
Setelah sukses membuat kehebohan di kafe es krim dengan aksi gila dan nggak ada akhlaknya Leo Terhadap Shena, suami Shena itu mengajak istrinya pergi kesuatu tempat seperti yang Leo katakan sebelumnya. Sejauh ini, Shena menurut saja apapun yang dilakukan Leo meski ia sama sekali tidak mengerti, kali ini rencana apalagi yang bakal Leo lakukan untuk memenangkan kasus persidangan ini.
Ada sedikit rasa kekhawatiran yang besar dalam hati Shena, tapi ia selalu percaya bahwa Leo, akan bisa mengatasi semua ini dengan caranya sendiri. Karena Leo, adalah putra dari seorang mantan mafia Byon Pyordova yang tak kalah keren dari ayahnya alias ayah mertua Shena sendiri.
“Kenapa memandangiku seperti itu, Sayang. Aku tahu aku sangat tampan dan keren. Nanti kau semakin jatuh cinta padaku seperti aku jatuh cinta padamu,” ujar Leo sambil melirik Shena.
“Siapa yang memandangimu? Aku hanya melihat-lihat area yang ada disampingmu? Dasar Ge-Er!” kilah Shena. Ia membuang muka berpaling dari tatapan mata Leo yang tersenyum simpul melihatnya karena Leo sangat tahu, Shena sedang berbohong.
Leo menghentikan laju mobilnya dipinggir jalan dan langsung menarik tubuh Shena dekat kearahnya. “Tataplah aku terus sebanyak yang kau mau, Sayang. Kau memang wajib diperbolehkan hanya menatapku seorang. Aku akan menghukummu jika sampai kau berpaling dariku.” Leo langsung mencium mesra Shena. Keduanya beradu mulut satu sama lain untuk mencurahkan perasaan cinta yang menyelimuti keduanya.
“Sudah cukup! Kau sudah menciumku terlalu banyak hari ini.” Shena mulai mendorong pelan tubuh suaminya.
Wajahnya benar-benar menjadi merah padam. Meski ini bukan yang pertama kali, tapi Shena selalu jantungan dan malu habis kalau Leo terus bersikap romantis padanya.
“Kau milikku, aku berhak menciummu kapanpun aku mau. Lagian kita kan sudah halal,” lagi-lagi Leo bersikap menjengkelkan.
Shena menghela napas panjang agar tidak terpancing emosi mendengar kata-kata Leo. “Oke-oke, lalu ... sampai kapan kita berhenti disini?” Shena mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak berakhir di bulan tertusuk ilalang kalau Shena terus meladeni ocehan Leo.
Leo kembali keposisinya dalam diam seolah ada yang sedang ia pikirkan. Suaminya itu mulai menyalakan kembali mesin mobilnya sambil tersenyum senang.
"Kita selesaikan dulu urusan kita baru kita lanjutkan pembicaraan ini." Leo fokus menyetir.
Tak butuh waktu lama bagi Leo dan Shena tiba dilokasi yang dituju Leo. Mereka berdua akhirnya sampai disebuah gudang tua yang lokasinya tidak jauh dari gedung pengadilan. Leo dan Shena keluar dari mobil mewahnya, Maybach Exelero yaitu mobil sport dengan harga fantastis berkisar 117 M.
Bukan hal yang tabu lagi buat Leo jika kemana-mana ia selalu mengendarai mobil mewahnya yang sudah tak terhitung jumlahnya dengan merek dan jenis yang berbeda. Enaknya kalau jadi anak sultan dan yang lebih enak lagi adalah menjadi istri dari seorang sultan tajir melintir, tampan, keren dan juga tak terkalahkan seperti Leo. Meski terkenal dengan julukan 'gengster nggak ada akhlak', tetap saja suami model Leo tidak ada bandingannya.
__ADS_1
Begitu pintu gudang terbuka, Leo menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam gudang dimana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan Leo dan Shena. Semua orang-orang itu adalah pengacara Abas dan beberapa pengawal Leo yang menghilang tadi. Rupanya, mereka semua berkumpul disini. Namun, masih ada satu orang lagi. Orang itu adalah mantan menejer hotel Leo yang sebentar lagi akan menjadi saksi dipersidangan bila sidang kasus Leo jadi dilanjutkan kembali. Hanya saja, ada yang berbeda dengan wajahnya.
“Astaga! Siapa orang itu? Kenapa mukanya jadi hancur begitu?” Shena tersentak melihat wajah orang yang sedang dikerumuni para pengawal Leo.
“Dia mantan menejer hotel kita, Sayang. Wajahnya berubah, pasti karena sengatan Yelow jakets. Tidak ada seorangpun yang bisa menghindari serangan binatang keren itu.” Leo melepaskan genggaman tangannya pada Shena dan berjalan mendekat ke arah mantan menejernya yang sedang diikat dengan tali karmenter disebuah kursi kayu.
Shena hanya diam melihat orang itu antara kasihan tapi juga geram. Shena baru paham kalau orang yang sedang disandera orang-orang Leo adalah mantan menejer hotel suaminya sendiri.
“Gawat, jiwa gengster Leo mulai keluar,”gumam Shena lirih menatap punggung suaminya. “Apa yang akan dilakuakn Leo pada mantan menejer itu?” Shena terus memerhatikan gerak gerik Leo.
“Hai pak mantan menejer,” sapa Leo. “Senang bisa bertemu kembali. Bagaimana kabarmu?” tanya Leo memulai intimidasinya.
“Suyou, boik-boik soujou, touon moudo Louo,” ujar sang mantan menejer sambil menahan sakit karena wajahnya bengkak akibat sengatan lebah.
Entah berapa kali si jaket kuning itu menyerang si mantan menejer hotel hingga wajahnya tidak bisa didefinisikan lagi dengan jelas. Bentuk wajahnya juga jadi tak beraturan sehingga siapapun pasti terkejut melihat wajah mantan menejer seperti halnya Shena. Selain itu, mulutnya jadi dower dan tidak bisa melafalkan huruf dengan benar sehingga kalimatnya terdengar aneh saat ia berbicara.
“Loupouskoun souyou touon moudou Louo,” pinta sang menejer. Shena jadi iba melihat betapa tersiksanya menejer itu karena sulitnya berbicara.
“Hadeuuh, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan, sebaiknya kau jangan bicara lagi. Cukup dengarkan aku saja. Aku akui, aku salut dengan keberanianmu kerena muncul kembali dihadapanku. Entah kau ini pikun atau kau memang sengaja membuatku marah, kali ini aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kau tahu jika sampai aku melihat wajahmu lagi, maka aku tidak segan-segan menghabisimu saat ini juga.”
“Moufkoun souyo touan moudo Louo, souyou ... tourpoksou doutong kouronou mroukou moungouncoum souyo ... euhh soukot soukoulo. Huuuuu ....” Mantan menejer itu merintih dan mengerang kesakitan karena terlalu memaksa bicara padahal seluruh wajahnya bengkak parah akibat sengatan lebah.
Leo menatap pengacara Abas yang berdiri disampingnya. Sejak tadi, pengacara muda dan semua pengawal Leo mati-matian menahan tawa mendengar dialeg mantan menejer Leo yang aneh itu. Pasti rasanya sakit sekali. Bibirnya aja jadi dower begitu. Donal bebek saja masih terlihat seksi daripada wajah mantan menejer Leo.
“Kita lihat apakah yang kau katakan itu benar atau tidak.” Leo berbalik badan dan menatap Abas. “Lepaskan dia! Biarkan dia bersaksi diruang sidang.” Leo beralih menatap kembali wajah mantan menejernya sebelum ia pergi dari sini. “Ah satu lagi, jika kesaksianmu itu salah, maka si jaket kuning akan mengejar-ngejarmu lagi. Silahkan dicoba kalau tidak percaya. Kau benar-benar tampan dengan muka seperti itu.” Leo tersenyum sinis meninggalkan gudang ini bersama Shena. Gelak tawa mulai terdengar keras dari para pengawal Leo ketika melihat betapa hancurnya wajah sanderanya.
__ADS_1
Syukurlah Leo tidak menghabisi orang itu, tadinya Shena sempat berpikir kalau Leo akan membunuh seseorang ditempat ini. Tapi ternyata, dugaan Shena salah besar. Suaminya itu jauh lebih bijak dari apa yang ia bayangkan. Leo sudah dewasa sekarang, ia tidak kekanak-kanakan lagi seperti saat mereka berdua masih kuliah dulu.
“Apa rencanamu sekarang, Sayang?” tanya Shena saat keduanya sudah berada dalam mobil mewah Leo.
“Apa lagi? Kita harus menghadiri sidang lanjutan. Hari ini masalah ini harus selesai supaya kita bisa cepat kembali pulang ke rumah.”
“Maaf, ini semua salahku. Akulah yang membuat kekacauan ini sehingga kita harus terseret ke jalur hukum.
“Jangan buat aku menciummu lagi, Sayang. Ini bukan apa-apa. Keluar masuk gedung pengadilan sudah hal biasa bagi keluarga kita. Itulah kenapa keluarga besar ayah punya banyak sekali pengacara handal. Tak akan ada yang bisa memenjarakan kita selagi ayahku masih bernapas. Tapi, untuk masalah ini ... aku masih bisa mengatasainya sendiri. Keluargaku tak terkalahkan Sayang, kau tahu itu. Buatlah kekacauan sebanyak yang kau bisa. Aku akan dengan sangat senang hati membereskannya.”
Shena menatap Leo karena terlalu terpesona dengan suaminya. Betapa kerennya Leo saat mengatakan semua itu pada Shena.
“Apa yang kau tunggu! Peluk aku sekarang, bukankah suamimu ini sangat keren!”
Shena langsung mengecup mesra pipi Leo lalu ia kembali ke posisi duduknya semula.
“Hanya kecupan?” protes Leo.
“Sudah jalan saja, nanti aku akan memelukmu sepuasku kalau kita sudah pulang,” ujar Shena sambil menundukan wajahnya. Leo pasti sedang menatapnya sekarang, dan itu membuat jantung Shena berdetak semakin kencang.
“Baiklah, aku nantikan pelukan darimu begitu kita pulang nanti.” Leo fokus menyalakan mesin dan melajukan mobil sportnya menuju gedung pengadilan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1