
Masalah ternyata tak selesai sampai digertakan Leo saja. Rupanya pemilik toko itu memiliki rekan seperguruan yang terdiri dari para preman pasar penguasa wilayah ini. Entah sejak kapan desa Shena yang dulu aman, damai dan tenteram telah banyak dimasuki penjahat kriminal seperti preman-preman yang entah datang darimana.
Melihat rekannya sedang terpojok, preman-preman pasar yang terdiri dari kurang lebih 10 orang bermaksud menyerang Leo bersamaan. Namun suami Shena itu tampak tenang-tenang saja padahal ia tahu kalau dirinya mau diserang. Shena sudah sangat khawatir tapi Leo memberi kode kalau ia akan baik-baik saja. Ternyata, bersamaan dengan itu, seluruh anak buah Leo yang juga jago kungfu datang untuk melindungi tuan mudanya sebelum Leo turun tangan sendiri. Mereka semua menghajar para preman itu tanpa ampun.
“Bikin babak belur saja, jangan keluarkan senjata apapun!” perintah Leo pada seluruh anak buahnya.
“Siap Tuan muda!” jawab anak buah Leo kompak.
Aksi bak buk bak buk pun tak bisa terelakkan lagi. Pasukan Leo jelas jauh lebih unggul dari para preman itu dan secara otomatis mereka emnag telak.
Semua orang terpana melihat aksi life streaming ala film-film action hollywood yang biasa diputar dibioskop-bioskop. Apa yang dilakukan anak buah Leo terhadap para preman itu merupakan hiburan tersendiri bagi para netizen yang kebetulan berada di pasar. Sebab, preman tersebut sudah sangat meresahkan dan suka sekali malakin orang. Tak heran kalau tingkat kemiskinan di desa Shena semakin meningkat dengan banyaknya penjahat yang merajalela.
“Wah orang-orang itu keren-keren sekali,” ujar salah satu orang yang ada di belakang Shena.
“Tapi menurutku yang paling keren adalah yang memakai kemeja putih itu. Tatapan matanya saat menatap pak tua itu bikin hatiku meleleh.” Wanita centil itu terlihat sangat mengagumi Leo.
Tentu saja Shena yang mendengar hal itu jadi tidak terima. Tetapi ia tak ingin menunjukkan rasa cemburunya. Apalagi, Shena terlihat sangat senang ketika Leo berjalan mendekatinya setelah menyerahkan pak tua itu pada salah satu anak buahnya untuk dibereskan.
“Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya Leo lembut begitu ia berdiri didepan Shena.
Ini merupakan kesempatan emas bagi Shena untuk membuat para wanita-wanita centil yang ada dibelakangnya itu tahu kalau pria tampan ini adalah miliknya. Meski agak sedikit memalukan, Shena berusaha membuang harga dirinya dengan tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di leher Leo.
“Aku tidak apa-apa, Sayang. Kenapa kau tidak ikut berkelahi dengan mereka?” tanya Shena sok manja. Ia sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi wanita centil yang telah berani mengagumi suaminya.
Perlakuan Shena yang tiba-tiba saja mesra padanya, membuat Leo tersenyum senang. “Aku lebih suka bermesraan disini bersamamu daripada berkelahi dengan para tikus-tikus comberan itu. Rambutku bisa berantakan dan aku tidak suka.”
Shena tertawa mendengar jawaban Leo yang asal sok keren itu. Tanpa dia duga, Leo mendaratkan ciuman manisnya di bibir Shena dan langsung sukses membuat mata Shena terbelalak seakan meloncat keluar. Ia tidak menyangka Leo bakal menciumnya di tempat umum dan dihadapan banyak orang.
__ADS_1
Benar-benar mengejutkan, tapi juga memalukan. Tak hanya Shena yang shock dengan perlakuan manis suaminya, semua kaum hawa yang melihat kejadian itu menganga lebar menatap pemandangan indah dua sejoli yang bikin iri hati.
“Wuah, so sweet sekali, mau juga dong dicium mesra gitu, omegot jiwa jombloku jadi meronta-ronta nih,” seru seseorang.
“Nggak tahu malu, masa ciuman ditempat umum begini? Tapi kenapa aku iri, ya?” ujar yang lainnya. Semuanya mulai bergunjing ria tapi Leo sama sekali tak memedulikan komentar mereka.
“Apa yang kau lakukan? Ada anak kecil di sini!” tanya Shena antara terkejut dan malu.
Syukurlah anak kecil yang ada di belakang Shena lebih fokus pada orang-orang yang dihajar anak buah Leo. Pandangan matanya seolah mengisyaratkan sesuatu. Anak perempuan itu berkali-kali membuang napas melihat para preman itu babak belur.
Leo sendiri lupa kalau Shena masih belum mengingat semua hal yang biasa mereka lakukan bersama sekalipun itu adalah hal yang melakukan. “Maaf, itu refleks, Sayang. Aku sudah terbiasa menciummu di tempat umum dan ju ….” Leo berhenti bicara karena Shena mengacuhkannya. Istrinya itu malah menatap wajah serius anak kecil yang ditolongnya.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas begitu? Apa kau mengenal orang-orang itu?” tanya Shena.
“Tante, tolong selamatkan aku, mereka semua adalah anak buah Datuk, rentenir tanah yang menguasai desa ini sejak beberapa tahun yang lalu. Kedua orang tuaku berhutang banyak padanya dan menjualku pada datuk itu. Aku berhasil meloloskan diri hingga kemari. Sepertinya, mereka akan menangkapku juga.” Waja gadis kecil itu jadi gelisah dan juga takut.
“Tidak Tante, aku tidak mau kembali ke rumah itu. Mereka bisa menghukumku lagi dan membawaku ke datuk itu. Aku mohon, bawa aku pergi dari desa ini. Setidaknya jangan sampai mereka semua menemukanku,” rengek anak perempuan itu. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan.
“Tapi kau masih sangat kecil, mana bisa kau hidup sendirian? Apa kau tak punya sanak keluarga yang lain?” tanya Shena lagi ikut trenyuh melihat betapa malangnya nasib anak perempuan ini. Ia jadi teringat pada anak-anaknya sendiri. Shena tidak bisa membayangkan bila ketiga anaknya mengalami nasib sama seperti anak ini meskipun itu sangat tidak mungkin terjadi.
“Tidak tante, aku tak tahu apa-apa tentang sanak saudara yang lain. Orangtuaku tidak pernah memberitahuku apakah kami punya sanak saudara atau tidak.”
Shena langsung menatap wajah suaminya yang sejak tadi hanya diam. “Leo …” panggil Shena untuk meminta pendapatnya mengenai situasi ini.
Seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Shena, Leo menatap tajam anak kecil dan mengajukan satu pertanyaan singkat. “Siapa namamu?” tanya Leo.
“Yuuna, tapi almarhum nenekku memanggilku Yuca, karena aku jarang tersenyum.” jawab anak kecil itu.
__ADS_1
Leo mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Pak Bas, di mana Abas?” tanya Leo pada pengacara keluarganya.
“Ada di kantor Tuan muda, kenapa anda tidak menghubunginya langsung ke ponselnya,” tanya pria tua yang sudah lama pensiun itu.
“Aku lebih suka bicara padamu, pak Bas. Apa kau tak merindukanku?" goda Leo.
“Tuan muda terlalu sibuk untuk kurindukan,” jawab pengacara Leo itu sok puitis. Dan itu membuat Leo tertawa.
“Aku akan mengunjungimu nanti. Untuk saat ini, katakan pada Abas untuk menemuiku nanti sore, aku ingin dia mengurus sesuatu hal yang penting.”
“Baik Tuan muda, bagaimana kabar nyonya Shena?”
“Dia baik, apa kau ingin bicara padanya?” Leo melirik Shena.
“Nanti saja, Tuan muda. Saya tidak ingin nyonya Shena memaksakan diri untuk mengingat saya. Sampaikan salam saya padanya.”
“Oke, terimakasih. Jaga kesehatanmu baik-baik. Jangan mati dulu sebelum aku dan Shena menemuimu,” ujar Leo agak sedikit lancang tapi ia memang selalu seperti itu pada pengacaranya.
"Baik Tuan, tapi itu diluar kehendak saya." sambungan teleponpun di putus.
“Siapa yang kau ajak bicara? Kau lancang sekali padanya?” tanya Shena heran.
“Dia sudah kuanggap seperti ayah keduaku, Sayang. Aku memang suka sekali menggodanya. Nanti kita akan menemuinya. Ayo kita pulang sekarang.” Leo beralih menatap Yuuna yang masih ketakutan. “Jangan takut lagi Yuuna. Orang-orang itu … takkan pernah berani menyakitimu. Untuk sementara, tinggalah dengan kami sampai pengacaraku selesai mengurus semua urusanmu,” ujar Leo dan tentu saja membuat Shena langsung senang.
Namun, dibalik itu ada sesuatu yang sedang dipikirkan Leo tapi sengaja belum ia utarakan pada Shena.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***