
Yang masih dibawah umur dilarang baca! Hehehe ....
***
Ketika Leo maju selangkah, Shena juga mundur selangkah. Matanya semakin terbelalak saat melihat Leo sudah tak memakai apapun. Shena sudah tidak bisa berkutik lagi karena tubuhnya membentur dinding kamar mandi. Dengan gerakan cepat, Leo mengurung tubuh Shena dalam rentangan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Shena seolah hendak menciumnya.
“Ka-kau ... mau apa?”
“Mandi,” jawab Leo singkat.
Aduh, kenapa aku bodoh sekali? Yang namanya didalam kamar mandi ya pasti mandi, masa mau makan? Batin Shena. Ia merutuk dirinya sendiri.
Meski ini bukan pertama kalianya Leo bersikap seperti ini, tetap saja jantung Shena semakin berdetak dengan sangat kencang.
“Ehm, Leo. Bisa lepaskan aku? Aku ... tidak bisa lama-lama disini. Yeon masih membutuhkanku.”
“Oke, setelah ini kita akan langsung pergi menemui Yeon.” Leo mulai menciumi leher Shena sehingga Shena jadi mendesah. Pedang etalibun Leo yang sudah berdiri tegak juga menempel erat diperutnya.
“Leo, Yeon ....” Shena berusaha bernapas meski ia geli saat Leo terus menyerangnya.
“Jangan khawatirkan Yeon, dia bersama orang-orang yang menyayanginya. Arga memberitahuku lewat pesan kalau bu Dewi juga ada di rumah bibi Egha. Yeon sangat pengertian karena ia tidak pernah rewel. Mereka pasti mengabari kita kalau Yeon benar-benar ingin ASI. Sekarang, yang membutuhkan asupan darimu adalah aku. Kau milikku sekarang.” Satu persatu Leo melepas pakaian Shena dan terus mencium bagian-bagian atas tubuh istrinya. Leo juga menyalakan air yang ada diatas mereka sehingga keduanya kini basah-basahan berdua.
Apa yang dilakukan Leo sukses membuat hormon kewanitaan Shena meningkat sehingga desahan-desahan kecil yang keluar dari bibir indah Shena mulai menghiasi telinga Leo. Gairah cinta keduanya juga semakin merajalela kemana-mana.
__ADS_1
“Leo, aku takut,” bisik Shena dan napasnya mulai tersengal-sengal.
“Takut kenapa?”
“Ini ... pertama kalinya kita berhubungan intim setelah aku melahirkan. Aku ... agak sedikit takut. Bagaimana kalau rasanya sakit?”
“Jangan takut, aku akan melakukannya pelan-pelan. Nikmati saja Sayang, karena aku akan memberikan kepuasan yang tak pernah kau bayangkan.” Leo melanjutkan aktivitasnya. Ia mulai mencium kening Shena, lalu turun kehidung dan kedua pipi mulus istrinya. Suasana semakin hot saat Leo mencium mesra bibir merah delima Shena dengan penuh gairah yang membara.
Shena sendiri mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan Leo padanya, ia juga melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya sambil terus berciuman. Leo menatap wajah mesum Shena sambil terenyum sebagai tanda ia siap memasukkan pedang etalibunnya kedalam lubang sumur milik Shena. Tanpa suara, Shena langsung memeluk Leo dengan erat untuk mengurangi rasa takutnya.
Sesuai janji, Leo melakukannya dengan pelan, bahkan Shena tidak menyangka rasanya lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. Leo meraih sabun cair yang tersedia dan mulai meraba-raba seluruh bagian tubuh Shena, Shenapun juga melakukan hal yang sama. Keduanya menjalankan ritual bulan tertusuk ilalang sambil mandi bersama. Hentakan-hentakan lembut Leo, membuat Shena semakin terbuai. Istri Leo itu bahkan menutup mulutnya agar jangan sampai bersuara, sementara Leo terus saja mengobrak obrik lubang sumur milik Shena dengan pelan, tapi nikmat.
Tanpa tarasa, keduanya mengalami pelepasan bersama. Shena memeluk Leo dengan erat begitu pula dengan Leo. Mereka berdua sama-sama puas karena telah menuntaskan hasrat birahi masing-masing. Leo dan Shena, tetap melanjutkana aksi mandi bersama. Dimulai dari Leo membantu membersihkan rambut Shena yang kotor karena terkena lumpur lalu turun keseluruh bagian tubuh, aksi yang sama juga dilakukan Shena. Keduanya juga saling tertawa dan bercanda bersama. Sungguh romantis sekali pasangan nggak ada akhlak ini. Bahkan setelah selesai mandipun, Leo tetap menggendong Shena yang sudah berbalut handuk.
“Aku memang menyiapkan semuanya jauh sebelum kita datang kemari, Sayang. Aku tahu kau sangat merindukan tempat ini.” Leo meletakkan tubuh Shena diatas tempat tidur. Ia pergi menuju ruang lemari pakaian dan mengambilkan se set pakaian untuknya dan untuk Shena. “Pakailah baju ini, semua ini sudah aku siapkan. Aku hebat, kan?” Leo berdiri tepat dihadapan Shena dengan memakai handuk yang sama dengan istrinya.
“Tidak, tapi kau sangat luar biasa.” Shena bangun dan langsung memeluk tubuh Leo. “Aku mencintaimu, Leo. Jangan pernah sekalipun kau meragukan cintaku untukmu, oke!” satu kecupan manis mendarat dibibir Leo yang sedang tersenyum menatapnya.
“Aku janji, aku tidak akan pernah meragukan kesetian dan cintamu padaku.” Ganti Leo yang mengecup mesra bibir Shena. “Cepat pakai baju ini atau aku akan ....”
“Oke-oke! Aku akan memakai baju ini.” belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, Shena sudah memotong ucapan Leo. Ia melepaskan pelukannya dan menyahut pakaian yang diambilkan Leo lalu bermaksud pergi meninggalkan Leo. Namun, baru juga selangkah, tangan Shena dicekal lembut oleh Leo.
“Mau kemana?” tanya Leo.
__ADS_1
“Kau menyuruhku memakai pakaian ini.”
Dalam diam Leo langsung menarik tubuh Shena ke dalam dekapannya. “Maksudku, akulah yang akan memakaikan pakaian ini untukmu. Kau tidak perlu pergi dari hadapanku.” Leo tersenyum licik dan handuk Shenapun sudah tak bisa lagi menutupi tubuh indah Shena.
Setelah selesai melakukan drama intim ala Shena dan Leo. Keduanya keluar kamar dalam keadaan sudah rapi. Rona bahagia, terpancar jelas di wajah keduanya yang sedang berjalan sambil saling berpelukan layaknya pasangan yang baru saja menikah.
“Rumah ini rapi sekali? Apa kau yang menyuruh anak buahmu untuk merapikannya?”
“Ehm, aku rasa kita masih belum bisa tinggal dirumah Bibi, makanya aku meminta anak buahku merapikan rumah ini juga.” kilatan mata Leo terlihat cerah sekarang, ia tampak bahagia dan tidak murung ataupun marah seperti tadi. Jurus bulan tertusuk ilalang sukses menghilangkan amarah Leo yang tadinya sempat dilanda api cemburu buta.
Setelah hampir kurang lebih 2 jam lamanya, Leo meninggalkan Yeon, akhirnya keduanya kembali kerumah bibi Egha dalam kondisi fresh seperti tak pernah terjadi apa-apa. Leo sendiri juga sudah tak terlihat marah sehingga Arga jadi bingung sendiri dengan perubahan sikap Leo yang bagai bunglon itu.
“Sorry soal tadi, Ga.” Leo menghampiri Arga dan menepuk pelan bahunya.
Walau Arga sedikit terkejut, ia berusaha tersenyum dan memaklumi apa yang dirasakan Leo. Sebab ia tahu Leo seperti itu karena ia sangat mencintai Shena. Namun, masih ada yang mengganjal dihati Arga sebenarnya. Dan ia ingin menanyakan langsung pada Leo.
“It’s oke, santai saja. Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Itupun jika kau tidak keberatan, bisa kita keluar sebentar?” ajak Arga.
“Oke, ayo keluar.” Leo menuruti ajakan Arga. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Shena dan yang lainnya di dalam rumah. “Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Leo setelah keduanya sudah berada dipekarangan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1