.”
“Aku mengerti, kabari aku jika terjadi sesuatu. Sampai ketemu lagi dan jaga dirimu baik-baik.” Roy memeluk Leo untuk menguatkannya. Setelah itu ia merangkul bahu Laura dan mengajaknya pergi dari sini.
__ADS_1
“Tidak, Roy! Aku masih ingin bersama Shena,” isak Laura.
“Sayang, biarkan dia bersama Leo, jangan ganggu mereka. Kita akan bertemu mereka lagi nanti, dan semuanya pasti akan kembali seperti sedia kala. Kita percayakan saja pada Leo, karena dialah satu-satunya orang yang mencintai dan dicintai oleh Shena.” Roy membujuk istrinya agar mau ikut dengannya pergi meningggalkan Leo dan Shena.
Walau berat, Laura tak bisa berbuat apa-apa. Tangisnya langsung pecah begitu keduanya berada diluar ruangan Leo dan Shena. Roy sendiri juga ikutan sedih, tapi ia hanya bisa menguatkan istri dan sahabatnya agar tak patah semangat dalam mengatasi semua ini. Ia sendiri tak boleh lemah. Sebagai sahabat terdekat yang tahu seluk beluk Leo, ia sangat yakin kalau kesembuhan Shena sangat bergantung pada apa yang dilakukan suami Shena itu.
“Kita akan berangkat sekarang,” ujar Leo pada Shena yang terus saja menatap keluar jendela.
“Kemana?” tanya Shena cuek.
“Ke tempat kau dilahirkan,” jawab Leo lirih.
Wajah Leo terus menunduk untuk menahan segala rasa yang ia punya agar tak bertindak gegabah. Jauh dalam lubuk hati Leo, ia ingin sekali memeluk erat tubuh wanita pujaan hatinya yang menatap acuh padanya.
Leo mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan fotonya dan foto Shena yang selalu ia bawa kemana-mana. Keduanya saling berpelukan mesra dalam foto itu. Tak ada reaksi apapun saat Shena melihat foto mesranya dengan Leo.
“Kita berdua adalah suami istri dan saling mencintai. Mungkin kau tak ingat apapun tentangku, tapi aku akan selalu mengingatmu dalam hati dan pikiranku setiap waktu. Dan ini …” Leo memberikan beberapa buku album kenangan yang berisi semua foto-foto Shena dan Leo selama ia membangun bahtera rumah tangga bersama.
“Apa ini?” tanya Shena ragu-ragu menerima buku album yang diberikan Leo padanya.
“Itu adalah foto-foto kenangan kita. Sudah kurang lebih sewindu kau dan aku menikah. Ada banyak sekali kenangan indah diantara kita. Tapi … aku tak memintamu untuk melihatnya sekarang. Jika kau ingin melihatnya, baru kau boleh membukanya.”
__ADS_1
“Kenapa gambar sampulnya perkebunan teh semua?” tanya Shena bingung.
Sebelum menjawab, Leo tersenyum manis pada Shena. “Karena itu adalah tempat favorit kita. Tempat itu mempertemukanku kembali denganmu setelah kau … kabur dariku …”
“Tunggu!” sela Shena. “Kenapa aku harus kabur darimu? Kau bilang kita saling mencintai?”
“Saat itu … ayahku, mengerjai kita berdua dengan berpura-pura tak merestui hubungan kita. Karena kau sangat mencintaiku, kau tak ingin aku bertengkar dengan ayah. Sebab itulah kau memutuskan untuk menghilang dari hidupku walaupun aku tak setuju. Akhirnya setelah perjalanan panjang, aku menemukanmu tepat saat kau tersesat di perkebunan teh. Dan ….” Leo ragu apakah ia harus melanjutkan ceritanya atau tidak. Ia khawatir kondisi Shena tidak memungkinkan bila ia melanjutkan apa yang terjadi selanjutnya.
“Dan apa?” Shena jadi penasaran karena kisahnya digantung oleh Leo.
“Kau harus datang kesana sendiri melihat lokasinya. Aku yakin tanpa kuberitahu, kau akan ingat sendiri. Aku tak ingin kepalamu sakit lagi jika aku mengatakannya.” Leo bangun berdiri dan mulai menyiapkan segala keperluan yang diperlukan sebelum berangkat.
Shena hanya menatap laki-laki asing itu dengan sejuta rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semua orang yang menemuinya mengatakan kalau orang itu adalah suami Shena, tapi ia sama sekali tak ingat apapun begitu juga dengan orang-orang yang menemuinya. Namun, begitu melihat foto dan kemesraan mereka yang terkenang dalam buku album kenangan, hal ini membuat Shena yakin bahwa laki-laki itu memang benar suaminya.
“Benarkah kau … sungguh-sungguh suamiku?” tanya Shena dan pertanyaan itu membuat Leo menghentikan aktivitasnya.
“Ehm, tunggu saja Sayang. Kau … akan aku buat jatuh cinta lagi padaku.” Leo mengedipkan salah satu matanya dan pergi keluar sebentar untuk menerima panggilan telepon.
Shena memicingkan matanya melihat tingkah Leo yang sok genit itu. “Masa iya aku punya suami setampan dia? Dan apa itu tadi? Dia genit sekali?” gumam Shena pada dirinya sendiri.
Istri Leo itu merasa aneh saat melihat tingkah Leo, tapi Shena berusaha mengalihkan perhatiannya dengan melihat-lihat album foto. Tanpa sadar, ia jadi senyam senyum sendiri saat melihat-lihat album kenangannya bersama Leo.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***