Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 192


__ADS_3

Derai angin yang bertiup pelan melalui jendela balkon kamar Shena membuat wanita yang sedang hamil muda itu mulai terjaga. Perlahan ia membuka matanya dan tak mendapati Leo di sisinya. Meski masih terasa ngantuk, Shena memaksakan diri untuk bangun dan turun dari ranjang. Ia mengamati detail kamar indahnya yang tak sempat ia kagumi semalam, sebab ia terlalu lelah setelah perjalanan panjang saat datang ke negeri Sakura.


Sebenarnya, Shena sudah mulai terbiasa dengan segala kemewahan yang disuguhkan padanya selama ia menjadi nyonya Leopard Bay Pyordova. Namun tetap saja, kemanapaun Leo membawanya pergi, ia selalu saja terkagum-kagum dengan segala hal yang ada disekitarnya. Tak dapat dipungkiri, Shena sangat menyukai tempat ini, sebuah tempat yang amat sangat ingin di datangi Shena sejak dulu. Sebuah negeri yang terkenal akan keindahan bunga Sakuranya serta isyarat akan kebudayaan yang kental, yaitu negeri Jepang.


Seperti bangunan kuil yang Shena lihat semalam, bangunan itu langsung memukau mata Shena karena struktur bangunan yang menggambarkan ciri khas kebudayaan Jepang. Bahkan hingga sekarang, Shena masih terbayang akan pesona kuil dimana terdapat pagoda disekitarnya. Shena, berjalan ke sebuah balkon untuk melihat apakah kuil-kuil itu bisa terlihat dari sini atau tidak. Dan benar saja, kuil berserta bangunan pagodanya benar-benar terlihat jelas di tempat Shena kini berada dan sangat menakjubkan. Bangunan yang didominasi warna merah itu bisa Shena nikmati dari atas balkon kamarnya.


“Kau sudah bangun, Sayang.” Sebuah tangan melingkar erat di pinggang Shena dan tentu saja tangan itru adalah tangan Leo yang sedang memeluknya dari belakang.


“Kau mengagetkanku saja,” ucap Shena lega.


“Kau suka pemandangannya?” tanya Leo sambil mencium mesra pipi istrinya.


“Sangat suka, pemandangannya indah sekali.”


“Nama kuil itu adalah ‘Sensoji’ orang-orang mengenalnya ‘Kuil Sensoji Asakusa’ yang merupakan kuil tertua di Tokyo. Lain kali akan aku ceritakan sejarah kuil itu kenapa kok diberi nama Sensoji. Disebelahnya itu ada Pagoda Sensoji tingkat lima atau yang biasa dikenal sebagai Pagoda lima lantai. “ Leo tertwa menatap kuil yang ai jelaskan pada Shena.


“Kenapa kau tertawa, memangnya, ada yang lucu?”


"Kalau melihat pagoda itu, aku jadi teringat biksu Tong. Dia akan menemui kita begitu urusannya sudah selesai." Leo masih tertawa.


“Kau tadi darimana? Kenapa tidak membangunkanku kalau sudah bangun duluan?" Shena mengalihkan pembicaraan.


“Aku terbangun karena mendengar Yeon menangis, aku datang untuk memeriksanya ….”


“Ada apa dengan Yeon? Apa dia tidak apa-apa?” sela Shena. Ia mengahadap suaminya dengan ekspresi cemas dan hendak pegi ke kamar putranya.


“Ia hanya lapar." Leo menahan tubuh Shena dan menarik tubuhnya mendekat ke ke Leo. "Bibi pengasuh sudah mengurusnya. Sekarang Yeon sedang tidur pulas setelah perutnya kenyang. Jangan khawatir oke, kau juga harus makan. Supaya adik Yeon ini cepat tumbuh besar. Sini, aku suapin.” Leo membimbing Shena duduk di kursi yang ternyata sudah ada makanan dan minuman di atas meja.

__ADS_1


“Ini …” Shena tidak tahu kalau ada makanan di meja, padahal barusan makanan tersebut tidak ada.


Seakan tahu apa yang dipikirkan istrinya, Leopun menjelaskan, “Aku yang membawanya. Aku meminta pelayan mension ini untuk memasakkan sesuatu untukmu supaya begitu bangun, kau bisa langsung sarapan.” Leo mendudukkan Shena di kursi dan ia pun duduk di samping istrinya. “Makanlah ini, aku tidak tahu apakah kau suka ramen ala khas Jepang asli …”


“Ramen?” sela Shena bersemangat sekali mendengar nama makanan itu. Sebab, ramen adalah salah satu makanan favorit Shena. Leo tersenyum melihat ekspresi istrinya dan langsung membuka penutup makanan yang didalamnya memang ada ramen sungguhan. “Wuah, ini benar-benar ramen?” mata Shena berbinar-binar senang.


“Aku baru tahu kalau kau itu suka ramen, Sayang. Aku kira kau cuma suka mi ayam?”


“Aku suka semua jenis mi, tapi … Laura bilang ramen di Indonesia rasanya tidak sama seperti buatan asli orang Jepang. Aku tidak tahu apa bedanya, bagiku ramen Jepan atau ramen Indonesia sama saja, sama-sama enak.”


“Kalau begitu, makanlah … habiskan semunya.”


“Tidak perlu disuapi, aku sudah terbiasa menggunakan sumpit. Sebab, dulu aku suka makan ramen dengan Laura.” Shena mengambil semangkuk ramen itu dan mencicipinya. Mata Shena terpejam saking nikmatnya merasakan ramen yang ia makan. “Emmm … enak sejali ramennya. Laura benar. Ramen buatan asli orang Jepang memang enak sekali.” Shena tersenyum menatap Leo yang juga tersenyum padanya. “Inikah kejutan yang kau berikan untukku? memakan ramen asli buatan orang Jepang? Wah … sungguh aku terkejut sekali,” ujar Shena dan Leo langsung tertawa.


“Bukan, Sayang. Bukan ini juga kejutannya. Kenapa aku harus mengejutkanmu dengan sebuah makanan? Kau ini ada-ada saja. Cepat selesaikan makananmu dan ayo kita mandi bersama, setelah itu kita harus pergi. Kejutan yang asli sedang menantimu.” Leo mengedipkan salah satu matanya pada Shena.


“Kejutan asli sedang menantimu,” jawab Leo.


“Bukan, sebelumnya ….”


“Kita akan pergi begitu kau selesai menghabiskan ramen itu.”


“Bukan itu, sebelumnya lagi … kau bilang … kita … mandi bersama?” Shena memperjelas pertanyaannya.


“Oh itu, iya … setelah ini aku akan memandikanmu, kenapa? Bukankah mandi bersama adalah rutinitas sehari-hari kita?”


“Bukan begitu, maksudku ….”

__ADS_1


“Sudah jangan banyak bicara, cepat habiskan ramennya atau kumandikan kau sekarang.” Lagi-lagi Shena mendapat ancaman yang manis dari Leo. Shenapun menuruti apa yang diinginkan suaminya.


Sebenarnya, Shena sangat merindukan Laura. Sudah lama juga ia tidak bertemu dengan sahabat karibnya itu. Keduanya, hanya bisa berkomunikasi lewat pesan. Hanya saja, akhir-akhir ini Shena jarang berkomunikasi dengan Laura karena ia sedang sibuk. Entah kesibukan apa yang dilakukan sahabatnya.


***


Dua jam sudah berlalu, Leo dan Shena baru saja keluar dari kamar mereka dan sudah siap pergi kesuatu tempat seperti yang sudah dikatakan Leo sebelumnya. Yeon dan pengasuhnya serta beberapa pengawal Leo juga sudah siap. Mereka semua naik ke dalam mobil masing-masing dan berangkat ke tempat tujuan Leo yang sampai detik ini, tak diketahui Shena kemana suaminya ini membawanya pergi.


“Kita mau kemana?” tanya Shena saat keduanya sudah ada di dalam mobil. Ia sangat penasaran dengan kejutan Leo kali ini.


“Ke rumah sakit,” jawab Leo santai.


“Hah? Rumah sakit? Siapa yang sakit? Bukannya… tadi Yeon baik-baik saja, hentikan mobilnya, aku mau membawa Yeon kemari.” Shena mulai panik lagi.


“Bukan Yeon yang sakit, Sayang. Dia sehat sehat saja. Kau tak perlu cemas begitu.”


“Lalu, siapa yang sakit? Kau?” tanya Shena masih bingung.


“Tidak ada yang sakit di keluarga kita.” Leo menenangkan Shena dengan memeluknya.


“Kenapa kita harus ke rumah sakit kalau tidak ada yang sakit? Kau ini bikin aku jantungan saja. Aku takut kalian berdua kenapa-napa.”


Leo tak bersuara lagi, ia hanya tersenyum sambil terus memeluk Shena dalam dekapannya. Shena sendiri jadi semakin penasaran setelah ia dan semuanya memasuki sebuah rumah sakit besar yang ada di kota Tokyo.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2